Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Keluarga Yang Manis
✦ DISCLAIMER ✦
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali.
Cerita ini merupakan seri kedua dari “IN THE NAME OF LOVE”, lanjutan dari “Saat Aku Mencintaimu”, yang sebelumnya berfokus pada awal perjalanan cinta dan rumah tangga para tokoh utama. Dalam seri ini, cerita akan bergerak ke fase yang lebih dalam—tentang jatuh bangun kehidupan pernikahan setelah belasan tahun bersama, tentang bertahan, kehilangan arah, lalu kembali menemukan satu sama lain.
Di dalam cerita ini terdapat beberapa adegan yang menampilkan: hubungan emosional dalam rumah tangga, kedekatan suami dan istri yang lebih intim secara psikologis maupun fisik, dinamika perasaan dewasa yang tidak selalu ringan, konflik hubungan yang lebih kompleks dibanding seri sebelumnya
Meskipun tidak ditampilkan secara vulgar atau eksplisit, beberapa adegan mungkin terasa lebih matang dan intens bagi sebagian pembaca.
Dengan itu, penulis menyarankan pembaca untuk bijak dalam memilih bacaan, terutama bagi yang masih berada di bawah usia 17 tahun. Mohon untuk membaca dengan pendampingan atau mempertimbangkan kesiapan diri sebelum melanjutkan.
Cerita ini sepenuhnya fiksi. Segala karakter, peristiwa, dan hubungan yang terjadi di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis semata.
Karena pada akhirnya, setiap cinta—seindah apa pun atau serumit apa pun—selalu punya cara untuk kembali.
Selamat membaca
— BNYK 🐨>🪻
Sinar matahari menelusup masuk melalui celah gorden yang tak tertutup sempurna. Cahaya lembutnya jatuh perlahan di atas ranjang besar di kamar luas itu, menyentuh seprai putih, dinding bernuansa hangat, dan wajah-wajah yang masih terlelap. Udara pagi terasa tenang, nyaris terlalu damai untuk dunia yang terus bergerak di luar sana.
Nala membuka matanya pelan. Kepalanya masih berat oleh sisa tidur, tetapi dadanya hangat oleh perasaan yang sama yang selalu ia rasakan setiap pagi. Di sampingnya, pria itu masih ada.
Junho.
Napasnya teratur, wajahnya tenang, dengan garis-garis waktu yang tak lagi bisa disangkal. tiga belas tahun menikah, pikir Nala. tiga belas tahun, dan rasa cintanya justru tumbuh ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya; lebih dalam, lebih sunyi, lebih dewasa.
Kini mereka tak lagi hanya berdua.
Jun-seok sudah berusia sepuluh tahun.
Anak laki-laki itu adalah dunia kecil yang lahir dari perjalanan panjang mereka—dari cinta yang dulu penuh gejolak, hingga kehidupan yang kini terlihat… manis. Terlalu manis, mungkin.
Nala memandang Junho beberapa detik lebih lama sebelum menarik selimut dan bangkit perlahan dari ranjang. Pagi ini terasa biasa namun justru karena itulah, ia tak tahu bahwa sepuluh tahun ini telah mengubah segalanya.
“Akhh, pegal sekali,” ucap Nala pelan sembari turun dari ranjang.
Nala berjalan menuju meja dekat televisi di depan ranjang, lalu mengambil ponselnya.
Pesan masuk dari agensi ORIONA Entertainment sebuah agensi yang tak kalah besar dari LYNX dan kini sedang naik daun karena salah satu artis mereka tengah booming secara global. ASTRAE, grup musik pria yang beranggotakan lima orang itu, kini sedang menjadi perbincangan dunia.
Nala sendiri sudah memasuki tahun kedua setelah mengambil kontrak kerja di ORIONA Entertainment sebagai Creative Director & Head of Internal Writing Team.
Awalnya, tawaran kerja itu membuat Nala bingung. Ia takut Junho tidak akan mengizinkannya kembali bekerja. Apalagi kini Junho dan SOLIX sudah sepenuhnya pensiun dari dunia hiburan, walaupun Taeyang masih bergelut sebagai aktor papan atas.
Junho sendiri kini lebih fokus pada KIM Holdings, perusahaan keluarga Kim yang memang jabatan kepemimpinannya telah diserahkan kepadanya. Sepuluh tahun telah berlalu dunia seolah berganti kulit. Semua orang berubah, menjadi lebih sunyi dan bermakna.
Nala mengetik cepat untuk membalas pesan singkat tersebut, lalu masuk ke kamar mandi. Uap air hangat memenuhi ruangan. Nala berdiri di bawah pancuran, membiarkan air mengalir dari rambutnya hingga ke bahu, seolah ikut meluruhkan sisa kantuk dan pegal di tubuhnya.
Pikirannya masih tertinggal pada pesan dari ORIONA; pada pekerjaan, pada dunia luar yang perlahan kembali ia masuki setelah bertahun-tahun mengurusi rumah dan kehidupan yang tenang.
Setelah selesai, Nala keluar dengan rambut setengah basah, dibalut handuk tipis, lalu berganti pakaian rumah yang sederhana. Saat ia melangkah mendekati ranjang, Junho masih terlelap di posisi yang sama. Nala berniat membangunkannya tetapi sebelum sempat memanggil namanya, suara ketukan terdengar di pintu.
“Kenapa, sayang?” tanya Nala lembut, langsung menunduk agar sejajar dengan putranya.
“Mommy, Seok tidak mau sekolah,” ucapnya sembari menunduk. Hal itu membuat Nala mengernyit bingung.
“Kenapa?” tanya Nala tak mengerti.
“Aku belum menyelesaikan tugas sekolah… Bagaimana ini, Mommy? kalau aku tidak menggambarnya, nanti guru akan marah,” rengeknya. Tangisan Jun-seok semakin pecah ketika Nala menggenggam kedua bahunya.
“Shh… pelan, Seok,” bisik Nala. Ibu jarinya mengusap sudut mata anak itu. “Kamu tenang dulu, ya.”
Nala mengusap pelan kepala putranya, tetapi Jun-seok menggeleng kuat, napasnya terputus-putus di sela tangis yang masih tersisa.
“Aku lupa, Mommy… Kemarin aku capek. Aku pikir hari ini libur menggambar… Kalau aku tidak bawa tugasnya, guru akan marah. Semua temanku pasti sudah selesai…” Suaranya mengecil, seolah rasa bersalah membuatnya semakin sulit berbicara.
Nala menarik anak itu ke dalam pelukan nya tubuh kecil itu gemetar, bukan hanya karena takut dimarahi, melainkan karena rasa bersalah yang belum mampu ia pahami sepenuhnya. Usianya baru sepuluh tahun, cukup dewasa untuk menyadari kesalahan, tetapi belum cukup dewasa untuk tahu bahwa dunia tidak selalu runtuh hanya karena satu kelalaian.
“Hey… Lihat Mommy.” Nala merenggangkan pelukan sedikit agar wajah mereka sejajar. Jun-seok perlahan mengangkat wajahnya. Mata itu mata yang begitu mirip dengan Junho basah dan dipenuhi kecemasan.
“Kesalahan itu bukan akhir dari segalanya. Kamu lupa, iya. Tapi kamu belum terlambat untuk bertanggung jawab,” ucap Nala lembut. Suaranya tetap stabil, setenang pagi yang menyelimuti kamar mereka.
“Tapi aku belum gambar apa-apa…” gumam Jun-seok lirih. Tangannya meremas kertas kosong itu seolah benda tersebut sedang menuduhnya.
“Kita bisa kerjakan sekarang. Sekolahmu masih satu jam lagi, kan?” jawab Nala tanpa ragu.
“Iya… Tapi… tapi… mustahil bisa, Mommy,” Jun-seok mengangguk pelan, matanya basah oleh air mata. Nala tersenyum kecil.
“Itu cukup, Nak. Tenanglah…” kata Nala lembut.
Ia menggenggam tangan anaknya dan menuntunnya ke kamar putranya. Suasana penthouse itu masih sunyi pagi itu, cahaya matahari masuk melalui jendela besar jatuh tepat di atas meja kayu yang sudah dipenuhi coretan pensil dan cat air. Nala mengambilkan kotak alat gambar, lalu menatanya dengan tenang.
“Kamu mau gambar apa?” tanyanya sembari berdiri di belakang putranya. Jun-seok terdiam beberapa detik.
“Keluarga. Temanya keluarga,” jawabnya akhirnya. Mendengar itu, Nala berhenti sejenak, lalu mengangguk.
“Pilihan yang bagus.” Ia duduk di samping Jun-seok, bukan untuk menggambar, melainkan untuk menemani.
Memberi ruang dan rasa aman.
Jun-seok mulai menggerakkan pensilnya pelan awalnya terlihat kaku, lalu perlahan lebih berani. Garis-garis sederhana membentuk tiga sosok: seorang ayah, seorang ibu, dan seorang anak.
Namun, di tengah proses itu, suara langkah kaki terdengar dari arah kamar. Junho muncul di ambang pintu. Ia sudah berpakaian rapi; kemeja putih, celana gelap, jam tangan terpasang sempurna. Rambutnya sedikit basah, wajahnya tenang seperti biasa. Namun, matanya langsung tertuju pada Jun-seok.
“Kenapa belum siap-siap sekolah?” tanyanya.
Nada suaranya tidak tinggi, tidak keras namun tegas dengan batas yang jelas. Jun-seok langsung menegang tangannya berhenti menggambar anak itu melirik Nala sekilas, refleks mencari perlindungan.
Mendengar suara suaminya, Nala bangkit berdiri dan melangkah menghampiri Junho yang menyodorkan dasinya kepada Nala.
“Seok lupa ada tugas menggambar, Daddy. Kami sedang menyelesaikannya,” jawab Nala sembari menerima dasi itu.
“Bukannya semalam bilang tidak ada tugas?” Junho melangkah mendekat, berdiri di belakang Jun-seok. Ia menunduk, memperhatikan gambar di atas meja tanpa berkata apa-apa.
Beberapa detik berlalu cukup lama untuk membuat Jun-seok semakin gelisah.
“Seok lupa… Daddy,” ucapnya pelan.
“Kamu tahu aturannya. Tugas sekolah adalah tanggung jawabmu,” ucap Junho akhirnya. Hal itu membuat Jun-seok menunduk.
“Iya, Daddy… Maaf, Seok lupa,” katanya lagi.
“Sudahlah… Setelah selesai menggambar, kamu tetap harus berangkat sekolah tepat waktu. Tidak ada alasan terlambat,” lanjut Junho. Suaranya tetap datar, tetapi tidak terdengar marah. Hal itu membuat Jun-seok mengangkat kepala sedikit.
“Berangkat dengan Daddy?” tanyanya penuh harap.
“Iya… Cepat selesaikan, mandi, dan bersiap. Daddy akan tunggu,” jawab Junho sembari mengusap lembut kepala putranya sebuah sentuhan yang cukup untuk membuat Jun-seok tersenyum kecil dan mengangguk cepat.
“Aku akan cepat, Daddy.” Ia kembali melanjutkan gambar yang sudah hampir jadi itu.
Junho menoleh kepada Nala tatapan mereka bertemu sejenak, penuh pemahaman yang tidak perlu diucapkan. Nala tahu, di balik ketegasan itu, Junho menyimpan cinta yang tidak pandai ia ucapkan.
“Pasangkan dasinya,” pinta Junho kepada Nala.
Nala tak menjawab, tetapi ia melangkah mendekat kepada suaminya. Junho menunduk sedikit, sementara pandangannya tak lepas dari putranya yang sibuk menggambar dengan posisi membelakangi mereka.
“Mau berangkat bersama?” tanya Junho ketika menyadari Nala belum bersiap.
“Aku berangkat siang, Oppa,” jawab Nala lembut. Tangannya sibuk merapikan kerah kemeja suaminya sebelum memasangkan dasi dengan rapi.
“Baiklah… Ingat, jangan nakal-nakal di sana,” ucap Junho sembari mengusap lembut pipi Nala.
“Iya, Oppa,” jawab Nala, membuat Junho tersenyum.
Pria itu kemudian mengecup singkat bibir istrinya hingga Nala sedikit terkejut, dia refleks menoleh ke arah Jun-seok, tetapi putranya masih sibuk dengan gambar di hadapannya, sama sekali tidak terganggu oleh obrolan kedua orang tuanya.
“Aku siapkan sarapan,” ucap Junho sebelum melangkah pergi menuju dapur.
Begitu Junho menghilang dari pandangan, Jun-seok langsung menghela napas panjang.
“Daddy galak,” bisiknya.
Nala menoleh, lalu tersenyum kecil sembari mengusap rambut anaknya.
“Daddy sayang kamu. Caranya saja berbeda.” Nala menatap gambar yang hampir selesai itu—sketsa satu keluarga yang terlihat indah dengan caranya sendiri.
Jun-seok kembali menggambar, kali ini dengan lebih fokus. Garis-garis pensilnya mulai membentuk sebuah rumah, matahari, dan tiga sosok yang berdiri berdekatan. Namun, jika diperhatikan lebih saksama—sosok ayahnya digambar sedikit lebih jauh.
Tidak disengaja atau mungkin… tidak sepenuhnya.
Nala memperhatikan dalam diam, lalu tersenyum geli melihatnya. Namun, Nala tidak berkomentar, membiarkan Jun-seok melakukan apa yang ia mau. Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya gambar itu pun selesai. Ia segera menyodorkannya kepada Nala.
“Mommy, bagaimana?” tanyanya, membuat Nala terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
“Bagus. Ini cukup.” Nala mengusap kepala sang putra.
“Terima kasih sudah menemani Seok, Mommy. Seok sayang sekali pada Mommy,” ucapnya sembari memeluk Nala erat.
“Mommy juga… sayang sekali. Baiklah… sekarang pergi mandi dan bersiap. Kita sarapan, lalu pergi.”
Nala melepaskan pelukan itu, jun-seok hanya mengangguk pelan, lalu berlalu menuju kamar mandi. Nala lalu merapikan perlengkapan sekolah Jun-seok. Tak lupa, ia memasukkan hasil gambar itu ke dalam sebuah map agar mudah dibawa dan kertasnya tidak kusut. Setelah itu, ia menyiapkan seragam putranya sebelum keluar dari kamar.
──☾⋆★⋆☾──
Saat keluar, Junho sudah duduk di meja makan, pria itu terlihat sibuk dengan ponsel nya, terlihat sangat serius seolah-olah benar-benar ada pekerjaan yang harus dia kerjakan saat itu juga.
“Oppa tidak makan duluan?” tanya Nala sembari duduk di kursi di hadapan Junho.
“Menunggumu,” ucapnya sembari meletakkan ponselnya di atas meja.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Junho sembari menyesap kopinya.
“Semuanya baik… Tapi mungkin akan sangat sibuk beberapa bulan ke depan. ASTRAE akan segera memulai proyek album barunya. Aku mungkin akan sering lembur,” jawab Nala pelan.
Junho berhenti menyesap kopinya, cangkir porselen itu ia letakkan kembali di atas tatakan dengan gerakan tenang, nyaris tanpa suara. Namun, matanya—mata yang selama bertahun-tahun terbiasa membaca panggung, manusia, dan situasi kini menatap Nala sedikit lebih lama dari yang diperlukan.
“Sering lembur?” ulangnya pelan.
Hal itu membuat Nala mengangguk kecil.
“Album ini penting untuk mereka. Konsepnya kompleks; naratif, emosional. Banyak yang harus dirapikan dari sisi cerita dan lirik,” jawab Nala.
Junho langsung menyandarkan punggungnya ke kursi rahangnya sedikit mengeras, meski ekspresinya tetap datar. Ada sesuatu yang berubah tipis dalam sorot matanya, sesuatu yang belum mampu Nala baca pagi itu.
“Seberapa sering?” tanyanya.
“Oppa. Aku profesional, aku sudah janji, kan.” Nala tersenyum tipis karena sudah mengenali ke mana arah percakapan ini.
Dulu, saat Nala mendapatkan tawaran dari ORIONA Entertainment, Junho tidak langsung menyetujuinya. Nala harus membujuk dan meyakinkannya selama berminggu-minggu, bahkan sampai meminta bantuan Minseo—mertuanya yang kini selalu mendukung setiap langkahnya.
“Aku tidak meragukan itu,” jawab Junho cepat. “Yang aku ragukan adalah dunia di sekitarmu. Sadar atau tidak, kau tampak tidak berubah… masih terlihat seperti gadis remaja. Siapa yang akan menyangka kau seorang wanita bersuami dan sudah memiliki anak?”
Nada suaranya tidak keras tetapi penuh bobot yang jelas, nada yang dahulu membuat satu grup idola patuh tanpa perlu perintah berulang.
“ORIONA bukan tempat yang sembarangan. Industri musik tidak banyak berubah. Jam kerja panjang. Batas personal kabur. Kita sama-sama tahu tentang itu, kan?” lanjut Junho, membuat Nala menyilangkan jemarinya di atas meja.
“Aku tidak sendirian. Aku memimpin tim internal. Dan ASTRAE… mereka anak-anak baik. Oppa, tidak ada batas yang aku langgar sebagai wanita yang sudah menikah. Aku bahkan tidak sempat mengagumi pria lain selain dirimu. Selama ini hanya kau yang mampu menarik perhatianku,” jawab Nala tenang.
“Itu tidak menghentikan orang lain untuk menaruh niat,” jawab Junho tenang. Nala menghela napas kecil, bukan karena kesal lebih kepada pasrah bercampur geli.
“Oppa masih sama sepuluh tahun berlalu, pensiun, jadi CEO… tetapi mode leader-nya tidak pernah mati,” gumamnya.
Junho tidak menyangkal tetapi sudut bibirnya justru terangkat sedikit, ada sedikit kelegaan karena Nala tidak membantah ucapannya atau mencari-cari alasan. Bagaimanapun, Junho memang belum sepenuhnya setuju Nala bekerja, apalagi hingga saat ini ia belum memiliki keberanian untuk mengumbar keluarganya kepada media.
“Aku bertanggung jawab,” katanya singkat. “Atas keluarga ini.” Ia melirik ke arah lorong kamar, memastikan Jun-seok belum keluar dari kamar mandi, lalu kembali menatap Nala.
“Kamu akan pulang jam berapa?” tanyanya.
“Tidak tentu, kadang malam. Kadang lewat tengah malam… tapi janji tidak akan pulang pagi… ya, aku usahakan,” jawab Nala jujur.
Junho terdiam beberapa detik sunyi kecil yang khas sunyi seseorang yang sedang menghitung risiko sebelum mengambil keputusan.
“Kalau lewat jam sepuluh, aku jemput,” akhirnya Junho memutuskan.
Nala mengerutkan dahi.
“Oppa, aku bisa...” Ucapan Nala terpotong cepat.
“Aku tidak bertanya apakah kamu bisa,” potong Junho lembut, tetapi tegas. “Aku bilang aku yang jemput. Aku tidak mau kamu masih bekerja lewat dari jam sepuluh malam. Kamu harus ingat, aku dan Jun-seok selalu menunggu,” kata Junho mutlak.
Nada itu kembali, nada yang dahulu membuat staf, anggota grup, bahkan para eksekutif label memilih diam dan menurut. Nala menatapnya lama ada rasa hangat yang aneh di dadanya—bukan karena merasa dikekang, melainkan karena perhatian yang tidak pernah berubah bentuk seolah semakin rapi, semakin sunyi.
“Junho, aku tidak lagi rapuh,” ucapnya pelan, berusaha selembut mungkin agar tidak kembali menyinggung ego pria itu.
“Aku tahu. Tapi dunia tidak menjadi lebih lembut hanya karena kamu lebih kuat. Dengarkan aku sebagai suamimu aku sudah cukup mengalah dengan membiarkanmu kembali bekerja, tetapi aku tidak akan mengalah lagi jika kamu menyiksa diri seperti itu,” jawab Junho cepat.
Nala terdiam namun Junho meraih tangannya di atas meja. Genggamannya hangat namun tidak menekan, seolah itu adalah hak yang tidak perlu diperdebatkan.
“Jangan terlalu memaksakan diri,” lanjutnya. “Kamu bukan hanya Creative Director. Kamu ibu. Dan—” Ia berhenti sejenak, menatap Nala lebih dalam. “Istriku.”
Ucapan itu membuat Nala akhirnya tersenyum kecil.
“Itu bagian yang paling kamu jaga,” katanya pelan.
Junho mengangguk tanpa ragu.
“Yang paling penting.”
Suara langkah kaki kecil terdengar mendekat saat akhirnya Jun-seok muncul dengan seragam rapi, rambutnya masih sedikit lembap, dan tas tergantung di bahunya. Ia berhenti sejenak ketika melihat kedua orang tuanya duduk berhadapan, tangan mereka masih saling menggenggam.
“Daddy… Mommy,” panggilnya.
Junho segera melepaskan genggaman itu, lalu berdiri cepat menuju kursinya kembali.
“Sarapan dulu,” titahnya, membuat Jun-seok mengangguk, lalu duduk. Matanya sekilas melirik ayahnya seperti memastikan suasana benar-benar aman.
Nala bangkit untuk mengambilkan makanan. Sementara itu, Junho duduk kembali, matanya mengikuti Nala tanpa disadari. Ada kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang: memastikan, mengawasi, menjaga jarak aman antara dunia dan orang yang ia cintai.
“Mommy, minggu nanti Kiyoon samcheon ajak kita ke zoo bersama Si-an, Doh-hyun, dan Imo Eunchae. Boleh, ya?” pintanya sembari menyuapkan roti yang sudah diolesi selai oleh Nala.
“Boleh… Tapi jangan merepotkan mereka. Kamu kan lebih besar dari mereka, jadi bantu Kiyoon samcheon menjaga Si-an dan Doh-hyun,” ucap Nala, membuat Jun-seok mengangguk antusias.
“Terima kasih, Mommy,” ucapnya dengan wajah berbinar. Nala hanya mengangguk.
Sementara itu, Junho hanya fokus menyantap sarapannya meskipun sudut bibirnya terangkat tipis mendengar percakapan istri dan putra semata wayangnya. Sesekali matanya melirik Jun-seok, lalu beralih kepada Nala. Pemandangan sederhana itu entah mengapa selalu berhasil menghadirkan rasa hangat yang sulit ia jelaskan.
Untuk beberapa saat, pagi itu terasa sempurna. Tidak ada tuntutan pekerjaan, tidak ada sorotan media,dan tidak ada rahasia yang harus mereka sembunyikan hanya sebuah keluarga kecil yang menikmati sarapan bersama.