NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01- MALAM TERAKHIR

Hujan turun sejak sore.

Malam itu, kota terlihat seperti lautan cahaya yang buram. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di kaca jendela, sementara air hujan mengalir perlahan seperti air mata yang tak pernah sempat jatuh.

Di lantai tiga puluh dua sebuah apartemen mewah, Nadia Arlena berdiri sendirian di depan jendela.

Tangannya menggenggam sebuah ponsel.

Layar di hadapannya masih menampilkan satu foto.

Foto suaminya.

Ryan Arkana.

Dan Selena Marvia.

Mereka sedang berada di sebuah hotel.

Bukan sedang rapat.

Bukan sedang membahas pekerjaan.

Bukan pula sekadar kebetulan bertemu.

Tangan Ryan melingkar di pinggang Selena.

Dan di bawah foto itu terdapat sebuah pesan pendek dari nomor tak dikenal.

Kau masih percaya suamimu mencintaimu?

Nadia sudah membaca pesan itu entah berapa kali.

Namun semakin lama menatapnya, semakin terasa sesak dadanya.

Ia menutup mata.

"Mustahil..."

Suara itu keluar begitu pelan.

Selama enam tahun pernikahannya, Nadia selalu percaya kepada Ryan.

Ketika semua orang mengatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah kesepakatan antara dua keluarga besar, Nadia tetap percaya bahwa perasaan Ryan kepadanya akan tumbuh suatu hari nanti.

Ia menunggu.

Bersabar.

Memaafkan.

Bahkan ketika Ryan sering pulang larut malam.

Ketika ia membatalkan makan malam mereka.

Ketika ia tidak pernah mengingat ulang tahun pernikahan.

Nadia selalu mencari alasan.

Ryan sibuk.

Ryan sedang banyak masalah.

Ryan sebenarnya menyayangiku, hanya tidak pandai menunjukkannya.

Begitulah cara Nadia bertahan.

Dengan kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Pintu apartemen terbuka.

Nadia langsung menoleh.

Ryan masuk sambil melepaskan jas hitamnya.

Wajahnya terlihat tenang.

Terlalu tenang.

"Belum tidur?"

Nadia menatapnya.

Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab.

Ryan meletakkan kunci mobil di atas meja.

"Ada apa?"

Nadia menggenggam ponselnya lebih erat.

"Ryan."

"Hm?"

"Siapa Selena bagimu?"

Gerakan Ryan terhenti.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi Nadia melihatnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ryan kemudian tertawa kecil.

"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Jawab aku."

"Nadia..."

"Siapa dia?"

Ryan menghela napas.

"Dia rekan kerja."

"Rekan kerja?"

"Ya."

"Rekan kerja yang kau peluk di hotel?"

Ruangan itu mendadak sunyi.

Ryan menatap ponsel di tangan Nadia.

Ekspresinya berubah.

Bukan panik.

Bukan merasa bersalah.

Melainkan kesal.

"Siapa yang memberimu foto itu?"

"Jadi fotonya benar?"

Ryan diam.

Dan diamnya sudah menjadi jawaban.

Air mata Nadia perlahan memenuhi matanya.

"Sejak kapan?"

"Nadia, jangan mulai."

"Sejak kapan, Ryan?"

"Aku bilang jangan mulai."

"Sudah berapa lama?"

Ryan mengusap wajahnya.

Kemudian ia duduk di sofa.

"Hubunganku dengan Selena bukan urusanmu."

Nadia membeku.

"Bukan urusanku?"

Ia tertawa kecil.

Tawa yang terdengar menyakitkan bahkan bagi dirinya sendiri.

"Aku istrimu."

Ryan menatapnya datar.

"Justru karena kau istriku, seharusnya kau tahu kapan harus berhenti bertanya."

Kalimat itu menghantam Nadia lebih keras daripada tamparan.

Selama ini ia selalu berpikir bahwa rumah ini adalah rumah mereka.

Pernikahan ini adalah kehidupan mereka.

Ternyata bagi Ryan, semua itu hanya sebuah perjanjian.

Sebuah transaksi.

Sebuah permainan.

"Jadi selama ini..." suara Nadia bergetar. "Aku ini apa?"

Ryan tidak menjawab.

"Jawab aku!"

"Kau adalah istriku."

"Karena kau mencintaiku?"

Ryan menatapnya.

Untuk pertama kalinya, Nadia berharap laki-laki itu akan berbohong.

Ia bahkan berharap Ryan mengatakan bahwa semuanya hanya kesalahpahaman.

Namun Ryan justru berkata,

"Jangan membuat semuanya menjadi sentimental."

Air mata Nadia jatuh.

Satu.

Lalu dua.

Ia menghapusnya dengan cepat.

"Aku pernah mencintaimu."

Ryan berdiri.

"Aku tidak pernah memintamu mencintaiku."

Nadia menatapnya.

"Benar."

Senyumnya pahit.

"Karena kau hanya membutuhkan keluarga Arlena."

Tatapan Ryan berubah.

Untuk sesaat, sesuatu yang gelap terlihat di matanya.

Nadia menyadarinya.

"Aku benar, kan?"

"Sudah cukup."

"Semua ini tentang perusahaan, kan?"

"Nadia."

"Perjanjian antara keluarga kita. Saham. Aset. Semua itu."

Ryan berjalan mendekat.

"Kau terlalu banyak berpikir."

"Dan Selena?"

Ryan tidak menjawab.

Nadia mundur satu langkah.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Sebuah dokumen yang ditemukannya tiga hari lalu.

Dokumen lama dari ruang kerja Ryan.

Sebuah transaksi besar.

Uang dari perusahaan keluarga Arlena berpindah ke perusahaan asing yang tidak pernah ia kenal.

Dan nama orang yang menyetujui transaksi tersebut...

Ryan Arkana.

Nadia menatap suaminya.

"Aku tahu semuanya."

Ryan terdiam.

"Aku tahu tentang uang itu."

"Nadia..."

"Aku juga tahu tentang perusahaan itu."

"Nadia, dengarkan aku."

"Aku tahu kau menjual saham keluargaku."

Wajah Ryan berubah.

Kali ini benar-benar berubah.

Untuk pertama kalinya malam itu, Nadia melihat ketakutan di wajah suaminya.

Dan saat itulah Nadia sadar.

Ia bukan lagi sekadar istri yang mengetahui perselingkuhan.

Ia telah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia ketahui.

"Aku akan memberitahu Ayah besok."

Ryan menatapnya tajam.

"Besok?"

"Ya."

"Apa yang akan kau katakan?"

"Semuanya."

Ryan berjalan mendekat.

"Nadia."

"Jangan mendekat."

"Nadia, dengarkan aku."

"Jangan!"

Ryan berhenti.

Hening.

Hanya suara hujan yang terdengar dari balik kaca.

Kemudian Ryan berkata dengan suara yang jauh lebih dingin daripada sebelumnya.

"Kalau kau menceritakan semuanya, bukan hanya aku yang akan hancur."

Nadia menelan ludah.

"Apa maksudmu?"

Ryan tersenyum tipis.

"Kau akan tahu."

"Apa yang akan kulakukan?"

Ryan tidak menjawab.

Ia hanya menatap Nadia beberapa detik.

Kemudian berbalik.

"Aku lelah."

Ryan berjalan menuju pintu kamar.

Nadia masih berdiri di tempatnya.

"Ryan."

Laki-laki itu berhenti.

"Aku menyesal."

Ryan menoleh sedikit.

Nadia menatapnya dengan mata basah.

"Menyesal pernah percaya padamu."

Ryan tidak mengatakan apa-apa.

Ia masuk ke kamar.

Pintu tertutup.

Nadia berdiri sendirian.

Ia tidak tahu bahwa itu adalah percakapan terakhirnya dengan Ryan sebagai manusia yang ia cintai.

Beberapa jam kemudian, Nadia masih belum tidur.

Sekitar pukul sebelas malam, ia menerima pesan lain.

Pergilah dari apartemen sekarang.

Nadia mengernyit.

Nomor yang sama.

Pesan berikutnya masuk.

Mereka tahu kau sudah menemukan dokumen itu.

Nadia berdiri.

Jantungnya mulai berdegup kencang.

Siapa mereka?

Ia mengetik balasan.

Tidak ada jawaban.

Nadia mengambil tasnya.

Ia hendak menuju pintu ketika tiba-tiba lampu apartemen padam.

Gelap.

"Ryan?"

Tidak ada jawaban.

Nadia meraba dinding mencari sakelar.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

Nadia membeku.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Langkah kaki terdengar.

Pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga.

Nadia mundur.

Tangannya meraih vas bunga di atas meja.

"Jangan mendekat!"

Sosok itu muncul dari kegelapan.

Nadia menahan napas.

Ryan.

Ia menyalakan senter ponselnya.

"Nadia."

"Kenapa lampunya mati?"

Ryan tidak menjawab.

"Apa yang terjadi?"

Ryan hanya berdiri memandanginya.

Ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Sesuatu yang membuat seluruh tubuh Nadia terasa dingin.

"Ryan?"

Laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam saku jas.

Nadia melihat kilatan benda tajam.

Pisau.

Matanya membesar.

"Ryan..."

Ia mundur.

"Jangan."

Ryan tetap berjalan.

"Jangan mendekat!"

Nadia berbalik dan berlari menuju pintu.

Namun pintu sudah terkunci.

Ia mencoba memutar gagang pintu.

Tidak bergerak.

"Ryan! Buka pintunya!"

Tidak ada jawaban.

Nadia memukul pintu.

"Tolong!"

Langkah Ryan semakin dekat.

"Ryan, aku tidak akan mengatakan apa pun!"

Laki-laki itu berhenti beberapa meter di belakangnya.

Suara Ryan terdengar sangat pelan.

"Sudah terlambat."

Nadia perlahan berbalik.

Air matanya jatuh.

"Kenapa?"

Ryan menatapnya.

Tidak ada cinta.

Tidak ada penyesalan.

Hanya kekosongan.

"Aku minta maaf."

Nadia menggeleng.

"Tidak..."

Ryan menggenggam pisau itu.

"Aku benar-benar minta maaf."

"Ryan..."

Nadia memohon dengan tatapan matanya.

Tetapi Ryan tetap melangkah.

Dan tepat sebelum semuanya menjadi gelap,

Nadia mendengar suara Ryan berbicara

kepada seseorang melalui telepon.

"Ya."

Ia menatap Nadia.

"Pastikan dia tidak pernah bangun lagi."

Kemudian dunia Nadia runtuh.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!