NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Pagi itu, mentari bersinar lembut, cahayanya menyusup pelan melalui celah-celah tirai kamar yang ditempati Tiyas dan Gio.

Udara masih segar, ditemani semilir angin yang membawa aroma embun sisa semalam.

Di dapur, Tiyas tampak sibuk menyiapkan sesuatu dengan penuh semangat.

Senyum manis tak henti terlukis di wajahnya. Ia tahu persis suaminya itu selalu berangkat lebih pagi daripada dirinya.

Biasanya, rutinitas mereka di pagi hari berjalan cepat dan kaku karena kejar-kejaran dengan waktu.

Namun, pagi ini, Tiyas memutuskan untuk meluangkan waktu lebih.

Ada sesuatu yang ingin ia lakukan, sesuatu yang sederhana namun bermakna—memberi kejutan kecil untuk suami tercinta.

Dengan cekatan, ia memasak sarapan favorit Gio: nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi setengah matang dan potongan mentimun segar.

Semua ditata rapi dalam kotak bekal makan siang berwarna navy.

Tak lupa, ia menyisipkan secarik post-it berwarna kuning cerah di atasnya.

Selamat pagi, Sayang. Semangat kerja, ya. Love, Tiyas.

Dengan hati yang hangat dan perasaan membuncah, Tiyas berangkat lebih awal dari biasanya.

Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana bahan krem yang membuatnya tampak anggun sekaligus profesional.

Kotak bekal itu diletakkan dengan hati-hati di pangkuannya, seolah menjadi simbol kecil cinta dan perhatian yang selama ini ia rawat dalam pernikahan mereka.

Segera Tiyas melajukan mobilnya menuju ke kantor suaminya.

Di sepanjang perjalanan Tiyas sudah membayangkan bagaimana suaminya yang akan bahagia mendapat bekal darinya.

Setibanya di lobi gedung kantor Gio, Tiyas melangkah ringan dengan penuh percaya diri.

Ia menyapa beberapa karyawan yang dikenalnya sambil tersenyum ramah, lalu berjalan menuju lift khusus yang membawanya ke lantai tiga.

Ketika sampai di depan pintu ruang kerja suaminya yang sedikit terbuka, ia sempat berhenti, berniat untuk mengetuk.

Ia mendengar suara pelan dari dalam ruangan membuatnya mengurungkan niat.

Bukan suara percakapan bisnis, melainkan bisikan mesra dan tawa renyah yang terasa familiar.

Rasa penasaran yang aneh muncul, disertai ketukan halus namun cepat di dadanya.

Instingnya sebagai seorang istri mulai berdesir tidak nyaman.

Ia mendekat perlahan, lalu mengintip sedikit melalui celah pintu yang terbuka.

Saat itulah dunia seolah berhenti berputar. Waktu seakan membeku, menghimpit udara di sekitarnya.

Di dalam ruangan itu, Gio—pria yang selama ini ia cintai, hormati, dan percayai sepenuhnya—sedang berciuman mesra dengan seorang wanita.

Bukan wanita asing. Sosok itu adalah Mia, saudara sepupunya sendiri.

Orang yang sudah seperti saudara kandung bagi Tiyas, seseorang yang sering makan malam di rumah mereka, seseorang yang selama ini ia anggap bagian tak terpisahkan dari keluarganya.

Tiyas membeku di tempat. Napasnya tercekat di tenggorokan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya.

Tangannya refleks menutup mulut, berusaha sekuat tenaga menahan suara isakan yang mendesak keluar.

Matanya membelalak, menolak mentah-mentah apa yang dilihatnya, tetapi kenyataan itu terlalu gamblang untuk disangkal.

Dada Tiyas terasa sesak, luar biasa sakit, seperti diremas paksa dari dalam hingga hancur berkeping-keping.

Pengkhianatan ganda ini menghantam ulu hatinya.

Tanpa sadar, air matanya mulai luruh membasahi pipi.

Dalam keadaan syok dan gemetar hebat, ia merogoh ponsel dari dalam tasnya.

Dengan tangan yang gemetar, ia merekam sejenak adegan menyakitkan itu sebagai bukti.

Bukan karena niat dendam yang membara saat itu, melainkan karena nalurinya mengatakan ia membutuhkan bukti nyata, agar otaknya tak lagi bisa menyangkal kenyataan pahit yang baru saja menampar hidupnya.

Ia tak mampu berdiri lebih lama lagi di sana. Dengan langkah gontai dan gemetar, Tiyas memutar badan dan berjalan cepat menjauh dari ruangan itu, berusaha keluar dari gedung neraka tersebut.

Begitu masuk ke dalam mobilnya di area parkir, pertahanannya runtuh total.

Ia terdiam di balik kemudi, napasnya memburu berat, dadanya naik turun menahan badai emosi yang berkecamuk.

Ia terisak pilu, membiarkan air mata membanjiri wajahnya.

Tangannya masih mencengkeram erat kotak bekal yang kini terasa begitu dingin, ironis, dan tak lagi berarti.

Setelah beberapa lama mencoba untuk menenangkan dirinya.

Ia menghidupkan mesin mobilnya dan melaju tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya ia memutuskan menuju tempat yang selama ini menjadi pelariannya saat hati sedang kalut.

Sebuah kafe kecil yang tenang di sudut kota, yang menyajikan kopi hangat dan ketenangan di setiap sudutnya.

Tiyas duduk sendirian di pojok ruangan, menatap kosong ke luar jendela.

Hujan tipis mulai turun di luar, seolah ikut meratapi perih yang ia alami.

Sambil memegang cangkir cappuccino hangat yang belum ia teguk, Tiyas sadar satu hal: hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Detik ini, detik di mana ia melihat Gio dan Mia bersama, adalah garis batas antara masa lalunya yang bahagia dan masa depannya yang tidak pasti.

Di sudut kafe itu, di antara alunan musik jazz pelan dan aroma kopi, Tiyas mencoba bernapas, berpikir, dan menata ulang kepingan hatinya yang seketika berantakan.

Ia membuka galeri ponselnya. Video rekaman itu masih ada.

Hanya beberapa detik, namun durasi itu terasa seperti siksaan abadi yang menghujam jantungnya.

Tatapan mesra Gio, sentuhan Mia, ciuman dalam itu, semuanya berputar ulang di benaknya.

Rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kemarahan dingin yang merayap di dalam nadinya.

Bagaimana bisa? Dua orang yang paling ia percaya melakukan hal serendah ini di belakangnya.

"Kenapa, kalian tega seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tertelan oleh deru mesin espresso di kafe itu.

Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Gio.

[Sayang, kamu di mana?]

Tiyas membaca layar itu dengan tatapan kosong dan senyum sinis yang pahit.

"Sayang? Sayang yang mana, Gio?" gumam Tiyas

Panggilan itu kini terdengar seperti sebuah lelucon yang kejam dan memuakkan.

Ia menatap jemarinya sendiri yang masih gemetar.

Ia tahu ia harus kuat. Ia harus membalas ini dengan cara yang elegan namun menyakitkan bagi mereka.

Tiyas menghapus sisa air matanya, menegakkan punggungnya, dan menatap layar ponsel dengan tekad baru.

Ia membuka daftar kontak dan mencari satu nama yaitu, Narendra.

Suami dari Mia. Pria yang selama ini dikenal tenang, dewasa, dan sangat mencintai keluarganya. Narendra, atau yang akrab disapa Naren, saat ini tengah berada di Bali untuk menangani proyek resort mewah.

Tanpa keraguan, Tiyas menuliskan pesan singkat kepada Narendra.

[Naren, aku tahu ini sangat berat dan mendadak. Tapi aku harus menunjukkan sesuatu padamu. Ini tentang Mia dan Gio. Kumohon, angkat teleponku sebentar saja.]

Beberapa menit yang terasa seperti jam berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Tiyas menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar keras.

Akhirnya, tanda centang biru muncul, dan tak lama kemudian, panggilan video masuk. Nama Narendra terpampang di layar.

Dengan tangan yang masih sedikit dingin, Tiyas menerima panggilan itu.

Wajah Narendra muncul di layar ponsel. Ia tampak berada di sebuah balkon vila dengan latar pemandangan pantai Bali yang tenang dan indah. Kontras sekali dengan kekacauan batin yang sedang dialami Tiyas.

Namun, raut wajah Narendra yang biasanya tenang dan hangat langsung berubah tegang saat melihat wajah sembab Tiyas.

"Ada apa, Tiyas? Kamu kelihatan pucat sekali. Ada masalah?" tanyanya pelan, suaranya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.

Tiyas menatapnya sejenak, menahan kembali gelombang emosi yang hendak meledak.

Tenggorokannya terasa tercekat, namun ia harus mengatakannya.

"Naren, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf harus menyampaikannya lewat panggilan seperti ini," ucap Tiyas terbata, suaranya bergetar parah.

"Tapi, aku harus jujur padamu. Mia dan Gio. Mereka berselingkuh."

Narendra langsung terdiam. Wajahnya membeku, seolah ia tidak menangkap atau menolak untuk mengerti apa yang baru saja didengarnya.

"Apa? Maksudmu, Mia dan Gio? Suamimu?"

Tiyas mengangguk lemah, air matanya kembali menetes tanpa bisa ia bendung.

Tanpa berkata-kata lagi, ia mengirimkan video rekaman yang diambilnya tadi pagi melalui aplikasi pesan instan.

Narendra terdiam sejenak untuk membuka dan menonton video tersebut.

Keheningan panjang membungkus percakapan mereka.

Selama beberapa detik, hanya suara deburan ombak dari latar belakang Narendra yang terdengar.

Ketika Narendra kembali menatap layar, raut wajahnya sudah berubah total. Bukan lagi keterkejutan, melainkan amarah dingin yang tertahan.

Matanya menatap tajam, rahangnya mengeras, dan wajahnya memerah.

"Sejak kapan, mereka melakukan ini?" tanya Narendra dengan suara berat, datar, dan dingin.

"Aku tidak tahu persisnya, Naren" jawab Tiyas lirih, menghapus air matanya dengan punggung tangan.

"Tapi kalau pagi ini mereka bisa seakrab itu di kantor, aku yakin ini bukan yang pertama kalinya."

Narendra mengangguk pelan. Matanya menatap jauh ke depan, ke arah laut, lalu kembali ke kamera ponsel.

"Terima kasih, Tiyas," ucap Narendra dengan nada penuh penekanan, suaranya terdengar tulus namun menyiratkan badai di baliknya.

"Terima kasih sudah memberitahuku kebusukan ini. Kamu nggak sendirian, Tiyas. Aku juga nggak akan tinggal diam.Aku akan pulang ke Yogyakarta secepatnya. Kita akan selesaikan ini bersama."

Panggilan pun berakhir dengan janji singkat dari Narendra,

Setelah sambungan terputus, Tiyas masih memandangi layar ponselnya yang perlahan menghitam. Kata-kata Narendra terngiang di kepalanya.

Satu bulan lagi Narendra akan pulang ke Yogyakarta.

Satu bulan waktu yang cukup. Waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya dengan rapi. ucap Tiyas dalam hati.

Waktu bagi Tiyas untuk mengumpulkan seluruh bukti perselingkuhan Gio dan Mia, satu demi satu, sampai tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Dengan napas berat tapi penuh tekad, Tiyas meraih tasnya dan berdiri dari kursi kafe.

Ia melihat bayangan dirinya di cermin besar di dinding kafe.

Matanya sembab, rambutnya sedikit berantakan, penampilannya tidak sesempurna pagi tadi.

Namun, di balik tatapan lelah itu, ada bara api ketegasan yang menyala terang.

"Kalau kalian pikir aku akan diam dan menerima semua ini, kalian salah besar," bisik Tiyas pada dirinya sendiri, suaranya dingin dan penuh keyakinan.

Mulai hari ini, Tiyas memutuskan satu hal yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Ia akan mencari semua bukti perselingkuhan itu. Ia akan membongkar semua kebusukan Gio dan Mia di depan keluarga besar mereka.

Tiyas menatap cangkir cappuccino di hadapannya yang kini sudah dingin.

Rasa pahit yang tertinggal di lidah mencerminkan isi hatinya saat ini—pahit, getir, dan menggantung.

Meski begitu, ia meneguk sisa kopi itu hingga tetes terakhir.

Seolah meneguhkan pada dirinya sendiri bahwa hari ini tidak akan berakhir dengan kekalahan.

Ia harus tetap berdiri, harus tetap melangkah, meski hatinya hancur berkeping-keping.

Setelah membayar, Tiyas melangkah keluar dari kafe menuju mobilnya.

Ia menatap lurus ke depan, mengatur napas dalam-dalam.

Mobilnya melaju menuju perusahaannya, tempat ia memimpin sebagai wanita karier yang disegani.

Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah bara api menyala dalam dirinya.

Sebuah tekad baja yang tidak pernah ada sebelumnya.

Hari ini, ia kembali bekerja, dan diam-diam, ia memulai misinya untuk mengungkap kebenaran, mengumpulkan bukti, dan menyusun langkah balas dendam yang elegan, namun mematikan.

Dan perang itu—baru saja dimulai.

1
Noey Aprilia
Suami spupunya aja dia rbut,aws aja kl suami kknya jg d rebut....🙄🙄🙄....
Noey Aprilia
Gmana ga ngsih rstu....naren bnr2 clon suami plus clon mntu idaman...
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
Noey Aprilia
Stlh psah sm suami durjana,tiyas dptn clon suami idaman....sng mntan pst nysel krna akhrnya hdp mndrta..
sokooorrr.....😛😛😛
Noey Aprilia
Tuuhhh....
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
sunaryati jarum
Akhirnya dapat restu dari orang tua
Ariany Sudjana
Tyas masih juga memikirkan pekerjaan, yang penting kamu sehat dulu. dokter sudah minta kamu istirahat, patuhi nasehat dokter
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘
my name is pho: Terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
owh ternyata prank 🤣🤣😂😂
sunaryati jarum
so sweet banget Naren ngeprank kamu
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Emak suka ceritanya tidak muter dan bertele-tele
sunaryati jarum
Baru mampir
my name is pho: Selamat membaca kak 🥰🙏
total 1 replies
Heny
Bearti yg kaya Tyas dan Naren gio dan mia benalu
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
harusnya Tyas kasih jawaban tunggu sampai putusan pengadilan keluar, kalau pas baru mediasi sudah ada jawaban dari Tyas, bisa jadi senjata untuk gio dan Mia, mereka nanti berpikir Tyas dan Narendra juga selingkuh di belakang mereka
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai Mia, kan pilihan kamu sendiri untuk selingkuh dari Narendra demi seorang gio, jadi jalani saja yah 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
pertimbangkan baik-baik lamaran Narendra tadi Tyas,betul kamu masih terluka, tapi tetap kamu perlu seorang yang bisa melindungi kamu
Ariany Sudjana
bodoh kamu Tyas, sama saja kamu itu sampah seperti Mia, kamu menghancurkan diri kamu sendiri dengan mabuk alkohol
Ariany Sudjana
bagus Tyas dan Narendra, kalian berdua sudah tegas terhadap pasangan pengkhianat tersebut, dan tinggal tunggu sidang saja 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar suami bodoh kamu gio, kamu merasa insecure terhadap Tyas, terus apa itu bisa jadi alasan untuk kamu selingkuh ? dasar laki-laki pengecut kamu gio, kamu memilih mengkhianati perempuan hebat seperti Tyas, demi seorang pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
bagus Imelda ngomong gitu ke Tyas, biar sadar belum berjuang kok sudah tumbang, karena kesehatan tidak mendukung dan juga ga perlu sok kuat, kamu juga perlu orang untuk berbagi, dan sekarang kamu buat semua orang sibuk Tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!