NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Porselen Dinasti Song

"Nomor empat puluh satu, porselen abad kesembilan belas, asal tidak diketahui. Harga awal dua ratus juta."

Ibu Kartini membacakan deskripsi itu dengan nada standar. Bahkan cara ia menyebutnya menunjukkan barang ini hanya pengisi akhir sesi. Tidak ada bisik-bisik antusias. Tidak ada kepala keluarga mencondongkan badan. Pak Darmawan malah tertawa pelan di baris depan.

Raka mengangkat papan.

"Dua ratus juta."

Tidak ada yang menyusul.

Fajar menatap vas kecil di panggung. "Bos, ini sungguh yang tadi?"

"Iya."

"Kenapa tidak ada yang rebutan?"

"Karena mereka percaya katalog."

Palu jatuh terlalu cepat.

"Terjual kepada nomor delapan belas."

Pak Darmawan tidak menahan diri. "Lihat. Setelah dua barang mahal, dia membeli sisa meja. Uang memang tidak bisa membeli mata."

Beberapa orang tertawa sopan. Raka justru berdiri.

"Ibu Kartini, saya minta pemeriksaan ulang di hadapan panel ahli."

Ruangan kembali sunyi.

Ibu Kartini mengerutkan kening. "Untuk nomor empat puluh satu?"

"Benar. Biaya pemeriksaan tambahan saya tanggung."

Pak Darmawan tersenyum. "Bagus. Sekalian kita belajar bagaimana anak baru membayar rasa malu."

Bayu tidak ada, tetapi Raka bisa membayangkan pengacaranya menyebut kalimat itu sebagai bahan tertulis kalau perlu. Fajar menyalakan kamera dengan posisi rendah, untuk dokumentasi resmi.

Vas itu dibawa ke ruang pemeriksaan khusus di samping aula. Tiga ahli hadir: spesialis keramik, sejarawan seni Asia, dan konservator. Para peserta penting ikut berdiri di balik kaca pembatas. Hendra mendekat ke Raka.

"Seberapa yakin?"

"Cukup yakin untuk membuat Darmawan menyesal tertawa."

Pemeriksaan dimulai. Ahli pertama menyorot permukaan dengan lampu. Ahli kedua memeriksa glasir. Ahli ketiga memakai kaca pembesar pada bagian dasar.

Waktu berjalan lebih lama daripada lelangnya.

Pak Darmawan masih tersenyum pada menit pertama. Pada menit kelima, senyumnya berkurang. Pada menit kesepuluh, salah satu ahli memanggil Ibu Kartini dengan suara rendah. Pada menit kelima belas, ketiganya saling bertukar pandang seperti orang yang menemukan pintu di dinding yang selama ini dianggap polos.

Ahli keramik akhirnya mengangkat wajah.

"Ini bukan abad kesembilan belas."

Darmawan langsung berkata, "Tentu saja. Lebih muda?"

Ahli itu menggeleng.

"Lebih tua. Jauh lebih tua. Indikasi kuat porselen Dinasti Song, abad kesepuluh hingga ketiga belas. Kondisi luar biasa untuk ukuran pasar terbuka. Kami perlu uji laboratorium lanjutan, tetapi secara visual dan material... ini temuan besar."

Ruang itu meledak.

Hendra berdiri tegak. Ibu Kartini memucat setelah sadar balai lelangnya baru saja melepas barang tak ternilai sebagai barang biasa. Fajar membuka mulut tanpa suara.

Pak Darmawan tidak berkata apa-apa. Tawanya tadi masih seperti bayangan yang kini menampar pipinya sendiri.

Seorang kolektor langsung mendekat. "Pak Raka, saya tawar lima puluh miliar sekarang juga."

Yang lain menyusul. "Delapan puluh."

"Seratus, kalau keaslian dikonfirmasi."

Raka mengangkat tangan.

"Tidak dijual."

"Pak, barang seperti ini butuh perawatan."

"Saya punya gedung, pengacara, dan sekarang cukup alasan untuk membangun ruang penyimpanan yang layak."

Fajar berbisik, "Bos, kita punya ruang penyimpanan?"

"Besok kita punya."

[Misi Kolektor Agung Langkah 1 selesai.]

[Hadiah: 10.000 poin. Penilaian Antik naik ke cakupan penuh. Toko Sistem Level 5 terbuka: Ramuan Penyembuhan Menengah, peralatan informasi, ruang penyimpanan lanjutan.]

Mata Raka menangkap lebih banyak detail: retak lama di bingkai lukisan, restorasi palsu pada patung, nilai asli keris yang kini menunggu pengamanan. Pengetahuan itu membuat ruangan terasa berbeda. Ia tidak lagi sekadar tamu baru. Ia menjadi orang yang bisa melihat kesalahan paling mahal di depan para ahli.

Seorang pria tua berwajah ramah mendekat setelah kerumunan mereda. Ia memakai batik halus dan membawa kartu nama dengan dua tangan.

"Pak Raka, saya Wira. Tiga puluh tahun di dunia antik, dan baru kali ini saya melihat seseorang membuat satu balai lelang menahan napas tiga kali dalam sehari. Boleh saya mengenal Anda?"

Raka menerima kartu itu dengan hormat yang sama. "Dengan senang hati, Pak Wira."

Di sudut ruangan, Pak Darmawan duduk sendiri. Tidak ada pengikut yang berani menghibur. Orang lama yang tadi memberi peringatan kini menjadi orang yang paling jelas salah membaca.

Dalam mobil menuju Menara Langit, Fajar menghitung dengan jari.

"Keris, lukisan, porselen. Tiga barang, tiga jackpot. Bang, aku mulai takut kalau suatu hari kamu lihat sandal jepitku dan bilang nilainya seratus miliar."

"Sandalmu nilainya emosional. Jangan berharap banyak."

Mimpi tiba-tiba memberi notifikasi.

[Tuan, informasi baru: Klub Utama Surabaya baru saja menolak permohonan keanggotaan atas nama Anda.]

Raka mengerutkan kening. "Aku bahkan belum pernah mendaftar."

[Seseorang mendaftarkan nama Anda. Seseorang lain memblokir.]

Fajar menurunkan ponsel. "Klub Utama? Tempat orang tua kaya minum teh sambil merasa punya dunia itu?"

Raka menatap lampu kota dari jendela.

Ibu Kartini meminta semua peserta menjaga jarak dari meja pemeriksaan. Itu terlambat untuk menjaga rasa malu balai lelang, tetapi cukup untuk menjaga benda itu. Raka menghargai sikapnya. Kesalahan katalog bisa terjadi; yang tidak boleh terjadi adalah menutup kesalahan dengan gengsi. Ia melihat Ibu Kartini memilih profesionalisme, dan pilihan itu menyelamatkan martabatnya sendiri.

Pak Wira kemudian menjelaskan pelan bahwa porselen seperti itu tidak hanya mahal karena tua, tetapi karena jalurnya misterius. Bagaimana benda setua itu bisa berakhir sebagai barang kategori biasa di Surabaya? Siapa pemilik sebelumnya? Mengapa tidak ada keluarga lama yang mengenali? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat nilai vas tersebut uang dan cerita di belakangnya.

Raka meminta Pak Wira membantu membangun tim kurator kecil untuk koleksi PT Langit Sembilan. Tahap awalnya ruang penyimpanan dan riset yang layak. Pak Wira setuju dengan syarat ia boleh memeriksa keris dan lukisan juga.

"Saya tidak murah, Pak Raka," kata Pak Wira.

"Saya tidak mencari yang murah. Saya mencari yang benar."

Pak Wira tersenyum. "Kalau begitu kita bisa bekerja sama."

Sebelum meninggalkan balai, Ibu Kartini menyerahkan surat revisi status barang nomor empat puluh satu. Ia meminta maaf secara resmi atas kesalahan kategori. Pak Darmawan melihat dari jauh, dan untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada kalimat keluar dari mulutnya. Diamnya terasa lebih nyaring daripada hinaannya.

Hendra meminta izin kepada Ibu Kartini agar barang-barang Raka tidak keluar lewat jalur biasa. Ia menghubungi perusahaan keamanan yang biasa mengantar logam mulia. Fajar memeriksa nama kurir, nomor kendaraan, dan rute. Setelah pengalaman viral dan batu giok, mereka tidak lagi memperlakukan barang langka sebagai belanjaan.

Raka menyetujui biaya tambahan tanpa menawar. Ia tahu satu benda yang salah hilang bisa menjadi masalah lebih besar daripada uang pembeliannya. Bayu melalui telepon meminta semua pengiriman difoto, disegel, dan diasuransikan.

"Pak Raka," kata Bayu, "selamat. Anda baru membuat koleksi yang cukup mahal untuk mengundang pencuri berpendidikan."

"Itu ucapan selamat paling Bayu yang pernah saya dengar."

"Saya berusaha konsisten."

"Selidiki."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!