Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Satu Minggu kemudian Gedung Pengadilan Agama pagi itu nampak lebih dingin dari biasanya. Adila melangkah dengan penuh percaya diri, mengenakan setelan blazer berwarna putih tulang yang memberikan kesan suci sekaligus tak tersentuh. Di sampingnya, seorang pengacara senior bernama Pak Baskoro berjalan dengan tas kerja penuh dokumen maut.
Saat memasuki ruang tunggu sidang, Adila langsung disambut oleh tatapan tajam dari keluarga Revan. Ada Revan yang nampak kusut, Mama Revan yang masih mencoba terlihat angkuh, Tiara yang menatap sinis, dan tentu saja Meisya yang duduk sambil mengelus perutnya dengan gerakan dramatis.
"Jangan pikir kamu bisa menang, Adila," desis Mama Revan saat Adila berjalan melewati mereka. "Rumah itu adalah hak anakku. Kamu tidak bisa menguasainya sendirian!"
Adila tidak menoleh. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya ia berikan pada pasien yang diagnosisnya sudah tidak tertolong lagi.
Beberapa saat kemudian sidang dimulai. Hakim Ketua membuka persidangan dengan agenda pembacaan gugatan dan mediasi awal yang langsung dinyatakan gagal oleh pihak Adila. Ketegangan memuncak saat pengacara Revan mulai menuntut pembagian harta gono-gini, terutama rumah mewah yang selama ini mereka tempati.
"Yang Mulia," ujar pengacara Revan. "Klien kami menuntut haknya atas rumah yang ditempati bersama selama sepuluh tahun ini. Sebagai suami, Revan memiliki andil besar dalam aset tersebut."
Hakim menatap Adila. "Bagaimana tanggapan pihak penggugat?"
Pak Baskoro bangkit berdiri, merapikan kacamatanya. "Terima kasih, Yang Mulia. Terkait rumah tersebut, kami memiliki bukti otentik berupa Perjanjian Pra-Nikah yang telah dilegalisir. Di sana disebutkan bahwa jika terjadi pengkhianatan emosional dan keputusan sepihak yang merusak rumah tangga seperti membawa wanita lain masuk ke rumah tanpa izin istri sah maka hak atas aset tetap jatuh sepenuhnya kepada pihak yang tersakiti, yaitu Dokter Adila."
Revan tampak pucat. "Tapi itu rumah tempat tinggal kami, Yang Mulia!"
"Dan perlu kami informasikan kepada majelis hakim serta pihak tergugat," lanjut Pak Baskoro dengan suara yang lebih lantang. "Bahwa rumah tersebut saat ini sudah bukan lagi milik Dokter Adila ataupun Saudara Revan. Rumah itu telah resmi terjual dua hari yang lalu kepada pihak ketiga, yaitu Dokter Adrian Dewantara, untuk dialihfungsikan menjadi klinik kesehatan ibu dan anak."
Brak!
Mama Revan berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam. "Apa?! Dijual?! Kamu menjual rumah itu tanpa izin kami, Adila?! Kamu benar-benar iblis!"
"Diam, Saudari!" bentak Hakim Ketua sambil mengetuk palu. "Jaga ketertiban di ruang sidang!"
Revan menatap Adila dengan pandangan tak percaya. "Dila... kamu benar-benar menjualnya? Kamu menjual kenangan kita?"
"Kenangan itu sudah busuk, Revan. Aku lebih suka mengubahnya menjadi tempat yang bermanfaat bagi orang sakit," jawab Adila dengan suara yang sangat stabil. "Dan secara hukum, karena rumah itu adalah hak mutlakku berdasarkan perjanjian pra-nikah, aku berhak menjualnya kapan pun tanpa izin darimu."
Meisya yang duduk di belakang Revan mulai gemetar. Ia membayangkan impiannya tinggal di rumah mewah itu setelah menikah dengan Revan kini sirna total. Klinik? Tempat itu akan menjadi rumah sakit, bukan istananya.
"Namun, Yang Mulia," Pak Baskoro kembali bicara, kali ini dengan nada yang lebih licik. "Kami mengakui ada satu aset yang bisa dikategorikan sebagai harta gono-gini. Yaitu sebidang tanah investasi di samping rumah Mama Revan, yang dibeli atas nama bersama."
Mendengar hal itu, Mama Revan seketika terdiam. Wajahnya yang tadi merah mendadak pucat pasi.
"Tanah itu?" gumam Revan bingung. "Iya, itu memang harta bersama."
"Betul," ujar Adila, kali ini ia yang angkat bicara. "Tapi sayangnya, Yang Mulia, tanah yang seharusnya menjadi harta gono-gini itu saat ini sedang dalam status dijaminkan ke bank. Dan siapa yang menjaminkannya? Ternyata Mama mertua saya, dengan memalsukan tanda tangan saya dan Revan setahun yang lalu untuk menutupi hutang pribadinya."
Seluruh ruangan mendadak senyap. Revan menoleh ke arah Mamanya dengan tatapan horor. "Mah? Apa yang dikatakan Adila itu benar? Mama menjaminkan tanah itu?"
"Mama... aku hanya butuh uang sebentar waktu itu, Revan! Mama pikir akan segera Mama tebus!" tangis Mama Revan pecah, tapi kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis ketakutan.
Adila menyerahkan map berisi bukti surat blokir dari bank ke arah Hakim. "Jadi, Yang Mulia, silakan Saudara Revan mengambil haknya atas harta gono-gini itu. Silakan ambil tanah yang terjerat hutang bank tersebut. Saya dengan ikhlas memberikannya kepada Revan dan ibunya. Biar mereka yang mengurus cicilannya."
"Skakmat," bisik Maya yang duduk di kursi penonton bersama Sari.
Revan tertunduk dalam-dalam. Ia menyadari betapa bodohnya dirinya. Ia kehilangan rumah mewahnya yang sudah dijual ke dr. Adrian, dan kini ia "dihadiahi" sebidang tanah yang terjerat hutang besar akibat ulah ibunya sendiri.
"Sidang ditunda untuk pemeriksaan bukti lebih lanjut," ketuk Hakim.
Saat keluar dari ruang sidang, suasana menjadi sangat liar. Mama Revan mencoba menjambak Adila, namun langsung dihalau oleh petugas keamanan.
"Kamu sengaja, kan?! Kamu tahu tanah itu bermasalah makanya kamu merelakannya!" teriak Tiara.
Adila berhenti, ia menatap keluarga yang kini nampak sangat menyedihkan itu. "Aku hanya memberikan apa yang pantas kalian dapatkan. Revan ingin membela Meisya? Silakan. Sekarang kalian punya Meisya, punya hutang bank, dan tidak punya rumah. Bukankah itu kombinasi yang sangat romantis?"
Meisya menangis histeris. "Mas Revan, bagaimana ini? Kita mau tinggal di mana kalau rumah Mama juga terancam disita bank?"
Revan tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Adila yang berjalan menjauh. Di ujung koridor, dr. Adrian sudah menunggu dengan bersandar di dinding, tangannya di saku celana.
"Laporan penjualannya sudah selesai, Dokter Muda Adila. Klinik akan mulai dibangun bulan depan," ucap Adrian dengan suara dinginnya yang menenangkan.
Adila mengangguk, ia menatap Adrian dengan rasa syukur. "Terima kasih, Dokter. Untuk semuanya."
"Jangan berterima kasih. Kamu yang melakukan pembedahannya, aku hanya menyediakan alatnya," sahut Adrian. "Ayo. Kamu harus bersiap untuk pindah ke hunian barumu. Aku tidak ingin asisten riset pribadiku tinggal di tempat yang penuh energi negatif."
Adila tersenyum, kali ini senyumannya sangat lebar dan tulus. Ia meninggalkan gedung pengadilan itu tanpa menoleh sedikit pun. Di belakangnya, keluarga Revan masih sibuk bertengkar satu sama lain, saling menyalahkan atas kehancuran yang mereka buat sendiri.
Masa depan Adila nampak sangat cerah, sementara Meisya dan Revan baru saja memulai masa depan mereka di balik bayang-bayang hutang dan kehinaan.