NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GUDANG PENINGGALAN TERLARANG

Tangga batu berputar turun tanpa akhir, dikelilingi dinding yang memancarkan cahaya biru pucat yang semakin redup semakin dalam mereka melangkah. Udara di sini terasa berat, menekan kulit seakan ada tangan tak terlihat yang mendorong mereka kembali ke atas. Xuanyuan memegang erat batu relik di dadanya — benda itu kini bergetar lebih kuat, seakan ketakutan atau mengenali sesuatu yang lama hilang.

"Kau merasakan itu?" bisik Lian Yue.

"Seperti ada ribuan mata yang menatap dari kegelapan. Tapi bukan mata yang hidup. Mata yang telah mati ribuan tahun lalu."

Langkah terakhir mendarat di lantai batu yang datar dan luas. Mereka berdiri di sebuah ruangan besar yang langit-langitnya tak terlihat di atas. Di sekelilingnya, rak-rak batu setinggi gunung menyimpan benda-benda yang berdenyut dengan energi yang tidak berwarna benda yang bahkan tidak berani disentuh oleh Klan Gu sendiri.

"Ini Gudang Peninggalan Terlarang. Di sini tersimpan benda-benda yang tidak boleh ada di dunia ini. Bukan karena berbahaya tapi karena keberadaannya mempertanyakan aturan dasar realitas itu sendiri. Kau tidak boleh menyentuh apa pun selain kotak besi itu, Xuanyuan. Jangan biarkan rasa ingin tahu membunuhmu sebelum kau sempat memulai." suara Lang Wuyan terdengar serius, tanpa canda sama sekali.

Mereka berjalan di lorong sempit di antara rak-rak tinggi. Di sebelah kiri, sebuah pedang tanpa sarung berdiri sendiri, menancap di batu. Tidak ada yang memegangnya, tapi ia terus bergetar pelan, dan setiap kali bergetar, bayangan di dinding bergerak sendiri. Di sebelah kanan, sebuah cermin kecil yang retak memantulkan bukan wajah mereka, melainkan versi diri mereka yang lebih tua, lebih lelah, dan bermata kosong.

Xuanyuan menunduk, menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

Di ujung ruangan, di atas sebuah altar batu yang rendah, terdapat kotak besi tua. Tidak ada kunci. Tidak ada lubang kunci. Seluruh permukaannya tertutup ukiran mata yang tertutup kelopak, berjajar rapi melingkar. Saat mereka mendekat, udara di sekitar kotak terasa membeku bukan dingin yang membekukan air, tapi dingin yang membekukan pikiran.

"Ini dia," kata Xuanyuan pelan.

Ia melangkah maju, tapi sebelum tangannya menyentuh besi itu, bayangan di sekitar altar bergerak. Bukan satu bayangan. Tujuh sosok muncul dari kegelapan, tidak berjalan, melainkan meluncur di atas lantai tanpa menyentuhnya. Mereka mengenakan jubah yang sudah berdebu ribuan tahun, wajah mereka tersembunyi di balik topeng batu berbentuk wajah datar tanpa ekspresi.

Langkah terlarang, suara bergema, bukan dari mulut mereka, tapi dari udara itu sendiri.

"Kami tidak bermaksud mencuri. Kami hanya diminta mengambil kotak ini dan membawanya pergi," kata Xuanyuan, tangannya perlahan mendekati gagang pedang di pinggang.

Benda yang masuk ke sini, tidak pernah keluar. Ini hukum yang ditetapkan pendiri klan kami. Siapa pun yang menyentuh kotak itu... akan menjadi penjaga berikutnya.

Salah satu sosok mengangkat tangan. Energi abu-abu pekat melesat ke arah Xuanyuan. Ia menghindar, serangan itu menghancurkan bagian altar, serpihan batu beterbangan. Lian Yue mundur cepat, tangannya meraih separuh Cermin Retak di balik jubahnya cahaya putih samar mulai menyelinap keluar dari sela-sela jarinya.

"Kita tidak bisa melawan mereka. Mereka bukan makhluk hidup, bukan juga roh. Mereka adalah jaminan yang ditanam di sini sejak gudang ini dibangun," kata Xuanyuan cepat, matanya meneliti tujuh penjaga yang mengelilingi mereka.

Pupil Gandanya terbuka, dan dalam sekejap, ia melihat apa yang tidak terlihat mata biasa. Di antara ketujuh sosok itu, ada satu benang tipis yang menghubungkan mereka semua ke kotak besi di altar. Bukan energi keterikatan. Seperti tali pusar yang tidak boleh putus.

"Mereka tidak menjaga kotak itu dari luar. Mereka terikat padanya dari dalam. Jika kotak itu bergerak, mereka terganggu. Jika kotak itu hilang, mereka lenyap."

Kau melihat apa yang tidak boleh dilihat, anak yang membawa mata terlarang. Itu akan menjadi kesalahan terakhirmu.

Ketujuh penjaga melesat sekaligus. Xuanyuan tidak mencabut pedangnya. Ia melompat ke atas altar, bukan menjauh, tapi mendekat ke kotak itu.

"Xuanyuan!" teriak Lian Yue.

"Pegang cerminmu siap! Saat aku mengambil kotak, arahkan cermin ke mereka! Jangan tanya kenapa lakukan saja!"

Xuanyuan menggenggam kotak besi itu. Besi itu terasa seberat gunung, dan saat diangkat, seluruh ruangan bergetar hebat. Cahaya abu-abu meledak dari ketujuh penjaga, tubuh mereka mulai hancur dan terbentuk kembali dalam wujud yang lebih mengerikan raksasa dari bayangan dan kemarahan kuno.

Lian Yue mengangkat separuh Cermin Retak itu. Cahaya putih memancar, tidak menyilaukan, tapi lembut dan menembus segalanya. Saat cahaya itu menyentuh ketujuh penjaga, raungan mereka berubah menjadi tangisan yang pilu. Tubuh mereka tidak hancur — mereka teringat siapa mereka dulu.

Kita... kembali... pulang... bisik suara yang kini terdengar seperti manusia, bukan monster.

Satu per satu, tubuh mereka larut menjadi debu cahaya, menyisakan keheningan yang dalam di ruangan itu. Xuanyuan berdiri di tengah debu yang perlahan jatuh, kotak besi itu masih di pelukannya, terasa semakin ringan seiring lenyapnya para penjaga.

Lian Yue terhuyung, cermin di tangannya meredup, napasnya terengah-engah. "Aku tidak tahu aku bisa melakukan itu. Itu bukan kekuatanku. Itu... cermin itu yang melakukannya."

"Kau baru saja membuktikan satu hal yang bahkan Gu Qingzhu ragukan bahwa cermin retak itu dan matanya... berasal dari sumber yang sama. Dan itulah alasan mengapa kotak itu tidak menolakmu." Lang Wuyan terdengar tertegun, seakan melihat sesuatu yang baru saja ia pahami.

Xuanyuan menatap kotak di pelukannya. Ukiran mata di permukaannya kini terbuka sedikit, seakan tersenyum.

"Kita pergi. Sekarang."

Saat mereka berjalan menuju tangga naik, di salah satu rak yang mereka lewati, sebuah loyang logam tua jatuh terbuka karena getaran tadi. Di dalamnya, tergeletak sebuah jubah kecil berwarna biru langit, dan di sampingnya... sebuah catatan yang ditulis dengan tinta yang belum pudar sama sekali.

"Untuk anakku. Jika kau membaca ini, berarti kau sudah cukup kuat untuk masuk ke sini. Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Ibu."

Xuanyuan berhenti. Tangannya gemetar. Ia tidak mengambilnya. Ia tidak berani. Ia hanya membaca sekali, lalu memejamkan mata, menelan rasa sakit yang tiba-tiba meledak di dadanya.

"Aku akan kembali untuk itu. Aku janji," bisiknya pelan.

Mereka naik kembali, kotak besi itu dipegang erat di dadanya. Di pintu keluar, Gu Qingzhu sudah menunggu. Tapi saat ia melihat kotak itu dan melihat Xuanyuan yang masih berdiri tegak, matanya yang biasanya dingin sedikit melebar. Bukan karena terkejut tapi karena takut.

Kau tidak hanya mengambilnya. Kau... berbicara dengan mereka. Penjaga itu tidak pernah membiarkan siapa pun keluar hidup-hidup. Selama ribuan tahun, tidak ada yang pernah kembali.

"Aku tidak mengalahkan mereka. Aku hanya melepaskan mereka," jawab Xuanyuan tenang, meletakkan kotak besi di meja batu di depannya. "Ini milikmu. Sekarang... penjelasan yang kau janjikan."

Gu Qingzhu menatapnya lama, lalu menutup matanya dan menghela napas panjang.

Ikut aku. Ada sesuatu yang harus kau lihat. Sesuatu yang tidak pernah aku tunjukkan kepada siapa pun dari luar klan. Tapi jika kau mampu masuk ke sana dan kembali... kau sudah bukan lagi orang asing.

Ia berbalik dan berjalan ke lorong yang sebelumnya tertutup tirai kabut tebal.

Dan Xuanyuan... jangan terlalu cepat percaya pada apa yang akan kau dengar. Bahkan kebenaran pun bisa berbohong.

Mereka berjalan masuk ke dalam cahaya yang semakin terang, meninggalkan lorong gelap itu di belakang.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!