Renatta Putri Setiawan, seorang gadis berusia 22 tahun. Hidup dalam kemewahan dan kemanjaan dari keluarganya. Apapun yang menjadi keinginannya, selalu ia di penuhi oleh orang tua dan saudaranya.
Namun, suatu hari gadis manja itu harus menuruti keinginan orang tuanya. Ia harus mau dijodohkan dengan seorang pria berusia 40 tahun, agar keluarga Setiawan tidak mengalami kebangkrutan.
Renatta yang membayangkan dirinya akan hidup susah jika keluarganya bangkrut, terpaksa menerima perjodohan itu. Asalkan ia tetap hidup mewah dan berkecukupan.
Gadis itu sudah membayangkan, pria 40 tahun itu pasti berperut buncit dan berkepala plontos. Namun, siapa sangka jika pria yang akan dijodohkan dengan dirinya ternyata adalah Johanes Richard Wijaya. Tetangga depan rumahnya, dosen di kampusnya, serta cinta pertama yang membuatnya patah hati.
Apa yang akan Renatta lakukan untuk membalas sakit hatinya pada pria yang pernah menolaknya itu?
****
Hai-hai teman Readers. Kembali lagi bersama Author Amatir disini.
Semoga cerita kali ini berkenan, ya.
Ingat, novel ini hanya fiksi belaka. Tidak ada ikmah yang dapat di ambil setelah membacanya.
Terima Gaji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Dosen Menyebalkan.
“Sedang memikirkan apa, non?” Tanya Gista, sahabat Renatta sejak masuk perguruan tinggi.
“Ta.”
Renatta tak melanjutkan ucapannya. Ia binggung entah harus bercerita dengan sahabatnya itu, atau tidak.
“Ada apa? Sepertinya kamu sedang dalam dilema. Apa kamu kelewatan promo flash sale di aplikasi belanja online?” Canda gadis itu.
Renatta mencebik. Ia pun menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mereka kini tengah berada di dalam kelas. Dan tanpa disadari, sang dosen sudah berdiri di depan.
“Aku sedang galau, Ta. Aku—
“RENATTA PUTRI SETIAWAN.”
Suara bariton menginterupsi. Kedua gadis itu saling pandang satu sama lain. Habislah kita. Begitulah tatapan mereka berbicara.
Renatta memejamkan matanya dengan rapat. Ia hafal betul siapa pemilik suara pria dewasa itu. Siapa lagi jika bukan Johanes Richard Wijaya.
“Jika kalian ingin bergosip, Silahkan keluar dari kelas ini. Kelas saya, bukan tempat untuk mengobrol.”
Mata Renatta memejam dengan rapat, kepalanya pun menggeleng kencang. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan pria menyebalkan itu.
“Setelah pelajaran ini berakhir, kamu datang ke ruangan saya, Renatta Putri Setiawan.” Richard kembali berucap. Pria itu menekankan pengucapan nama Renatta.
‘Dasar pria tua menyebalkan. Aku doakan tidak ada gadis yang mau sama kamu.’
Tangan Renatta terkepal di bawah meja. Ia selalu saja bermasalah dengan dosen satu ini. Padahal menurut gadis itu, ia tidaklah melakukan kesalahan yang begitu fatal.
Setelah kelas Richard berakhir, Renatta menuruti perintah pria itu. Ia terpaksa mendatangi ruangan sang dosen demi tidak memperpanjang masalah. Karena, jika ia tak menurut maka Richard akan mengadu pada salah satu anggota keluarga Setiawan tentang Renatta di kampus.
“Kenapa kamu suka sekali mencari masalah dengan saya?”
Bukan kata sambutan yang gadis itu dengar saat memasuki ruangan dosennya. Tetapi sebuah kalimat yang terdengar sangat tidak bersahabat.
Hei, apa kata pria berusia empat puluh tahun itu tadi? Renatta sangat senang mencari masalah dengannya? Astaga, ingin sekali gadis itu membenturkan kepala Richard di dinding.
“Saya meminta kamu datang kemari bukan untuk berdiri.”
Pria itu kembali berucap. Sungguh tidak ada manis-manisnya, padahal mereka sudah bertetangga selama belasan tahun.
“Maaf atas kesalahan yang telah saya perbuat, om—maksud saya, pak Rich.” Renatta menundukkan kepala. Ia berpura-pura menyesal. Sungguh gadis itu sudah muak meladeni pria berusia empat puluh tahun itu.
“Hukuman apa yang harus saya berikan kepadamu lagi? Sepertinya, semua hukuman sudah pernah kamu dapatkan.”
Renatta menghela nafas pelan. “Terserah anda saja, pak.”
Gadis itu pasrah. Entah sudah berapa kali ia mendapatkan hukuman dari Richard semenjak pria itu menjadi dosen di kampus ini.
***
Renatta berjalan gontai menuju mobilnya. Richard memberi hukuman yang menurutnya tidak masuk akal. Gadis itu diminta menjadi asisten pria itu, sampai ia lulus kuliah nanti.
“Dasar bujang lapuk menyebalkan.”
Selama ini, entah berapa julukan dan umpatan yang telah ia berikan kepada Richard. Rasa cintanya yang dulu begitu besar pada pria itu, kini perlahan berganti benci yang teramat dalam.
Merasa harinya kurang beruntung, Renatta memutuskan untuk pergi mengunjungi makam saudara kembarnya. Hal yang sering ia lakukan setelah mendapat masalah dari Richard.
Gadis itu mengendarai mobilnya menuju salah satu pemakaman elit di ibukota. Tempat dimana mendiang Rianna di makamkan.
Sebelum memasuki area pemakaman, Renatta membeli seikat bunga lili putih. Bunga yang menjadi kesukaannya. Ia yakin jika Rianna juga akan suka mengingat mereka kembar.
“Hai, Ri. Aku datang.” Kalimat yang selalu Renatta ucapkan setiap kali tiba di depan makam sang kembaran.
Gadis itu meletakkan buket bunga lili di atas gundukan tanah. Ia kemudian bersimpuh, dan menundukkan kepala, sejenak memanjatkan doa.
“Kamu apa kabar disana?” Tanyanya pada bongkahan nisan bertuliskan nama Rianna Putri Setiawan itu.
Renatta tidak bisa mengingat kenangan masa kecil bersama saudara kembarnya. Mereka terpisahkan saat berusia lima tahun. Gadis itu bahkan tidak tahu jika dirinya terlahir kembar.
Papa Roy dan mama Dona baru mengatakan kebenaran saat Renatta berusia sebelas tahun. Gadis itu sempat tak percaya, namun bukti foto dua orang gadis kecil dengan wajah yang sangat mirip meyakinkannya.
“Ri. Kamu tahu, katanya bisnis keluarga mengalami masalah. Perusahaan terancam bangkrut jika tidak mendapat bantuan keuangan.” Renatta bercerita dengan mata yang mulai memanas.
Ia selalu tidak bisa menahan air matanya saat berbicara dengan makam Rianna.
“Dan untuk menolong keuangan perusahaan, papa menjodohkan aku dengan rekan bisnisnya.” Gadis itu menghela nafas pelan.
“Sebenarnya, aku tidak masalah jika harus menikah muda. Jika itu dapat membantu keluarga. Kamu pasti tahu, aku juga tidak mau hidup susah.” Renatta berbicara dengan lancar seolah lawan bicara ada di depannya.
“Tetapi, yang menjadi permasalahan disini adalah, pria itu berusia empat puluh tahun. Bisa kamu bayangkan, dia pasti sudah berperut buncit dan rambutnya mundur ke belakang.”
Gadis itu mendengus kesal. Ia begitu saja mendeskripsikan pria berumur empat puluh tahun seperti yang ada di benaknya. Renatta lupa, jika pria yang dicintai sekaligus yang sekarang ia benci juga sudah berusia kepala empat.
Johanes Richard Wijaya. Meski tahun ini pria itu berusia empat puluh tahun, namun ia masih terlihat tampan, berperut rata dan rambutnya masih lebat dan tertata rapi.
“Ri, maafkan aku. Aku terpaksa menyetujui perjodohan ini demi membantu keluarga dan tak menjadi beban papa dan kakak. Bantu aku ya. Setelah beberapa bulan menikah, aku akan menceraikan pria itu.”
Renatta bertekad. Asalkan pria itu sudah membantu keuangan keluarganya, ia akan menggugat cerai pria itu.
“Aku pulang dulu, Ri. Lain kali aku akan datang lagi.” Renatta membungkuk dan mengecup nisan sang kembaran.
Ia kemudian bangkit, dan meninggalkan pemakaman elit itu.
***
Bersambung.
dimana mana bikin gerah 😜🤪
aku baru nemu cerita ini setelah kesel nunggu cerita sisa mantan 😁