NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Cerita yang Tertunda di Balik Celah Batu

​Hujan badai tropis itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, justru semakin mengamuk seiring dengan turunnya tirai malam. Petak-petak petir menyambar di kejauhan, membelah langit hitam dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan, disusul suara guntur yang menggetarkan tulang rusuk.

​Adrian dan Maya berdesakan di dalam sebuah celah sempit di bawah akar pohon beringin raksasa yang setengah menjorok ke arah tebing karang. Tempat itu lembap, berbau tanah basah dan lumut, namun setidaknya dinding batu di atas mereka mampu menahan hantaman air hujan secara langsung.

​Maya duduk memeluk kedua lututnya rapat-rapat. Jas hujan kuning menyala milik ibunya telah ia tutupi dengan dahan-dahan berdaun lebar yang tadi sempat dipatahkan Adrian agar warna mencoloknya tersamar oleh gelapnya hutan. Meski begitu, tubuh gadis itu tetap bergetar hebat. Giginya bergemeretak menahan dingin yang meresap hingga ke sumsum tulang, dipadukan dengan ketakutan luar biasa yang terus memompa adrenalinnya.

​Adrian duduk tepat di sebelahnya, bahu mereka bersentuhan. Postur pemuda itu sama sekali tidak santai. Matanya yang tajam bak elang terus mengawasi celah sempit di depan mereka, mengamati kegelapan hutan yang pekat. Tangannya menggenggam erat sebilah pisau serbaguna yang ia ambil dari tas milik Clara.

​Merasakan getaran hebat dari tubuh gadis di sebelahnya, Adrian menoleh. Ia melihat wajah pucat pasi Maya yang diterangi kilatan petir sesaat. Hati Adrian mencelos. Rasa bersalah menindih dadanya seperti berton-ton balok besi. Karena dirinya, gadis polos ini harus terseret ke dalam lingkaran neraka.

​Adrian menggeser duduknya, merengkuh bahu Maya dengan satu lengannya dan menarik gadis itu merapat ke dadanya untuk berbagi kehangatan tubuh. Maya tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke dada Adrian, mendengarkan detak jantung pemuda itu yang berdegup teratur namun kuat.

​"Bertahanlah, Gadis Kecil," bisik Adrian tepat di atas kepala Maya. Suaranya sangat pelan, nyaris tertelan derau hujan. "Besok pagi, aku berjanji kita akan keluar dari tempat ini."

​Maya mendongak sedikit. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca dalam gelap. "Adrian... orang-orang itu, mereka benar-benar ingin menangkapmu? Kenapa?"

​Adrian terdiam cukup lama. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding gua karang yang dingin. Matanya menerawang jauh, menembus lebatnya hutan, kembali ke masa lalu yang selalu menghantuinya.

​"Karena aku adalah putra tunggal pewaris utama perusahaan tempat kita bekerja," jawab Adrian akhirnya, memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan identitasnya di saat nyawa mereka berada di ujung tanduk. "Dan ini... ini bukan pertama kalinya ada yang mencoba menculikku."

​Maya menahan napas. Kenyataan itu menghantamnya. "Bukan yang pertama?"

​Adrian menggeleng pelan. Ia mengeratkan pelukannya pada bahu Maya. "Dulu, saat aku masih berumur sepuluh tahun, aku pernah diculik oleh saingan bisnis ayahku..."

​KRAK!

​Sebuah suara dahan patah yang terinjak sepatu lars tebal meledak tepat beberapa meter di luar celah persembunyian mereka.

​Kisah itu terputus secara brutal. Adrian langsung membekap mulut Maya dengan telapak tangannya. Maya membelalakkan matanya yang dipenuhi teror, menahan napasnya.

​Dari celah sempit akar pohon, cahaya senter berdaya tinggi menyapu liar menembus rintik hujan. Momen pengakuan masa lalu itu hancur berkeping-keping, terkubur kembali oleh realitas mematikan yang sedang menatap mereka tepat di depan mata.

​Malam yang panjang dan mencekam itu akhirnya berganti menjadi pagi yang kelabu. Hujan telah berhenti, menyisakan kabut tebal yang melayang rendah di antara pepohonan raksasa.

​Adrian dan Maya terus bergerak maju sejak fajar menyingsing, berusaha menjauh dari area penyisiran para penculik. Namun, medan hutan yang licin akibat hujan badai memperlambat laju mereka. Stamina Maya sudah berada di ambang batas. Lututnya gemetar, dan kakinya yang terbalut sepatu kanvas basah terasa seberat timah.

​Petaka itu datang saat mereka salah mengambil arah.

​Mereka menerobos semak belukar yang lebat, dan mendadak, langkah Adrian terhenti. Maya yang berjalan di belakangnya menabrak punggung pemuda itu. Ketika Maya mengintip ke depan, dunia seakan runtuh.

​Di hadapan mereka membentang sebuah jurang batu yang curam. Di bawahnya, ombak lautan mengamuk menghantam karang. Jalan mereka buntu.

​"Kita harus putar balik," bisik Adrian cepat, rahangnya mengeras.

​Namun, belum sempat mereka berbalik, dari balik pepohonan yang berjarak belasan meter di belakang mereka, muncul sesosok pria berbadan tegap. Pria itu mengenakan pakaian taktis hitam, dengan rompi antipeluru dan sebuah senapan serbu tergantung di dadanya.

​Mata pria itu langsung mengunci keberadaan Adrian dan Maya. Senyum sinis yang mengerikan mengembang di bibirnya. Ia mengangkat walkie-talkie di bahunya.

​"Tim Alpha, aku menemukan target di tebing utara. Sudut mati. Segera merapat," lapor pria itu dengan suara serak.

​Ia kemudian menurunkan walkie-talkie-nya dan mengangkat senapan serbunya perlahan. Mata elangnya menatap lurus ke arah Maya. "Perintah dari bos, target pewaris harus hidup. Saksi mata perempuan... dieliminasi."

​Moncong senapan mematikan itu kini membidik lurus ke dada Maya.

​Maya membeku. Otaknya berhenti bekerja. Waktu seolah melambat, merangkak detik demi detik. Ia melihat jari pria itu bergerak menuju pelatuk. Kematian menatapnya tepat di depan mata.

​"TIDAK!"

​Sebuah raungan menggelegar dari kedalaman tenggorokan Adrian. Suara itu bukan lagi milik senior menyebalkan yang suka merebut bekal telurnya, melainkan raungan buas seekor singa yang wilayahnya diusik.

​Sebelum jari penculik itu sempat menarik pelatuknya, tubuh Adrian melesat maju bagaikan bayangan hitam. Kecepatannya tidak masuk akal untuk seorang pemuda sembilan belas tahun. Semua latihan bela diri mematikan, semua tempaan fisik brutal yang ia jalani sejak trauma masa kecilnya, meledak keluar dalam satu detik yang menentukan.

​Pria itu terkejut dan melepaskan tembakan.

​DOR!

​Peluru mendesing panas, menyerempet bahu kiri Adrian, merobek seragam dan dagingnya hingga darah segar muncrat ke udara. Namun Adrian tidak berhenti. Luka itu tidak menghentikan lajunya.

​Dengan momentum penuh, Adrian menabrak dada pria itu hingga senapannya terlempar ke udara. Keduanya jatuh berguling di atas tanah berlumpur. Pria penculik itu berukuran lebih besar, namun Adrian bertarung dengan insting membunuh yang murni.

​Pria itu menghunus pisau taktis dari pinggangnya, mencoba menusuk perut Adrian. Dengan refleks kilat, Adrian menangkis serangan itu, memelintir pergelangan tangan pria tersebut hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan. Pria itu berteriak kesakitan, namun Adrian tidak memberinya ampun.

​Dengan tangan kosongnya, Adrian memberikan hantaman keras ke ulu hati lawan, merebut pisau taktis yang terlepas dari tangan pria itu, lalu dalam satu gerakan cepat dan mematikan tanpa keraguan sedikit pun, ia menusukkan pisau itu tepat di titik vital di leher sang penculik.

​Suara gurgling yang mengerikan terdengar. Tubuh besar pria itu kejang sesaat, lalu ambruk tak bernyawa di atas tanah yang becek oleh lumpur dan darah.

​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti tebing itu, hanya diselingi suara ombak di bawah sana.

​Adrian berdiri perlahan. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Kedua tangannya, yang biasanya digunakan untuk memegang alat pel dan mengganggu Maya, kini berlumuran darah segar yang kental. Bahu kirinya terus mengeluarkan darah akibat tembakan peluru.

​Pemuda itu menunduk menatap mayat di bawahnya, lalu perlahan menoleh ke arah Maya.

​Mata Adrian menyiratkan ketakutan yang dalam. Bukan takut pada para penculik, melainkan takut pada tatapan Maya. Ia takut gadis itu akan menjerit, menganggapnya sebagai monster pembunuh berdarah dingin, dan lari darinya.

​Maya berdiri mematung dengan wajah sepucat mayat. Ia melihat darah yang merembes deras dari bahu Adrian.

​Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Maya menjatuhkan ransel raksasanya. Ia berlutut di tanah, menggigit bagian bawah kaus oblongnya sendiri, dan merobeknya dengan kuat hingga menciptakan secarik kain panjang.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Maya berjalan mendekati Adrian. Ia tidak melihat pada mayat di tanah. Ia tidak mundur dari darah yang menodai tangan pemuda itu. Maya melangkah maju, meraih lengan Adrian, dan mulai membalut luka tembak di bahu pemuda itu dengan kain robekan bajunya. Ia menekan luka itu kuat-kuat untuk menghentikan pendarahan.

​Air mata tumpah membasahi pipi Maya, jatuh menetes ke lengan Adrian.

​"Gadis Kecil..." bisik Adrian, suaranya bergetar hebat. "Aku... aku membunuhnya. Tanganku kotor."

​Maya mendongak, menatap lurus ke dalam mata Adrian yang dipenuhi keputusasaan. "Kamu melakukannya untuk melindungiku," ucap Maya terisak, jemarinya yang berlumuran darah Adrian mengusap pipi pemuda itu. "Kamu bukan monster, Adrian. Kamu menyelamatkan nyawaku."

​Mendengar validasi dari mulut gadis yang paling ia pedulikan itu, pertahanan emosional Adrian runtuh. Pemuda yang baru saja membunuh tanpa ampun itu kini menarik Maya ke dalam pelukan eratnya yang hanya menggunakan satu tangan, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Maya, membiarkan dirinya rapuh sejenak dalam pelukan sang Gadis Kecil.

​

​Mereka tidak bisa berlama-lama meratapi keadaan. Suara walkie-talkie dari mayat pria tadi terus mengeluarkan suara desisan statis, disusul panggilan dari rekan-rekannya yang menanyakan posisi. Adrian segera merampas senjata laras panjang milik pria itu, beberapa magasin peluru, dan pisau taktisnya, lalu kembali menarik tangan Maya untuk lari menyusuri pinggiran tebing, mencari jalan memutar masuk lebih dalam ke jantung hutan.

​Sekitar satu jam berlalu, mereka akhirnya berhenti di balik akar gantung sebuah pohon beringin purba yang sangat besar. Hutan di area ini begitu rimbun hingga nyaris tidak ada cahaya matahari yang bisa menembus masuk.

​Keduanya jatuh terduduk di atas lumut basah. Stamina mereka sudah benar-benar terkuras habis.

​Maya memeriksa kembali balutan kain di bahu Adrian. Pendarahannya sudah mulai berkurang, namun wajah pemuda itu tampak semakin pucat karena kehilangan banyak darah. Maya merogoh tasnya dengan panik, mengeluarkan sebotol air minum dan memaksa Adrian untuk meneguknya.

​"Minum, Adrian. Kamu pucat sekali," perintah Maya dengan suara bergetar.

​Adrian meneguk air itu pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke batang pohon raksasa di belakangnya. Ia menatap wajah Maya yang kotor oleh lumpur, keringat, dan noda darah. Ada kelembutan yang sangat luar biasa terpancar dari mata pemuda itu, menembus rasa sakit di bahunya.

​Adrian merasa sangat bersalah. Karena rencana bodohnya ingin memberikan liburan perpisahan, ia justru membawa gadis yang sangat ia sayangi ini ke ambang pintu kematian.

​"Gadis Kecil..." panggil Adrian lirih.

​Maya menghentikan gerakannya membersihkan tangan. Ia menatap Adrian. "Jangan banyak bicara dulu, simpan tenagamu."

​Adrian menggeleng pelan. "Tidak. Aku harus mengatakannya sekarang. Kalau terjadi sesuatu padaku nanti..."

​"Jangan bicara yang tidak-tidak! Kita akan selamat!" potong Maya, matanya kembali memanas.

​Adrian tersenyum tipis, mengangkat tangan kanannya yang masih bersih, lalu merapikan anak rambut Maya yang menempel di dahi gadis itu karena keringat.

​GUK! GUK! GUK!

​Suara gonggongan anjing pelacak yang sangat beringas tiba-tiba memecah keheningan hutan dari arah belakang mereka.

​DOR! DOR!

​Dua tembakan peluru menembus dahan pohon tepat di atas kepala mereka, menjatuhkan ranting dan dedaunan.

​Romansa dan ketegangan asmara itu hancur berkeping-keping dalam sepersekian detik. Adrenalin bertahan hidup kembali meledak mengambil alih.

​Adrian langsung mengumpat kasar. Ia melompat berdiri, mengabaikan rasa sakit yang merobek bahunya. Ia menyambar senjata laras panjang di tanah, mengokangnya dengan suara klik-klak yang nyaring, lalu menarik tangan Maya dengan kasar.

​"Mereka bawa anjing pelacak! Kita harus lari ke arah sungai untuk memutus jejak aroma tubuh kita! Lari, Maya! LARI!" teriak Adrian.

​Momen pengakuan yang hampir tuntas itu kembali menguap tersapu angin. Maya dan Adrian kembali berlari menembus neraka hijau, meninggalkan memori masa lalu yang masih terkubur rapat, dipaksa bertarung melawan waktu dan peluru yang mendesing di belakang mereka. Keduanya kini hanya memiliki satu pikiran: bertahan hidup untuk melihat matahari terbit besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!