Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Bruggh!!
Tatapan tajam dan mengerikan itu menusuk mata Liliana, gadis itu tidak bisa memberontak karena kaki tangannya terikat dan mulutnya tertutup.
Seorang gadis yang sedang menatap Liliana seperti hidangan lezat membuat gadis itu merinding, air matanya jatuh dan tubuhnya gemetar hebat.
Malam ini gadis yang bernama Fiona Delvina kembali menempati gudang tuanya untuk menghabisi nyawa seseorang gadis cantik.
"Selamat malam nona Liliana." Sapa Fiona dengan seringainya.
Liliana menggelengkan kepala melihat tatapan mengerikan Fiona seperti itu.
"Bagaimana? Masih ingin bermain?" Tanya Fiona.
"Mm!!!"
Fiona langsung melepas lakban yang membekap mulut Liliana.
"Fiona aku mohon lepaskan aku, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi dengan perkataan ku." Ucap Liliana dengan Isak tangis.
"Siapa yang peduli tentang omong kosong mu? Aku diam bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun nona Liliana."
Suara dingin itu semakin membuat tubuh Liliana merinding, keringatnya semakin deras ketika Fiona mengambil satu buah senjata.
"Kau selalu menggangguku saat tidur sekarang aku akan membantu mu untuk tertidur pulas SELAMANYA." seringai itu sangat amat menyeramkan.
Liliana menjauh dan menjauh hingga tubuhnya terbentur tembok.
"Ja-jangan bunuh aku atau papa ku akan mengulik kematian ku dan kau..."
"Nona Liliana seberapa kaya dan seberapa hebat keluarga mu hingga dia bisa menemukan ku."
Fiona meletakkan pistol tepat didepan kening Liliana, gadis itu memejamkan mata merasakan dinginnya ujung pistol.
"Katakan selamat tinggal pada dunia, aku akan membantumu bertemu dengan Tuhan."
Dorr!!
Peluru menancap bebas dikening Liliana, darah segar mengalir deras hingga menetes dari wajahnya, tubuh itu sudah tidak menegang lagi sekarang.
"Masih berani mengganggu ku?"
Tidak ada rasa bersalah sama sekali Dimata Fiona, dia senang melihat darah itu mengalir dengan deras tanpa hambatan, Fiona malah merobek kening Liliana agar proses pengeluaran darah itu semakin cepat.
Setelah tetesan darah terakhir Fiona memasukkan tubuh Liliana kedalam plastik lalu membawanya ke dasar jurang.
Sampai didepan jurang Fiona membuka plastik tersebut lalu mendorong tubuh Liliana kedalam jurang menggunakan kakinya, tak lupa juga Fiona membuang pistol tersebut ikut bersama Liliana.
"Sampai jumpa esok hari nona." Ucap Fiona sembari menempelkan surat terakhir Liliana didepan pohon dekat jurang.
Setelah semuanya selesai Fiona melepas sarung tangannya lalu pergi meninggalkan jurang, dia harus membersihkan bekas darah Liliana agar karena fajar sudah mulai terlihat dari arah barat.
Tidak ada rasa gugup sekalipun dalam diri Fiona karena dia sudah terbiasa melihat darah dan mengumpulkan nya untuk diberikan kepada anjing anjing dipinggir jalan bercampur dengan daging ayam atau semacamnya.
***
keesokan harinya Fiona terbangun dari tidur nyenyak nya, senyum tipisnya mengembang karena sebentar lagi akan ada berita menghebohkan dikampus nya.
tring...tring
"Fiona!!!"
gadis itu menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mendengar teriakan orang yang menelponnya.
"kenapa berteriak seperti itu ada apa?" tanya Fiona.
"astaga aku mengagetkan mu? maaf maaf tapi ini berita paling heboh sedunia kau tau apa?"
"apa?"
"Liliana tewas bunuh diri."
"benarkah?"
"iya dan jasadnya baru dibawa pulang oleh keluarga, kurasa hari ini kita semua akan pergi."
"baiklah Ella aku harus bersiap siap terlebih dahulu."
"aku jemput?"
"tidak perlu kita bertemu di kampus saja."
"baiklah."
Fiona memutuskan sambungan lalu berpindah kearah dapur mengambil air minum, senyum tipisnya terlihat ketika melihat bungkusan darah Liliana sedang berada di apartemennya.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔