NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teh Susu Bos Kecil Bikin Heboh & Utusan Ibukota Provinsi Datang Lagi

---

Pagi hari ke-36 Kedai Teh buka, ada antrian yang lebih panjang dari biasanya, bahkan lebih panjang dari saat Teh Penyembuh Tulang Tulang viral.

Tapi antrian kali ini bukan untuk beli teh 1 koin. Antrian ini untuk... melihat bayi.

Kabar bahwa Bos Teh pulang membawa bayi dari jurang menyebar lebih cepat dari sapu Klan Xiao. Pagi jam 5, Nenek Air Tenang sudah berdiri di depan pintu kedai dengan membawa selimut bayi bekas cucunya, berbisik, "Tuan Bos Teh, apakah Bos Kecil sudah minum susu pagi?"

Di belakangnya, Tetua Api Merah membawa mainan kayu bakar yang dia ukir semalam: sebuah kuda-kudaan kayu yang masih berasap karena dia lupa matikan api. Tetua Batu Keras membawa ayunan kecil dari batu yang dia haluskan.

Semua Tetua Nascent Soul, yang 35 hari lalu berebut jadi pelayan demi teh, kini berebut jadi pengasuh bayi.

Jam 7, pintu kedai dibuka setengah oleh Mo Sha yang semalam tidak tidur karena jaga loteng.

Ling'er keluar, bukan membawa teko teh, tapi menggendong Bos Kecil dengan gendongan baru yang dijahit Su Qing'er semalam dari kain goni terbaik, dilapisi kain sutra sumbangan Nenek Air Tenang. Mahkota uap Ling'er kini sudah berwarna ujung keemasan hitam, karena semalam dia tidur bersama Bos Kecil.

Bos Kecil bangun, tidak menangis, hanya menguap kecil, dengan dot sendok teh kayu di mulutnya. Mata keemasan hitamnya yang besar melihat kerumunan di alun-alun, tidak takut, malah tertawa _kik_ dan mengeluarkan gelembung hitam keemasan lagi.

_Pop!_

Gelembung itu pecah di udara, dan dari pecahannya jatuh 10 lembar daun teh hitam keemasan, melayang-layang jatuh tepat ke dalam 10 cangkir yang sudah disiapkan Ling'er di meja.

Warga yang melihat itu langsung berseru tertahan, tidak berani berisik keras, sesuai peraturan.

"Daun teh jatuh dari langit!" bisik seorang anak kecil.

Su Qing'er yang bertugas menyeduh shift pagi, segera menyeduh 10 cangkir itu dengan air 80 derajat, sesuai resep Teh Bos Kecil yang ditemukan semalam.

Uap hitam keemasan naik dari 10 cangkir, membentuk gambar bayi-bayi kecil yang tertawa di atas cangkir, membuat semua ibu-ibu yang melihat langsung meleleh.

"Tuan Ling'er! Berapa teh baru ini?!" tanya Nenek Air Tenang, sudah siap merogoh kantong batu spiritual.

Ling'er yang sudah diberi instruksi Bos Teh semalam, menjawab dengan gaya kasir senior, "Teh Bos Kecil, 5 koin tembaga 1 cangkir! Lebih mahal karena daunnya dari Bos Kecil sendiri! Tapi efeknya..."

Belum selesai Ling'er menjelaskan, Tetua Api Merah yang sudah menyerobot cangkir pertama, menyeruput, dan matanya langsung berkaca-kaca.

"Rasanya... seperti saat saya pertama kali gendong anak saya 200 tahun lalu... hangat... manis... dan... dan dantian saya yang retak 50 tahun lalu karena gagal terobos Nascent Soul... hangat lagi!"

Semua Tetua langsung menyerbu 9 cangkir sisa.

Setelah minum, semua terdiam. Bukan karena kaget efek penyembuhan fisik seperti Teh Penyembuh Tulang. Efek Teh Bos Kecil bukan menyembuhkan tulang, tapi menyembuhkan... hati.

Nenek Air Tenang yang 100 tahun tidak menangis sejak suaminya mati, menangis pelan sambil tersenyum, "Rasanya seperti dipeluk..."

Su Batian yang biasanya keras, setelah minum, langsung memeluk Su Lingtian, keponakannya yang jadi tukang sapu, dan berbisik, "Maaf, Paman selama ini keras padamu."

Bahkan Mo Sha yang Raja Iblis, setelah diam-diam menyeruput sisa di dasar cangkir, matanya yang merah besar berkaca-kaca, berbisik, "Rasanya seperti... seperti sebelum saya jadi Raja Iblis... saat saya masih tikus kecil di selokan jurang..."

Teh Bos Kecil, teh susu dari tawa bayi setengah iblis setengah manusia, teh yang bisa membuat Nascent Soul yang sudah 500 tahun tidak merasakan kehangatan keluarga, kembali merasa hangat.

Kabar teh baru itu menyebar lebih cepat dari iblis. Dalam 2 jam, 10 cangkir pertama habis, dan Bos Kecil sudah mengeluarkan 30 gelembung lagi karena tertawa terus digelitik Ling'er.

Kedai Teh hari itu tidak jualan teh 1 koin lagi, hanya jualan Teh Bos Kecil 5 koin, dan tetap laris, bahkan warga rela antri sampai sore.

Sore jam 4, saat Bos Kecil sudah tidur siang di loteng, digendong bergantian Ling'er dan Su Qing'er, debu besar terlihat lagi di gerbang kota.

Kali ini bukan 5 orang dengan burung bangau. Kali ini 50 orang dengan kereta kuda lapis baja, bendera Klan Giok Putih Utama, dan di depan mereka ada... 3 orang tua berjubah emas yang auranya membuat Mo Sha yang duduk di depan pintu langsung berdiri.

3 Nascent Soul tingkat akhir! Pimpinan Klan Giok Putih Utama sendiri datang!

Kereta berhenti di alun-alun. Dari kereta turun seorang wanita paruh baya cantik dengan jubah emas paling mewah, mahkota giok di kepala, dan di sampingnya ada Su Batian yang berlutut.

Wanita itu adalah Kepala Klan Giok Putih Utama, Su Feiyan, ibu kandung Su Lingtian, Nascent Soul tingkat akhir, umur 180 tahun tapi terlihat 30 tahun.

Dia melihat Kota Batu Hitam yang bersih mengkilap, melihat anaknya Su Lingtian yang sedang menyapu dengan sapu patah dan wajah lebam, melihat Klan Xiao yang jadi tukang sapu, dan melihat Kedai Teh kecil yang antriannya masih panjang.

Wajahnya merah marah.

"Siapa yang berani membuat anakku jadi tukang sapu?!" teriaknya, melanggar peraturan nomor 1 jangan berisik, suaranya membuat beberapa genteng bergetar.

Mo Sha langsung maju, tapi Xiao Chen yang baru bangun dari tidur siang di kursi bambu, keluar dengan cap tangan hitam keemasan di pipi yang masih belum hilang, dan dot sendok teh kayu di tangannya karena Bos Kecil baru saja melepasnya saat tidur.

"Berisik," kata Xiao Chen pelan, tapi suaranya membuat teriakan Nascent Soul tingkat akhir itu terpotong.

Su Feiyan menatap Xiao Chen, dantiannya kosong, jubah compang-camping, cap tangan bayi di pipi, memegang dot kayu.

"Kau yang mengalahkan anakku dengan pedang kayu sampah itu?!"

Xiao Chen mengangguk. "Dia kalah taruhan. Taruhannya jadi tukang sapu. Sudah 4 hari, dia menyapu cukup bersih, nilai 7."

Su Feiyan tertawa marah, "Nilai 7?! Anakku Tuan Muda Klan Utama, kau suruh nilai sapuannya?! Kau tahu siapa aku?! Aku Kepala Klan Giok Putih Utama! Aku bisa hancurkan kota sampah ini dengan satu tamparan!"

Di belakangnya, 50 pengawal dan 3 Tetua Nascent Soul mengeluarkan aura, membuat warga biasa yang antri Teh Bos Kecil pingsan.

Ling'er yang di dalam kedai, yang sedang menggendong Bos Kecil yang tidur, merasakan aura marah itu, mahkota uapnya langsung menyala terang keemasan hitam untuk melindungi Bos Kecil.

Bos Kecil yang tidur, karena merasakan aura marah dan mahkota Ling'er yang menyala, terbangun, tidak menangis, tapi... menguap besar.

Dari mulut kecil Bos Kecil yang menguap, keluar satu gelembung hitam keemasan yang sangat besar, seukuran kepala manusia, melayang keluar dari loteng, keluar dari kedai, melayang pelan ke tengah alun-alun, tepat di depan Su Feiyan yang sedang marah.

Su Feiyan yang melihat gelembung itu, mengira itu serangan, langsung menebas dengan pedang gioknya yang tingkat tinggi.

_WUSH!_

Pedang gioknya membelah gelembung itu.

Gelembung itu pecah.

_Pop!_

Tidak ada ledakan. Tidak ada racun. Dari pecahan gelembung itu, keluar... hujan daun teh hitam keemasan, ratusan lembar, jatuh pelan-pelan di seluruh alun-alun, dan bersamaan dengan itu, terdengar suara tawa bayi yang sangat keras, bukan tangisan, tapi tawa _kikikik_ yang menggema di seluruh Kota Batu Hitam.

Suara tawa itu, membuat aura marah 3 Nascent Soul tingkat akhir langsung... hilang. Seperti api disiram air hangat.

Su Feiyan yang pedangnya masih terangkat, tiba-tiba tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena... dia ingat. Dia ingat saat dia pertama kali menggendong Su Lingtian 20 tahun lalu, bayi itu juga tertawa seperti itu.

Pedang gioknya jatuh ke tanah.

_Klang!_

Dia terduduk di tanah, di tengah hujan daun teh hitam keemasan, tidak peduli jubah emasnya kotor.

"Suara... suara apa itu..." bisiknya.

Dari dalam kedai, Ling'er keluar, menggendong Bos Kecil yang sudah tidak tidur, masih tertawa, dot sendok teh kayu di tangannya digoyang-goyang seperti mainan.

Su Feiyan melihat bayi itu, mata keemasan hitam, tanda daun teh di dahi, dan merasakan darah... darah yang sama seperti darah di dalam telur yang dijaga Klan Utama selama 2000 tahun di Jurang Kecil.

"Putri... Putri Jurang..." bisik 3 Tetua di belakangnya, langsung berlutut, bukan karena disuruh, tapi karena darah mereka sebagai penjaga Jurang Kecil merespon darah Raja.

Xiao Chen berjalan ke tengah alun-alun, mengambil satu lembar daun teh hitam keemasan yang jatuh di kepala Su Feiyan, dan menyeduhnya langsung di cangkir yang dibawa Su Qing'er.

Dia menyodorkan cangkir Teh Bos Kecil itu ke Su Feiyan yang terduduk di tanah.

"Minum. Jangan berisik. Anakmu masih harus menyapu sore ini, kalau kau berisik, dia kaget, sapunya tidak bersih, nilainya turun jadi 6."

Su Feiyan menerima cangkir itu dengan tangan gemetar, menyeruput.

Setelah seruput pertama, air matanya jatuh.

"Rasanya... seperti saat Lingtian baru lahir..."

Hari itu, Kepala Klan Giok Putih Utama yang datang untuk menghancurkan kota, malah duduk di alun-alun bersama anaknya yang tukang sapu, minum Teh Bos Kecil, menangis dan tertawa bersama, sambil dikelilingi 50 pengawal yang juga duduk karena aura marah mereka hilang terkena tawa Bos Kecil.

Dan di dalam kedai, Bos Kecil yang sudah kenyang tertawa, kembali tidur di gendongan Ling'er, dengan cap tangan hitam keemasan baru di pipi Ling'er, karena Bos Kecil suka memberi cap tangan ke orang yang dia suka.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!