Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leng Yan’s Bold Proposal
Matahari sore membiaskan warna jingga hangat di atas langit ibu kota Kekaisaran Tianming, memantul anggun pada permukaan atap-atap kayu cendana kediaman Pangeran Ke-14. Di halaman belakang yang tenang, suara gemericik air pancur giok berpadu dengan bisikan angin yang menari di antara dahan bambu spiritual. Namun, ketenangan sore itu seketika buyar ketika aroma harum minyak melati yang sangat pekat dan hembusan angin beraroma kelopak bunga mawar mendadak memenuhi udara.
Satu sosok berbalut jubah sutra merah muda menyala dengan benang emas melayang turun dari langit bagaikan seekor burung feniks yang sedang memamerkan keindahannya. Leng Yan mendarat dengan gerakan sangat anggun di atas lantai batu gazebo, mengibaskan kipas emasnya seraya memamerkan senyuman paling memikat yang ia miliki. Di belakangnya, Leng Shuang melompat turun dengan wajah masam dan sepasang pedang pendek yang terkepal erat di jemarinya, tampak sudah berada di ambang batas kesabaran menghadapi sang kakak.
Mu Xuanyuan yang sedang duduk bersandar santai di bangku gazebo, tengah menikmati mangkuk berisi es buah anggur kristal dari ruang dimensinya. Ketika melihat kedatangan Leng Yan, Xuanyuan tidak terkejut sedikit pun. Ia justru tersenyum cempreng seraya mengacungkan sendok kayunya ke udara dengan raut wajah polos khas pangeran konyol.
"Oho! Paman Flamboyan datang lagi!" seru Xuanyuan dengan nada gembira yang lugu. "Apakah Paman ingin meminta es anggur manisku? Tidak boleh ya, ini milik Xuanyuan!"
Leng Yan meletakkan kipas emasnya di depan dada, menutup matanya sejenak seraya mendesah dramatis. "Ah, Yang Mulia... Panggilan 'Paman' itu sungguh merobek-robek hati hamba yang rapuh ini menjadi seribu kepingan! Namun, melihat ketampanan Anda yang tiada tandingan di bawah sinar matahari sore ini, seluruh rasa sakit di dada hamba seketika sirna tanpa bekas!"
Leng Shuang yang berdiri di samping tiang gazebo langsung menghembuskan napas berat seraya memukul dahi dengan telapak tangannya sendiri. "Kakak, hentikan drama murahanmu itu. Kita datang ke sini bukan untuk merayu Pangeran Ke-14!"
Leng Yan mengabaikan teguran adiknya sepenuhnya. Dengan langkah perlahan yang gemulai dan dramatis, ia mendekati meja Xuanyuan, lalu secara tiba-tiba berlutut dengan satu kaki di atas lantai batu. Jemari lentiknya melayang di udara seolah ingin menyentuh tangan Xuanyuan, sementara matanya memancarkan binar keseriusan yang sangat aneh dan penuh gairah.
"Yang Mulia Mu Xuanyuan," panggil Leng Yan dengan intonasi rendah yang berat namun mendayu-dayu. "Hamba datang membawa sebuah usulan yang sangat mendesak, sebuah penawaran yang akan mengubah takdir kita berdua selama-lamanya!"
Gu Juechen dan Feng Wuchen yang berdiri di belakang Xuanyuan seketika mengencangkan pegangan pada senjata masing-masing. Wajah dingin Feng Wuchen makin menyipit tajam, sementara Gu Juechen tersenyum canggung, bertanya-tanya kekonyolan apa lagi yang akan diucapkan oleh bos rumah bordil paling terkenal di benua tersebut.
Xuanyuan mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menyendok buah anggurnya dengan santai. "Usulan apa, Paman? Apakah Paman mau mengajariku cara menari seperti wanita-wanita di rumah bordilmu?"
Leng Yan mengibaskan kipas emasnya dengan sangat bertenaga, membusungkan dadanya yang tegap seraya menatap lurus ke dalam mata Xuanyuan. "Bukan, Yang Mulia! Mengingat bahaya besar yang sedang mengintai Anda dari Sekte Bayangan Merah besok malam, dan betapa liciknya Pangeran Ke-3 serta Putra Mahkota... Hamba memiliki usulan yang sangat berani! Bagaimana jika Anda pindah dan tinggal secara permanen di rumah bordil hamba?"
Seketika itu juga, suasana di dalam gazebo menjadi hening mencekam. Bahkan cangkir teh yang sedang dipegang Gu Juechen hampir saja terlepas dari jemarinya.
"Tinggal... di rumah bordil?" ulang Gu Juechen dengan nada tak percaya.
"Benar sekali!" seru Leng Yan dengan wajah berseri-seri dan penuh semangat. "Rumah bordil hamba memiliki formasi pelindung tingkat tinggi, makanan lezat, dan yang paling penting... hamba sendiri yang akan melayani dan menjaga Anda selama dua puluh empat jam sehari tanpa henti! Kita bisa menikmati teh di atas atap setiap malam, saling bertukar cerita tentang keindahan dunia, dan hamba bisa memastikan bahwa tidak ada satu pun pembunuh bayaran atau pangeran jahat yang bisa menyentuh sehelai rambut tampan Anda!"
Leng Yan mendekatkan wajahnya sedikit lagi dengan binar mata memohon yang sangat dramatis. "Bahkan, jika Anda bersedia, hamba siap menyerahkan seluruh kepemilikan rumah bordil itu atas nama Anda! Bagaimana, Yang Mulia? Ini adalah penawaran yang sangat sempurna untuk keamanan dan kenyamanan hidup Anda!"
Mendengar usulan yang sangat tidak masuk akal dan terlewat berani itu, urat-urat di dahi Leng Shuang tampak menegang hebat. Wajah tomboinya memerah padam karena rasa malu yang luar biasa atas kelakuan sang kakak yang sudah melampaui batas kegilaan.
"LENG YAN! KAU SUDAH BENAR-BENAR GILA!" teriak Leng Shuang dengan suara melengking yang memecah keheningan sore.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Leng Shuang melangkah maju dengan cepat. Tangan kanannya terkepal erat, memancarkan aura qi yang cukup kuat, lalu melayangkan sebuah pukulan mentah yang sangat keras tepat ke arah pipi mulus kakaknya.
BUAK!
Tubuh Leng Yan terlempar memutar di udara sebelum mendarat tragis di semak-semak bunga mawar di luar gazebo dengan suara gemerisik yang keras. "Aduh! Wajah tampanku! Leng Shuang, kau wanita kasar tak berhati!" jerit Leng Yan dari dalam semak-semak seraya memegangi pipinya yang mulai memar.
Leng Shuang menarik napas dalam-dalam seraya merapikan jubah tempurnya yang agak berantakan. Ia membungkuk dalam-dalam ke arah Xuanyuan dengan raut wajah penuh penyesalan. "Hamba memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan tidak sopan dan kegilaan kakak hamba, Yang Mulia Pangeran Ke-14. Otaknya memang sering kali tidak berfungsi jika melihat pria berkulit bersih dan berwajah tampan."
Mu Xuanyuan hanya tertawa terbahak-bahak secara cempreng, sama sekali tidak merasa terganggu. Ia mengunyah anggurnya seraya melambaikan tangan ke arah semak-semak. "Hahaha! Paman Flamboyan sangat lucu! Tapi aku tidak mau tinggal di rumah bordil, di sana tidak ada pohon ubi manis milikku!"
Di balik tawa konyolnya, kilatan mata Xuanyuan memancarkan kehangatan dan rasa geli yang mendalam. Sang Kaisar Abadi mengetahui bahwa di balik usulan konyol dan flamboyan dari Leng Yan, pria itu sebenarnya secara tulus mengkhawatirkan kesafetyan dirinya menghadapi ancaman Sekte Bayangan Merah besok malam. Meskipun cara yang ditawarkannya sangat absurd, niat baik di balik topeng flamboyan tersebut adalah sesuatu yang cukup dihargai oleh Xuanyuan.
Leng Yan merangkak keluar dari semak-semak seraya memungut kipas emasnya yang agak kotor, menatap Xuanyuan dengan bibir cemberut dan mata yang masih berkaca-kaca dramatis. "Penolakan yang sungguh manis namun menyakitkan... Tapi jangan khawatir, Yang Mulia! Jika Anda tidak mau datang ke rumah bordil hamba, maka hamba dan kipas emas ini yang akan bertindak sebagai benteng terdepan untuk melindungi keindahan Anda besok malam!"
Xuanyuan tersenyum semakin ceria, lalu menganggukkan kepalanya dengan antusias. Bidak-bidak di atas papan catur telah siap, dan malam pertempuran yang dijanjikan oleh Pangeran Ke-3 kini tinggal menunggu waktu untuk dimulai.