NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:165k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita keluarga : 18

Saniya berdehem, pura-pura tidak mendengar, ia bergerak ke tumpukan celana dalam.

“Saya tunggu di kasir. Jangan terburu-buru, pilihlah sesuai keinginan dan harus teliti membaca dari bahan kain apa, agar nyaman dikenakan,” ia pun menyudahi menggoda Saniya, lalu berjalan ke kasir.

“Apa dulu dia sering menemani istrinya? Makanya bisa sesantai itu, mana teliti lagi,” Saniya bergumam sembari memilih celana dalam.

Begitu melihat harganya, matanya langsung melotot, dan segera mengembalikan lagi. ‘Cuma untuk menutupi area pribadi harganya mahal sekali. Satu picis 950 ribu rupiah.’

Saniya bergeser ke sebelahnya, ia tertarik pada model satu set dalaman berwarna hitam. Lagi-lagi tidak jadi mengambil saat melihat bandrol harga nyaris menyentuh angka dua juta rupiah.

Terbiasa hidup sederhana meski tinggal di rumah megah, faktanya kehidupan Saniya jauh dari kata mewah. Pakaian yang dia kenakan memang dari brand mendunia, tetapi bekas adiknya.

Fauzia termasuk pribadi boros, sangat dimanja, dan selalu mengikuti trend fashion. Orang tua mereka selalu menuruti gaya glamor si putri bungsu.

Berbanding terbalik dengan sang kakak yang dijadikan bak tong sampah menampung pakaian enggan dikenakan lagi oleh Fauzia.

‘Apa benar dia putri kandungnya keluarga Hadi? Atau memang kepribadiannya sangat hemat sekali?’ ternyata Yarash tidak benar-benar ke kasir, diam-diam memperhatikan setiap gerakan sungkan Saniya.

Yarash mengkode karyawan butik, lalu berbisik. “Tolong ambilkan satu lusin set pakaian dalam warna hitam yang tadi dipegang istri saya.”

Karyawan butik mengangguk, tersenyum simpul. “Untuk warnanya apa mau hitam semua, Tuan?”

Dia tidak butuh berpikir lama dalam memutuskan. “Pilihkan saja warna lembut, cocok dengan kulit istri saya.”

“Baik, Tuan.”

Yarash pun menyudahi mengintip dari balik deretan pakaian wanita.

Belum lama mengenal Saniya, tetapi Yarash adalah seorang pengamat handal, dapat menebak jika istrinya suka warna tidak mencolok di mata, memberi kesan damai, mewakili kepribadian Saniya yang tenang.

Saniya memilih dua picis celana dalam yang paling murah, satunya dibandrol 270 ribu rupiah. Kemudian menyusul suaminya.

“Sudah? Cuma segitu?” Alisnya naik sedikit, melirik dua helai kain segitiga.

Sebelum menjawab, Saniya mendekati pria yang berdiri di depan meja kasir sambil mengamati karyawan menghitung, memeriksa pakaian pilihannya tadi.

“Ini modelnya simpel, yang lain terlalu mencolok,” dustanya memberi alasan klasik. Diberikannya celana dalam ke kasir.

“Totalnya 49 juta dua ratus seribu rupiah — mau bayar menggunakan kartu kredit, atau debit, apa transfer bank, Tuan?” sang kasir bertanya sopan.

Yarash memberikan salah satu kartu tipis persegi ke kasir wanita. “Kartu kredit saja, Kak.”

Di sebelahnya, Saniya menahan napas. Merasa bersalah dan sayang sekali uang sebanyak itu dibelikan pakaian. ‘Untuk beli emas, sudah dapat berat belasan gram.’

Cara berpikirnya lebih ke investasi daripada membuang uang yang menurutnya sangat tidak menguntungkan demi memenuhi gengsi.

Tentu saja pemikiran dia berbeda dari pria yang tersenyum bangga karena sudah berhasil menjalankan salah satu kewajibannya sebagai seorang suami.

Lima tas besar berbahan kertas, ditenteng Yarash dengan satu tangan. “Ayo pulang, atau ada yang mau dibeli lagi?”

Saniya menggeleng, senantiasa menunduk, dia menjadi pendiam sekali.

Saat sudah di luar butik, Yarash menghalangi jalan Saniya, berdiri tepat di hadapan wanita yang pelan-pelan mendongakkan kepalanya.

“Kamu kenapa?” tanyanya seraya mencoba menebak ekspresi Saniya.

“Gapapa,” jawabnya memaksakan tersenyum.

Helaan napas Yarash terdengar samar, dia memberi pemahaman sebab mengerti akan kegundahan hati Saniya. “Mulai sekarang, belajarlah membiasakan diri menerima pemberian suami. Saya mengerti kalau kamu adalah wanita mandiri, tetapi kini dirimu sudah menikah, dan menjadi tanggung jawab saya, Saniya.”

“Tanggung jawab bukan berarti sesuatu paksaan, karena saya tidak merasa keberatan memberi yang kamu butuhkan. Jangan dipikirkan terlalu dalam, jalani dan nikmati saja. Walaupun sedari awal saya sudah jujur pada kemungkinan tidak bisa memberimu cinta, bukan berarti memperlakukanmu layaknya orang asing. Kita keluarga, sudah sepantasnya, semestinya saling peduli,” lanjutnya cepat agar istrinya tak salah paham.

‘Kita keluarga, sudah sepantasnya, semestinya saling peduli,’ kalimat terakhir Yarash merasuk hingga kalbu Saniya. Ia merasa diperhatikan, dianggap.

Tak mampu berucap dikarenakan tenggorokan tercekat, Saniya mengangguk sambil menunduk.

“Ayo.” Tangannya menuruni lengan berkulit halus, lalu jemarinya menelusup di ruas jari kiri tangan Saniya.

Saniya tidak menepis, tak pula menegur, dia lirik sekilas genggaman hangat itu, seketika hatinya pun ikut menghangat.

Sepasang insan berjalan sambil bergandengan tangan, pun saat di dalam lift — Yarash menyembunyikan tubuh istrinya di sudut kotak persegi, dia berdiri di depan agar Saniya tidak berdesakan dengan pria asing.

***

Jam setengah delapan malam, mobil Land cruiser yang dikemudikan oleh Yarash baru tiba di rumah.

Saniya membuka pintu, telinganya menangkap suara teriakan dan gaduh dari dalam rumah.

“Dindingnya lobohkan saja! Siapa tau dia sembunyi di sana!”

“Mas, sepertinya Ardan lagi mencari sesuatu,” ucapnya sedikit keras.

Yarash mengajak Saniya masuk ke dalam rumah sembari mendengarkan obrolan.

“Gak mungkin bisa sembunyi di dalam tembok, Ardan, dari mana masuknya coba?” mang Suip, sopir keluarga Wilman, tidak habis pikir dengan putra majikannya.

“Ya mungkin dia bisa ngilang kayak hantu. Hiks hiks … cucuku kabul kemana, yaaa?” tangisnya kembali melengking setelah tadi berhenti sejenak sebab mengabiskan susu dalam botol.

“Kamu ini berisik banget sih? Kalau udah hilang ya biarkan. Paling-paling mati, terus bangkainya dimakan Semut!” Tatiana mengeluarkan racun lewat kata-kata kejam.

“Colo kamu ndak boleh mati, nanti aku sedih. Cali lagi ihh!” letih berguling-guling di lantai, diapun berdiri.

“Ada apa, ini?” Yarash meletakkan tas belanjaan di sofa.

Tatiana menatap tak senang setelah membaca logo butik langganannya membeli pakaian dalam. Dia pun memandang benci ke wanita yang memiliki wajah bak malaikat tapi hatinya kotor persis iblis. Menurutnya.

Namun, belum sempat Tatiana menyindir maupun menegur, Ardan menyela.

“Papi! Cucuku minggat! Semua gala-gala lek Lele. Tangkap dia, Pi!”

Yang dituduh lebih mirip korban. Kancing kemeja lek Lawi terlepas semua, rambutnya berantakan akibat dijambak Ardan yang geram.

“Kok bisa Kecoa nya keluar dari rumahnya? Apa dimainkan Ardan dalam toples?” Yarash mendekati tempat tinggal Kecoa Badak raksasa yang dibelinya dengan harga 1,6 juta rupiah.

“Aku tu gak ada mainin dia. Lek Lele yang bawa kabul,” Ardan menuduh tukang kebun.

“Nak, gak boleh asal nuduh kalau gak ada bukti. Di cari dulu yang bener,” tegur Yarash.

“Udah dicali, tapi gak nemu. Coba Papi lobohin lumah ini, mungkin dia sembunyi dalam tembok,” usulnya asal.

“Kalau rumah ini dirobohkan, terus kita mau tinggal dimana mas Ardan?” Yarash berlutut, berniat memeluk balitanya.

“Gak tau. Cucuku mana kamu, aku sedih ini!” Ardan melepaskan kaos yang dia kenakan, lalu melempar asal. Lanjut rebahan dan guling-guling lagi di lantai. “Colo-colo —”

“Eh, kok ada Ibu tili?” tangisnya terhenti, diperhatikannya Saniya lamat-lamat.

“Tadi Papi jalan-jalan sama dia, kamu dibohongi. Lihat itu!” Tatiana menunjuk paperbag. “Mereka habis seneng-seneng, gak ngajak Ardan, kasihannya ….”

.

.

Bersambung.

1
Damn Nwtch
cucumu d hamilin siapa ardan
dewi rofiqoh
Dari salim, ntar ditambah ccium kening ya mas yarash
sutiasih kasih
covernya baru lgi kak cublik....
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
Humaira
yang lalu biarlah berlalu
Ummu Syu'aib
sampulnya yg ini sdh pling bgus masyaAllah
jngn di ganti lg ya kak cublik
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
cover nya sudah di ganti yaa ka cublik... suka yg terbaru cover nyaa... 🥰🥰🥰
Shee_👚
ini bab di hapus apa kak kemaren? buka ada pemberitahuan bab di hapus
Teti Hayati
Suamimu oy.... suamimu.... 🤭🤭
lyani
sdh si skg mah
novel destiny
jangan yaaaa san..
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
KAGET : baru mau buka untuk vote ,ehh ada tulisan novel telah di hapus😱
jumirah slavina: bab d'hapus Kak
total 1 replies
Ray Aza
ga pny email cadangan ya Kak? kl aq semua akun email, sosmed berikutnya passwordnya aq kirim ke email satunya. cm mmg aq bikinnya telat stlh lupa password jg msk ke ig jd msknya jg pakai akun fb. 😅😅😅
putri
aku juga kangeeennn...
dahayu apa kabarrr...
Nita Nita
pasfi nonton drakor dech 😄😄😄🤭
FiaNasa
lobster n rajungan...aq mau Lo yarash dikirimin banyak² pun tak apa🤣🤣🤣
FiaNasa
hp ku pernah kecemplung disungai,,untung cepat tak angkat,,aq ketuk pelan² agar airnya keluar,,Alhamdulillah Sampek skrg masih terpkai😀
Hanima
ok tks
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Ardan ampun dah semua propesi hrs mami Saniya bisa 😂😂
Bang Fay
kenapa belum lupa mantan pacar Sania ....
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
done author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!