Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : WALI MEMPELAI
beberapa hari telah berlalu dengan Laura tinggal sementara di rumah Hero. saat setelah mengantar Laura ke kampus, Hero tidak langsung kembali ke rumah singgah atau ke kantor ada satu tujuan yang harus dia datangi terlebih dahulu.
Hero ingin berbicara langsung dengan pria yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang benar-benar menyayangi Laura. sebelum mengambil langkah lebih jauh, Hero merasa Arthur berhak mengetahui apa yang terjadi pada cucunya.
Mobil hitam yang ditumpangi Hero akhirnya berhenti di depan kediaman Arthur. Valen turun lebih dahulu dan membukakan pintu untuk Hero.
“Apakah Tuan ingin saya ikut masuk?” tanya Valen.
Hero mengangguk. “Ikutlah. Ada beberapa hal yang mungkin perlu kau jelaskan nanti.”
“Baik, Tuan,” jawab Valen sambil mengikuti Hero masuk ke halaman rumah Arthur Prayoga.
Seorang penjaga segera menghampiri mereka dengan wajah sedikit bingung karena tidak menyangka tamu sebesar Hero Valdren datang tanpa pemberitahuan.
“Selamat pagi, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya penjaga itu dengan sopan.
“Saya ingin bertemu dengan Tuan Arthur Prayoga,” jawab Hero.
“Baik, Tuan. Silakan menunggu di ruang tamu. Saya akan memanggil beliau.”
Hero mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan menunggu Arthur Prayoga di ruang tamu.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah tangga, arthur turun perlahan namun begitu melihat siapa yang duduk di ruang tamunya, langkahnya langsung terhenti.
“Hero Valdren?” gumam Arthur di batinnya.
Hero segera berdiri dan menatap Arthur dengan sopan. “Selamat pagi, Tuan Arthur.”
Arthur berjalan mendekat dan menjabat tangan Hero. Meskipun tetap sopan, wajahnya menunjukkan rasa terkejut.
“Saya tidak menyangka Anda akan datang ke rumah saya,” ujar Arthur. “Ada urusan penting apa sampai Anda datang secara langsung?”
Hero berkata ke arah Arthur. “Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Sesuatu yang berkaitan dengan Laura.”
Mendengar nama cucunya, wajah Arthur langsung berubah serius dan Arthur mempersilahkan Hero dan valen untuk duduk dahulu dan para pelayan meletakkan minuman di atas meja.
“Laura?” tanya Arthur. “Apakah terjadi sesuatu kepadanya?”
“Tidak,” jawab Hero. “Laura sedang berada di tempat yang aman.”
Arthur mengerutkan kening. “Apa maksud Anda?”
Hero menatap Arthur beberapa saat sebelum menjawab dengan tenang, “Laura sekarang tinggal di rumah saya.”
Arthur langsung terdiam dan bertanya untuk memastikan nya“Di rumah Anda?”
Hero mengangguk. “Ya.”
Arthur menatap Hero dengan penuh pertanyaan. “Bagaimana Laura bisa sampai berada di rumah Anda? apakah kalian sudah lama saling kenal dan apa yang terjadi dengan Laura ?”
“Saya bertemu dengannya beberapa hari lalu Saya menemukannya sendirian di sebuah taman.” jawab hero dengan tenang dan menjelaskan semuanya ke Arthur.
Arthur semakin serius. “Sendirian?”
“Ya,” jawab Hero. “Dia duduk di bangku taman sambil menangis dan memeluk gaun yang sudah terbakar.”
Arthur langsung terdiam dia tahu persis gaun yang dimaksud Hero.
“Itu gaun yang saya berikan kepada Laura,” ujar Arthur dengan suara pelan.
Hero mengangguk. “Saya tahu.”
Arthur menatap Hero dengan cemas. “Apa yang terjadi pada Laura?”
Hero menarik napas sebelum menjawab, “Wajahnya memar ketika saya menemukannya.”
Arthur langsung mengepalkan tangannya.“Memar?”
Arthur bertanya lagi dengan suara bergetar. “Siapa yang melakukan itu kepadanya?”
Hero tidak langsung menjawab dia menatap Arthur dengan serius sebelum berkata, “Keluarganya.”
Arthur terdiam cukup lama dia menundukkan kepala, seolah berusaha menahan emosi yang mulai memenuhi dirinya.
“Saya tahu Laura sering diperlakukan berbeda,” ujar Arthur akhirnya. “Saya tahu Richard dan Helena lebih memperhatikan Dinda. Tapi saya tidak pernah menyangka mereka akan menyakitinya sampai seperti itu.”
Hero menjawab dengan tenang, “Saya juga baru mengetahui semuanya setelah meminta Valen mencari tahu tentang kehidupan Laura.”
Valen yang duduk di samping Hero kemudian membuka sebuah dokumen.
“Saya sudah mengumpulkan informasi yang Tuan minta,” ujar Valen kepada Hero. “Laura memang sudah lama mengalami perlakuan yang tidak adil dari keluarganya. bahkan untuk beberapa kebutuhan kuliahnya, dia memilih bekerja sendiri karena tidak ingin terus meminta uang kepada orang tuanya.”
Arthur mengusap wajahnya dengan sedih.“Anak itu...” gumamnya.
Hero menatap Arthur. “Laura tidak pernah mengeluh kepada Anda?”
Arthur menggeleng perlahan. “Tidak, Dia selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Mungkin dia tidak ingin membuat saya khawatir.”
“Dia memang seperti itu,” jawab Hero. “Dia terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya.”
Arthur mengangkat wajah dan menatap Hero.“Anda baru bertemu dengannya semalam, bagaimana anda bisa mengetahui hal itu?”
Hero terdiam sesaat.“Saya melihat matanya,”
dan Hero berkata yang dia lihat dari mata laura. “Seseorang bisa mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi matanya tidak bisa berbohong.”
Hero kemudian melanjutkan, “Dan sejak saya melihatnya malam itu saya tahu, saya tidak bisa membiarkannya kembali ke tempat yang membuatnya terluka.”
Arthur memperhatikan Hero dengan saksama.“Lalu apa hubungan Anda dengan Laura sebenarnya?” tanya Arthur.
Hero menjawab dengan suara tegas, “Laura adalah mempelai saya.”
Arthur kembali terkejut.“Apa?”
“Laura adalah wanita yang saya pilih sebagai mempelai saya,” ulang Hero.
Arthur bersandar di sofa sambil masih berusaha memahami perkataan tersebut.“Hero, saya menghargai anda datang ke sini, tapi Laura baru bertemu dengan Anda. apakah anda benar-benar serius mengatakan hal itu?”
“Saya serius,” jawab Hero tanpa ragu. “Saya tidak mengatakan ini karena kasihan kepadanya, saya memang ingin Laura menjadi bagian dari hidup saya.”
Arthur menatap Hero cukup lama.“Kalau begitu, apa yang anda inginkan dari saya?”
Hero menjawab, “Saya ingin anda menjadi wali Laura.”
“Wali Laura?” tanyanya memastikan.
“Ya,” jawab Hero. “saya ingin anda berdiri di sisinya, saya ingin anda menjadi orang yang memberikan dukungan kepadanya ketika dia memutuskan untuk melepaskan diri dari keluarga Prayoga.”
Arthur menatap Hero dengan serius.“anda ingin memisahkan Laura dari keluarganya?”
“Saya ingin membebaskannya dari perlakuan yang selama ini dia terima,” jawab Hero. “Saya tidak ingin memaksanya memutuskan hubungan dengan siapa pun, tetapi saya ingin Laura memiliki pilihan untuk menentukan hidupnya sendiri.”
Arthur menghela napas panjang.“Laura adalah cucu saya, saya tentu ingin dia bahagia tapi saya tidak ingin mengambil keputusan atas hidupnya.”
“Saya juga tidak ingin anda mengambil keputusan untuknya, saya hanya ingin Anda menjadi orang yang mendukungnya ketika dia memilih jalan hidupnya sendiri.” jawab hero.
Arthur terdiam mendengar jawaban itu.
Hero kemudian melanjutkan, “Saya tidak akan memaksa Laura menikah dengan saya jika dia tidak menginginkannya saya ingin dia memilih saya dengan kemauannya sendiri.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arthur sedikit melunak.“Kalau begitu, saya ingin bertemu dengan Laura, saya ingin mendengar langsung apa yang dia inginkan.” ujar Arthur ke arah Hero.
Hero mengangguk. “Tentu, saya akan membawa Laura menemui anda.”
Arthur kemudian menatap Hero dengan serius.“Dan jika Laura memilih untuk bersama anda, apa yang akan anda lakukan?”
Hero menjawab tanpa ragu, “Saya akan menjaganya.”
“Menjaga saja tidak cukup, Laura sudah terlalu sering merasa tidak dihargai, dia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya merasa aman.” balas Arthur.
Hero menatap Arthur dengan penuh keyakinan.“Itulah yang akan saya lakukan, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.”
Arthur masih memandang Hero.“Bahkan jika orang yang menyakitinya berasal dari keluarganya?”
“Bahkan jika mereka berasal dari keluarganya sendiri tidak ada seorang pun yang akan saya biarkan menyakiti Laura.” tegas Hero dengan jawabannya.
Arthur akhirnya mengangguk perlahan.“Kalau begitu, saya akan mendukung Laura.”
Hero mengulurkan tangannya.“Terima kasih, Tuan Arthur.”
Arthur menjabat tangan Hero dengan erat bamun sebelum melepaskannya, dia berkata dengan serius, “Saya memberikan dukungan ini karena saya ingin cucu saya bahagia, jangan pernah membuat Laura menyesal mempercayai anda.”
Hero menatap Arthur dengan tenang.“Anda tidak perlu khawatir.”
Arthur melepaskan tangannya.
Hero kemudian berkata, “Saya akan menjaga Laura sebaik mungkin, mulai sekarang dia tidak akan menghadapi semuanya sendirian lagi.”
Arthur menatap Hero beberapa saat sebelum tersenyum tipis.“Kalau begitu, saya berharap anda benar-benar menjadi orang yang selama ini Laura butuhkan.”
Hero mengangguk.“Saya akan berusaha menjadi lebih dari itu.”
Di dalam hati Hero, keputusannya sudah bulat, Laura telah terlalu lama hidup tanpa perlindungan.
Mulai sekarang, Hero akan memastikan tidak ada seorang pun yang kembali membuat wanita itu di sakitin atau pun menangis.
Bonus foto Laura dan hero