NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Konspirasi Malam

Di bawah bimbingan Lin Xuan, kemajuan Xiao Ya melesat pesat. Di halaman paviliun, cahaya perak dan emas berkelebat saat ia mengayunkan Belati Ganda Bulan-Matahari.

Keringat membasahi wajahnya. Setiap kali Qi-nya menipis, ia menelan setetes cairan spiritual yang telah dimurnikan Lin Xuan. Tak lama kemudian, ledakan Qi terdengar dari tubuhnya.

Boom!

"Tahap Kondensasi Qi Tingkat 3!"

Xiao Ya menatap kedua tangannya dengan gembira. Hanya dalam dua hari, ia telah menembus dua tingkat.

Lin Xuan yang duduk bersila di atas atap membuka mata.

"Jangan terlena. Qi-mu meningkat terlalu cepat. Jika tidak ditempa melalui pertarungan, pondasimu akan rapuh."

"Baik, Tuan Muda! Xiao Ya akan berlatih lebih keras!"

Lin Xuan mengangguk.

Ia memperkuat Xiao Ya bukan tanpa alasan. Semakin tinggi ia melangkah di Sembilan Benua, semakin banyak musuh yang akan mengincar orang-orang di sisinya. Ia tidak mungkin melindungi mereka setiap saat.

Sementara itu, di ruang rahasia lantai tertinggi Menara Kuali Raksasa, sebuah konspirasi tengah dipersiapkan.

Aroma dupa penenang jiwa memenuhi ruangan. Di kursi utama duduk seorang pria berjubah putih dengan lambang empat garis emas pada dadanya.

Penatua Feng.

Ia adalah Alkemis Tingkat 4 dari Asosiasi Pusat Benua Tengah. Kultivasinya telah mencapai Pembentukan Fondasi Tingkat Puncak.

Di hadapannya, Hua Chen berdiri dengan wajah penuh amarah.

"Guru! Anda harus membalaskan penghinaan ini! Lin Xuan mempermalukanku di depan ribuan orang. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dia memadamkan Api Serigala Biru-ku!"

Penatua Feng mengangkat matanya perlahan. "Lin Xuan...?"

Penatua Feng mengelus jenggotnya. Tatapannya menyipit penuh siasat.

"Tenanglah, Chen'er. Api Serigala Birumu mungkin padam karena gangguan Api Bumi atau jimat elemen air milik bocah itu. Di atas panggung alkimia, kekuatan seperti itu tidak berarti."

"Tapi dia hanya Alkemis Tingkat 2 dan bisa masuk final lewat jalur Keluarga Su. Aku ingin mempermalukannya di turnamen!"

"Dan kau akan mendapat kesempatan itu." Penatua Feng tersenyum dingin. "Aku sudah memeriksa aturan final. Semua peserta harus menggunakan Api Bumi yang disalurkan dari Inti Api Bumi di bawah menara."

Ia mengeluarkan jarum kristal hitam dari lengan jubahnya.

"Malam ini, aku akan menanam Jarum Pengacau Qi ke dalam formasi Api Bumi. Begitu peserta lain menarik api untuk memurnikan pil, alirannya akan menjadi kacau. Tungku mereka akan meledak dan pil mereka hancur."

Mata Hua Chen berbinar.

"Karena aku memiliki Api Serigala Biru, aku tidak perlu menggunakan Api Bumi. Jadi hanya aku yang bisa memurnikan pil dengan sempurna!"

"Tepat." Penatua Feng tertawa. "Besok kau akan menginjak seluruh jenius Ibukota. Setelah menang, kita ambil Jantung Buah Matahari dan pusaka lain dari Perbendaharaan Terlarang untuk dibawa ke Benua Tengah."

Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum kejam.

"Sedangkan Lin Xuan... biarkan tungkunya meledak. Setelah itu, aku akan mencabut Lencana Alkemisnya dengan alasan kegagalan. Tanpa status alkemis, nyawanya ada di tanganmu."

"Terima kasih, Guru. Besok bocah itu pasti akan menyesal!"

Hua Chen tertawa puas.

Tengah malam tiba. Awan gelap menutupi langit Ibukota.

Di dalam paviliunnya, Lin Xuan tiba-tiba membuka mata. Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Berani bermain curang dengan formasi Api Bumi? Dua orang bodoh dari Benua Tengah itu benar-benar tidak tahu di hadapan siapa mereka bermain."

Kekuatan Jiwa tingkat Kaisar telah menyelimuti seluruh Ibukota. Percakapan rahasia mereka terdengar jelas di telinga Lin Xuan.

"Karena kalian sudah menyiapkan panggungnya..." Lin Xuan bangkit perlahan. "Aku akan membuat turnamen besok menjadi pertunjukan yang tak terlupakan buat kalian"

Tanpa membangunkan Xiao Ya yang sedang bermeditasi, Lin Xuan mengaktifkan Langkah Angin Menyapu. Tubuhnya melebur ke dalam bayangan malam dan melesat menuju Menara Kuali Raksasa.

Dengan Domain Penekan Naga Sejati yang dipadatkan di sekitar tubuhnya, ia melewati lapisan formasi dan penjagaan tanpa menimbulkan sedikit pun gangguan.

Namun tujuannya bukan ruang utama.

Lin Xuan terus turun ke bawah tanah. Semakin dalam ia melangkah, semakin panas udara di sekitarnya. Setelah mencapai kedalaman lima ratus meter, ia tiba di sebuah gua magma raksasa.

Di tengah danau magma yang mendidih, melayang sebuah bola merah tua sebesar rumah. Bola itu berdenyut seperti jantung dan memancarkan panas yang sanggup melelehkan baja spiritual dalam sekejap.

Itulah Inti Api Bumi yang telah berusia ribuan tahun. Inti inilah yang menjadi sumber Api Bumi bagi seluruh Asosiasi Alkemis Ibukota.

Begitu Lin Xuan mendekat, inti itu bergetar hebat. Merasa wilayahnya terancam, ia langsung memuntahkan pilar magma ke arah Lin Xuan.

"Hmph. Berani melawanku?"

Lin Xuan mengangkat tangannya.

Api Teratai Bumi Terdalam mekar di udara. Teratai biru kehijauan itu memancarkan aura penguasa yang membuat seluruh gua bergetar.

Di hadapan Api Surgawi, Api Bumi tak lebih dari rakyat jelata.

Pilar magma yang menerjang Lin Xuan langsung runtuh dan kembali ke danau dengan suara mendesis.

Inti Api Bumi bergetar ketakutan. Ukurannya menyusut dan auranya berubah menjadi penuh kepatuhan.

Lin Xuan tersenyum tipis.

"Bagus. Kau cukup tahu diri."

Alih-alih menyerap Inti Api Bumi itu dan mencemari kemurnian Api Teratainya, Lin Xuan mengerahkan Kekuatan Jiwa. Sebuah rune emas kuno terbentuk di udara lalu menancap ke dalam inti api.

Wusss!

Rune itu menyatu sempurna.

Sejak saat itu, Inti Api Bumi yang menjadi sumber seluruh tungku Asosiasi Alkemis Ibukota berada di bawah kendali Lin Xuan. Dengan satu pikiran, ia bisa mengatur bahkan memutus aliran api seluruh menara.

"Jarum Pengacau Qi mungkin bisa mengacaukan aliran Api Bumi," Lin Xuan terkekeh. "Sayangnya, sumber apinya sudah berada di tanganku. Besok kita lihat tungku siapa yang akan meledak."

****

Keesokan harinya, matahari menyinari Ibukota Langit Angin.

Puncak Menara Kuali Raksasa telah dipenuhi puluhan ribu penonton. Para bangsawan, ketua sekte, dan tokoh kekaisaran memenuhi tribun.

Di tribun utara, Su Yue'er duduk bersama Paman Qin. Sementara itu, Master Yan menempati tribun timur dengan wajah penuh harap.

Di tengah arena berdiri lima puluh tungku perunggu. Para alkemis muda terbaik dari Benua Bawah telah mengambil tempat mereka. Dua peserta lainnya mendapat kuota khusus.

Lin Xuan mengenakan jubah hitam dan berjalan santai menuju tungku nomor tiga belas. Wajahnya tenang seolah datang untuk menikmati pemandangan.

Tak jauh darinya, Hua Chen berdiri dengan tatapan penuh penghinaan. Ia sesekali mengetuk tungkunya sambil tersenyum. Ia tahu Api Serigala Birunya tidak terpengaruh oleh sabotase yang telah disiapkan gurunya.

Di kursi kehormatan, Penatua Feng bangkit. Suaranya menggema ke seluruh arena melalui formasi pengeras suara.

"Selamat datang di babak final Turnamen Alkemis Kekaisaran! Aku, Penatua Feng dari Asosiasi Pusat, akan menjadi juri utama hari ini!"

Sorak-sorai langsung mengguncang arena.

Penatua Feng tersenyum puas.

Tak seorang pun tahu bahwa di bawah kaki mereka, Inti Api Bumi yang menjadi sumber seluruh tungku telah lama berada di tangan Lin Xuan.

"Aturannya sederhana. Di hadapan kalian ada sepuluh bahan spiritual. Kalian memiliki tiga jam untuk meracik pil apa pun yang kalian kuasai. Pil tersebut harus mencapai Tingkat 3. Pemenang ditentukan dari kemurnian dan kecepatan. Kalian wajib menggunakan Api Bumi dari tungku yang disediakan!"

Puluhan alkemis muda menelan ludah. Meracik Pil Tingkat 3 dengan Api Bumi yang sulit dikendalikan bukan perkara mudah.

Hua Chen justru tersenyum. Ia telah mendapat izin dari gurunya untuk memakai Api Serigala Biru saat diperlukan.

"Mulai!"

Gong perunggu dipukul.

Wushh!

Kelima puluh peserta segera mengaktifkan tungku dan menarik Api Bumi dari bawah tanah. Api jingga kemerahan menyala di dalam tungku.

Para alkemis mulai memasukkan bahan spiritual. Mereka bekerja dengan hati-hati sambil menahan rasa tegang.

Hua Chen melirik Lin Xuan.

Pemuda itu bahkan belum menyalakan tungkunya. Ia hanya bersandar sambil menguap.

"Menyerah sebelum mulai? Dasar sampah."

Hua Chen kembali fokus pada tungkunya.

Di kursi juri, Penatua Feng diam-diam membentuk segel tangan.

"Meledaklah!"

Jarum Pengacau Qi yang ditanamnya semalam langsung aktif.

Gemuruh terdengar dari bawah arena.

Api Bumi dalam empat puluh sembilan tungku tiba-tiba mengamuk. Api yang semula stabil melonjak tinggi dan suhunya naik tak terkendali.

"Apa yang terjadi?"

"Api ini terlalu liar."

"Tidak.Bahan spiritualku hangus."

Kepanikan pecah di seluruh panggung.

Bang! Boom! Bang!

Kurang dari dua menit kemudian, ledakan berturut-turut mengguncang arena.

Bang! Boom! Bang!

Sepuluh tungku meledak akibat tekanan panas. Para alkemis terlempar hingga memuntahkan darah. Tiga puluh tungku lainnya mengepulkan asap hitam. Bahan spiritual mereka telah hangus menjadi arang.

Seluruh penonton tercengang.

"Apa yang terjadi?!"

Di tengah kekacauan itu, hanya Hua Chen yang tetap tenang.

Ia segera menarik Api Serigala Biru dan mengambil alih tungkunya.

"Hahaha! Baru sedikit perubahan suhu saja kalian sudah gagal!" Hua Chen tertawa. "Benua Bawah memang penuh sampah!"

Ia melanjutkan pemurnian dengan Api Serigala Biru tanpa sedikit pun gangguan.

Di tribun Kehormatan, Su Yue'er mencengkeram kursinya. Harapannya kini hanya tertuju pada satu orang.

Lin Xuan.

Pemuda itu masih berdiri santai di ujung panggung. Tungkunya bahkan belum menyala.

Hua Chen yang hampir selesai menoleh sambil menyeringai.

"Takut menyalakan tungku? Waktumu akan habis dan kau akan menjadi bahan tertawaan!"

Lin Xuan akhirnya berdiri tegak. Ia menepuk debu di lengan jubahnya lalu menatap Hua Chen dengan tatapan kasihan.

"Tungku meledak?"

Ia tersenyum tipis.

"Kau benar. Itu memang memalukan bagi seorang alkemis."

Lin Xuan memejamkan mata. Kekuatan Jiwanya menembus tanah dan mencapai Inti Api Bumi di bawah menara.

"Kalau begitu, biar kuajarkan cara meledakkan tungku."

Senyumnya semakin lebar.

"Bangunlah. Sapa anjing kecil itu."

Di bawah tanah, Inti Api Bumi meraung patuh.

Tiba-tiba, tanah di bawah tungku Hua Chen bergetar hebat.

"Apa yang...?"

Blaar!

Pilar magma sebesar pilar kuil meledak dari bawah tungkunya. Tungku perunggu tingkat tinggi itu hancur seketika.

Magma menyapu meja Hua Chen tanpa menyentuh tubuhnya. Api Serigala Biru langsung padam dan pil yang hampir selesai pun lenyap dalam lautan panas.

Hua Chen terlempar dari panggung. Ia jatuh dengan posisi mengenaskan. Jubah emasnya hangus dan wajahnya hitam.

Area yang dipenuhi puluhan ribu orang mendadak sunyi.

Tak ada yang berani bersuara.

Jenius dari Benua Tengah itu baru saja mengalami kehancuran tungku paling memalukan dalam sejarah turnamen.

Di kursi juri, wajah Penatua Feng memucat. Ia berkali-kali mengaktifkan segel rahasia. Namun tak ada sedikit pun reaksi.

Api Bumi sudah sepenuhnya lepas dari kendalinya.

Di tengah keheningan, Lin Xuan berjalan menuju tungkunya.

Ia menepuk permukaannya dengan santai.

Wush!

Api Bumi di dalam tungku langsung menyala dengan tenang. Tak ada lagi keganasan seperti sebelumnya. Api itu jinak seolah telah menjadi peliharaan Lin Xuan.

Lin Xuan mengibaskan lengan jubahnya.

Sepuluh bahan spiritual melayang masuk ke dalam tungku sekaligus.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!