NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Kompetisi Pengetahuan Dimulai

Aturan kompetisi membuat sebagian siswa gugup sebelum melihat satu soal pun.

Babak pertama berisi seratus pertanyaan cepat dari matematika, fisika, biologi, sejarah, ekonomi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, logika, dan pengetahuan umum. Setiap jawaban benar bernilai sepuluh, salah minus lima, kosong nol. Babak kedua memakai tombol rebutan. Babak ketiga memaksa peserta menjelaskan alasan di balik jawaban. Babak terakhir disebut tantangan khusus, dengan soal rahasia dari dewan juri provinsi.

Rizky membaca buku panduan itu di kantin dan langsung menutupnya. "Aku resmi menghormati orang yang memilih jadi penonton. Hidup mereka lebih panjang."

Putri mengambil panduan itu. "Kamu masuk tim cadangan. Jangan dramatis."

"Tim cadangan tetap bisa malu secara nasional."

"Provinsi," koreksi Arya.

"Terima kasih. Maluku wilayah maluku jadi lebih kecil."

Arya mengangkat alis. "Kalimat itu secara bahasa rusak."

"Tekanan akademik membuatku kreatif."

Pak Surya memilih tim utama: Arya, Putri, Raka dari kelas sebelas, Melati dari kelas sepuluh, dan Dimas dari kelas dua belas. Rizky masuk cadangan karena ia cepat membaca informasi visual meski sering pura-pura bodoh. Sejak pengumuman itu, sekolah memperlakukan mereka seperti atlet menjelang final. Jam latihan dibuat, ruang diskusi disiapkan, dan guru mata pelajaran bergantian membawa bank soal.

Masalahnya, bank soal itu terlalu mudah bagi Arya.

Pada latihan pertama, Bu Lestari memberi simulasi lima puluh soal. Arya menjawab tiga puluh dua soal sebelum guru selesai membaca pilihan. Untuk soal yang membutuhkan hitungan, ia menulis jawaban akhir tanpa langkah panjang. Untuk sejarah, ia mengoreksi tahun yang salah di kunci. Untuk biologi, ia menambahkan catatan bahwa istilah dalam soal sudah tidak dipakai dalam literatur modern.

Bu Lestari menatap kertasnya. "Arya, kamu membaca materi kelas berapa?"

"Materi lomba ini? Sekitar SMP akhir sampai SMA awal."

Dimas, senior yang selama ini menjadi kebanggaan sekolah, menegang. "Itu meremehkan lawan. SMA Negeri Satu Buana selalu juara. Mereka punya pelatih khusus."

Arya menatapnya. "Pelatih khusus tidak membuat soal biasa menjadi sulit."

Raka tertawa kecil, lalu berhenti ketika Dimas menoleh. Putri tidak tertawa. Ia tahu kalimat Arya terdengar sombong, tetapi ia juga tahu Arya jarang mengatakan sesuatu tanpa ukuran. Yang berbahaya bukan kesombongannya. Yang berbahaya adalah kemungkinan ia benar.

Pak Surya kemudian memutar rekaman final tahun lalu. Di layar, tim juara menjawab soal matematika kombinatorika sederhana dengan penuh gaya. Presenter memuji mereka luar biasa. Penonton bertepuk tangan. Dimas menunjuk layar. "Lihat, mereka cepat."

Arya menonton dua menit, lalu bertanya, "Kenapa mereka tidak memakai simetri?"

"Apa?"

Arya mengambil spidol dan menulis cara satu baris di papan. Soal yang di layar diselesaikan dalam empat puluh detik oleh juara tahun lalu selesai dalam enam detik di tangan Arya. Ia bahkan menunjukkan dua jalur alternatif dan satu jebakan kunci yang bisa membuat peserta salah jika terburu-buru.

Ruangan latihan diam.

Rizky mengangkat tangan. "Pak, kalau boleh, saya ingin pindah dari tim cadangan ke tim tepuk tangan."

Pak Surya mengabaikannya. Matanya menyala. "Kita ubah strategi. Arya menjadi penjawab utama untuk lintas bidang. Putri mengontrol risiko tombol rebutan. Dimas fokus presentasi alasan karena suaramu paling stabil. Raka dan Melati menjaga kategori hafalan. Rizky membaca pola visual dan sinyal lawan dari bangku cadangan."

Rizky menunjuk diri sendiri. "Saya punya peran keren?"

"Jangan rusak dengan komentar," kata Putri.

Latihan hari kedua lebih panas. Dimas tidak suka berada di bawah bayangan siswa baru. Ia menantang Arya menyelesaikan paket soal campuran tanpa istirahat. Lima puluh soal. Dua puluh menit. Tanpa kalkulator. Jika Arya salah lebih dari tiga, strategi Pak Surya harus dievaluasi.

Pak Surya hampir menolak, tetapi Arya sudah mengambil lembar soal. "Mulai."

Dimas menyalakan stopwatch.

Pada menit ketujuh, Arya selesai.

Ia tidak melempar kertas. Ia tidak berdiri dengan gaya panggung. Ia hanya mendorong lembar jawaban ke tengah meja dan membuka kotak susu. Bu Lestari memeriksa dengan wajah makin pucat. Jawaban benar empat puluh sembilan. Satu soal tidak dijawab karena menurut Arya pertanyaannya cacat: dalam pilihan ekonomi, tidak ada opsi yang konsisten dengan data inflasi yang diberikan.

Dimas merebut kertas itu, mencari kesalahan, lalu berhenti di soal ekonomi. Ia menghitung ulang. Bibirnya bergerak, keningnya berkerut. Akhirnya ia duduk kembali.

"Soalnya memang cacat," katanya pelan.

Kalimat itu lebih kuat daripada tepuk tangan. Senior paling keras di tim mengakui koreksi Arya tanpa dipaksa. Melati langsung tersenyum lega. Raka menyeringai. Pak Surya menulis catatan baru di papan: target mereka dominasi penuh.

Satu minggu kemudian, mereka berangkat ke studio pendidikan provinsi. Bangunannya besar, dengan spanduk warna cerah dan kamera di setiap sudut. Tim lawan datang dengan jaket sekolah masing-masing. SMA Negeri Satu Buana berjalan paling percaya diri. Kapten mereka, seorang siswa berkacamata bernama Fadlan, menatap Arya dari ujung lorong.

"Itu anak kasus penculikan?" bisik salah satu lawan.

"Katanya jago detektif. Lomba ini bukan cari maling," jawab yang lain.

Rizky mendengar dan langsung ingin membalas, tetapi Putri menahan lengannya. Arya justru berhenti, menoleh, dan berkata, "Benar. Lomba ini lebih mudah."

Lorong langsung sunyi.

Fadlan tersenyum tipis. "Kita lihat di panggung."

"Kita lihat di papan skor," jawab Arya.

Presenter Rendy, pria dengan jas biru dan suara yang terlalu bersemangat, memanggil peserta masuk studio. Lampu menyala. Kamera bergerak. Penonton sekolah bertepuk tangan. Pak Surya duduk di kursi pendamping dengan wajah tegang tetapi bangga.

Arya duduk di meja Garuda Cendekia dan melihat layar soal uji coba. Pertanyaan pertama hanya meminta hasil deret aritmetika sederhana.

Ia menoleh ke Putri. "Mereka serius?"

Putri berbisik, "Jangan tertawa di kamera."

Arya menatap layar lagi.

Sebelum siaran dimulai, seorang staf produksi meminta setiap kapten tim memberi kalimat pembuka. Fadlan dari SMA Negeri Satu Buana berbicara lancar tentang tradisi juara dan kerja keras. Kapten tim lain menyebut kebanggaan sekolah. Ketika giliran Garuda Cendekia, Dimas berdiri sesuai rencana, tetapi presenter Rendy tiba-tiba menunjuk Arya.

"Pemirsa tentu penasaran dengan siswa yang sedang ramai dibicarakan. Mas Arya, satu kalimat untuk lawan hari ini?"

Pak Surya langsung menegang. Putri menatap Rendy dengan mata tajam. Itu bukan pertanyaan netral. Produser jelas ingin memancing drama karena kasus penculikan membuat nama Arya laku.

Arya menerima mikrofon. Ia melihat kamera, lalu melihat Fadlan. "Saya harap semua tim menjawab sesuai kemampuan terbaik. Dengan begitu papan skor nanti tidak punya alasan."

Studio diam satu detik, lalu penonton bersorak. Fadlan berhenti tersenyum.

Rizky di kursi cadangan menutup wajah. "Dia baru saja membuat slogan perang dalam bahasa sopan."

Putri berbisik, "Setidaknya tata bahasanya rapi."

Terlambat. Sudut mulutnya sudah naik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!