Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Aku mau menuntut kembali hak asuh atas Kasih"
Andra terkejut mendengarnya, ternyata selama ini Aini berencana untuk merebut kembali hak asuh putri mereka
Ia pikir Aini akan bersujud memohon untuk kembali agar bisa bersama putrinya, namun wanita ini memilih untuk menuntut
"Mas bisa memberikan Kasih jika kamu mau, tanpa harus ke pengadilan" Ya, Andra merasa tidak becus mengurus anak-anaknya, mungkin memang sebaiknya Kasih bersama ibunya
"Aku ingin memilikinya secara sah dimata hukum, aku akan tetap membawanya ke pengadilan" Ujar Aini tegas
"Baiklah, lakukan apa yang menurut kamu terbaik" Tidak ada yang bisa ia lakukan selain setuju
"Terima kasih mas" Aini bangun dari duduknya, ia melihat Kasih yang masih bermain dengan bonekanya
"Ibu pulang dulu yaa, nak. Sebentar lagi Kasih akan ikut Ibu" Aini mengecup kening putrinya penuh sayang
Jika melihat keadaan Andra, kadang ia merasa terlalu kejam. Jika saja Andra mengizinkannya membawa Kasih, mungkin dirinya tidak akan melakukan hal kejam seperti ini
Mendengar sang ibu yang akan pergi, Kasih merengek dengan memeluk tubuh Aini erat, seolah tidak ingin ia pergi
Andra hendak meraih putrinya namun Aini mencegah, ia akan menemani Kasih hingga putrinya ini terlelap
Karena menemani sang putri, Aini berada dirumah mantan suaminya hingga malam hari, saat Kasih terlelap barulah Aini bisa meninggalkan rumah
Sebenarnya ini tidak baik, mengingat keduanya adalah mantan. Namun Aini tidak sampai hati melihat putri kesayangannya menangis
"Aku pamit yaa mas" Pamit Aini sambil melampirkan tas di bahunya
"Makasih yaa, dek. Kamu udah bantuin mas jagain Riski, kalau gak ada kamu mungkin dia masih sakit" Hari ini Andra benar-benar terbantu akan kehadiran Aini hari ini
Jika dia tidak berulah, mungkin suasana seperti ini akan terus ia rasakan. Namun menyesal pun rasanya tidak berguna
"Biar mas temenin kedepan, taksi kamu udah nyampe?" Tanya Andra
"Kayaknya udah didepan deh"
Keduanya melangkah menuju pintu depan, saat Andra hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka dari luar dan menampilkan seorang wanita dengan wajah penuh tanya
Sarah menatap wanita didepannya dengan penuh selidik. Ia memindai tubuh Aini dari atas hingga bawah, bagaimana bisa wanita ini berubah menjadi sangat cantik seperti ini
"Mau apa kamu disini? Kalian sedang apa?" Tanya Sarah, emosinya jelas naik saat melihat wanita lain dirumahnya
"Aini kesini buat bawa surat dari pengadilan" Jawab Andra
"Sampai malam begini? Apa kalian selingkuh?"
Aini menarik sudut bibirnya, bagaimana bisa wanita perebut ini menuduhnya seperti itu
"Aku gak mungkin selingkuh, Aini disini juga bantuin rawat Riski yang demam" Ujar Andra sementara Aini diam saja
Ia sangat menikmati pertengkaran pasangan suami istri ini "Itu cuma alesan aja kan?" Sarah menoleh pada Aini, saat ia hendak mengangkat tangannya Andra mencegah dengan menggenggam nya
"Kamu mau apa Sarah? Aku sama Aini gak melakukan apapun"
"Jangan bohong kamu, mas?" Sarah menarik tangannya dengan paksa "Kenapa? Apa kamu menyesal menceraikan dia? Kamu terpesona sama kecantikan mantan istri kamu ini?"
"Maaf Sarah, tapi saya akan pulang. Dan kamu tenang saja, saya tidak tertarik dengan bekas orang lain" Ujar Aini, nada suaranya terdengar begitu tenang namun sangat menusuk
"Dengar yaa pelakor!" Tawa Aini hendak keluar mendengar panggilan itu "Aku pastikan kamu tidak akan bisa bersama mas Andra"
"Saya juga tidak ingin" Aini melangkah dengan anggunnya "Permisi"
Sarah sampai menyingkir, lalu memberikan jalan bagi Aini. Andra masih melihat bagaimana mantan istrinya itu masuk kedalam taksi online yang telah menunggu
"Tidakkah kamu berpikir jika kamu sangat keterlaluan?" Andra membentak istrinya itu
"Keterlaluan?" Sarah menatap suaminya "Aku capek-capek kerja, sedangkan kamu disini asyik selingkuh sama perempuan muraha___ itu?"
"Aini bukan perempuan seperti itu" Andra tidak senang mendengar jika mantan istrinya disebut seperti itu
"Kamu membela dia? Kamu masih suka kan sama dia?"
"Maksud kamu apa sih? Aku gak ngerti" Andra meninggikan suaranya
"Kenapa? Kamu nyesel karena sekarang dia bukan lagi ibu rumah tangga yang gak bisa dandan, kamu pasti berpikir kalau sekarang Aini berubah jadi sangat cantik"
Sarah yang kesal memukul tubuh suaminya, rasanya begitu menyakitkan jika pria yang kita cintai bersama wanita lain
"Cukup Sarah" Suara teriakan itu membuat dua bayi yang tengah terlelap didalam kamar terbangun dan menangis
"Tuduhan kamu ini sangat keterlaluan" Andra yang kesal, berlalu menuju kamar dimana kedua buah hatinya tengah menangis
"Brengsek kamu mas" Teriak Sarah
***
"Ini perusahaannya?" Gumam Aini saat ia tiba didepan sebuah gedung pencakar langit
Dengan langkah pasti, Aini masuk ke gedung itu
"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang wanita berpenampilan rapi dibalik meja resepsionis
"Saya ingin bertemu tuan Tristan Kusuma?" Jawab Aini
"Apa nona sudah membuat janji?" Tanya resepsionis itu
"Belum, tapi tuan Tristan meminta saya untuk datang kesini"
"Baiklah, kalau begitu saya tanyakan pada tuan Tristan dulu" Wanita itu menghubungi seseorang "Silahkan Nona! Tuan Tristan menunggu di ruangannya"
"Terima kasih"
Dengan diantar oleh seorang karyawan wanita, Aini melangkah menuju ruangan sang CEO yang berada dilantai teratas gedung
Pintu diketuk, terdengar sahutan lalu karyawan wanita itu mendorong pintu kaca tersebut
"Maaf pak, ada yang ingin bertemu" Tristan mengangkat wajahnya
"Siapa?"
"Silahkan nona!" Melihat kedatangan wanita yang merupakan calon istrinya, Tristan memberi isyarat agar Aini diizinkan masuk
"Silahkan duduk! Aini" Wanita cantik itu menurut, Aini duduk dan keduanya dibatasi oleh meja kerja
"Ada keperluan apa sampai bapak memanggil saya kesini?" Tanya Aini karena ia mendapat pesan secara mendadak
"Saya ingin mempertemukan kamu dengan seseorang, dia sahabat saya dan dia yang akan menjadi laki-laki yang membuat perjodohan kita gagal" Dengan mudahnya Tristan mengatakan itu
"Baiklah" Aini tidak akan mengatakan hal lebih, ia bersyukur karena saat ini putrinya telah menjadi miliknya
"Saya ingin mengembalikan ini!" Tristan mengerutkan keningnya saat melihat Aini menyodorkan kartu hitam yang pernah ia berikan
"Kenapa kamu kembalikan? Kamu bisa menikmati semua uang yang ada didalamnya" Selama ini, wanita yang dipilihkan oleh sang Mama akan menikmati fasilitas dari kartu yang ia berikan
Tapi wanita didepannya ini berbeda, bahkan Aini hanya menggunakan beberapa juta untuk perawatan
Sepertinya kali ini sang ibu tidak salah pilih, namun hati ini tidak bisa dipaksakan. Tristan masih sangat mencintai mendiang istrinya dan tidak akan ada wanita yang menggantikan posisi Clara dihatinya
"Kartu ini milik kamu! Gunakan untuk menjerat sahabat saya bila perlu" Ujar Tristan
"Saya tidak membutuhkannya. Untuk merayu sahabat bapak, akan saya lakukan" Aini tidak akan memanfaatkan kekayaan orang lain
"Kamu tidak suka uang?" Tanya Tristan sambil mengambil kartu hitam tersebut
"Saya tidak menyukai uang orang lain"
"Terserah" Tristan sangat malas berdebat "Bagiamana dengan masalah hak asuh putrimu?"
Astaga, Tristan tidak menyangka jika dirinya bisa begitu perhatian. Biasanya ia tidak akan peduli pada masalah hidup orang lain
"Berkat bantuan, bapak. Saya mendapatkan lagi hak asuh putri saya, untuk itu saya sangat berterima kasih"
Ya, saat ini memang Kasih telah berada ditangannya. Berkat bantuan pengacara yang Tristan berikan, Aini bisa memiliki putrinya lagi
Untuk itulah ia mengembalikan kartu milik pria ini, baginya dengan kembali bersama Kasih sudah sangat cukup
Tristan tidak lagi menyahut, tak lama pintu terbuka dan terdengar suara sapaan dari seorang pria
lebih suka Aini sama Yudha saja sih, Yudha juga laki-laki yang baik