NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:964.1k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan kembali.

Selalu ada pelangi di pengujung hujan. Tak mungkin ada kesedihan, jika tak akan datang kebahagiaan.

🌷🌷🌷🌷

"Dasar cowok brengsek!" seru seorang wanita sambil melayangkan tamparan pada muka lelaki di hadapannya.

Perkataan wanita itu yang keras dan menggema, membuat semua orang yang tengah berada di Cafe "Cantik" menatapnya. Tak terkecuali Adnan, lelaki berkemeja hitam rapih dan celana jeans yang baru saja duduk di bangku tepat samping kanan keduanya.

"Gue minta maaf, Alina." Terdengar lawan bicara wanita tadi mengutarakan penyesalan.

"Lo pikir dengan minta maaf, bisa ngerubah semuanya!" sungut Alina, wanita yang tadi menampar. "6 bulan, Don! Gue di selingkuhin sama lo. Kalau bukan sama temen akrab gue, engga masalah. Lo berdua emang cocok, Sama-sama engga punya hati nurani!"

Satu gebrakan di meja diikuti bangkitnya Alina semakin membuat suasana menegang. Tak di sangka lelaki tadi beringsut dari tempat duduknya, menahan lengan Alina agar tak pergi. "Jangan tinggalin gue, Na. Sayang gue lebih besar ke lo."

Perasaan Alina yang remuk redam tak ingin mendengar apa pun lagi. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Doni. Namun, tenaganya kalah kuat.

Adnan geram melihat pemandangan di sampingnya. Ia bangun dan tiba-tiba melepaskan genggaman Doni pada tangan Alina, lalu berkata, "Lepaskan dia! Gadis ini tidak mau mendengar omong kosongmu lagi."

Alina terperanjat tatkala suara lelaki lain berada di tengah pertikaiannya. Ia berbalik badan, menilisik Ardan dari bawah hingga kaki.

"Siapa Lo? Engga usah ikut campur!" Doni kesal, menatap tajam ke arah Adnan. "Ini bukan urusan lo!"

"Saya memang tidak ada kaitannya dengan masalah kalian. Tapi, ini tempat umum, bukan milik kalian berdua. Orang ke sini untuk menikmati makanan, bukan untuk melihat kalian bertengkar!" tekan Adnan.

Doni hendak kembali meraih tangan Alina. Namun, secepat kilat gadis itu menepisnya.

"Lo dan gue udah berakhir! Jadi, jangan pernah sekalipun Lo liatin hidung pesek itu di hadapan gue. Ngerti!" Alina kembali berbalik, langkahnya kali ini semakin cepat. Yang ia ingin saat ini hanyalah mengendarai motor gedenya. membiarkan ban motor tersebut bertemu aspal jalanan.

"Lo! Gue peringatin sekali lagi, jangan pernah ikut campur urusan orang lain!" Tangan Doni menunjui tepat di mata Ardan, lalu pergi menyusul Alina yang telah pergi membawa roda besinya.

"Lelaki tidak punya sopan santun!" umpat Ardan kesal dan kembali duduk di tempatnya.

Memori Adnan menangkap sesuatu. Mata Alina seperti tak asing baginya. Ia pernah melihat gadis dengan bola mata kecoklataan, berpakaian tomboy dan mengendarai motor besar. Kapan dan di mana, ia pun tak tau.

Tak ingin berlarut dalam pikiran yang tak pasti, Adnan segera menepis perasaan aneh tadi. Kedatangannya ke tempat ini, tak lain dan tak bukan untuk menemui dua sepupunya si kembar Riko dan Riki.

Terdengar suara derap langkah kaki mendekat, lalu satu tepukan di bahu Adnan membuat si empunya tersentak.

"As-alamu'alaikum, Pak Direktur," sapa Riko, yang ternyata telah berada di hadapan Adnan.

"Direktur kita kayaknya lagi ngelamun, Bro," ledek Riki, yang tepat di samping kembarannya.

"Wa'alaikum salam," jawab Adnan.

Anak kembar itu bersamaan menarik kursi, lalu duduk di bangku masing-masing.

"Udah lama nunggu?" tanya Riko.

"Baru lima menit," jawab Adnan singkat.

"Ya elah, Nan. Ini cafe, bukan kantor. Datar amat tuh muka! Lama-lama lo kayak Paman Egi. Si kulkas dua pintu keluaran baru." Riki tertawa geli.

Riko yang mendengarnya juga tidak kuat menahan hasrat, untuk tak tertawa.

"Paman, ya, paman. Jangan samakan!" sungut Adnan.

"Iya, dah. Kita minta maaf," cakap Riko langsung menghentikan aktivitas yang menggitik perutnya.

"Nan, proyek yang di kota Bogor gimana? Jadi lo kasih ke PT Putra Sulung?" tanya Riki.

"Gue ngerasa engga cocok, kalau ke mereka. Harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi," sela Riko.

Adnan diam sejenak. Proyek yang rencananya akan dimulai pertengahan maret 2021 ini, memang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan. Sebuah kawasan elit akan didirikan di atas tanah bekas sawah sekitar 1500 hektar. Tanah tersebut, Ia beli dari warga kampung di daerah sana. Harga tinggi tak menjadi masalah, karena invest ke depannya lebih menjanjikan.

Sektor perkembangan industri di daerah tersebut di prediksi akan melesat tajam beberapa tahun ke depan. Terlebih, untuk menunjang rencananya. Adnan akan membangun fasilitas umum seperti, sekolah swasta, mall terbesar, ruko-ruko, rumah sakit, tempat beribadah dan pasar modern.

"Tapi ... hasil kerja mereka bagus di proyek sebelumnya," imbuh Adnan.

"Bener sih." Riko membenarkan.

"Gue mah ikut kepututan lo aja deh," tukas Riki

Terdengar sayup-sayup pelanggan cafe membicarakan kehadiran Adnan. Seorang Direktur utama perusahan di bidang property ini tak seperti lainnya. Adnan tak sombong ataupun memilih teman dan tempat ia bergaul.

Pengalaman sulit di masa lalu beberapa tahun ke belakang selalu mengajarkannya tetap sopan, ramah dan berendah hati. Kebangkrutan perusahan orang tuanya yang terjadi setelah ia lulus kuliah, membuat ia dan keluarganya harus berusaha tabah. Kala itu usianya baru 22 tahun.

Saat itu, seorang mata-mata menyamar sebagai pekerja di kantor Papanya. Ia telah mencuri beberapa dokumen penting dari kantor. Sehingga, rencana bisnis yang akan dilakukan oleh papanya bocor ke pihak lain. Karena hal itu, perusahaan mengalami kerugian besar dan terlilit hutang.

Untuk memenuhi kebutuhan, Adnan hanya mengandalkan bengkel kecil yang telah ia kelola selama masa kuliah. Atas dukungan Papa dan bundanya, akhirnya ia merangkak mendirikan perusahaan sendiri.

Empat tahun berlalu, semua kembali normal. Atas izin Allah, kerja keras dan doa orang tua. Adnan sukses sebagai pemilik perusahaan "Wijaya Land". Banyak orang mengenalnya. Namun, ia tak ingin terusik akan hal itu.

"Cepetan nikah sana! Tante Lisa suka nanya ke gue mulu soal pacar lo," ungkap Riki. "Mana gue tau. Lo aja engga pernah gandengan cewek."

Riko menyikut tangan kembarannya. "Nyuruh orang nikah. Lah, sendirinya masih belum berani juga nemuin orang tua Lia."

"Jangan bahas itu lah. Gue lagi puyeng, Bambang!" sungut Riki. "Gue pusing, kalau dia udah ngomong pake bahasa daerahnya."

Riko tertawa, sedangkan Adnan hanya menyimak. Waktu menunjukkan pukul 15.00 sore. Adnan pamit pulang, karena harus mengantarkan bundanya ke dokter sehabis salat Asyar. Ia membayar terlebih dahulu pesanannya di meja kasir, lalu bergegas keluar cafe meninggalkan Riko dan Riko.

Tanpa membuang waktu, Adnan segera masuk ke mobil. Mengarahkan kendaraannya ke jalan raya utama. Lima menit berkendara, tepat mendekati lampu merah. Mobil Adnan menyalip sebuah motor. Ia tak tahu, bahwa hal itu membuat si pengendara motor oleng dan terjatuh ke samping kiri.

Adnan yang melihat kejadian itu dari kaca spion segera menginjak rem. Ia bergegas keluar mobil dan menghampiri si pengendara motor gede. Dari balik helm, tampak wajah cantik berambut panjang yang sempat ia lihat di cafe tadi.

"Bisa nyetir engga sih, lo?" tanya Alina, pengemudi motor gede tersebut.

Tatapan mereka bertemu. Persis yang terjadi 6 tahun lalu. Mata kecoklatan itu benar-benar menghipnotis Adnan. Ia tak berkedip seraya memutar memori otak. Kejadian ini bagaikan dejavu untuk keduanya.

"Kamu gadis bar-bar yang 6 tahun lalu terlibat kejadian seperti ini denganku kan?" tanya Adnan memastikan.

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Bismillah ...

Selamat datang di cerita Adnan🤗

Sesuai janjiku, aku akan menuntaskan cerita Adnan dan dua R di sini.

Semoga kalian suka.

Sebelumnya, aku mohon maaf --perihal-- pekerjaan Adnan ataupun perusahaannya. Maaf, jika ada kesalahan ataupun risetku yang kurang tentang hal itu.

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!