"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahlah denganku
Seorang gadis muda memasuki sebuah taman bermain yang berada di pusat kota. Walaupun hampir sore, tapi taman bermain itu tetap ramai dengan pengunjung, Terutama anak-anak, yang ditemani langsung oleh orang tua mereka.
Mungkin hari ini adalah hari weekend, makanya taman itu akan selalu ramai dengan pengunjung seperti hari ini.
Gadis itu menelusuri taman seperti mencari seseorang. Dengan kaki yang terus melangkah masuk sampai kedalam, sedangkan pandangannya terus melihat kesana kemari.
Sampai dia melihat seseorang yang dari tadi dia cari, sedang duduk di bangku taman sambil mengawasi dua gadis kecil yang sedang bermain.
"Unda...." Gadis muda itu menghentikan langkahnya, saat melihat dua orang gadis kecil yang sedang berlari kearahnya.
Sedangkan pria yang tadi dia lihat, ikut berdiri dari duduknya, saat kedua gadis kecil itu berlari kearahnya.
Pria itu menatap kearahnya. Tapi tidak ada yang istimewa dari tatapan pria itu, karena pria itu menatapnya dengan tatapan datar.
"Unda, lama tekali datannya. Kifa uda dali tadi nunduin nya." Ucap gadis kecil itu dengan suara candle nya khas anak-anak yang belum lancar berbicara, dengan kata yang masih berhamburan.
Gadis muda itu hanya tersenyum gemas, lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan gadis kecil, yang mungkin masih berusia dua tahun.
"Maaf bunda lambat datangnya sayang. Soalnya tadi bunda kira Khilva, ngga ikut kesini." Ucap gadis muda itu sambil memasang wajah bersalahnya, tangannya juga ditengkupkan di atas dada.
"Tida apa unda, kifa tetap senan unda datan kesini buat nemunin kifa." Jawab gadis kecil itu."Unda kifa lindu." Tubuh kecil itu berhambur masuk kedalam pelukannya.
Gadis muda itu terkejut saat gadis kecil memeluknya, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. Padahal mereka tidak bertemu selama tiga hari, karena dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya. Tapi gadis kecil itu sudah merindukannya.
"Bunda juga rindu sama Khilva." Jawabannya sambil membalas pelukan gadis kecil itu.
Kini pandangan tertuju pada gadis lainnya. Mungkin masih berusia lima tahun, yang sedang berdiri sambil menatap kearahnya dengan tersenyum.
"Maafkan Kak Azkia yang lupa kalau ada Fatha disini." Ucap gadis muda itu merasa bersalah, karena terlalu fokus dengan gadis kecil di pelukannya, dia sampai melupakan kalau ada gadis lain di sampingnya.
"Tidak apa kak Azkia. Pasti adek Khilva lindu benget sama kakak." Jawab gadis itu tersenyum.
Walaupun usianya yang masih lima tahun, tapi gadis kecil itu sudah memiliki sikap dewasa. Bahkan dia lebih mengutamakan adiknya ketimbang dirinya sendiri.
Sungguh jarang anak seusianya, bisa sedewasa Fatha.
"Sini kak Azkia peluk. Soalnya kak Azkia juga, sangat merindukan Fatha." Ucap gadis itu lalu meraih tangan Fatha, untuk dia peluk seperti sekarang dia memeluk gadis kecil yang begitu sangat nyaman dalam pelukannya.
Kini tiga orang itu terlihat seperti ibu dan anak yang sedang berpelukan. Tapi yang orang-orang tidak tau kalau mereka bukanlah ibu dan anak, melainkan orang asing yang tidak sengaja dipertemukan.
Sepertinya, takdir memiliki jalan tersendiri untuk ketiganya. Sehingga pertemuan mereka bukan hanya sekali. Melainkan berkali-kali, sampai gadis kecil bernama Khilva memanggilnya dengan panggilan bunda.
Cukup aneh bukan. Gadis berusia dua puluh satu tahun yang belum menikah tiba-tiba saja di panggil bunda oleh gadis kecil yang tidak sengaja dia temui.
Dan hal itu, yang sekarang dirasakan oleh gadis cantik bernama Azkia Anandita Ayunindya, gadis Berusia dua puluh satu tahun. Yang mendadak menjadi bunda, saat pertemuannya yang tidak sengaja dengan gadis kecil bernama Khilva Adya Dafhina Bassam, gadis kecil berusia dua tahun.
Kita sampai melupakan. Kalau ditempat itu mereka tidak hanya bertiga, melainkan ada pria yang dari tadi diam sambil menatap ketiganya dengan tatapan datar bahkan tidak tersenyum sama sekali.
Sepertinya senyuman pria itu sangatlah mahal untuk diperlihatkan, sehingga pemandangan seperti ini tidak membuat dia bahagia.
"Vatha, Khilva." Kedua gadis kecil itu melepaskan pelukannya saat mendengar panggilan dari pria itu.
Sedangkan Azkia menatap pria itu dengan tatapan tidak suka. Karena dia tau seperti apa perlakuannya terhadap dua gadis kecil itu.
Azkia berdiri dari posisinya sekarang, agar dia bisa menatap pria didepannya. Walaupun tubuh pria itu jauh lebih tinggi darinya.
"Pergilah bermain. Papa ada urusan dengan kak Azkia."
"Tapi, papa. Kifa masi mau becama denan unda." Tolak khilva menatap pria itu dengan tatapan sedihnya.
"Khilva..." Terdengar suara berat yang terdengar tegas, dengan mata yang menatap Khilva. Seperti biasanya pria itu tidak suka kalau gadis kecil itu membatah ucapannya.
Azkia yang melihat gadis kecil itu menundukkan kepalanya, karena takut. Azkia tau kalau papa nya itu selalu begitu terhadap anak-anaknya jika dia sedang kesal ataupun marah.
"Tuan, apakah anda tidak bisa membicarakannya disini." Tanya Azkia menatap pria itu dengan tatapan tidak suka." Khilva, jangan takut disini ada bunda." Azkia beralih menatap gadis kecil itu, lalu mengendongnya.
"Saya ingin membicarakan hal penting dengan anda. Maka dari itu anak-anak tidak boleh mendengarnya."
"Sepenting apakah, sampai saya harus mendengarnya." Jawab Azkia dengan berani menatap pria didepannya.
"Sepenting anda mengharapakan agar beasiswa anda tidak dicabut, nona Azkia Anandita Ayunindya." Azkia tentu terkejut saat mendengar ucap pria itu.
Bagaimana bisa, pria yang baru beberapa kali bertemu dengannya bisa mengetahui kalau dia mendapatkan beasiswa di kampusnya dan akan dicabut karena masalah, yang Azkia sendiri tidak tau.
"Apa maksud anda tuan."
"Tidak usah bertanya nona, jika anda sendiri tau jawabannya." Ucap pria itu sambil tersenyum miring.
Sungguh Azkia kesal saat melihat senyuman pria itu, Senyuman yang memiliki arti dia sedang mengejeknya.
"Baiklah, saya akan mendengarkan apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, tuan." Ucap Azkia yang memilih mengalah daripada dia harus berdebat dengan pria didepannya.
"Bagus, ternyata ancaman ku membuatmu menurut."
"Vatha, ajak adikmu bermain." Vatha hanya mengangguk tanpa menjawab suruhan papa nya itu.
"Ade, ayo kita main. Nanti kalau papa dan kak Azkia sudah selesai dengan ulusan meleka, balu kita main lagi sama kak Azkia." Ucap Vatha mengajak Khilva yang masih berada didalam gendongan Azkia.
Khilva menatap Vatha."Ya uda. Ade itut kak Fata aja." Ucap Khilva yang sepertinya menurut dengan permintaan kakaknya, Vatha." Unda tulunkan kifa. Kifa mau main cama kak Fata." Ucap Khilva sambil meronta ingin turun. Azkia hanya menurut, menurunkan tubuh kecil itu di atas tanah.
"Unda, talau ulucan unda uda celecai nati tita main ladi ya." Ucap Khilva dengan tatapan polosnya.
"Iya sayang, nanti kita main setelah urusan bunda selesai." Jawab Azkia sambil mencubit pipi cubi gadis kecil itu, yang selalu membuatnya gemas.
"Ayo dek, kita main." Vatha menarik lembut tangan adiknya untuk pergi bermain di tempat permainan anak-anak yang berada didekat situ.
Vatha dan Khilva tidak akan bermain sendiri, karena disana ada pengasuh mereka, yang akan mengawasi kedua gadis kecil itu saat sedang bermain. Tadi pengasuh itu tidak terlihat, karena pengasuh mereka sedang pergi ke toilet.
"Apa yang ingin anda bahas tuan." Tanya Azkia langsung to the point, karena dia malas berbasa-basi dengan pria didepannya. Yang sok cool, padahal sangat menjengkelkan.
"Kita tidak bisa membahas masalah ini disini." Rasanya Azkia ingin marah dan memukul pria itu saat mendengar ucapannya. Sungguh, pria itu memancing emosinya saja.
"Lalu kita akan membahasnya dimana tuan, Arkanza Abbiyya Bassam." Tanya Azkia menekan nama pria itu.
Arkanza Abbiyya Bassam. Seorang pria berusia dua puluh delapan tahun, yang dikenal sebagai pengacara muda, yang selalu bisa menyelesaikan masalah kliennya dengan sangat mudah.
Arkanza juga dikenal sebagai duda tampan yang selalu memikat hati wanita. Tapi sayang Arkanza sepertinya tidak ingin menikah untuk sekarang. Makanya status nya belum bergeser, dan selama dua tahun ini dia lebih setia dengan status dudanya.
"Ikut saya." Ucap Arkanza yang melangkah duluan meninggalkan Azkia.
"Sungguh pria gila, menyebalkan, sok tampan, sok cool. Pantas saja sampai sekarang dia belum menikah." Ucap Azkia mengumpat dalam hati karena kesal dengan Arkanza.
"Tuan, Cepat katakan, apa yang anda ingin bahas, sampai anda menyuruh saya untuk bertemu dengan anda"
"Ternyata anda sudah tidak sabar nona Azkia." Ucap Arkanza menatap Azkia dengan tatapan mengejek.
"Cepatlah tuan, saya tidak mau membuang-buang waktu saya hanya untuk berdebat dengan anda saja." Kesal Azkia." Kenapa sih, tuhan menciptakan pria menjengkelkan seperti dia."
"Nona, masih ingatkah anda dengan beasiswa anda, yang sebentar lagi akan dicabut oleh pihak kampus."
"Tuan apakah anda menyuruh saya bertemu hanya untuk membahas masalah pribadi saya." Tanya Azkia kesal. Sebenarnya Azkia bingung kenapa pria itu bisa tau masalahnya sekarang padahal jelas-jelas mereka belum lama saling mengenal." Jika anda hanya mengejek saya, lebih baik saya pergi. Daripada berurusan dengan orang seperti anda, yang suka sekali mengurusi urusan orang lain. Lebih baik saya pergi." Ucap Azkia yang ingin berdiri dari kursinya. Tapi terhenti saat mendengar ucapan pria itu.
"Universitas New student spirit, bukannya anda kuliah disana nona."
"Bagaimana dia bisa tau." Batin Azkia bingung menatap pria didepannya.
"Nona, apa anda tau siapakah pemilik kampus itu." Azkia hanya diam, karena dia sendiri tidak tau siapakah pemilik kampus itu."Ck, anda terlihat lucu nona. Anda kuliah disana sudah bertahun-tahun tapi anda tidak tau siapa pemilik kampus itu. Sungguh memalukan, karena anda mahasiswi pertama yang kekurangan informasi." Cibir Arkanza sambil menganjurkan bibir bawah ke depan untuk mengejek gadis didepan.
Azkia yang mendengar cibiran pria itu, mengepalkan tangannya kuat. Rasanya dia ingin memukul pria itu sekarang, jika saja pikirkan nya tidak mengingatkannya kalau dia sedang berada di tempat umum.
"Tapi anda tidak perlu bingung, nona. karena saya akan memberitahukan siapa pemilik kampus itu." Ucap Arkanza sambil menyimpan tangan di atas meja, lalu menopang dagunya.
Mungkin orang lain yang melihat itu, akan terpaku. Karena Arkanza terlihat semakin tampan saat dia seperti sekarang. Tapi tidak dengan Azkia yang menatap nya dengan tatapan menjijikkan.
"Sungguh menjijikan." Umpat Azkia dalam hatinya.
"Anugraha Adipati Bassam, nama pemilik kampus tempat kamu mengejar cita-citamu sekarang, dan kamu harus tau kalau pria didepan mu sekarang adalah anak dari pemilik kampus itu." Ucap Arkanza dengan sombongnya, dan sengaja menekan nama akhir keluarganya, agar gadis itu tau siapa sebenarnya dia.
Azkia sungguh terkejut, mendengar ucapan pria itu. Dia tidak menyangka kalau pria yang berada didepannya itu adalah anak dari pemilik kampusnya.
Sungguh Azkia merasa menyesal, karena dia tidak mencari tau terlebih dahulu siapa pemilik kampus itu dan dia duluan menerima beasiswa disana ketimbang kampus lainnya.
Kalau saja dia tau siapa pemilik kampus itu dari awal. Mungkin pertemuan pertamanya dengan pria didepannya, bisa membuat Azkia berpikir dua kali untuk mengambil beasiswa di universitas New student spirit.
"Terus, apa yang harus saya lakukan tuan, jika saya tau kalau anda ternyata anak dari pemilik kampus itu." Tanya Azkia."Apakah saya harus tunduk dan meminta maaf begitu. Tapi, maaf tuan saya tidak akan melakukannya." Sungguh respon yang tidak Arkanza harapkan.
Arkanza mengira dengan dia mengatakan siapa keluarganya, maka gadis didepannya akan meminta maaf dan luluh. Tapi apa yang dia harapkan dan dia pikirkan, seperti hancur mendengar ucapan gadis itu.
"Apakah anda tidak takut nona, kalau beasiswa anda saya cabut dari kampus saya."
"Saya tidak akan takut tuan. Karena saya terlalu pintar berada kampus anda. Saya bisa mencari kampus lain, yang bisa menerima gadis berprestasi seperti saya. Saya yakin kalau kampus lain tidak akan menolak saya jika saya pindah ke kampus mereka." Sungguh ucapan gadis didepannya, seperti penghinaan untuknya. Baru kali ini gadis didepannya meremehkan keluarga Bassam.
"My time is too valuable to argue with you Mr. Arkanza. Permisi." Ucap Azkia setelah itu dia berdiri dari duduknya, melangkah meninggalkan Arkanza yang hanya diam menatapnya dengan penuh amarah.
"Sialll. Gadis sialan, belum tau kamu bermain-main dengan siapa." Ucap Arkanza menahan emosinya. Rasanya kepalanya ingin pecah jika mengingat gadis itu."T
unggu permainanku, Nona Azkia. Aku akan membuatmu tunduk.Wait for my game, Miss Azkia. I will make you submit." Ucap Arkanza sambil senyum smirk.
\*\*\*\*\*\*\*\*