“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian Menikah
Kehancuran Affandy Frazendra bermula ketika perjuangannya untuk menikahi wanita yang dicintainya berakhir dengan kegagalan. Di saat Affandy sudah mempersiapkan segala sesuatu demi pernikahan mereka, sang kekasih justru mengaku belum siap menikah.
Bukan hanya menolak pernikahan, wanita itu bahkan memilih pergi dan meninggalkan Affandy begitu saja.
Sejak saat itu, kehidupan Affandy berubah drastis. Pria berusia dua puluh enam tahun tersebut seolah kehilangan arah. Kedua orangtuanya, bahkan sang kakak, Gerald Frizendra, dibuat heran melihat perubahan sikapnya.
Affandy yang sebelumnya dikenal sebagai pria yang bertanggung jawab kini berubah menjadi seseorang yang hampir setiap malam pulang dalam keadaan mabuk.
Putus cinta benar-benar menghancurkan dirinya.
[] [] []
“Ger ... Mami mau tanya sesuatu sama kamu,” ujar Maria, wanita paruh baya yang merupakan ibu Affandy.
“Mami mau tanya apa?”
“Kamu nggak punya teman perempuan?” Maria menghela napas panjang. “Mami benar-benar kasihan sama adik kamu itu. Mami berencana mau menikahkan dia, supaya Andy bisa cepat melupakan Fany.”
“Hmmm ... Nggak ada, Mi,” jawab Gerald.
Gerald adalah anak pertama keluarga Zendra sekaligus kakak kandung dari Affandy.
“Biarin dia begitu dulu.” Fatir Zendra, ayah mereka, ikut membuka suara. “Dia butuh waktu untuk melupakan semuanya.”
“Kalau kita biarkan, Mami takut kelakuan Andy malah semakin parah.” Maria terlihat sangat khawatir. “Mami nggak mau dia terus-terusan mabuk seperti itu.”
Ketiganya kembali melanjutkan sarapan.
Seperti hari-hari sebelumnya, Affandy masih enggan bergabung bersama keluarganya. Rasa kecewa akibat batalnya pernikahan dengan sang kekasih membuat pria itu benar-benar terpukul.
“Tunggu ... Bukannya Papi sama Mami dulu pernah menjodohkan Andy?” tanya Gerald tiba-tiba.
Maria dan Fatir saling berpandangan. Keduanya seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.
“Kalau nggak salah, anaknya Om Irwan sama Tante Liya,” lanjut Gerald.
Wajah Maria dan Fatir seketika berubah, keduanya tersenyum simpul menatap sang putra. Sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama.
“Benar juga,” ujar Maria.
Namun, sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, seseorang datang dari arah anak tangga.
Penampilannya benar-benar berantakan. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat lesu seperti orang yang baru saja bangun tidur. Tanpa banyak bicara, Affandy langsung duduk di samping Gerald. Kepalanya terasa sangat pusing hingga ia menyandarkan tubuh kepada sang kakak.
“Andy! Kalau masih ngantuk, tidur aja di kamar,” tegur Gerald.
“Kepala Andy pusing, Bang. Pijitin, ya,” pinta Affandy.
“Pijitin apaan? Abang harus ke kantor. Gara-gara kamu nggak masuk, kerjaan Abang jadi numpuk.”
“Andy ... Papi nggak mau kamu terus-menerus seperti ini.” Fatir menatap anaknya serius. “Jujur, Papi sebenarnya nggak suka kamu mabuk-mabukan nggak jelas.”
“Dikit aja, Pi. Nggak banyak kok,” bantah Affandy.
“Andy, kalau kamu terus seperti ini, Mami jadi sedih. Mami juga nggak bisa fokus kerja karena kepikiran kamu.”
“Mami, Papi ... Andy cuma mau bersenang-senang. Biar Andy bisa melupakan Fany.”
“Tapi cara kamu salah,” sela Gerald. “Kalau kamu benar-benar mau menikah, harusnya kamu berdoa supaya segera dipertemukan dengan jodoh.”
“Hoam...”
Affandy justru menguap di depan wajah Gerald. Gerald mengernyitkan hidung.
“Bau alkohol, Andy. Gara-gara Fany, kamu jadi rusak begini.”
“Berdoa juga nggak guna, Bang. Jodoh nggak akan datang secepat itu.”
“Setidaknya kamu berusaha.”
“Andy.”
“Kenapa, Mi?”
“Mami sedih lihat kamu yang sekarang. Kami nggak tahu harus bagaimana lagi supaya kamu bisa kembali seperti dulu.”
Affandy terdiam sejenak. “Caranya mudah, Mi.”
“Apa?”
“Nikah!”
Semua orang langsung menatapnya.
“Andy mau nikah. Biar Fany menyesal karena sudah membuang Andy gitu aja.”
“Kamu mau nikah?” Fatir memastikan.
“Mau, Pi.”
“Kami punya calon untuk kamu.”
Affandy mengangkat wajahnya. “Papi serius?”
Fatir hanya menampilkan senyuman kecil.
“Tapi dia harus cantik, Pi. Cantiknya melebihi Fany.”
“Bukan hanya cantik,” Maria menimpali. “Kelakuannya juga pasti baik. Mami yakin kamu bakal bisa berubah setelah mengenalnya.”
“Atur aja, Mi. Andy terima beres.”
Maria dan Fatir saling berpandangan. Mereka sangat lega mendengar jawab dari sang putra. Setidaknya, Affandy akhirnya memiliki alasan untuk kembali menjalani hidupnya.
Pria itu memang sudah lama memiliki keinginan untuk menikah di usia muda. Ia bahkan ingin memiliki anak ketika usianya belum terlalu tua. Karena itu, Affandy tidak keberatan jika harus menikah lebih dulu daripada kakaknya.
[] [] []
Sudah satu minggu berlalu, perubahan Affandy mulai terlihat. Ia perlahan kembali seperti dirinya yang dulu. Pria itu bahkan sudah berhenti mabuk-mabukan, meskipun masih sering malas masuk ke kantor.
Pada hari minggu, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga. Pembicaraan mereka tidak lain adalah mengenai rencana pernikahan Affandy.
“Jadi, Mami sama Papi kapan melamar anaknya Tante Liya?” tanya Gerald.
“Besok kami akan pergi ke sana,” jawab Maria.
“Tapi perjalanannya jauh, Mi.”
“Ya mau bagaimana lagi? Mami juga nggak mau Andy terus seperti itu.”
Keluarga mereka memang tinggal di Pulau Jawa, sedangkan keluarga Irwan dan Liya berada di Pulau Kalimantan. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Seorang pria baru saja pulang setelah berolahraga mengelilingi kompleks perumahan elit tempat mereka tinggal. Affandy langsung masuk dan duduk di samping Gerald.
“Kebiasaan, nggak ada salamnya,” sindir Gerald.
Affandy tersenyum. “Assalamualaikum.”
“Telat!”
“Lagi ngomongin apa, sih? Kayaknya seru.”
“Besok Mami sama Papi mau mengajak kamu ke Kalimantan.”
“Ngapain? Jauh banget. Ada pekerjaan?”
“Kamu ingat nggak sama Tante Liya dan Om Irwan?” tanya Fatir.
“Hmmm...”
Affandy mencoba mengingat kedua nama tersebut. “Itu tetangga kita dulu, bukan?”
“Iya,” jawab Maria dan Fatir hampir bersamaan.
“Mami sama Papi mau melamar anak mereka buat kamu,” sambung Gerald.
Affandy terdiam sesaat. Perlahan, sebuah wajah muncul dalam ingatannya. Remaja cantik, polos, temannya bermain dulu.
"Hulya Anindita."
Gadis yang pernah ia kenal bertahun-tahun lalu.
“Mami sama Papi mau melanjutkan perjodohan itu?”
“Tepat sekali,” jawab Fatir. “Besok kita ke sana untuk melamar anak mereka.”
Affandy masih mengingat Hulya. Dulu saja wanita itu sudah sangat cantik, jauh berbeda dari Tiffany. Mungkin sekarang dia jauh lebih cantik.
“Andy nggak mau,” ucap Affandy tiba-tiba.
Semua orang terkejut mendengar ucapan pria itu.
“Lho, bukannya kamu pengen nikah?” tanya Fatir.
“Maksud Andy begini, Pi ... Andy serahkan semuanya sama Papi dan Mami. Andy nggak mau ribet. Andy akan ketemu sama Hulya saat akad saja.”
Raut wajah yang sempat tegang, kini berubah menjadi senyuman. Sepertinya Affandy benar-benar sudah tidak sabar untuk menikah sampai-sampai menyerahkan seluruh urusan kepada kedua orangtuanya.
“Kalau bisa, Andy mau nikah minggu ini juga.”
“Kamu benar-benar siap?” tanya Maria.
“Iya, Mi. Andy nggak mau lama-lama lagi.”
“Kalau itu mau mu, nanti kami usahakan.”
“Andy ke kamar dulu, ya.”
Affandy bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar. Ia sudah tidak sabar, sebentar lagi dirinya akan menikah. Dan yang paling penting, ia bisa membuktikan kepada Tiffany bahwa dirinya sudah benar-benar move on.