Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Karma
Kehidupan Sarah kembali seperti disaat ia belum bersama dengan Bagas Aryanaka. Keluarga hanyalah sebuah omong kosong baginya. Perempuan yang lahir dengan hanya nama Sarah itu, kini harus menjalani lika-liku perjalanan penuh derita seperti yang dialaminya dahulu kala.
Sejak kecil, ia hanya dianggap sebagai anak sial. Lahir dari rahim seorang jalang yang merupakan selingkuhan ayahnya---Hendra Cakra Diharja. Terlebih disaat adiknya yang cantik jelita, yaitu Farah Putri Diharja, hadir ditengah-tengah mereka, ia semakin tidak terlihat, bahkan dianggap sebagai kuman. Jika saja saat itu nenek dan kakeknya tidak membela dirinya, mungkin ia telah lama mati, kelaparan dipinggir jalan.
Kebaikan kakek dan neneknya membersamai Sarah selama 20 tahun, sebelum keduanya meninggal karena disebabkan oleh insiden kebakaran yang menimpa sebuah swalayan tempat mereka berdua kebetulan sedang berbelanja saat itu. Sarah amat sangat terpukul, ditambah lagi, beberapa hari setelahnya, ia langsung diusir oleh sang Ibu, atau lebih tepat ia sebut sebagai ibu tirinya---Hapsari Diharja.
Sang Ayah yang melihat semuanya, memilih untuk tetap diam, seakan tidak peduli. Hanya Farah yang saat itu masih mencoba membujuk sang Ibu. Namun, nyatanya kuman memang harus segera dibersihkan. Merasa sadar diri, ia pun pergi meninggalkan rumah yang selalu tampak asing bagi dirinya.
"Saya harap kamu gak kembali lagi Sarah, seperti Ibumu, lebih baik kamu mati dan pergi ke neraka untuk menyusulnya."
Sepatah kalimat tersebut kian terngiang di kepala Sarah, hingga membawanya pada bayang aturan sakral, bahwa ia tidak lagi bisa untuk menginjakkan kakinya kembali dirumah besar berlantai dua dihadapannya saat ini.
Namun, demi putrinya, ia rela merendahkan harga dirinya sekali lagi. Satu minggu ini ia terluntang-lantung tanpa arah. Hal yang selalu ia pikirkan, adalah tentang keberlangsungan hidup anaknya. Tujuh hari, hanya tujuh hari waktu yang ibu mertuanya berikanuntuk ia dapat mencoba mengembalikan ingatan sang suami. Jika tidak berhasil, maka Sarah harus pergi meninggalkan semua kenangan diantara mereka, dan setuju untuk bercerai dengan Bagas.
Awalnya Sarah cukup percaya diri dan bersemangat. Akan tetapi, tiba di hari ke-tujuh ini, Bagas masih belum bisa mengingatnya. Bahkan saat kemarin ia membawa Thalia turut serta, tetap tidak ada perubahan sama sekali. Malah ia berakhir harus menenangkan Thalia yang menangis kencang, dikarenakan sosok yang selama ini ia panggil Papa itu, menatapnya asing dan seolah tidak mengenalnya.
"Papa! Papa udah sembuh? Thalia kangen tauu!
Bagas yang sedang terbaring di ranjang, seketika mengernyit heran. Seingatnya ia belum resmi menikah dengan Farah, lalu mengapa ada seorang bocah yang memanggilnya dengan sebutan papa?
"Ihh papa kok diam aja? Papa udah sembuh kan? Ayo jalan-jalan pa, ganti karena papa kan belum beli oleh-oleh buat Thalia."
Anak perempuan itu berbicara dengan riang, cerewet sekali. Bagas yang masih mencerna keadaan setelah terbangun dari koma itu pun, mulai merasa pusing. Kepalanya berdenyut seakan hendak pecah.
"Maaf, saya gak kenal kamu dek. Sepertinya kamu salah orang. Saya bukan papa kamu. Jadi sekarang tolong keluar ya, saya pusing," jelas Bagas dengan hati-hati.
Mendapatkan jawaban seperti itu dari papanya, sontak membuat Thalia sedih. Apakah papa-nya itu sedang bercanda? Mengapa pura-pura tidak kenal dengannya?
"Papa! Jangan becanda! Thalia sedih nih kalo papa gitu! Thalia kan anak papa. Iya kan' ma?"
Kini Thalia berusaha mencari dukungan dari sang mama. Sarah pun menggenggam tangan si anak, dan mencoba tersenyum walau rasanya pahit karena harus menerima keadaan seperti ini.
"Mas, tolong kamu ingat-ingat lagi ya. Ini Thalia anak kamu. Setidaknya kalo kamu gak bisa ingat aku, aku mohon mas bisa mengingat Thalia ya," pinta Sarah dengan suara serak dan menahan tangis, karena melihat suaminya yang hanya menatapnya acuh tak tersentuh.
"Maaf, tapi saya benar-benar gak bisa ingat apapun tentang kamu dan dia," jelas Bagas sembari menunjuk kepada Thalia yang kini mulai merengek.
"Dan, jangan paksa saya, karena kepala saya saat ini pusing sekali, " lanjut Bagas dengan tegas, kemudian pria itu pun menutup mata, berusaha mengabaikan suara jeritan tangis dari bocah kecil yang senantiasa memanggil-manggil dirinya papa.
"Papa! Hikss, papa kok jahat gitu? Papa kenapa ma? Papa jahat ma, papa jahat! Hikks."
Disana Thalia akhirnya tantrum, ia mencoba untuk mendekat dan memukul papa-nya yang sedari tadi enggan membuka mata dan menanggapi mereka. Melihatnya, Sarah hanya bisa terisak dan menutup mulutnya. Seharusnya ia tidak mengajak Thalia, seharusnya ia tidak membawa Thalia dalam permasalahan yang rumit ini.
Ya, seharusnya dan seharusnya. Namun, Sarah nyaris tidak memiliki cara lagi untuk bisa mengembalikan ingatan suaminya. Dokter pun tidak bisa memastikan apakah ingatan suaminya itu dapat kembali atau tidak. Sarah merasa sangat frustasi, apalagi ketika sang ibu mertua terus mencecarnya dan memanfaatkan keadaan saat ini untuk mendepak Sarah dari kehidupan Bagas selamanya.
"Waktu kamu habis hari ini Sarah. Seperti kesepakatan kita sebelumnya, kamu dan Bagas akan segera bercerai. Maka dari itu, besok saya harap kamu dan anakmu itu sudah angkat kaki dari rumah Bagas," terang Suratih dengan sikap arogannya ketika Sarah telah keluar dari ruangan Bagas, dengan menggendong Thalia yang kelelahan karena terus-menerus menangis.
"Tapi Bun, Thalia juga anak Mas Bagas. Setidaknya izinkan Thalia tinggal bersama kalian ya? Saya mohon, saya tidak punya apa-apa lagi," ucap Sarah membalas dengan pelan dan terisak.
Sang ibu mertua mendengus kesal, menatap tajam pada sosok wanita yang ia anggap sebagai penghancur hidup putra satu-satunya.
"Gak bisa! Bagas saja gak ingat kalo dia punya anak. Untuk apa anak itu tinggal bersama kami? Gak ada gunanya."
"Tapi Bun-
Belum sempat mengajukan permohonan lagi, ibu mertuanya itu telah berlalu pergi, meninggalkan ia pada keterpurukan dan putus asa.
Saat ini, hanya rumah dari Ayahnya lah yang menjadi tujuan Sarah. Walaupun dulu ia diusir dan tidak boleh kembali, namun Sarah harus mencoba, demi hidup putrinya. Ia tidak memiliki aset apapun. Uang dan barang-barang yang dulu suaminya berikan kepadanya telah diambil paksa oleh sang ibu mertua. Baik mobil maupun kartu debit yang ia punya sebelumnya, kini telah berpindah tangan kepada Suratih.
Sungguh, jika bukan karena Thalia, ia tidak sudi melangkah ke tempat ini. Sayangnya, keadaan telah memaksanya. Perlahan ia mengetuk pintu berwarna coklat dihadapannya. Tak lama seorang wanita paruh baya yang ia kenal sebagai mbok Ijah itu pun membuka pintu dan langsung menyapanya.
"Loh, non Sarah? Ini non Sarah kan? Ya Alloh non, mbok kangen banget sama non, maaf dulu mbok gak bisa bela non Sarah ya. Non Sarah baik-baik aja? Ini non bawa anaknya ya non? Udah gede ya non, mbok berasa punya cucu atuh non."
Tangis haru menyelimuti mereka berdua. Sarah senang karena setidaknya masih ada satu orang yang mengharapkan kehadirannya. Ya, sedari dulu, hanya Mbok Ijah.
Disela-sela percakapan singkat keduanya, tiba-tiba darj arah belakang Mbok Ijah, datanglah sang nyonya rumah. Mbok Ijah pun bergegas menyingkir dengan raut tegang.
"Ck, kamu. Sudah saya bilang bertahun-tahun yang lalu untuk gak dateng kesini lagi. Dasar gak tau malu."
"Bu, hanya kali ini aku minta tolong Bu. Izinkan anakku tinggal disini sementara ya Bu, sampai aku dapet kerja dan bisa sewa tempat kost untuk kami berdua."
Ya, tujuan Sarah datang ke rumah itu lagi adalah meminta tolong agar Thalia bisa tinggal sementara disana, berhubung tidak mungkin ia terus membawa Thalia disaat ia belum mendapat pekerjaan dan tempat tinggal. Dulu Sarah bisa hidup sendiri selama lima tahun sebelum bertemu dengan Bagas, karena ia masih memiliki tabungan dari kakek dan neneknya, juga ia yang bekerja sebagai pelayan di sebuah club ternama.
Namun saat ini, ia tidak yakin mampu mendapatkan uang dengan cepat. Maka dari itu, ia berniat untuk meminta belas kasih ibu tiri dan ayahnya, agar setidaknya mau merawat Thalia sebentar selama Sarah mencari pekerjaan.
Sayangnya, ibu tirinya itu tetap pada pendiriannya untuk tidak membiarkan sejengkal pun bagian dari Sarah dapat masuk dan kembali mengusik keluarga tercintanya.
"Menjijikan kamu Sarah! Bagaimana bisa saya menolong kamu ketika kamu saja telah menyakiti anak saya. Gak ingat kamu? Kamu yang sudah menghancurkan impian Farah untuk menikah dengan Bagas. Kamu memang sama persis seperti ibumu yang jalang itu, bisanya merusak kebahagiaan orang lain. Asal kamu tahu Sarah, Karma itu nyata! Dan sekarang kamu sedang merasakannnya."
"Tutup pintunya mbok, jangan sampai kuman itu masuk kedalam rumah ini," titah sang majikan yang membuat Mbok Ijah merasa bersalah.
"Non Sarah, maaf non, lagi-lagi mbok gak bisa bantu non Sarah, hiks."
"Gak papa mbok, mungkin memang benar ini karma buat Sarah," ucap Sarah pasrah sembari meneteskan air mata.
"Nggak non, nggak, ini semua takdir tuhan non. Non Sarah gak salah non. Non Sarah anak baik, mbok tahu itu."
Mbok Ijah mencoba menenangkan Sarah yang kini telah tersedu sembari memeluk erat sang putri yang berada digendongannya. Sungguh tragis kehidupan sang nona kesayangannya itu. Mbok Ijah hanya bisa berdoa agar segala masalah yang menimpa wanita cantik dihadapan ini, segera terselesaikan.
"Ya sudah mbok, Sarah pamit ya mbok. Mbok sehat-sehat terus ya. Sampai jumpa lagi Mbok!"
"Non, non Sarah mau kemana?"
"Gak tau mbok, mungkin dijalan nanti akan ada petunjuk. Doakan Sarah ya mbok."