NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Aroma tumis kangkung dan gorengan tempe menyeruak di udara dapur yang pengap. Di depan wajan yang mendesis, Renata berdiri mematung. Tangannya yang memegang sendok kayu tampak gemetar, bukan karena beratnya alat masak itu, melainkan karena dadanya yang bergemuruh menahan sesak. Air matanya menetes satu per satu, jatuh menyentuh ubin semen yang dingin tanpa suara.

​"Dasar perempuan malas! Jam segini baru masakannya matang. Memang tidak tahu diuntung. Aris itu kerja banting tulang dari pagi sampai malam, tapi punya istri kerjanya cuma leha-leha!"

​Suara melengking itu menembus sekat dapur tanpa penghalang. Itu suara Bu Broto, ibu mertua Rena, yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga yang hanya berjarak beberapa meter dari dapur. Di sana, wanita paruh baya itu sedang mengipasi tubuhnya dengan kipas cendana, seolah dirinya adalah ratu di rumah tersebut.

​"Betul itu, Bu," sahut Siska, adik ipar Rena, menimpali dengan nada ketus yang khas. "Dari dulu penampilannya kumal begitu, tidak ada pintar-pintarnya mengurus rumah. Malu-maluin kalau dibawa ke acara kantor Mas Aris. Heran aku, Mas Aris kok dulu bisa-biasanya menikahi perempuan kampung seperti dia."

​Rena hanya bisa memejamkan mata erat-erat mendengarnya. Kata-kata kasar dan hinaan itu menghujam jantungnya seperti belati yang tumpul—tidak langsung membunuh, tetapi menyiksa perlahan. Ini bukan pertama kalinya, bukan pula yang kedua. Setiap hari, dari pagi hingga malam, makian demi makian sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus dia telan bulat-bulat demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya.

​Di sudut ruang keluarga, Aris suami Rena hanya duduk dengan tenang di kursi tunggalnya. Di tangannya ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Matanya tertuju pada layar televisi, sama sekali tidak menoleh ke arah dapur maupun ke arah ibu dan adiknya. Dia mendengar semuanya. Dia tahu istrinya sedang dicaci-maki. Namun, pria itu memilih diam, menikmati kopinya dalam ketenangan yang egois, seolah-olah caci-maki yang ditujukan kepada istrinya hanyalah angin lalu yang tak berarti.

​Rena menyeka air matanya dengan ujung daster batiknya yang sudah pudar warnanya. Dia membalikkan tempe di wajan dengan gerakan lambat. Di dekat meja dapur kecil, duduk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, Dio. Anak itu duduk di atas kursi kayu kecil dengan lutut ditekuk, memeluk sebuah buku gambar tua yang halamannya sudah mulai menguning.

​Dio tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sepasang mata jernihnya menatap lurus ke arah sang ibu. Bocah sekecil itu sudah terlalu terbiasa dengan ketegangan di rumah ini. Dia melihat bagaimana bahu ibunya berguncang pelan, melihat bulir-bulir bening yang terus membasahi pipi ibunya. Dio tahu ibunya sedang terluka, dan diam adalah satu-satunya cara yang dia ketahui agar tidak memperburuk keadaan.

​Setelah beberapa saat yang terasa begitu menyiksa, semua masakan akhirnya selesai. Rena menata piring-piring di atas meja makan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Sayur kangkung, beberapa potong tempe goreng, dan sambal korek. Hanya itu yang bisa dia hidangkan dengan uang belanja yang sangat minim yang diberikan Bima minggu lalu.

​"Makan, Bu, Siska, Mas..." panggil Sari dengan suara yang parau, berusaha menyembunyikan getar emosi di tenggorokannya.

​Bu Broto dan Siska segera bangkit dari sofa, berjalan menuju meja makan dengan dagu terangkat. Bima mengikuti dari belakang, meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong. Mereka langsung duduk dan menyendok nasi serta lauk ke piring masing-masing tanpa memedulikan Rena yang masih berdiri di dekat watafel.

​"Halah, lauknya cuma begini saja setiap hari. Tempe lagi, tempe lagi. Bisa bosan ibu lama-lama tinggal di sini," gerutu Bu Broto sambil mengambil dua potong tempe tertinggi ke piringnya.

​"Iya, Mas Bima kan kasih uang belanja banyak, kok masakan istrinya seperti makanan kucing begini. Dikemanakan uangnya, Mbak?" sindir Siska tajam seraya menyendok sayur kangkung hingga hampir habis.

​Rena tidak menjawab. Dia melirik Aris, berharap suaminya akan membelanya, atau setidaknya meluruskan bahwa uang belanja yang diberikan sebenarnya jauh dari kata cukup. Namun, Aris tetap diam. Pria itu menyuap nasinya dengan tenang, seolah percakapan di sekitarnya terjadi di dunia yang berbeda.

​Melihat semua orang sudah berkumpul di meja, Rena meremas jemarinya. Dia tahu ini bukan waktu yang tepat, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Waktu pendaftaran sekolah sudah hampir ditutup. Dengan memberanikan diri, Rena melangkah mendekati kurdi Aris.

​"Mas..." panggil Sari lirih.

​Aris mendongak sedikit, menatap Rena dengan tatapan dingin dan datar. "Ada apa? aku mau makan, jangan diganggu."

​"Soal Dio, Mas," Renata menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Dio bulan depan sudah harus masuk Sekolah Dasar. Pendaftarannya akan ditutup minggu ini. Aku... aku i mau minta uang untuk membayar uang pangkal dan seragam Dio, Mas."

​Mendengar kalimat itu, Bu Broto langsung meletakkan sendoknya dengan kasar hingga berdenting keras di atas piring porselen. Wajahnya seketika naik pitam, matanya melotot tajam ke arah Dio.

​"Apa?! Minta uang lagi?!" bentak Bu Broto, suaranya menggelegar di ruang makan. "Dasar istri tidak berguna! Kamu itu maunya cuma menghambur-hamburkan uang suami saja ya! Apa kerjaanmu seharian di rumah sampai uang pendaftaran anak saja harus minta lagi?"

​"Tapi Bu, ini untuk sekolah Dio—"

​"Halah, tidak usah banyak alasan!" potong Bu Broto kejam. "Harusnya selama ini kamu itu bisa menabung dari uang yang dikasih Aris! Istri yang pintar itu tahu cara memutar uang, bukan sedikit-sedikit menengadahkan tangan ke suami. Kamu saja yang boros, tidak bisa mengurus rumah tangga!"

​Siska ikut tertawa sinis di sela kunyahannya. "Betul, Bu. Paling-paling uangnya dipakai buat beli baju atau keperluan sendiri di pasar. Mas Aris jangan mau dibodohi sama dia."

​Rena merasakan dadanya berdenyut menyakitkan. Uang belanja dari Aris bahkan sering kali tidak cukup untuk makan bertiga selama satu minggu, bagaimana mungkin dia bisa menabung untuk biaya sekolah yang jumlahnya ratusan ribu? Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, menatap ujung kakinya, menahan isakan agar tidak pecah di depan mereka.

​"Mas..." Sari berbisik, memohon pada satu-satunya pria yang seharusnya melindunginya.

​Aris hanya diam. Dia menatap Renata yang sedang menunduk berguncang menahan tangis. Tidak ada rasa iba, tidak ada pembelaan. Pria itu menghela napas panjang, tampak terganggu dengan keributan yang terjadi di meja makan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aris melanjutkan makannya hingga tandas, lalu bangkit dari kursi, mengambil tas kerjanya, dan berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi.

​Setelah Aris berangkat kerja, disusul oleh Bu Broto dan Siska yang pergi ke mal untuk berbelanja, suasana rumah seketika menjadi sunyi senyap. Keheningan yang mencekam itu menyisakan sisa-sisa badai yang baru saja lewat.

​Renai melangkah mendekati meja makan dengan langkah yang terasa sangat berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat kakinya. Dia melihat ke atas meja. Makanan yang tadi dia masak dengan penuh air mata kini hampir tak tersisa. Yang ada di sana hanyalah piring-piring kotor, mangkuk sayur kangkung yang menyisakan kuahnya yang keruh, dan sebuah piring kecil berisi nasi dingin serta dua potong tempe goreng berukuran kecil yang sudah mengeras.

​Inilah bagian mereka. Bagian untuknya dan anaknya.

​Rena menarik kursi, lalu memanggil putranya. "Dio, sini Nak. Kita makan dulu."

​Sio berjalan mendekat dengan langkah pelan. Bocah itu duduk di sebelah ibunya tanpa mengeluh sedikit pun melihat menu yang tersisa di atas meja. Rena menyendok sisa nasi putih yang sedikit keras itu ke dalam satu piring, membaginya dengan dua potong tempe sisa.

​Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa kesedihan yang mendalam, Rena mulai menyuapi Dio perlahan. Dia memotong tempe itu menjadi bagian yang lebih kecil agar cukup untuk mereka berdua. Setiap kali suapan berpindah ke mulut kecil Dio, Rena harus sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh ke atas makanan anak itu.

​Dada Dio rasanya karam. Rasa bersalah sebagai seorang ibu menghantamnya bertubi-tubi. Dia merasa gagal karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak, bahkan tidak bisa menjamin masa depan pendidikan anaknya sendiri akibat ketidakberdayaan yang dia miliki.

​Satu bulir air mata akhirnya lolos dan mengalir membasahi pipi Renata.

​Dio, yang sejak tadi mengunyah makanannya dalam diam, menghentikan gerakannya. Dia menatap wajah ibunya yang dipenuhi duka. Dengan gerakan yang sangat lembut, tangan mungil Dio terangkat. Jari-jari kecilnya yang kurus mengusap air mata yang mengalir di pipi sang ibu, menghapus jejak basah itu dengan penuh kasih sayang.

​"Ibu jangan menangis lagi ya," ucap Dio dengan suara yang teramat lirih namun terdengar begitu dewasa untuk anak seusianya. Dia menatap lurus ke dalam mata ibunya yang sembap, lalu tersenyum kecil yang dipaksakan. "Aku ga apa-apa ngga sekolah dulu."

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!