Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — KESALAHPAHAMAN
Jarum jam di dinding lorong lantai dua menunjukkan pukul 23.45 WIB.
Kawasan Pesantren Al-Faruqi telah lama lelap dalam keheningan malam. Deru mesin mobil city car milik Aurel yang memasuki pekarangan rumah terasa begitu nyaring memecah sepi.
Aurel menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua dengan langkah pelan. Rasa lelah menggelayut di pundaknya usai menempuh perjalanan hampir satu jam dari pantai Arunika Barat. Namun, di balik rasa lelah itu, ada rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya. Sepanjang jalan pulang, ia membayangkan akan menyapa Rasyid, menceritakan betapa serunya acara pesta ulang tahun teman-temannya, dan mengucapkan terima kasih sekali lagi atas kepercayaan yang telah diberikan suaminya.
Aurel mendorong pintu kamar mereka yang tidak terkunci.
Lampu kamar dalam keadaan remang, hanya diterangi lampu nakas berwarna kuning hangat di sudut meja rias.
Namun, bukannya menemukan Rasyid sudah terlelap di atas kasur atau sofa, Aurel justru mendapati Rasyid sedang duduk tegak di atas kursi kerja di dekat jendela.
Pria itu masih mengenakan kemeja katun abu-abu lembut yang sama seperti tadi sore. Peci hitamnya tergeletak di meja, dan kedua tangannya tertaut kaku di atas paha. Wajah Rasyid tampak amat pucat di bawah pendar lampu temaram, dan sepasang mata cokelat gelapnya terkunci rapat pada pintu tempat Aurel berdiri.
Aurel menghentikan langkahnya di ambang pintu, melepas tas bahunya seraya mengerutkan dahi.
"Kamu... belum tidur, Rasyid?" tanya Aurel pelan. Suaranya memecah keheningan kamar yang tak biasa.
Rasyid tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas panjang—sebuah helaan napas yang amat berat dan sarat akan beban batin yang tertahan—lalu mengembuskannya perlahan.
"Belum," jawab Rasyid singkat. Suaranya datar, dingin, dan benar-benar hampa dari kehangatan yang biasanya menyapa Aurel.
Aurel melangkah mendekat dua tindak, meletakkan tasnya di atas meja rias. Rasa canggung yang mendadak menebal di udara membuat bulu kuduknya merinding tipis. "Ada apa? Kamu lagi nungguin draf laporan pesantren atau gimana?"
Rasyid berdiri dari kursinya. Pria itu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, menggeser layarnya sebentar, lalu berjalan mendekati Aurel.
Rasyid mengulurkan tangannya, menyodorkan layar ponsel yang menyala terang tepat di hadapan mata Aurel.
"Bisa tolong jelaskan ini, Aurel?" tanya Rasyid pelan.
Aurel menerima ponsel itu dengan dahi berkerut bingung. Namun, saat matanya menangkap gambar di layar, napasnya seketika tertahan di tenggorokan.
Di layar ponsel Rasyid, terpanjang lima buah foto beresolusi tinggi yang diambil dari sudut remang Restoran Sunset Bay malam ini. Foto-foto itu memperlihatkan dirinya berdiri sangat dekat dengan Reno di tepi pantai. Di foto pertama, Reno tampak tersenyum condong ke arahnya. Di foto ketiga, Aurel terlihat tertawa lepas seraya menyiku lengan kemeja hitam Reno.
Dan di bawah deretan foto itu, ada sebuah pesan provokatif dari nomor tak dikenal yang menuding keabsahan perilakunya sebagai istri pengajar pesantren.
Darah Aurel serasa berhenti mengalir seketika. Pipinya memanas oleh rasa syok dan amarah yang mendadak meletup.
"Ini... ini apa-apaan?!" cetus Aurel, suaranya meninggi. Ia mendongak, menatap mata Rasyid dengan pandangan tak percaya. "Siapa yang ngirim foto ini ke kamu?!"
"Nomor yang tidak dikenal," jawab Rasyid tenang, namun ketenangannya malam ini terasa amat tajam dan memutus asa. "Siapa laki-laki di dalam foto itu, Aurel?"
Aurel mengepalkan tangannya di samping paha, meremas ponsel Rasyid yang ada di genggamannya. "Dia Reno. Temen lamaku waktu awal masuk kuliah."
Rasyid menatap netra cokelat terang milik Aurel. Binar rasa terluka yang sangat dalam melintas samar di matanya sebelum kembali ditutupi oleh perisai dingin.
"Teman lama?" ulang Rasyid dengan intonasi rendah. "Kenapa kamu tidak menceritakan pada saya kalau kamu akan bertemu dengannya di sana?"
Pertanyaan itu meluncur rata, namun rasanya seperti tuduhan terselubung di telinga Aurel.
Amarah dan benteng gengsi Aurel yang selama ini terendam mendadak bangkit berdiri dengan kokoh. Aurel merasa kepercayaan yang tadi sore begitu ia agungkan mendadak runtuh hanya karena beberapa foto manipulatif dari oknum jahat.
"Gimana aku mau cerita, Rasyid?!" sergah Aurel ketus, melemparkan ponsel Rasyid ke atas meja rias dengan dentang pelan. "Aku sendiri nggak tahu kalau Reno bakal dateng ke pesta itu! Dia baru balik dari luar kota dan kebetulan ketemu di sana! Kita cuma ngobrol biasa lima belas menit!"
Rasyid mendengarkan nada tinggi istrinya tanpa memotong. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menghela napas panjang seraya menundukkan pandangannya sejenak.
"Aku tidak menuduhmu melakukan hal yang tidak-tidak, Aurel," kata Rasyid pelan, suaranya bergetar tipis oleh emosi cemburu dan kecewa yang berusaha ia tahan rapat-rapat. "Aku percaya padamu. Tapi aku ingin kamu mengerti satu hal... Kepercayaan juga membutuhkan keterbukaan."
"Keterbukaan gimana maksudmu?!" potong Aurel tajam. Rasa tersinggung menguasai kepalanya. "Aku udah izin sama kamu tadi sore! Aku udah kabarin kamu pas jalan pulang! Sekarang gara-gara ada orang iseng yang motret aku sama temen lamaku terus ngirim ke kamu, kamu langsung tatap aku kayak cewek kriminal?!"
Rasyid menatap Aurel dengan pandangan yang membuat dada Aurel terasa seribu kali lebih sesak.
"Bukan soal foto itu saja, Aurel," bisik Rasyid, setiap katanya terasa begitu jujur dan terluka. "Tapi soal bagaimana kamu selalu merasa tidak perlu berbagi cerita tentang duniamu padaku. Seolah aku ini hanyalah orang asing yang kebetulan tinggal di kamar yang sama."
Kalimat itu terucap tanpa bentakan, namun efeknya menghantam ulu hati Aurel dengan amat telak.
Lidah Aurel mendadak terasa kaku. Rasa bersalah yang merayap di balik dada beradu keras dengan rasa gengsi dan kelelahan fisiknya. Ia tahu ia seharusnya menjelaskan dengan tenang bahwa Reno hanyalah kawan lama yang tidak berarti apa-apa. Ia tahu ia seharusnya menurunkan intonasi suaranya dan meredam ketegangan ini.
Namun, rasa lelah akibat perjalanan jauh dan rasa terluka karena merasa dicurigai membuat Aurel memilih jalan terburuk: melarikan diri.
"Terserah kamu mau mikir apa, Rasyid," kata Aurel dingin, suaranya bergetar menahan air mata kekecewaan yang hendak menetes. "Aku capek. Mau mandi terus tidur."
Aurel berbalik menyambar handuknya dari atas jemuran kamar mandi dan menutup pintunya kencang-kencang dengan bunyi brakk yang bergema di dalam kamar.
Rasyid tidak mengejarnya. Pria itu berdiri kaku di samping meja rias, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Pria itu memejamkan matanya, memegang pelipisnya yang mendadak terasa pening luar biasa.
Pukul 01.30 WIB.
Kamar tidur lantai dua diselimuti keheningan yang amat pekat dan menusuk. Lampu utama kamar telah dimatikan, menyisakan pendar temaram lampu nakas di sudut meja.
Di atas kasur berukuran king-size tersebut, Aurel dan Rasyid berbaring dalam satu ranjang yang sama.
Namun, ada jarak satu meter yang membentang luas di antara mereka.
Aurel miring menghadap ke sisi kiri kasur, menatap kegelapan dinding kamar seraya meremas selimutnya hingga ke dada. Air mata hangat menetes pelan melintasi pipinya tanpa suara. Dadanya terasa amat sesak oleh penyesalan dan amarah pada situasi konyol yang baru saja merusak keharmonisan mereka.
Sementara itu, di sisi kanan kasur, Rasyid berbaring miring memunggungi Aurel. Pria itu memejamkan matanya, namun napasnya yang tidak teratur menandakan ia sama sekali belum terlelap.
Tidak ada sapaan selamat malam. Tidak ada ucapan lembut atau elusan hangat seperti malam-malam sebelumnya.
Dua manusia yang baru saja belajar merajut rasa percaya itu kini terbaring kaku di bawah satu selimut—saling membelakangi dalam perang dingin yang sunyi dan menyiksa.