SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Salah lapak,Anjir!
BAB 1: "SALAH LAPAK, ANJIR!"
Aira meringis kesakitan. Kepala bagian belakangnya berasa dipukul pangkul kayu, nyut-nyutan gak karuan. Tenggorokannya juga kering banget kayak belum nemu air minum seminggu di padang pasir. Tapi pas dia pelan-pelan ngebuka kelopak matanya, bau pertama yang tercium bukan bau kamar kosannya yang kusam atau wangi minyak kayu putih langganannya, melainkan wangi aromaterapi vanilla yang lembut banget.
"Anjir, suara dengkur tetangga gue kok hilang?" gumam Aira pelan sambil ngucek matanya yang masih sepet.
Pas pandangannya udah bener-bener fokus, mata Aira langsung melotot selebar-lebarnya. Dia refleks loncat berdiri dari tempat tidur super empuk ukuran king size tempat dia terbaring.
"Bentar... ini gue di mana, bangsat?!"
Ruangan di sekelilingnya bikin Aira mendadak mual. Korden warna pink pastel, karpet bulu-bulu halus warna krem, meja belajar kayu cat putih yang rapi banget, plus deretan boneka teddy bear gantung yang tertata estetis. Kamar kosan Aira itu nuansanya abu-abu gothic, penuh sama tumpukan baju kotor dan poster band rock underground. Gak mungkin banget fisiknya yang kumel mendadak pindah ke kamar cewek ala-ala selebgram kaya gini.
Ingatan terakhir Aira sebelum hilang kesadaran langsung muter di otaknya. Jam tiga pagi, dia lagi telentang di kasur tipisnya sambil maraton baca novel novel romansa remaja berjudul "Cinta Di Balik Seragam". Pas lagi asyik-asyiknya maki-maki karakter figuran yang kelemahan, HP-nya lowbat. Dia colokin kabel charger yang udah ngelupas parah isolated-nya. Terus... BZZZZTTT!
Daya listrik tegangan tinggi langsung nyamber jarinya, bikin badannya kejang-kejang terus gelap total.
"Anjir! Gue kesetrum kabel tiga ribuan!" Aira panik setengah mati. Dia langsung lari ke arah cermin rias berukuran badan penuh yang ada di sudut kamar.
Pas ngaca, napas Aira makin memburu. Cewek
yang ada di dalem cermin itu bukan Aira si cewek slakan, tengil, jago berantem, dan berwajah khas preman pasar yang biasa dia liat tiap pagi. Sosok di depan kaca ini punya kulit putih bersih tanpa noda, mata bulat jernih, bibir merah muda alami, dan rambut panjang hitam bergelombang yang terurai rapi. Cantik banget, imut, tapi keliatan... kelewat polos dan gampang ditindas.
DUB-DUB! DUB-DUB!
Tiba-tiba, rasa sakit luar biasa menghantam kapala Aira. Bukan sakit fisik, melainkan serbuan ribuan memori asing yang dipaksa masuk ke sel otaknya secara paksa. Gambaran-gambaran kejadian melintas cepat kayak film di bioskop:
Nama: Aira Shena.
Umur: 17 tahun.
Status: Siswa kelas 11 di SMA Nusantara Mandiri.
Watak: Penakut, bego, nurutan, dan gampang dimanfaatin.
Aira memegang kepalanya sambil bersandar ke meja rias. "Aira Shena... tunggu, nama ini..."
Aira mendadak sadar. Aira Shena itu nama karakter figuran bernasib apes di novel "Cinta Di Balik Seragam" yang dia baca semalem! Karakter ini cuma muncul sebentar: dipaksa ngerjain PR temen-temennya, ditumbalkan sama karakter antagonis bernama Valerie buat jadi kambing hitam, sampai akhirnya mati tragis dikeroyok geng motor asing di gang gelap pas bab 20 gara-gara jebakan Valerie!
"ASLI?! GUE TRANSMIGRASI?! KE TUBUH CEWEK BEGO YANG BENTAR LAGI MATI?!" Aira teriak frustrasi sambil menepuk jidatnya keras-keras. PLAK!
"Aduh, sakit juga!" ringisnya. "Berarti ini bukan mimpi. Anjirlah, kenapa dari sekian banyak orang kaya atau female lead yang disayang pengarang, gue malah dapet jatah jadi figuran tumbal?!"
Aira mondar-mandir di kamar sambil menggigit kuku jarinya. Otaknya yang biasa dipake buat merencanakan strategi tawuran antar sekolah mendadak berputar cepat.
"Gue ogah mati dua kali! Di dunia asli gue mati konyol gara-gara kabel charger, di sini gue gak sudi mati konyol gara-gara dijebak cewek manipulatif!" Aira mengepalkan tangannya.
Tatapan matanya yang tadi penuh kebingungan mendadak berubah tajam dan penuh kebiadaban.
Gaya berdiri Aira yang tadinya gemulai ala cewek anggun langsung berubah. Dia berdiri tegap, kakinya dibuka agak lebar, badannya sedikit menyandar ke dinding—gaya khas preman yang siap ngajak ribut.
"Oke, universe. Lu salah milih jiwa buat dimasukin ke tubuh cewek ini," gumam Aira dengan senyum miring yang keliatan super tengil di wajah cantiknya. "Gue bukan Aira Shena yang dulu. Mulai hari ini, siapa pun yang berani nyenggol gue, bakal gue bikin sujud sungkem di kaki gue!"
Tok! Tok! Tok!
Suara gedoran pintu kamar mendadak memecah lamunan Aira. Suara seorang cewek paruh baya berteriak nyaring dari luar dengan nada membentak.
"Aira! Lu masih molor jam segini?! Buruan bangun, pembantu lagi mudik! Lu cuci piring di dapur terus siapin sarapan buat Papa sama Mamah! Bikin malu aja lu jadi anak!"
Itu suara Bik Maya—ibu tiri Aira Shena yang hatinya sebusuk bangkai. Di novel, ibu tirinya ini emang kerap menyiksa Aira Shena, jadiin Aira kayak pembantu tanpa gaji, sementara anak kandungnya sendiri dimanja kayak ratu.
Aira memiringkan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat. "Wah, wah... baru juga bangun, udah ada yang ngirim mangsa buat pelampiasan."
Aira berjalan santai ke arah pintu. Dia gak pakai ragu langsung membuka pintu kamar lebar-lebar. Di depan pintu, berdiri seorang wanita paruh baya dengan daster mahal, wajah berminyak, dan tangan bersedekap dengan raut muka galak.
"Nah, bangun juga lu! Kenapa mata lu ngeliatin gue begitu?! Kurang ajar ya lu—"
Brak!
Belum sempat Bik Maya selesei ngomong, Aira melangkah maju satu langkah besar, memotong jarak mereka, lalu menatap lurus tepat ke dalam mata ibu tirinya dengan tatapan dingin yang menusuk. Bik Maya yang kaget spontan terdiam, kalimatnya tertahan di tenggorokan.
"Ngomong apa lu barusan? Coba ulangin, gue gak denger," ucap Aira dengan suara rendah, tenang, tapi penuh intimidasi.
"L-lu... lu kok berani bentak gue?!" Bik Maya agak gugup, terkejut luar biasa karena biasanya Aira cuma bakal menunduk, nundukin kepala sambil nahan nangis.
"Siapa yang bentak? Gue cuma nanya," Aira terkekeh pelan, senyumannya begitu meremehkan. Dia memajukan wajahnya sedikit ke arah Bik Maya. "Tangan gue ada dua, Mah.
Dan dua-duanya diciptain bukan buat ngelayanin orang pemalas kayak Mamah. Kalau mau makan, masak sendiri. Punya tangan kan? Kecuali kalau tangan Mamah udah lumpuh, baru gue kasihanin."
"LU... LU KURANG AJAR YA AIRA!" Bik Maya meradang, tangannya melayang hendak menampar pipi Aira.
Tapi Aira bukan Aira Shena yang dulu. Sebelum telapak tangan Bik Maya mengenai kulitnya, dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Aira mencengkeram pergelangan tangan ibu tirinya di udara. Cengkeramannya begitu kuat sampai membuat Bik Maya meringis kesakitan.
"A-aduh! Lepasin! Sakit, Aira!"
"Ingat baik-baik ya, Bu," bisik Aira tepat di telinga ibu tirinya. "Jangan pernah coba-coba main fisik sama gue kalau gak mau tangan lu gue patahin jadi dua. Sekarang, mending Lu murni urus diri Lu sendiri sebelum gue hilang kesabaran."
Aira menghempaskan tangan ibu tirinya kasar hingga wanita itu mundur beberapa langkah sampai menabrak tembok. Tanpa menunggu respon dari Bik Maya yang masih syok berat dan ketakutan, Aira menyunggingkan senyum kemenangan, lalu membanting pintu kamarnya keras-keras.
BAM!
Di dalam kamar, Aira bernapas lega sambil meregangkan otot-otot jarinya. "Cih, fisik cewek ini lemah banget, baru nahan tangan begitu aja udah pegel. Gue harus mulai latihan fisik nih biar gak gampang remuk."
Aira berjalan menuju lemari pakaian. Dia menggeledah isi lemari dan menemukan seragam sekolah SMA Nusantara Mandiri. Kemeja putih bersih dengan rok abu-abu di atas lutut.
Dia memakai seragam itu. Namun bukannya memasukkan kemeja dengan rapi seperti yang biasa dilakukan Aira Shena versi asli, Aira malah membiarkan dua kancing atas kemejanya terbuka, mengeluarkan bagian bawah kemejanya dari rok, dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Rambut panjangnya yang biasanya dikuncir dua dengan norak, kini dibiarkan terurai berantakan namun memberikan kesan badass yang luar biasa.
Aira menatap dirinya sendiri di cermin rias sambil menyisipkan sebatang permen karet yang dia temukan di meja ke dalam mulutnya.
"Oke, Aira. Hari pertama sekolah di dunia novel..." Aira tersenyum lebar, matanya berkilat penuh gairah untuk bertarung. "Mari kita acak-acak alur cerita sampah ini!"
see you next bab 2'
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?