NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021: Surat Gelombang Ketiga

Empat ratus surat somasi gelombang ketiga tidak dikirim dalam satu pagi.

Pak Wisnu menolak cara itu. "Kalau semua keluar bersamaan, kantor kita hanya terlihat marah. Kalau bertahap, setiap kelompok tahu alasan mereka dipanggil."

Maka gelombang itu dibagi lagi: admin grup, penyebar caption tambahan, pembuat tuduhan baru, akun yang menyerang Ratna, dan akun yang memakai pekerjaan atau jabatan kecil untuk membuat fitnah tampak sah.

Bima berdiri di depan papan putih kantor Wisnu. Di sana angka 1.317 sudah berubah menjadi peta perang hukum. Beberapa nama diberi tanda hijau karena kooperatif. Beberapa kuning karena menunggu klarifikasi. Merah berarti pidana prioritas. Hitam berarti mangkir.

Enam nama hitam dari panggilan Polres Bab 020 masih menyala seperti bara.

"Panggilan kedua sudah dikirim?" tanya Bima.

Pak Wisnu mengangguk. "Sudah. Pak Wanto juga kirim pemberitahuan resmi. Kalau masih mangkir, penyidik punya dasar lebih kuat."

Ratna duduk di meja staf, memilah bukti grup kampus. Ia sekarang tidak lagi terlihat seperti adik yang terseret kasus. Ia terlihat seperti orang yang tahu setiap file punya gigi.

"Mas," katanya, "admin kelas itu akhirnya datang hari ini. Dia bawa orang tuanya."

Bima menoleh. "Dia siap membuat pernyataan?"

"Katanya mau minta maaf, tapi tidak mau namanya disebut."

Pak Wisnu menutup map. "Permintaan maaf anonim untuk serangan yang memakai nama korban? Tidak bisa."

Admin itu datang pukul sebelas. Namanya Naufal. Di grup kampus, ia dulu menulis, "Keluarga Ratna memang harus dijauhi dulu sampai jelas." Kalimat itu membuat Ratna diperlakukan seperti wabah selama beberapa hari.

Di kantor Wisnu, Naufal tidak lagi memegang kuasa grup. Ia memegang tisu.

"Rat, aku salah. Aku waktu itu panik, teman-teman juga nanya terus. Aku admin, jadi aku pin info biar semua tahu."

Ratna menatapnya datar. "Kamu pin fitnah, bukan info."

"Aku sudah hapus."

"Aku tidak bisa menghapus hari ketika aku takut masuk kampus."

Naufal menunduk. Orang tuanya mencoba bicara, tetapi Pak Wisnu mengangkat tangan.

"Bapak, Ibu, anak Anda sudah dewasa secara hukum. Kami dengarkan, tapi yang membuat keputusan dan pernyataan harus Naufal sendiri."

Bima memperhatikan wajah Naufal. Tidak ada kebencian di sana. Ada takut, malu, dan sedikit harapan bisa keluar murah. Hal itu tidak membatalkan konsekuensi. Naufal tetap harus belajar.

"Naufal," kata Bima, "kamu berbeda dari Siska dan Bagus. Posisi admin tetap kamu pakai untuk memperkuat fitnah. Jadi kamu membuat pernyataan terbuka di grup kampus, menyebut perbuatanmu, meminta maaf kepada Ratna, dan menyerahkan daftar orang yang kamu izinkan menyebarkan alamat atau tuduhan. Setelah itu, kami nilai sikapmu."

"Kalau aku lakukan, namaku tetap masuk gugatan?"

"Masuk catatan. Beratnya tergantung sikapmu."

Naufal menelan ludah. Ia menandatangani.

Sore hari, pernyataannya muncul di grup kampus. Ratna membaca tanpa tersenyum. Namun ketika beberapa teman mulai mengirim pesan pribadi yang benar-benar meminta maaf, bahunya sedikit turun.

"Setidaknya mereka berhenti pura-pura tidak tahu," katanya.

Di sisi lain, gelombang ketiga memicu perlawanan baru. Tiga akun besar membuat tagar: Jangan Bungkam Warga. Mereka menuduh Bima memakai uang untuk memburu orang kecil. Satu video menampilkan ibu-ibu penerima somasi menangis sambil berkata tidak paham hukum.

Pak Wisnu memutar video itu di ruang rapat.

"Ini akan jadi badai kecil," katanya.

Bima melihat timestamp video. Peretas Tingkat Tinggi bekerja di belakang matanya. Akun yang pertama menaikkan tagar ternyata terkait dengan Riko, orang yang menantang di Bab 018. Dana iklan kecil masuk dari dompet digital yang sama dengan akun provokator berpengaruh di Bab 019.

"Bukan badai," kata Bima. "Angin dari kipas yang dibayar."

Pak Wisnu tersenyum. "Bisa dibuktikan?"

"Bisa jadi petunjuk. Bukti resminya kita minta lewat jalur data."

Salah satu penerima gelombang ketiga datang sore itu tanpa janji. Namanya Sari, pemilik akun yang pernah menulis bahwa Bu Sri "pantas malu punya anak seperti Bima". Ia datang bersama kakaknya, membawa amplop cokelat dan wajah defensif.

"Saya sudah hapus, Pak. Saya juga ibu-ibu biasa. Jangan disamakan dengan penjahat."

Bu Sri kebetulan sedang berada di kantor Wisnu untuk menjemput Ratna. Ia mendengar kalimat itu dan berhenti di pintu.

Bima menatap ibunya, meminta izin tanpa kata. Bu Sri mengangguk kecil.

"Bu Sari," kata Bima, "Ibu menulis tentang ibu saya. Jadi sebelum bicara kepada saya, Ibu bicara kepada beliau."

Sari terkejut. Semua keberaniannya turun ketika Bu Sri duduk di seberang. Tidak ada kamera. Tidak ada grup ibu-ibu. Hanya dua perempuan yang satu pernah diserang, satu pernah menyerang.

Bu Sri berkata pelan, "Saya tidak kenal Ibu. Kenapa Ibu merasa tahu saya pantas malu?"

Sari membuka mulut, lalu menutupnya. Jawaban "ikut emosi" terdengar terlalu kecil di hadapan orang yang matanya masih menyimpan bekas tangis.

Akhirnya ia menunduk. "Saya salah, Bu."

Pak Wisnu mencatat. Permintaan maaf itu belum menyelesaikan semuanya. Bima melihat sesuatu yang penting: ketika korban diberi wajah, alasan ikut-ikutan kehilangan tempat bersembunyi.

Malam itu, Bima membuat folder baru: Narasi Balik Terorganisir. Di dalamnya ada tautan tagar, pola unggahan, akun penguat awal, dan hubungan dengan target yang sudah menerima somasi.

[Sebaran perlawanan terorganisir terdeteksi.]

[Poin +900]

[Rekomendasi: jangan terpancing debat publik. Kunci sumber dana dan aktor penggerak.]

Bima menutup panel.

Di luar kantor, kurir terakhir hari itu datang mengambil tiga puluh amplop. Stempel kantor hukum merah di sudutnya terlihat biasa saja.

Amplop-amplop itu tidak hanya sampai ke rumah. Ada yang tiba di kios, di kantor kecamatan, di sekretariat komunitas motor, bahkan di ruang dosen pembimbing yang alamatnya dipakai seorang mahasiswa sebagai tempat korespondensi. Setiap kali tanda terima kembali ke kantor Wisnu, Dela menempelkan satu tanda kecil di papan.

Ratna menghitungnya. "Seratus delapan puluh hari ini."

"Dan belum ada satu pun yang bisa bilang tidak tahu," kata Bima.

Pak Wisnu menambahkan, "Inilah fungsi tanda terima. Dalam dunia nyata, 'saya tidak lihat notifikasi' tidak laku kalau kurir sudah membawa tanda tangan."

Bima menyukai kalimat itu. Internet membuat orang merasa kabur. Kertas membuat mereka kembali berat.

Pak Wisnu kemudian meminta Bima menyiapkan satu pernyataan standar untuk penerima somasi yang ingin bertanya lewat telepon. Isinya singkat: semua komunikasi melalui kantor hukum, semua bukti akan diperiksa, permintaan maaf harus tertulis, dan tekanan keluarga tidak diterima. Dengan begitu, tidak ada lagi celah untuk menangis pribadi lalu mengaku sudah damai.

Bima menambahkan catatan terakhir di template itu: jangan menjanjikan damai tanpa dokumen. Satu kalimat kecil. Bima tahu ia tahu kalimat itulah yang sering menyelamatkan korban dari jebakan percakapan pribadi.

Bagi orang yang menerima, amplop itu menjadi suara ketukan dari dunia nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!