"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
Sial...
Panas...
Gerah...
Seorang laki-laki berjalan dengan wajah memerah dan terus mengibaskan jas yang dikenakannya. Rasa panas menjalar pada tubuhnya. Bahkan ketika berjalan, terlihat sempoyongan dengan sebelah tangan memegang kepalanya. Bodohnya dia yang tak membawa asisten, sekretaris, dan bodyguardnya malam ini. Dia pikir semua aman karena yang datang adalah teman-teman lamanya, walaupun pembahasan tentang bisnis. Ternyata dia dijebak oleh teman sekaligus rekan bisnisnya. Entah apa yang diberikan pada minuman atau makanannya itu sehingga dia bisa seperti ini.
Dia adalah seorang pebisnis dalam bidang hotel dan produsen obat-obatan untuk rumah sakit juga apotek. Anak sulung dari dua bersaudara itu tak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini. Sedangkan teman-temannya yang membuat dia seperti ini malah menertawakannya dan menawarkan seorang wanita penghibur. Sehingga dia memilih kabur menuju kamar miliknya di sela-sela kesadarannya. Kebetulan juga, hotel yang digunakan untuk pertemuan ini adalah salah satu miliknya.
Sretttt...
"Tolong aku," Laki-laki itu menarik tangan seorang perempuan bermasker yang baru saja lewat.
Eh...
"Apa-apaan ini, Mas? Jangan..." teriak perempuan itu yang mencoba memberontak dalam tarikan tangan laki-laki tersebut.
"Tolong... Saya akan bayar mahal atas ini," ucap laki-laki itu menambahkan tenaga untuk menarik seorang perempuan masuk ke dalam kamar hotel miliknya.
Aaaaa...
Hiks... Hiks...
Sorry...
Aku akan bertanggungjawab atas semua ini,
***
Seorang perempuan menggunakan masker berjalan tertatih di pinggir jalan. Area pribadinya terasa nyeri setelah pergulatan panjang dengan seorang laki-laki yang tak dikenalnya. Namun perempuan bernama Ariska Sandra Hutami itu memilih pergi sebelum laki-laki tersebut bangun. Setelah kejadian malam tadi, laki-laki tersebut langsung pingsan. Sehingga mungkin takkan menyadari jika perempuan yang diperlakukan tak pantas itu sudah pergi.
"Bagaimana kalau aku hamil?" gumam Ariska sambil terisak pilu. Tak peduli jika ada orang yang melihatnya.
"Bagaimana dengan kuliah dan pekerjaanku?" lanjutnya memikirkan masa depannya kelak jika dia hamil karena kejadian ini. Dengan cepat, Ariska pulang ke kosnya. Dia ingin segera mandi dan menghilangkan bekas laki-laki itu.
Brugh...
Brugh...
"Bu, kasihan Dek Ariska lho. Kan baru telat sehari bayar kosnya. Masa udah diusir," seru seorang laki-laki bernama Fatah Rizky menegur wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Jamilah.
"Nggak ada kasihan, dia harus pergi. Mana sekarang orangnya nggak ada di rumah? Pasti sengaja dia nggak mau ketemu sama Ibu biar tak ditagih," seru Ibu Jamilah sambil melemparkan beberapa barang milik penghuni kos.
Ibu Jamilah tak peduli dengan teguran anaknya dan beberapa warga sekitar. Jika hanya telat sehari, tidak perlu langsung diusir begitu karena selama ini penghuni kos juga tepat waktu ketika membayar. Namun entah apa yang merasuki Ibu Jamilah sehingga langsung ingin mengusir penghuni kos tersebut. Ariska yang melihat banyak orang di depan kosnya pun perasaannya menjadi tidak enak. Ariska mempercepat langkahnya untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Bu Jamilah, ini barang-barang saya kenapa dilempar keluar?" seru Ariska dengan tatapan tak percaya. Benar, barang yang dibuangnya itu adalah milik Ariska.
"Nah... Ini anaknya udah datang. Kamu sudah terlambat bayar kos, jadi mending kamu keluar dari sini." seru Ibu Jamilah mengusir Ariska sambil berkacak pinggang.
"Bu, saya kan baru terlambat satu hari dan berjanji akan membayarnya nanti sore. Saya baru gajian nanti sore, Bu." seru Ariska dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak bisa. Terlambat satu hari itu, bagi saya tidak bisa. Tetap harus keluar dari kos ini," seru Ibu Jamilah membuat Ariska menatapnya tak percaya.
"Tap..."
"Tidak ada tapi-tapian. Saya tunggu sampai jam 12 siang. Bereskan semua barang-barang rongsokanmu itu sebelum jam 12 atau saya buang ke tempat sampah," sela Ibu Jamilah tak memberikan toleransi.
Astaga... Cobaan apalagi ini, Tuhan.
Ibu Jamilah pun pergi meninggalkan kos yang ditempati Ariska. Gadis itu menatap nanar pada barang-barangnya yang berhamburan di depan kos. Beberapa warga terutama Ibu-Ibu langsung membantu Ariska memunguti barangnya. Padahal Ariska adalah anak yang baik dan tidak pernah macam-macam. Pekerjaannya pun jelas sebagai mahasiswi dan office girl di hotel dekat kampus. Keluar rumah juga hanya untuk kuliah dan bekerja tapi ada saja orang yang tak menyukainya.
"Sabar ya, Nak." ucap Ibu Lastri, tetangga di sebelah kos yang ditempati oleh Ariska.
"Padahal tinggal tunggu sore Ariska sudah bisa bayar kosnya. Soalnya bulan kemarin, uang Ariska habis untuk keperluan kuliah." ucap Ariska dengan tatapan sendunya.
"Ibu Jamilah mah emang gitu orangnya, Nak. Apa mau tinggal di rumah Ibu dulu sambil cari kos baru?" tanya Ibu Lastri menawarkan rumahnya agar Ariska tidak buru-buru memindahkan barangnya.
"Saya titip beberapa barang dulu di rumah Ibu ya. Nanti saya ambil kalau sudah dapat kos yang baru," Ibu Lastri menganggukkan kepalanya mengerti.
"Maafkan Ibuku ya, Dik Ariska." ucap Fatah, anak dari Ibu Jamilah.
Tadi Fatah sudah berusaha untuk meminta kelonggaran pada Ibunya agar Ariska tetap tinggal di kos. Namun Ibu Jamilah tetap tidak mau tahu tentang urusan Ariska lagi. Tak berhasil membujuk Ibu Jamilah, Fatah kembali ke kos Ariska. Meminta maaf karena tidak bisa membantu Ariska. Tatapannya terlihat sendu, merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Ariska.
"Ibumu tuh lho, Nak Fatah. Sangat menyebalkan. Roda itu berputar, khawatir Ibu nanti kalau kos-kosannya nggak laku karena bersikap semena-mena sama penghuninya. Padahal cuma sehari aja nggak bayar," seru Ibu Lastri dengan tatapan sinisnya.
"Ini pasti otak Ibumu itu diracuni sama si Elin yang suka sama kamu. Salahmu juga itu kenapa malah kamu suka sama Ariska? Suka aja sana sama Elin," lanjutnya.
"Jangan menuduh sembarangan anakku ya, Bu Lastri. Lagian Elin itu bisa dapat laki-laki lebih dari si Fatah. Ngapain juga mempengaruhi Jamilah buat mengusir Ariska?" seru Ibu Rani yang tak terima anaknya bernama Elin disalahkan.
"Em..."
"Sudah, Bu. Nanti malah tambah ramai," sela Ariska melerai perdebatan itu.
Ariska mengelus bahu Ibu Lastri yang sedari dulu memang terkenal lantang menyuarakan kebenaran. Hampir semua warga juga tahu kalau Fatah menyukai Ariska hingga beberapa kali terlihat membantu gadis itu. Namun sayangnya, Ariska tidak tertarik pada Fatah. Sedangkan Elin, tetangga Fatah sangat menyukai laki-laki itu dan beberapa kali menghasut Ibu Jamilah. Setidaknya untuk menjauhkan Fatah dari Ariska.
"Hati-hati ya, Nak. Kalau sudah menemukan kos, bisa langsung ambil barang-barangnya di rumah Ibu." ucap Ibu Lastri sambil memeluk singkat Ariska.
"Terimakasih, Bu." ucap Ariska yang kemudian memilih pergi dari sana setelah menyelesaikan semuanya.
"Itu merah-merah di leher Ariska apaan ya? Kok kaya..."
"Nggak mungkin. Habis kerokan kali ya," gumam Ibu Lastri sambil menatap kepergian Ariska.
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣