Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Bayangan Di Balik Cermin
Di dalam sebuah kamar kos yang sempit dan pengap, bau mi instan dingin bersatu dengan kelembapan udara pagi. Danu, seorang pemuda bertubuh tambun dengan raut wajah yang selalu diliputi kegelapan, terduduk lesu di depan meja belajar kayu yang sudah lapuk. Matanya yang sayu dan sembap menatap lekat-lekat pada sebuah cermin retak berukuran kecil yang tersandar di dinding.
Setiap kali melihat pantulan dirinya sendiri, rasa benci yang teramat sangat selalu menyeruak dari dalam dadanya. Kulitnya, lipatan lemak di lehernya, hingga bayangan tubuhnya yang besar seolah menjadi alasan utama atas seluruh kemalangan yang ia alami selama ini. Dunia seolah tidak pernah menyukai keberadaannya.
"Kenapa aku harus dilahirkan kayak gini, ya?" bisik Danu lirih pada pantulannya sendiri. Suaranya bergetar menahan sesak yang membakar dada. "Gendut, jelek, terus dibuang sama keluargaku sendiri... Bahkan di sekolah, dari zaman SD sampai SMP aku selalu cuma jadi bahan ejekan. Tempat sampah buat orang-orang melampiaskan amarah. Mungkin kalau aku hilang dari dunia ini pun... nggak bakal ada satu orang pun yang peduli atau nyariin."
Keheningan yang menekan di kamar sempit itu seketika pecah saat suara gedoran keras menghantam pintu kayu kamar kosnya.
BAM! BAM! BAM!
"Danu! Jangan bengong terus di dalam!"teriak suara Bu Kos dari luar dengan nada melengking yang galak. "Kamu itu udah telat masuk sekolah! Hari pertama SMA kok malah malas-malasan, nanti tambah kena masalah lagi!"
Danu terperanjat pelan. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir sisa-sisa rasa sedih yang belum usai.
"Iya, Bu... makasih sudah bangunin,"sahut Danu seraya berdiri pelan dari kursinya. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap inci tubuhnya menolak untuk melangkah keluar dan menghadapi dunia nyata sekali lagi.
Setelah bersiap-siap seadanya dengan seragam putih abu-abu yang terasa agak ketat di bagian perut, Danu menuntun sepeda motor bututnya keluar dari halaman kos. Suara mesin motor yang terbatuk-batuk mengiringi perjalanannya membelah jalanan pagi yang mulai padat oleh kendaraan. Sepanjang perjalanan menuju sekolah baru, perasaan tidak tenang terus menggerogoti pikirannya.
Tiap kali ia berhenti di persimpangan jalan atau melewati kerumunan orang, Danu bisa merasakan tatapan-tatapan mata yang mengarah padanya. Orang-orang di pinggir jalan berbisik-bisik, mengamati postur tubuhnya yang bongsor di atas motor kecil. Danu tahu betul, tanpa perlu mendengar secara jelas, isi bisikan itu tak lain hanyalah cemoohan tentang fisiknya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menancap gas motornya lebih dalam demi melarikan diri dari tatapan-tatapan menghakimi itu.
Sesampainya di sekolah, Danu bergegas memarkirkan motor bututnya di pojokan area parkir yang paling sepi. Ia merapikan tas punggungnya dan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju gedung utama.
"Huh, hari-hari kena cemoohan..."keluh Danu dalam hati sambil terus menunduk menatap ujung sepatunya. "Semoga saja hari pertama SMA ini nggak ada yang lihat aku... Aku cuma mau tenang dan nggak dicari masalah."
Namun, harapan Danu seketika buyar saat ia hendak melewati lorong menuju kelas barunya. Dari kejauhan, suasana koridor sangat riuh dan kacau. Ada kerumunan besar siswi-siswi yang saling berdesakan, menjerit kecil, dan mengelilingi seorang murid laki-laki. Murid itu adalah Rio—sosok siswa baru yang mendadak sangat populer di seluruh angkatan hanya karena wajahnya yang tampan dan karismatik.
Rio tampak kewalahan dan panik. Ia mencoba kabur ke sana kemari dari kejaran para siswi yang antusias. Namun, ke mana pun ia melangkah, kerumunan itu tetap saja berhasil menyudutkannya.
Saat matanya menyapu lorong mencari celah, Rio melihat Danu yang berdiri terpaku di sudut lorong. Bagi Rio, tubuh besar Danu tampak seperti benteng kokoh yang sempurna untuk bersembunyi! Tanpa berpikir panjang, Rio mengecoh kerumunan itu dan berlari kencang menuju ke arah Danu.
STOMP!
Danu kaget setengah mati saat merasakan hembusan angin kencang dan tiba-tiba sosok Rio yang populer itu sudah berdiri bersembunyi di balik punggungnya yang lebar.
"Loh, kamu kenapa di belakangku?" tanya Danu bingung, menoleh patah-patah ke belakang.
"Eh, maaf bro, gue sedang bersembunyi nih! Tolong bantuannya ya," bisik Rio cepat sambil memegangi kedua bahu Danu, menggunakannya benar-benar sebagai perisai dari pandangan orang-orang.
"Ohh... oke," jawab Danu polos, refleks bergeming di tempatnya bagaikan tembok bernyawa.
Para siswi yang mengejar Rio mendadak kehilangan jejak karena tertutup tubuh besar Danu. Melihat cowok kesukaan mereka tiba-tiba menghilang dari pandangan, mereka mendesah kecewa lalu perlahan bubar dan kembali menuju kelas masing-masing.
Setelah koridor benar-benar aman, Rio akhirnya keluar dari balik punggung Danu. Ia menepuk kakinya dan membuang napas lega.
"Haa..., akhirnya mereka pergi juga," ujar Rio sambil mengusap keringat tipis di dahinya.
Danu menatap Rio dengan dahi berkerut heran. "Kenapa kamu berlari? Bukannya harusnya kamu suka ya didempetin cewek-cewek?"
Rio seketika menatap sinis ke arah Danu dengan muka masam. "Suka apanya! Risih tahu, gak?"
Danu mengedipkan matanya berkali-kali, tidak percaya. "Wah, baru kali ini aku lihat cowok dideketin cewek-cewek malah gak suka..."
Rio terkekeh santai sambil merapikan tatanan rambutnya. "Hahaha, gue mah mahal!"
Ia lalu mengulurkan tangannya pada Danu dengan sangat ramah. "Oh iya, perkenalkan nama gue Rio."
Danu ragu-ragu sejenak sebelum membalas uluran tangan itu. "Uhm, namaku Danu... Kamu... gak jijik sama aku?"
Rio mengernyitkan alisnya, bingung. "Loh, kenapa harus jijik?"
"Soalnya badanku..." Danu menunduk, menunjuk tubuh gemuknya sendiri dengan canggung.
Tak sempat Danu melanjutkan kalimat mindernya, Rio langsung menyela. Tanpa rasa canggung sedikit pun, Rio melingkarkan tangannya dan merangkul leher Danu dengan santai.
"Lah, kenapa? Bukannya bagus? Kamu bisa jadi *tank*!" seru Rio sambil tertawa.
"Tank?" Danu melongo, tidak paham istilah *game* itu.
"Iya! Lu gak tahu *tank* di *game*? Yang badannya kuat di barisan depan buat tameng tim!"
"Uhhm, gak... maaf ya," sahut Danu merasa bersalah.
"Gapapa, santai aja!" pangkas Rio enteng.
Di sepanjang perjalanan menyusuri koridor menuju kelas, mereka berdua lanjut ngobrol. Tepat saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang kelas, bel masuk sekolah pun berbunyi nyaring.
*KREEEENGGG!*
"Eh, udah bunyi! Gue duduk di sebelah lu ya," kata Rio santai sambil menunjuk bangku kosong di pojokan.
"Ehh, ehh, tunggu!" tahan Danu panik.
Namun Rio bergerak lebih cepat dan langsung mendaratkan dirinya di kursi sebelah Danu. "Yah, udah kutempati, gimana dong?"
"Aduh, kenapa kamu duduk di sebelahku?" ringis Danu cemas.
"Emang gaboleh?"
"Gak, bukan gitu..."
Belum sempat Danu melanjutkan perkataannya untuk menjelaskan betapa anehnya anak populer duduk dengan anak buangan, wali kelas berjalan masuk ke dalam ruang kelas. Suasana yang tadinya bising seketika hening, dan pelajaran pertama pun resmi dimulai.
"Selamat pagi anak-anak. Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, kita akan perkenalan dulu sesuai urutan absen ya!" tegas sang Guru.
Absen demi absen mulai dipanggil. Setiap kali satu nama dipanggil, jantung Danu makin berdegup kencang hingga akhirnya giliran dirinya pun tiba. Danu menarik napas panjang, lalu berjalan melangkah ke depan kelas dengan kepala agak menunduk. Di hadapan teman-teman barunya, ia mulai membuka suara.
"Halo... aku Danu. Semoga kalian bisa jadi temanku," ucap Danu pelan dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
Suasana kelas hening sejenak, membuat Danu yang makin canggung buru-buru menambahkan, "Hobiku... bikin novel."
Ia kemudian menoleh ke arah ibu guru di sampingnya. "Udah, Bu."
"Oke, terima kasih perkenalannya, Danu. Silakan kembali ke tempat duduk. Selanjutnya, absen berikutnya!" sahut ibu guru ramah.
Danu menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Dengan langkah cepat, ia kembali ke pojokan kelas dan langsung menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Haaah..." desah Danu, merasa seluruh energinya terkuras habis hanya untuk bicara beberapa detik di depan kelas.
Rio yang duduk di sebelahnya terkekeh pelan melihat tingkah Danu. "Wah, gugup banget kayaknya lu?"
Danu menoleh dengan wajah lesu. "Haha, iya... dari SMP memang selalu begitu kalau disuruh maju ke depan."
"Ohh, gitu..." Rio mengangguk-angguk paham. Lalu matanya mendadak berbinar penasaran. "Oh iya, tadi lu bilang suka bikin novel. Judulnya apa? Gue coba lihat dong!"
Danu kaget, mukanya agak memerah karena malu karyanya ditanya orang lain. "Ehh... itu, aku udah *upload* di aplikasi..."
"Aplikasi? Namanya apa?" cecar Rio antusias.
"Novelis..." jawab Danu pelan.
"Hmm, oke! Nanti pas istirahat atau pas balik sekolah, gue bakal cari dan baca cerita buatan lu!" balas Rio santai sambil mengacungkan jempolnya yang mantap.
Danu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada orang yang menatapnya tanpa pandangan jijik, bahkan penasaran dengan karya cerita yang ia buat. Di balik tubuhnya yang sering diejek dan dibuang keluarga, ternyata hari pertama SMA ini memberikan sedikit kehangatan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.