"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat yang bikin kepala panas
Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Rain sudah duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan mata yang belum sepenuhnya melek. Di depan matanya, deretan slide presentasi berkedip minta direview sekali lagi. Ini bukan proyek biasa. Ini proyek yang bisa nentuin apakah dia layak naik jadi Senior Marketing Manager tahun ini, atau tetap jalan di tempat sambil nonton orang lain naik duluan.
"Udah dari jam berapa di sini?"
Rain nengok. Pandu berdiri di samping mejanya, bawa dua cangkir kopi, satu di sodorin ke Rain seperti biasa.
"Dari jam enam," jawab Rain, nerima kopinya sambil senyum tipis. "Rapat sama tim finance jam sembilan. Aku gak mau kelihatan gak siap."
"Kamu selalu siap, Rain." Pandu duduk di kursi sebelah, mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. "Kadang aku heran, gimana caranya kamu bisa se-niat ini tiap hari."
"Kalau nggak niat, nggak bakal sampai sini," gumam Rain, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Pandu.
Pandu cuma mengangguk pelan. Dia tahu persis cerita Rain, anak sulung yang kuliah sambil kerja serabutan, yang tiap bulan masih nyisihin gaji buat bantu biaya kuliah adiknya. Bukan cerita yang Rain sering ceritakan, tapi Pandu salah satu dari sedikit orang yang tahu, karena Rain pernah cerita waktu lembur bareng dua tahun lalu, di malam yang sama-sama capeknya.
Justru karena itu, Pandu selalu merasa nggak enak kalau harus buru-buru soal perasaannya sendiri. Rain butuh orang yang bisa diajak pelan-pelan, pikirnya. Bukan orang yang malah nambahin beban.
Pandu masih melihat Rain yang sibuk di depan laptopnya. Mukanya serius dan fokus. Tanpa sadar sudut bibir Pandu terangkat.
Jam sembilan tepat, ruang rapat lantai delapan udah penuh. Rain duduk di ujung meja, laptop terbuka, catatan rapi di sampingnya. Di seberang meja, Kenzo baru masuk, jas rapi tanpa dasi, ekspresi datar seperti biasa, tipe orang yang kayaknya nggak pernah kepikiran buat basa-basi.
"Kita mulai," kata Kenzo, langsung duduk tanpa menyapa siapa pun secara khusus.
Rain menghela napas pelan, lalu mulai presentasi. Slide demi slide dia jelasin dengan lancar, proyeksi anggaran, target campaign, timeline eksekusi. Dia udah latihan ini semalaman, hafal luar kepala.
Baru sampai slide keempat, suara Kenzo motong.
"Nomor ini darimana?"
Rain berhenti sebentar. "Estimasi konservatif dari campaign sejenis tahun lalu."
"Konservatif, tapi budgetnya nggak konservatif," kata Kenzo datar, menunjuk angka di layar. "Kalau targetnya segini, harusnya bisa lebih efisien tiga puluh persen. Kamu nggak perlu semua channel ini jalan bareng."
"Semua channel ini penting buat jangkauan campaign," Rain menjawab, berusaha tetap tenang meski dadanya mulai panas.
"Penting bukan berarti perlu semua dipakai sekaligus," Kenzo membalas, masih dengan nada yang sama, tidak keras, tapi tajam. "Coba dipikirkan ulang. Kirim revisi besok pagi."
Ruangan hening sebentar. Rain menahan napas, jari-jarinya mengepal di bawah meja tanpa terlihat siapa pun. Ini bukan pertama kalinya. Setiap kali Kenzo ada di rapat, rasanya semua yang Rain kerjakan susah payah selalu ada aja yang dianggap kurang.
"Baik," jawab Rain akhirnya, suaranya datar, menahan emosi yang berusaha dia sembunyikan rapat-rapat.
Rapat berlanjut, tapi Rain nyaris nggak fokus lagi. Kepalanya udah penuh sama satu pertanyaan: kenapa harus selalu dia yang direvisi berkali-kali, sementara divisi lain kelihatannya baik-baik saja?
Selesai rapat, Rain keluar duluan, jalan cepat menuju pantry, berusaha nenangin diri sebelum kembali ke meja. Pandu nyusul beberapa detik kemudian.
"Kamu oke?" tanya Pandu, berdiri di ambang pintu pantry.
"Capek," jawab Rain jujur, menyandarkan punggung ke meja pantry. "Rasanya tiap kali ketemu dia di rapat, otakku diperas abis-abisan. Semua yang aku kerjain kayak nggak pernah cukup bagus."
"Kenzo emang gitu ke semua orang," kata Pandu, mencoba menenangkan. "Bukan cuma kamu."
"Tapi kenapa berasa personal banget," gumam Rain, lebih ke dirinya sendiri.
Pandu diam sebentar, lalu menyodorkan tisu yang entah dari mana dia ambil, refleks kebiasaan lama, tiap kali Rain terlihat lelah. "Istirahat dulu makan siang. Nanti kupikirin bareng revisinya."
Rain menerima tisu itu, tersenyum kecil. "Makasih, Pandu."
Ada rasa hangat yang muncul setiap kali Pandu ada di dekatnya, rasa aman yang nggak pernah dia dapat dari siapa pun sejak dia harus belajar berjuang sendirian sejak kuliah. Mungkin, pikirnya, inilah definisi nyaman yang selama ini dia cari.
Sore harinya, saat Rain sibuk merevisi slide sendirian di mejanya, sebuah email masuk. Dari Kenzo.
*Subjek: Data pendukung campaign kompetitor*
Rain membuka email itu dengan waspada, siap-siap menghadapi kritik lain. Tapi yang dia temukan justru sebuah spreadsheet lengkap, data campaign kompetitor tiga tahun terakhir, dianalisis rapi, lengkap dengan insight yang jelas-jelas butuh waktu berjam-jam untuk disusun.
"Mungkin ini bisa bantu revisimu."
Rain menatap layar itu cukup lama, bingung harus bereaksi bagaimana. Orang yang tadi pagi bikin dia nyaris meledak di rapat, sekarang justru diam-diam ngirim bantuan yang nggak pernah dia minta.
Dia menutup laptop pelan-pelan, masih nggak ngerti harus mikir apa soal Kenzo.
Yang dia tahu pasti, besok pagi rapat lanjutan menunggu dan sepertinya, ini baru permulaan dari drama yang jauh lebih panjang dari yang dia kira.
Huh.... Rain Edelweis menghela nafas panjang. Lelah sudah pasti, menghadapi Kenzo selalu penuh dengan energi. Tapi entah kenapa, kritik Kenzo selalu membuatnya bangkit. Dia tidak mau kena kritik lagi besok, makanya dia berjuang untuk memperbaiki dirinya sekali lagi.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...