NovelToon NovelToon
Tahta Senja Untuk Aira

Tahta Senja Untuk Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. SISA ASET YANG TERBUANG

Dinginnya lantai semen gudang belakang kediaman keluarga Gunawan terasa begitu membekukan, menusuk tajam hingga menembus sumsum tulang.

Aira berbaring telentang tanpa daya, napasnya tersengal satu-satu dalam keheningan malam yang begitu pengap dan berbau apak. Setiap kali dadanya mencoba terangkat untuk meraup oksigen, rasa sakit yang membakar menjalar hebat dari rusuk hingga ke seluruh rongga dadanya.

Wajahnya yang dahulu bersih, halus, dan penuh pancaran kehidupan, kini dipenuhi lebam biru kehitaman yang membengkak parah. Gaun sutra putih kumal yang terbalut noda darah kering menjadi saksi bisu betapa kejamnya manusia-manusia yang selama ini ia sebut sebagai keluarga.

Di dekat pintu kayu gudang yang sedikit terbuka, ibu mertuanya berdiri tegak sambil memegang sebilah kayu hias tebal yang bagian ujungnya telah memerah basah oleh darah Aira. Tanpa sedikit pun rasa belas kasihan di matanya, wanita tua itu melangkah mendekat dan mengayunkan ujung sepatu hak tingginya tepat ke arah rusuk Aira yang sudah retak.

BUK!

"Masih belum mau mampus juga wanita sialan ini?" bentak ibu mertuanya dengan suara melengking penuh kecurigaan dan rasa jijik yang meluap-luap.

Aira hanya mampu mengeluarkannya rintihan kecil yang parau. Di sebelah wanita tua itu, Azka—pria yang selama tiga tahun ini ia panggil sebagai suami—berdiri santai sambil menggoyangkan segelas anggur merah di tangannya. Tidak ada sedikit pun penyesalan, kecemasan, apalagi rasa iba di dalam sepasang mata cokelat gelap yang dulu pernah membuat Aira jatuh hati.

"Sudah aku katakan sejak awal, Bu. Wanita bodoh ini sangat mudah dimanipulasi," ucap Azka dengan nada dingin yang begitu datar, menyunggingkan senyum licik di sudut bibirnya. Pria itu melangkah maju, lalu mencengkeram rahang Aira yang memar dengan jemarinya yang kuat, memaksa Aira untuk menatap tepat ke dalam matanya.

"Kamu tahu, Aira? Tanda tangan yang kamu goreskan di semua dokumen pengalihan aset dan pembukaan rekening warisan almarhum ibumu kemarin adalah hal terbaik yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu yang tak berguna ini. Sekarang, kamu sudah tidak memiliki nilai apa-apa lagi di rumah ini."

Aira menatap Azka dengan sepasang mata yang basah oleh air mata dan darah, suaranya terdengar sangat parau dan terbata-bata.

"K-kamu... tega, Azka... Surat nikah kita..."

Tawa renyah yang penuh cemoohan tiba-tiba pecah dari balik punggung Azka.

"Surat nikah?" ledek sebuah suara yang sangat familier.

Rani—adik tiri Aira yang selama ini selalu bersikap lembut, lugu, dan mengagumkan di mata semua orang—melangkah maju dengan anggun. Ia mengenakan gaun malam berpotongan mahal yang dibeli menggunakan uang hasil pencairan aset warisan ibu kandung Aira. Rani mendekati Azka, merangkul lengan pria itu dengan mesra, lalu menyunggingkan senyum mengejek yang teramat murni di depan wajah Aira yang hancur.

"Kak Aira yang polos dan malang..." ujar Rani sambil mengelus pipi Azka dengan jemarinya yang terawat.

"Kertas berbingkai indah yang Kakak simpan di dalam lemari selama tiga tahun ini cuma cetakan mainan! Kak Azka tidak pernah mendaftarkan pernikahan kalian secara resmi di lembaran negara. Di mata hukum, Kakak itu cuma wanita simpanan gratisan yang kami pakai untuk menguras habis seluruh harta peninggalan almarhumah Ibu!"

Kata-kata itu bagaikan belati berduri yang ditarik paksa dari dalam dada Aira. Belum sempat Aira mencerna rasa syok yang menghantam kesadarannya, Azka menyiramkan sisa anggur merah dari gelasnya tepat ke atas luka-luka di wajah Aira.

Sifat asam dari alkohol itu membakar kulit wajahnya yang terbuka, membuat Aira menjerit tertahan saat cairan merah itu bercampur dengan darahnya sendiri.

"Cukup, Rani. Jangan terlalu lama di ruangan pengap ini. Udara di sini terasa sangat kotor karena napas wanita ini," panggil Azka sambil menarik pinggang Rani mendekat dan mendaratkan ciuman singkat di pelipis gadis itu.

"Biarkan dia membusuk di sini. Besok pagi, kita suruh orang untuk membuang mayatnya ke tempat pembuangan sampah."

Azka dan ibunya melangkah keluar dari gudang dengan tawa puas yang saling bersahut-sahutan.

Namun, Rani tidak langsung menyusul. Gadis itu menahan daun pintu, lalu menyunggingkan senyum manis yang penuh kepura-puraan ke arah Azka. "Kak Azka dan Ibu duluan saja ke depan. Aku mau bicara sebentar, bicara dari hati ke hati sebagai seorang adik kepada kakaknya yang tersayang."

Setelah langkah kaki Azka dan ibunya perlahan menghilang di belokan koridor, senyum polos dan lembut di wajah Rani seketika sirnah tanpa bekas. Wajah cantiknya berganti menjadi topeng iblis yang sangat dingin, kejam, dan sarat akan kebencian mendalam.

Rani melangkah perlahan, mengitari tubuh Aira yang terkapar tak berdaya di atas lantai semen. Suara ketukan sepatu hak tingginya bergema teratur di tengah keheningan malam yang mencekam. Tanpa peringatan apa pun, Rani tiba-tiba mengangkat kakinya dan menginjak punggung tangan kanan Aira menggunakan tumit sepatunya yang sangat runcing.

CRACK!

Ujung tumit stiletto yang tajam itu menembus jaringan kulit dan menekan remuk tulang-tulang kecil di tangan Aira. Darah segar yang hangat seketika mengucur deras, membasahi lantai semen yang berdebu.

Aira menjerit histeris. Suaranya melengking parau, memecah malam demi menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Tubuhnya melengkung kesakitan, namun Rani justru makin menekan berat badannya ke tumit sepatu itu, memutarnya perlahan seolah-olah sedang menikmati setiap rintihan dan gemetar tubuh kakaknya.

"Aww... sakit sekali ya, Kak?" kekeh Rani dengan nada bicara yang sangat santai, seakan ia sedang membicarakan cuaca. Rani kemudian berjongkok di samping kepala Aira, mencengkeram rambut Aira yang basah oleh keringat dan darah, lalu memiringkan kepalanya hingga telinga Aira berada tepat di depan bibirnya.

Dengan bisikan yang sangat pelan, lembut, namun sarat akan racun kebencian yang mematikan, Rani berbisik, "Kak Aira yang malang... Kamu tahu tidak? Ibu kandungmu yang 'sakit-sakitan' dulu... sebenarnya meninggal bukan karena serangan penyakit jantung."

Mata Aira yang membengkak seketika membeku. Napasnya yang tersengal mendadak tercekat di tenggorokan.

Rani menyeringai sangat puas melihat perubahan ekspresi di mata Aira.

"Aku dan Ibuku yang memasukkan racun dosis rendah ke dalam teh herbal peningkat daya tahan tubuhnya setiap hari... selama satu tahun penuh. Dialah wanita tua yang menghalangi jalan Ibuku untuk menjadi nyonya besar di rumah kita, jadi kami harus menyingkirkannya perlahan-lahan. Dan kamu... kamu benar-benar anak yang sangat bodoh karena tidak pernah menyadarinya sama sekali."

Rani menampar pipi Aira yang memar dengan sangat keras satu kali lagi, lalu berdiri anggun dan menyapu gaun mewahnya dari percikan darah Aira.

"Mati dengan tenang di gudang kotor ini ya, Kak. Semua harta ibumu, rumahmu, nama baikmu, dan Kak Azka... sekarang sepenuhnya menjadi milikku."

Rani melangkah keluar sambil tertawa renyah tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu membanting pintu kayu tebal gudang dan menguncinya rapat-rapat dari luar.

Aira terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah pekat yang menyumbat jalan napasnya. Dada dan hatinya bagaikan dihantam oleh badai yang menghancurkan seluruh jiwanya hingga tak tersisa. Rasa sakit dari kebenaran pahit dan pengkhianatan ini jauh lebih membakar daripada luka robek di tangannya yang terus mengucurkan darah.

Kesadarannya perlahan-lahan mulai menguap di tengah kegelapan dingin yang kian merayap menelan batas kematiannya.

Namun, di detik-detik terakhir saat napas Aira berada di ujung tanduk, sebuah benturan dahsyat tiba-tiba mengguncang seluruh bangunan gudang.

BARRR!

Pintu kayu tebal yang terkunci rapat itu terhempas hancur hingga engsel besi dan pasaknya terlempar ke udara.

Sesosok pria berpostur tinggi tegap dengan balutan jas hitam eksklusif menerobos masuk ke dalam ruangan yang pengap itu. Langkah kakinya yang lebar terpancar penuh dengan keputusasaan, kemurkaan, dan emosi mentah yang meluap-luap.

Pria itu adalah Rizky—paman kandung dari Azka, sosok pria dingin, berkuasa, dan paling disegani di seluruh klan utama Gunawan, yang selama ini memilih untuk menarik diri dan hidup terasing dari intrik kotor keluarga cabang tersebut.

"Aira!"

Suara berat dan dalam milik Rizky bergema hebat di seluruh ruangan, sarat akan kepedihan mendalam yang tak lagi mampu ia sembunyikan. Tanpa memedulikan kotoran, debu tebal, dan genangan darah di lantai semen, pria itu langsung berlutut. Tangannya yang biasanya tegap, kokoh, dan tak pernah goyah kini gemetar hebat saat merengkuh tubuh ringkih Aira yang tak berdaya ke dalam pelukannya.

Tangannya yang hangat mengusap perlahan jejak darah segar di pipi Aira dengan sangat hati-hati, seolah-olah Aira adalah porselen rapuh yang akan hancur hanya dengan sedikit sentuhan.

Aira memaksa matanya yang terasa sangat berat untuk terbuka sedikit.

Dalam keremangan malam, ia menatap paras tampan dan tegas milik Rizky yang kini dipenuhi oleh raut ketakutan yang luar biasa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Aira melihat seorang pria yang begitu agung, berkuasa, dan dingin, kini menangis begitu hebat—hanya karena melihat kondisinya.

Pria yang selama tiga tahun ini hanya mengamatinya dari kejauhan dengan tatapan tenang dan redup, kini memeluk tubuhnya erat-erat seolah Aira adalah harta paling berharga di dunia yang tengah hilang dari genggamannya.

"Maafkan aku... aku terlambat... Maafkan aku, Aira..." bisik Rizky dengan suara yang pecah oleh isak tangis yang tertahan. Pelukannya kian erat, menyalurkan seluruh kehangatan tubuhnya ke kulit Aira yang kian mendingin.

"Jangan tutup matamu, Aira... Tolong, tetap tatap aku," pinta Rizky penuh dengan keputusasaan saat merasakan helaan napas Aira yang makin melemah dan lambat. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup dahi Aira yang dingin dan penuh keringat dengan kepedihan yang teramat sangat. "Aku mencintaimu... Sejak pertama kali kamu melangkah masuk ke rumah ini tiga tahun lalu... aku selalu memperhatikanmu dan mencintaimu. Tolong bertahanlah... aku mohon padamu..."

Pengakuan tulus yang terlontar di ambang kematian itu membuat sudut mata Aira meneteskan air mata terakhirnya. Sentuhan hangat bibir Rizky di dahinya dan kehangatan pelukan pria itu menjadi hal terakhir yang dapat dirasakannya sebelum kegelapan abadi sepenuhnya menelan kesadarannya.

Jika Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi... batin Aira di dalam kegelapan yang sunyi dan dingin, aku tidak akan pernah membiarkan diriku tertindas lagi. Aku akan menghancurkan kalian semua hingga tak tersisa, dan aku... ingin membalas seluruh kebaikan dan cintamu, Paman Rizky.

1
Airin
akhirnya yang ditunggu tunggu, update juga
Airin
semangat Thor updatenya
Airin
kokop terus uncle
Airin
wadaw dikokop juga🤭
Yasa
suka banget sama fl yang Badas gini.
Senja_Puan: makasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!