Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Akhirnya, setelah empat bulan mengurus bisnis di luar Italia, aku kembali ke negeri indahku. Aku merindukan keluargaku, terlebih tunangan tercintaku. Ada kejutan besar untuknya. Aku ingin sekali membayangkan wajahnya ketika tahu aku sudah hamil lima bulan. Begitu turun dari jet pribadiku, udara dingin langsung menerpa. Kukenakan jaket panjang yang menutupi tubuh, agar kehamilanku tak terlihat.
"Nona Adelina, selamat datang! Nona ingin saya antar ke mana?" tanya Ricardo. Kulihat senyum tipis di wajah sopirku itu.
"Selamat pagi, Ricardo. Tolong antar aku ke mansion tunanganku."
Sepanjang perjalanan kupandangi jalanan Italia yang cantik. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di depan pintu mansion, dengan senyum yang tak bisa kusembunyikan. Sungguh, aku sangat merindukannya. Di tanganku ada kotak kecil berisi kejutan: hasil tes kehamilan dan sepasang sepatu bayi mungil. Pengurus rumah membukakan pintu, dan kulihat wajahnya memucat saat melihatku.
"Di mana Massimiliano?"
"Nona Adelina, Tuan sedang berada di ruang kerjanya, tapi sepertinya beliau tak bisa menemui Nona saat ini."
"Siapa kau, berani-beraninya bilang tunanganku tak bisa menemuiku? Tahu diri sedikit, Perempuan!"
Kudorong ia ke samping dan berjalan menuju ruang kerja. Berani sekali pelayan itu mengatur-aturku. Saat mendekat, kudengar bisik-bisik dan tawa, lalu beberapa detik kemudian berubah jadi desahan. Kubuka pintu, dan apa yang kulihat tak bisa kupercaya. Tunanganku sedang bercinta di atas mejanya dengan seorang perempuan. Aku membeku beberapa saat, menyaksikan perempuan itu mendesah penuh nikmat sementara Massimiliano mengecup lehernya dan membisikkan betapa ia mencintainya. Kubuat suara batuk pura-pura agar mereka menyadari kehadiranku. Begitu melihatku, mereka buru-buru merapikan diri. Air mataku nyaris tumpah, tapi aku menolak menangis di depan mereka. Aku tak akan memberinya kepuasan melihatku menangis.
"Sayang sekali harus mengganggu, Tuan Massimiliano."
"Adelina, kapan kau kembali? Biar kujelaskan."
Ia cepat-cepat berpakaian dan menyuruh perempuan berambut cokelat itu pergi ke kamar. Perempuan itu hanya memandangiku, lalu menurut dan lenyap di lorong.
"Apa yang mau kau jelaskan? Bagaimana caramu meniduri dia? Atau kau pikir aku sebodoh itu?"
"Maafkan aku. Aku tak pernah ingin mengkhianatimu, semua ini di luar kendaliku. Aku jatuh cinta padanya. Sungguh, maaf kau harus tahu dengan cara seperti ini." Ia melangkah ke arahku, meraih sepucuk pistol, dan menyodorkannya padaku. "Kalau kau ingin membunuhku, lakukanlah. Aku pantas menerimanya atas semua luka yang kutimbulkan."
Hatiku hancur berkeping-keping, tenggorokanku tercekat. Kenapa ia tega melakukan ini padaku? Lima tahun hubungan kami, kuberikan seluruh diriku, kulakukan segala yang ia minta, kuserahkan hatiku, jiwaku. Kenapa ia membalasku begini? Bukankah lebih mudah bilang saja ia tak ingin bersamaku, bahwa ia mencintai perempuan lain? Kenapa harus menungguku mengetahuinya dengan cara seperti ini? Ia berlutut di hadapanku.
"Berdiri. Kau tak perlu berlutut, itu takkan mengubah apa pun. Pengecut keji sepertimu tak pantas membuat Sang Dewi Putih mengotori tangannya dengan spesimen sepertimu. Mulai detik ini kau bukan lagi rekanku. Kau keluar dari organisasi Italia." Kutarik cincin pertunanganku dan kulempar ke lantai. "Itu cincinmu."
Aku keluar dari ruang kerja langsung menuju mobil, tempat sisa pengawalku menunggu.
"Antar aku pulang. Sekarang!"
"Kukira kau akan lebih lama," ujar Julian.
"Kau sudah tahu?"
"Ya, Adelina. Tapi kalau kuberi tahu, kau takkan percaya. Kau harus melihatnya sendiri. Maaf."
"Kau punya informasi soal perempuan itu?"
"Kau benar-benar ingin tahu tentang dia, Adelina?"
"Aku cuma ingin tahu dengan siapa Massimiliano bermain-main."
Julian, tangan kananku, sahabat terbaikku, mengenalku terlalu baik. Ia sudah menyiapkan informasinya dan menyerahkan sebuah map hitam.
"Sudah kuduga kau butuh datanya."
Kubaca. Perempuan itu bernama Paola, 18 tahun, seorang kasir, yatim piatu. Empat bulan lalu Massimiliano menculiknya, lalu gadis itu jatuh cinta padanya.
"Wah. Aku cuma menunggu sampai ia melepasku pergi," gumamku pelan.
"Apa katamu? Kau mau aku membunuh mereka?"
"Tidak. Biar mereka bahagia. Mulai sekarang Massimiliano bukan lagi bagian dari organisasi. Ada anggota keluarga yang tahu?"
"Tidak, Adelina. Tapi kubayangkan kau akan memberi tahu mereka. Kalau orang tua dan saudara-saudaramu tahu, mereka pasti ingin membunuhnya."
"Mereka tak akan tahu yang sebenarnya, dan kau akan tutup mulut. Kalau tidak, kubunuh kau. Mengerti?"
"Ya."