NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intip Kamar Janda dan Utang Pinjol yang Menumpuk

Malam di pinggiran Kampung Kalisari, Semarang, selalu dibungkus oleh kelembapan udara khas pesisir yang menjalar hingga ke kaki perbukitan. Angin malam berembus membawa bau tanah basah bercampur aroma selokan yang tersumbat limbah pabrik tahu. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi satu dua lampu jalan bertudung seng berkarat, sesosok tubuh merayap pelan di antara rimbun pohon pisang.

Mamat, pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan status pengangguran abadi, sedang menahan napas. Celana jeans kombornya yang sudah tiga hari tidak dicuci terasa makin sempit di bagian depan. Matanya yang sedikit juling sebelah kanan melekat erat pada celah ventilasi kayu di dinding belakang rumah milik Mbak Wiwin.

Mbak Wiwin adalah seorang janda beranak satu yang baru enam bulan ditinggal mati suaminya akibat tersengat listrik saat memperbaiki antena TV. Di mata para pemuda dan bapak-bapak Kampung Kalisari, Mbak Wiwin adalah oasis di tengah padang pasir. Kulitnya kuning langsat khas warga pesisir, dengan bentuk tubuh yang kerap membuat ronda malam di pos RW berubah menjadi sesi curhat berdarah panas.

"Aduh, Gusti... kuatkan iman Mamat yang tipis seperti kertas minyak ini," bisik Mamat lirik. Matanya berkedip cepat ketika melihat siluet Mbak Wiwin sedang menyisir rambut di depan cermin rias yang buram.

Mbak Wiwin baru saja selesai mandi. Bau sabun mandi kemasan murah beraroma mawar melati menyeruak keluar dari celah ventilasi, langsung menyengat hidung Mamat. Pemuda itu memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam udara terkontaminasi aroma mawar itu seolah-olah sedang menghirup oksigen murni di puncak Gunung Ungaran.

Namun, baru saja Mbak Wiwin hendak melepas handuk yang melilit tubuhnya, sebuah bunyi bernada sumbang memecah keheningan malam dari dalam saku celana Mamat.

Ting! Dering nada pesan masuk.

Suara itu tidak terlalu keras, tetapi di tengah keheningan kampung yang hanya dihiasi suara jangkrik dan dengkur paman Mamat dari jauh, bunyi itu terdengar bagai ledakan meriam.

"Siapa itu?!" jerit Mbak Wiwin kaget, refleks menarik kembali handuknya rapat-rapat hingga menutupi dada.

Mamat terperanjat. Kakinya yang tersangkut akar pohon pisang membuat keseimbangannya hilang. BRUK! Tubuh kerempengnya jatuh bebas menimpa tumpukan pelepah pisang kering dan tempat sampah plastik yang sudah pecah.

"Aduh, jancuk!" umpat Mamat memegangi pinggulnya yang menghantam tanah tegalan.

"Tolong! Ada maling! Ada orang mesum!" teriak Mbak Wiwin dari dalam kamar dengan suara melengking yang sanggup membangunkan warga satu RT.

Tanpa berpikir panjang, Mamat langsung bangkit. Langkah kakinya melompat-lompat panik menembus kebun pisang, menerobos semak belukar tanpa peduli kulit lengannya tergores duri putri malu. Dia berlari sekencang-kencangnya menuju rumahnya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah Mbak Wiwin.

Mamat merangsek masuk melalui pintu belakang rumahnya yang tidak pernah dikunci, lalu menguncinya dari dalam dengan napas memburu. Dia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang berderit, memegangi dadanya yang berdegup kencang seperti mesin pemotong kayu.

"Hampir saja... hampir saja aku digebuki massa," gumam Mamat sambil mengusap keringat dingin di dahinya.

Dia melangkah lunglai menuju pembaringannya di kamar belakang. Kamar Mamat lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas. Kasur kapuk tanpa sprei yang sudah melengkung di bagian tengah dikelilingi oleh tumpukan baju kotor, botol plastik bekas, dan beberapa lembar majalah dewasa berumur satu dekade yang halamannya sudah lengket satu sama lain.

Mamat merebahkan fisiknya yang letih di atas kasur. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintar buatan Cina yang layarnya sudah retak melintang seperti jaring laba-laba. Cahaya biru dari layar ponsel menerangi wajah Mamat yang pucat dan kumal.

Dia membuka aplikasi pesan yang baru saja berdering. Wajahnya seketika makin berkerut.

[PINJOL KILAT CEPAT] Peringatan Terakhir untuk Sdr. MAMAT! Utang Anda sebesar Rp4.850.000 (termasuk denda dan bunga berjalan) telah jatuh tempo selama 45 hari. Jika tidak ada pembayaran malam ini hingga pukul 08.00 WIB besok, Tim Penagih Lapangan akan mendatangi kediaman Anda di Kampung Kalisari dan menyebarkan data pribadi Anda ke seluruh kontak telepon Anda!

"Jancuk tenang... jancuk!" Mamat membanting ponselnya ke atas kasur.

Empat juta delapan ratus ribu rupiah. Bagi seorang Mamat yang pekerjaan sehari-harinya hanya menjadi penonton setia laga bola di pos ronda dan mengumpulkan putung rokok yang masih tersisa separuh, angka itu sama tingginya dengan Monas. Utang itu berawal dari modal nekat enam bulan lalu ketika dia mencoba peruntungan membeli burung perkutut yang diklaim penjualnya bisa bersiul lagu "Bengawan Solo". Ternyata, burung itu mati dua hari kemudian karena terkena flu burung, meninggalkan Mamat dengan jeratan utang bunga berbunga dari lima aplikasi pinjaman online ilegal.

Mamat mengacak-acak rambutnya yang lepek. "Kalau besok depkolektor datang, selesai sudah riwayatku. Paman pasti bakal mengusirku dari rumah ini. Belum lagi Mbak Wiwin... kalau warga tahu aku yang tadi malam mengintip di kebun pisang, bisa-bisa aku diarak keliling desa cuma pakai celana dalam!"

Pikiran Mamat membumbung tinggi, membayangkan skenario terburuk dalam hidupnya. Diarak warga, digebuki depkolektor berkulit hitam berbadan besar, lalu dijebloskan ke penjara Semarang. Di dalam sel, dia dibayangkan akan menjadi santapan para narapidana bertato.

"Tidak, tidak! Aku harus cari uang malam ini juga!" Mamat menepuk pipinya sendiri dengan keras.

Tapi bagaimana caranya? Bekerja di pabrik? Dia tidak punya ijazah SMA, lagipula mana ada pabrik yang membuka lowongan pekerjaan jam satu malam? Mencuri? Dia baru saja hampir tertangkap hanya karena mengintip janda, apalagi kalau harus membobol rumah warga.

Saat sedang meratapi nasibnya, mata Mamat tidak sengaja menatap sebuah poster kusam yang tertempel di dinding kamarnya. Poster itu adalah iklan film horor era 90-an yang menampilkan sosok dukun berwajah seram dengan sorot mata tajam dan kain hitam melilit kepalanya. Di samping poster itu, tergeletak sebuah kaleng bekas biskuit berisi beberapa barang peninggalan almarhum kakeknya.

Kakek Mamat dahulu adalah seorang pembantu umum di sanggar ketoprak lokal. Satu-satunya barang berharga yang ditinggalkan kakeknya adalah sebuah kain sarung tenun berwarna hitam kusam yang sudah bau tengik, sebuah wadah kuningan tempat membakar kemenyan yang sudah berkerak, dan sebongkah batu akik besar berwarna merah menyala yang diikat dengan cincin besi murah.

Mamat memandangi barang-barang itu, lalu memandangi layar ponselnya yang kembali menyala menampilkan notifikasi utang.

Sebuah gagasan liar, konyol, dan sangat absurd mendadak melintas di otak Mamat yang jarang digunakan untuk berpikir keras tersebut.

"Orang kampung sini kan masih pada bodoh," gumam Mamat pelan. Bibirnya perlahan mengukir senyum licik. "Kemarin saja Pak RT percaya kalau ayam jagonya hilang karena dicuri wewe gombel, padahal dipotong sama Darto buat lauk ronda."

Mamat bangkit dari kasurnya. Dia mendekati kaleng biskuit kuno itu dan mengambil kain sarung hitam milik kakeknya. Dia mengibaskan kain itu hingga debu-debu tebal beterbangan di udara kamar, membuatnya terbatuk-batuk beberapa kali.

Dia melilitkan sarung hitam itu ke tubuhnya, lalu mengambil sisa kain hitam lain untuk dijadikan ikat kepala khas dukun Jawa. Mamat berjalan menuju cermin retak di pojok kamar.

Di dalam cermin, tampaklah sosok Mamat: pemuda kerempeng bermuka mesum, tetapi kini terbalut kain hitam dengan wajah yang dibuat-buat garang dan mata yang sengaja dipicicingkan agar terlihat misterius.

"Kurang misterius..." kata Mamat pada dirinya sendiri.

Dia berjalan ke dapur kecil di belakang rumah. Di atas meja dapur, terdapat satu kotak kapur barus bekas wewangian lemari yang sudah hancur dan sebungkus obat nyamuk bakar merk murah. Mamat mengambil tempat pembakaran kemenyan milik kakeknya, lalu menumbuk kapur barus dan mencampurnya dengan pecahan obat nyamuk bakar.

Dia menyalakan korek api dan membakar campuran absurd tersebut.

Czzz...

Asap putih tebal langsung membumbung tinggi dari tempat pembakaran kuningan itu. Bau kimia menyengat bercampur aroma obat nyamuk bakar yang bikin mual seketika memenuhi ruangan dapur. Mamat terbatuk-batuk hingga matanya berair.

"Ugh! Bikin pusing, tapi aromanya... lumayan menyeramkan! Khas aroma mistis buatan!" ujar Mamat sambil tersenyum puas di balik kepulan asap.

Dia kembali ke kamar, meraih batu akik merah milik kakeknya, lalu memasangnya di jari manis tangan kanannya. Batu itu terlalu besar untuk jarinya yang kurus, sehingga terkesan longgar dan hampir meluncur jatuh.

Mamat memiringkan kepalanya di depan cermin, mencoba berbagai pose. Dia mencoba memasang raut muka mengancam, lalu merubahnya menjadi raut muka bijaksana, dan terakhir raut muka seperti orang yang sedang menahan buang air besar.

"Panggil aku... Ki Mamat Usada!" seru Mamat dengan suara yang dipelankan dan dibikin berat, seolah-olah suaranya keluar dari dasar sumur tua. "Ah tidak, Ki Mamat Usada kurang menjual. Ki Mamat Brajamukti! Tidak, terlalu pasaran. Ki Mamat Sastrogati!"

Mamat tersenyum lebar. Nama itu terdengar cukup kuno dan berwibawa untuk menipu warga Kampung Kalisari yang percaya bahwa semua masalah kehidupan—mulai dari penyakit rematik, pasangan selingkuh, hingga motor mogok—bisa diselesaikan dengan bantuan alam ghaib.

"Besok pagi, kedok baru dibuka. Mamat pemuda mesum dan pengangguran resmi pensiun. Yang ada hanya Ki Mamat, sang pembuka tabir alam ghaib Kampung Kalisari!"

Mamat tertawa terkekeh-kekeh sendirian di tengah kegelapan kamarnya, ditemani asap obat nyamuk bakar yang kian mengepul tebal. Dia tidak sadar bahwa keputusan absurdnya malam itu bukan hanya akan membawanya keluar dari jeratan utang pinjaman online, tetapi juga akan menyeret seluruh warga Kampung Kalisari ke dalam pusaran skandal, komedi gelap, dan kekacauan mistis yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun sebelumnya.

Ponselnya di atas kasur bergetar sekali lagi. Pesan ancaman dari depkolektor kembali masuk, tetapi kali ini Mamat hanya meliriknya dengan sudut mata sambil mengelus batu akik merah besarnya.

"Tunggu saja besok, Penagih Utang. Kamu akan berhadapan dengan ilmu ghaib Ki Mamat!" cetus Mamat percaya diri, sebelum akhirnya dia kembali terbatuk-batuk hebat karena kebanyakan menghirup asap obat nyamuk bakar yang makin memenuhi kamarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!