**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Kapten di Balik Seragam
Kayla pernah melihat Adrian memakai seragam kapten di depan RS Sentosa.
Namun melihatnya bekerja adalah hal yang berbeda.
Di Bandara Soekarno-Hatta, Adrian berjalan melewati ruang tunggu dengan empat garis emas di bahu dan tas penerbangan di tangan. Staf darat menyapanya. Awak kabin melaporkan kesiapan. Sean, yang menjadi kopilot hari itu, mengikuti sambil membaca pembaruan cuaca.
Adrian tidak banyak bicara. Setiap pertanyaannya pendek, setiap jawaban didengar sampai selesai.
Dari balik kaca ruang tunggu, Kayla melihatnya turun ke apron bersama petugas darat untuk pemeriksaan luar. Ia berhenti di dekat roda, menunjuk sesuatu pada lembar pemeriksaan, lalu menunggu teknisi memastikan kondisinya. Tidak ada gerakan yang terburu-buru meski waktu keberangkatan semakin dekat.
Ponsel Kayla bergetar.
`Kursi 4A. Jangan pindah tanpa memberi tahu Monica.`
Kayla membalas, `Aku naik pesawat, bukan masuk taman kanak-kanak.`
Jawaban Adrian datang beberapa detik kemudian.
`Di taman kanak-kanak tidak ada turbulensi.`
Kayla mendongak. Dari apron, Adrian sudah berjalan kembali ke tangga pesawat. Ia bahkan tidak melihat ke arah ruang tunggu, tetapi Kayla tahu laki-laki itu sedang menahan senyum.
"Jarak pandang Denpasar masih baik, tapi sel konvektif bergerak dari barat," lapor Sean.
"Kita pantau jalurnya. Pastikan bahan bakar alternatif cukup," jawab Adrian.
Kayla berdiri beberapa langkah di belakang bersama penumpang lain. Baru dua minggu lalu ia mengenal Adrian sebagai laki-laki asing di kamar hotel. Pagi ini, puluhan orang menyerahkan keselamatan mereka kepadanya tanpa ragu.
Adrian menoleh dan menemukan tatapannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Aku sedang memastikan Kapten Cicilan benar-benar bisa menerbangkan pesawat."
Sean tertawa. "Nama kontak itu masih dipakai?"
"Masuk kokpit," perintah Adrian.
"Baik, Kapten."
Seorang pramugari senior menghampiri Kayla. Name tag di seragamnya bertuliskan Monica.
"Selamat pagi, dr. Kayla. Saya Monica, purser penerbangan ini." Senyumnya profesional. "Kapten Adrian sudah meminta kami memastikan Anda nyaman."
"Terima kasih. Saya penumpang biasa. Tidak perlu perlakuan khusus."
"Tentu."
Monica menjawab sopan, tetapi pandangannya sempat mengikuti Adrian sampai pintu kokpit tertutup. Ada kekecewaan kecil yang terlalu cepat disembunyikan.
Kayla memilih tidak memikirkannya.
Sebelum pintu ditutup, Adrian keluar sebentar dari kokpit untuk memastikan dokumen kabin selesai. Ia berhenti di sisi kursi Kayla.
"Cuaca mungkin kurang nyaman saat turun. Dengarkan instruksi awak kabin."
"Kapten selalu memberi pengarahan pribadi kepada penumpang 4A?"
"Hanya kepada penumpang yang kemungkinan akan mendebat turbulensi."
Monica berdiri di galley depan dan melihat pertukaran singkat itu. Adrian kembali ke kokpit tanpa menyentuh Kayla, tetapi cara suaranya melunak sudah cukup menjelaskan kedekatan yang tidak pernah Monica dapatkan selama bertahun-tahun bekerja bersamanya.
Pesawat lepas landas tepat waktu. Setelah tanda sabuk pengaman padam, Kayla membuka jurnal medis di tabletnya. Ia baru membaca dua halaman ketika terdengar suara benda jatuh dari baris belakang.
"Pak! Bangun, Pak!"
Seorang laki-laki sekitar enam puluh tahun merosot di kursinya. Istrinya panik sambil menepuk pipi suaminya.
Monica segera meminta penumpang lain tetap duduk. Pengumuman mencari tenaga medis terdengar dari pengeras suara.
Kayla sudah berdiri.
"Saya dokter IGD."
Ia berlutut di samping pasien dan memeriksa respons, jalan napas, serta nadi. Laki-laki itu masih bernapas, tetapi kulitnya dingin dan basah oleh keringat.
"Pak, bisa dengar saya?"
Kelopak matanya bergerak.
"Apakah beliau punya diabetes?" tanya Kayla kepada istrinya.
"Iya. Tadi pagi suntik insulin, tapi tidak sempat sarapan karena takut terlambat."
"Monica, bawa peralatan medis, oksigen, dan alat cek gula darah. Siapkan AED di dekat sini untuk berjaga-jaga."
Instruksinya diteruskan ke kokpit. Beberapa menit kemudian, hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah pasien sangat rendah.
Kayla memastikan laki-laki itu cukup sadar untuk mengikuti perintah sebelum memberinya gel glukosa sedikit demi sedikit. Oksigen dipasang. Kursi di sekitarnya dikosongkan agar ia dapat berbaring lebih aman.
"Kapten bertanya apakah perlu pengalihan," kata Monica setelah menerima panggilan dari kokpit.
Kayla kembali memeriksa nadi pasien. "Minta bantuan medis siaga saat mendarat. Kita nilai respons setelah glukosa. Kalau kesadarannya turun lagi atau kondisinya tidak stabil, saya minta mendarat di bandara terdekat."
Monica menyampaikan jawabannya.
Di kokpit, Adrian mendengarkan laporan sambil memantau radar cuaca. Suaranya tetap tenang ketika berkoordinasi dengan Sean dan petugas pengatur lalu lintas udara.
"Siapkan pilihan pengalihan dan beri tahu Denpasar ada kasus medis di kabin," katanya. "Monica lapor setiap lima menit."
Ia tidak bertanya apakah Kayla mampu. Ia percaya istrinya tahu apa yang sedang dilakukan.
Kepercayaan itu sampai ke kabin melalui instruksi yang tidak panik dan keputusan yang memberi Kayla waktu untuk menilai pasien.
Sepuluh menit kemudian, laki-laki itu membuka mata penuh dan bisa menyebutkan namanya. Warnanya mulai kembali.
Istrinya menggenggam tangan Kayla. "Terima kasih, Dok."
"Beliau tetap harus diperiksa setelah mendarat. Jangan suntik insulin lagi sebelum makan dan mendapat arahan dokter."
Monica melapor ke kokpit bahwa pasien stabil. Ketika kembali, ia melihat Kayla menenangkan istri pasien sambil tetap memantau denyut nadi.
Kekaguman bercampur dengan sesuatu yang lebih pahit di matanya.
Mungkin Adrian tidak menikahi Kayla hanya karena desakan keluarga.
Tanda sabuk pengaman menyala lebih cepat dari perkiraan.
Suara Adrian terdengar dari pengeras kabin.
"Para penumpang, kita akan memasuki area dengan potensi turbulensi. Silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman. Awak kabin, persiapkan kabin lebih awal."
Monica membantu Kayla kembali ke kursinya. Pasien yang baru ditolong dipasangi sabuk dan diawasi istrinya.
Di luar jendela, langit yang tadi biru berubah kelabu gelap. Awan menjulang seperti dinding di depan pesawat.
Kayla mengencangkan sabuk.
Pesawat mulai berguncang.
Sekali.
Dua kali.
Lalu seluruh badan pesawat jatuh mendadak.
Jeritan memenuhi kabin. Gelas plastik terangkat dari meja. Lampu sabuk pengaman berkedip di atas kepala.
Kayla mencengkeram sandaran tangan saat pesawat menerobos masuk ke tengah awan hitam.