NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Ulang Tahun yang Sepi

Sebatang lilin merah berdiri miring di atas sepotong martabak manis yang sudah dingin.

Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada. Nyala kecil itu membuat gula dan margarin di permukaan martabak berkilau seperti krim kue ulang tahun. Kalau aku memicingkan mata, noda lembap di dinding dapur menghilang. Ember bocor di bawah wastafel juga tidak terlihat. Yang tersisa hanya cahaya lilin, wangi kacang yang tipis, dan aku yang genap berusia enam belas tahun malam ini.

Perutku berbunyi.

Aku belum makan sejak pagi, tetapi aku menahan diri untuk tidak menyentuh martabak itu. Sebelum meniup lilin, orang harus membuat permohonan. Begitulah yang pernah kulihat dari balik jendela rumah tetangga ketika anak mereka berulang tahun.

Aku memejamkan mata.

Semoga ada yang menyayangiku.

Permintaan itu terdengar serakah. Aku segera menggantinya dalam hati.

Tidak perlu sayang. Semoga besok Bu Win tidak marah.

Kunci beradu keras di pintu depan.

Mataku terbuka. Belum sempat aku meniup lilin, pintu kontrakan terbanting ke dinding. Langkah sandal berlari melewati ruang tengah. Bu Win muncul di ambang dapur dengan napas memburu. Kerudungnya miring, bedak di sekitar hidungnya luntur, dan tas hitam yang biasa dia bawa ke tempat arisan tidak ada di tangannya.

Tatapannya jatuh pada lilin.

“Kamu beli itu pakai uang siapa?”

“Uang kembalian dari warung, Bu. Cuma seribu. Martabaknya dikasih penjual karena sudah mau tutup.”

Aku buru-buru mematikan lilin dengan jari. Panasnya menyengat, tetapi aku tidak berani meniupnya. Bu Win tidak suka melihatku membuat keributan, bahkan keributan sekecil asap lilin.

Dia melangkah masuk dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Ikut Tante sekarang.”

“Ke mana?”

“Jangan banyak tanya.”

Jari-jarinya semakin kuat. Memar lama di lenganku berdenyut di bawah lengan baju.

“Tapi piringnya belum aku cuci.”

“Biar besok!” bentaknya. “Cepat pakai sandal.”

Nada suaranya berbeda dari biasanya. Bu Win sering marah, tetapi malam ini ada sesuatu yang lebih tajam di balik kemarahannya. Ketakutan.

Aku mengambil sandal jepit di dekat pintu. Tali sebelah kanan sudah dua kali kusambung dengan kawat tipis. Saat aku menunduk, Bu Win menarikku begitu keras hingga bahuku membentur kusen.

“Sakit, Bu.”

“Kalau kamu nurut, semua cepat selesai.”

Gang di depan kontrakan masih basah setelah hujan magrib. Air selokan mengalir hitam di bawah cahaya lampu warung. Televisi dari rumah-rumah yang berhimpitan saling bersahutan, bercampur suara motor dan orang menggoreng tempe.

Bu Win berjalan cepat tanpa melepaskan tanganku.

“Reno di mana?” tanyaku.

“Bukan urusanmu.”

“Bu, kita mau ke mana?”

Dia berhenti mendadak. Kukunya menekan kulitku.

“Sekar, Tante sudah memberimu tempat tinggal lima tahun. Tante kasih kamu makan. Tante sekolahkan kamu sebelum uangnya habis. Sekarang Tante cuma minta kamu bantu sekali. Masa nggak bisa?”

Dadaku terasa sempit.

Kalimat itu selalu muncul sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Sebelum dia menyuruhku berbohong kepada pemilik kontrakan. Sebelum dia mengambil uang peninggalan Ibu. Sebelum tangkai sapu mendarat di betisku karena nasi yang kutanak terlalu lembek.

“Bantu apa?”

Bu Win kembali berjalan.

“Nanti juga tahu.”

Kami melewati warung tempat aku membeli lilin. Penjualnya sedang menurunkan pintu seng. Aku ingin memanggilnya, tetapi Bu Win menoleh seolah tahu apa yang kupikirkan.

“Jangan bikin malu Tante.”

Aku menutup mulut.

Di ujung gang, suara kartu dibanting terdengar dari sebuah rumah bercat hijau kusam. Beberapa motor terparkir rapat di depannya. Asap rokok keluar dari jendela yang ditutup koran. Aku pernah disuruh menjemput Bu Win di sini sekali. Saat itu dia pulang menjelang subuh tanpa anting-anting dan memukulku karena tidak ada kopi.

Kakiku berhenti.

“Aku tunggu di luar saja, Bu.”

“Masuk.”

“Aku takut.”

Bu Win menarikku melewati pintu.

Udara di dalam lebih panas daripada gang. Bau rokok, keringat, dan kopi basi melekat di tenggorokan. Empat laki-laki duduk mengelilingi meja yang dipenuhi kartu remi dan lembaran uang. Dua orang berdiri di dekat pintu belakang. Mereka menoleh bersamaan ketika kami masuk.

Laki-laki berkemeja hitam di ujung meja menyandarkan tubuhnya. Bekas luka melintang di alis kirinya. Aku mengenalnya dari bisik-bisik tetangga.

Bang Jagur.

“Akhirnya datang juga,” katanya.

Bu Win mendorongku selangkah ke depan.

“Aku bawa jaminannya.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi. Bahkan kipas angin tua di langit-langit terdengar seperti sedang menggerus sesuatu.

Bang Jagur tertawa pendek. “Jaminan apa ini?”

“Keponakanku.” Bu Win menjilat bibirnya yang kering. “Dia bisa kerja. Masak, nyuci, bersih-bersih. Rajin. Nggak bakal kabur.”

Aku menatap wajahnya.

“Bu?”

Dia menghindari mataku.

Bang Jagur mengambil selembar kertas dari bawah asbak. “Utang lo dua puluh tiga juta, Win. Anak kurus begini mau lo hargai berapa?”

Dua puluh tiga juta.

Angka itu melayang di kepalaku, terlalu besar untuk kupahami. Aku hanya tahu martabak dingin tadi harganya delapan ribu sebelum penjual memberikannya kepadaku. Aku tahu satu bungkus nasi cukup untuk membuat perutku berhenti sakit. Aku tidak tahu berapa harga seorang manusia.

“Aku bisa bayar sisanya nanti,” kata Bu Win cepat. “Yang penting malam ini orang-orangmu jangan datang ke rumah lagi.”

“Bu, aku mau pulang.”

Tanganku mencari ujung bajunya. Bu Win menepisnya.

“Diam.”

“Aku janji akan kerja lebih banyak. Aku nggak akan minta uang sekolah. Aku bisa jual gorengan, aku bisa...”

“Kubilang diam!”

Telapak tangannya menghantam pipiku.

Kepalaku terlempar ke samping. Rasa asin memenuhi mulut. Saat aku kembali menatapnya, wajah Bu Win tampak kabur oleh air mata.

“Tante sudah nggak punya pilihan,” desisnya. “Anggap saja kamu balas budi.”

“Aku sudah kerja setiap hari.” Suaraku nyaris tidak terdengar. “Uang Ibu juga sudah Tante ambil.”

Wajahnya menegang.

Bang Jagur berdiri. Kursinya bergesek panjang di lantai.

“Urusan keluarga nanti saja.” Dia berjalan mengitariku, lalu menatap Bu Win. “Mulai malam ini utang lo gue tahan. Kalau anak ini bikin masalah, bunganya jalan lagi.”

“Iya, Bang. Dia penurut.”

“Bu, jangan.”

Aku memegang lengan Bu Win dengan kedua tangan. “Aku tidur di lantai juga nggak apa-apa. Aku makan sekali dua hari juga nggak apa-apa. Jangan tinggalin aku di sini.”

Untuk sesaat, matanya bertemu mataku.

Aku mencari sedikit rasa kasihan di sana. Lima tahun aku mencuci pakaiannya, memasak untuk Reno, dan memijat kakinya ketika dia pulang berjudi. Pasti ada satu bagian kecil dalam dirinya yang masih menganggapku keluarga.

Bu Win melepaskan tanganku satu per satu.

“Jangan cari Tante.”

Dia berbalik.

“Bu!”

Aku mengejarnya, tetapi Bang Jagur mencengkeram lengan atasku. Nyeri menembus sampai bahu. Bu Win terus berjalan. Kerudung miringnya menghilang di balik pintu tanpa sekali pun menoleh.

Sesuatu di dalam dadaku ikut pergi bersamanya.

“Lepasin!”

Aku meronta. Bang Jagur menarikku ke arah lorong belakang.

“Tenang. Jangan bikin gue susah.”

“Aku bukan barang! Aku bukan punya dia!”

“Mulai malam ini, lo bayar utangnya.”

Kedua lelaki di dekat pintu tertawa. Salah seorang bergerak menutup jalan keluar.

Aku menendang tulang kering Bang Jagur. Cengkeramannya mengendur sesaat, lalu kembali lebih keras. Rasa sakit membuat pandanganku memutih.

“Pegang anak ini!” bentaknya.

Sebuah tangan terulur dari kanan.

Aku tidak berpikir. Aku menunduk dan menggigit punggung tangan Bang Jagur sekuat tenaga.

Dia mengumpat. Rasa darah menyentuh lidahku. Begitu tangannya terlepas, aku menyelip di antara meja dan dinding. Seseorang berhasil menangkap ujung bajuku, tetapi kain tipis itu robek di bahu.

“Tangkap dia!”

Aku menerjang pintu.

Sandal kananku putus di anak tangga. Aku meninggalkannya. Kerikil menusuk telapak kakiku saat berlari melewati gang, tetapi rasa sakit itu kalah oleh suara langkah di belakang.

“Sekar!”

Teriakan Bang Jagur memantul di antara tembok kontrakan.

Aku berlari tanpa tahu ke mana. Napasku mengoyak tenggorokan. Perut kosongku seperti diperas. Kaki kiriku menginjak pecahan genting dan sesuatu yang hangat mulai membasahi telapak, tetapi aku tidak berhenti.

Warung sudah tutup.

Pintu-pintu rumah ikut tertutup.

Gang yang kukenal seumur hidup mendadak tidak punya satu pun tempat untuk bersembunyi.

Di depan, cahaya lampu kendaraan mengalir di jalan besar. Klakson bersahutan. Aku mendengar Bang Jagur semakin dekat, disusul napas kasar dua orang lainnya.

Kalau mereka menangkapku di gang sempit, tidak akan ada yang berani membantu.

Aku berbelok ke jalan raya.

Sebuah motor nyaris menyerempetku. Pengendaranya memaki, tetapi suaranya tenggelam oleh deru mesin. Lampu-lampu membuat mataku silau. Aku mengangkat tangan kepada mobil pertama. Mobil itu menambah kecepatan. Mobil kedua membunyikan klakson dan melewatiku.

“Tolong!”

Suaraku pecah.

Jari Bang Jagur hampir menyentuh rambutku dari belakang.

Di jalur paling dekat, sepasang lampu putih melaju cepat. Mobil hitam itu terlalu mengilap untuk jalan di lingkungan kami. Aku tidak tahu mereknya. Aku hanya tahu orang di dalamnya mungkin satu-satunya yang belum sempat memilih untuk mengabaikanku.

Aku menerobos ke tengah jalan.

Klakson panjang menjerit.

Ban mencengkeram aspal basah. Cahaya putih menelan tubuhku. Aku mengangkat kedua tangan, tetapi kakiku tidak sanggup bergerak lagi.

Mobil itu berhenti begitu dekat hingga lututku membentur bagian depannya.

Aku jatuh menelungkup di atas kap mesin. Logamnya hangat di bawah telapak tanganku. Dari belakang, Bang Jagur meneriakkan namaku.

“Tolong aku!”

Aku memukul kap mobil sekali, dua kali, sekuat tenaga.

“Tolong! Mereka mau menjual aku!”

Mesin masih menyala. Kaca depannya gelap. Selama satu detik yang panjang, tidak ada siapa pun yang bergerak di dalam.

Lalu terdengar bunyi kunci terbuka.

Pintu mobil itu perlahan terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!