Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Kamu semakin hari semakin berani denganku, Kenanga. Ke mana perginya Kenanga yang selama ini selalu bersikap baik dan penurut," tanya Bima dengan menatap sang istri.
"Mas, aku juga manusia. Aku punya perasaan dan hati. Aku akan baik pada orang yang juga baik dan menghargai keberadaanku. Begitu juga sebaliknya, aku bisa memukul siapa pun yang sudah berusaha untuk menyakitiku," ucap Kenanga dengan tatapan tajam.
Bima jadi kehilangan kata-katanya saat tatapannya beradu dengan mata Kenanga. Padahal dirinya masih ingin marah pada sang istrinya, tapi melihat tatapan Kenanga yang penuh dengan kebencian pun membuatnya urung. Dia jadi bertanya-tanya apa yang membuat istrinya itu berbeda.
Apa katanya tadi? Menyakitinya? Apakah Kenanga tahu mengenai dirinya yang ingin menceraikan wanita itu dan kembali dengan mantan istrinya? Rasanya itu tidak mungkin, mengingat selama ini Kenanga hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap hari berdiam diri di rumah. Tidak mungkin wanita itu tahu segalanya.
"Lihatlah! Kamu bicara semakin tidak jelas. Aku tidak mengerti lagi jalan pikiranmu. Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Aku harus pergi ke kantor. Gara-gara kamu aku jadi telat." Bima pun pergi begitu saja.
Sementara itu, Kenanga hanya diam memperhatikan kepergian sang suami. Andai saja Bima tidak menghianati pernikahan ini, pasti dirinya akan bersikap lembut dan menghormati suami dan semua keluarganya. Dia sebenarnya juga tidak begitu memedulikan barang-barang miliknya.
Kalaupun sang suami membutuhkan Hartanya, dia dengan sukarela akan memberikannya, tapi kalau untuk diberikan pada wanita lain tentu saja dirinya tidak rela. Meskipun itu hanya sebesar ujung kuku sekalipun.
Kenanga masuk ke dalam kamar. Dia pun membereskan barang-barang berharga miliknya ke dalam sebuah kardus kecil. Nanti dirinya akan mengirimkan semua ini ke rumah kedua orang tuanya melalui orang kepercayaannya. Kenanga tidak ingin mengambil resiko jika nanti Bima akan kembali mengambilnya.
Nanti siang dia akan bertemu dengan pengacara karena semalam mereka sudah membuat janji. Katanya berkas perceraian yang ingin diajukan sudah dibuat. Hanya tinggal menunggu dirinya dan Bima untuk tanda tangan agar nantinya proses perceraian berakhir dengan mudah.
Meskipun sulit Kenanga akan berusaha membuat Bima menyetujuinya. Dia yakin Bima tidak akan bisa berkutik jika dirinya memperhatikan bukti yang dirinya miliki karena suaminya itu pasti tidak ingin nama baiknya tercemar.
***
Bima memukul setir mobilnya untuk meluapkan rasa kesalnya yang masih tersimpan di dadanya. Dia sudah merencanakan banyak hal, tapi tiba-tiba saja istrinya itu berubah dan menuntut banyak hal darinya. Setelah ini tapi akan sulit untuk mengendalikan wanita itu.
"Apa mungkin Kenanga tahu rencanaku, tapi mana mungkin? Dari mana dia mengetahuinya? Apa mungkin ada yang berkhianat? Bibi. Apa mungkin dia? Aku nanti harus bertanya pada mereka, apakah mereka sudah menghianatiku dan menceritakan apa yang sudah kulakukan pada Kenanga? Sudahlah, lebih baik aku fokus dulu pada pekerjaanku. Nanti sore baru aku tanyakan pada mereka," gumam Bima pada dirinya sendiri.
Saat sedang fokus pada kemudinya, ponsel milik Bima yang ada di saku jasnya pun berdering. Ada panggilan masuk dari Mama Sophia. Pria itu pun segera mengangkatnya.
"Iya, Ma. Halo, ada apa?"
"Bima, kenapa uang bulanan Mama belum kamu kirim juga. Ini awal bulan, Mama butuh belanja untuk kebutuhan sehari-hari."
"Kenapa Mama tanyakan padaku? Kenapa tidak langsung bertanya pada Kenanga saja," ujar Bima dengan kesal.
Tadi sudah dibuat kesal oleh sikap Kenanga dan Alicia. Sekarang ibunya malah ingin menambah rasa kesalnya. Mau marah, Bima khawatir jika menyakiti hati ibunya. Dia sangat tahu bagaimana jika ibunya itu merajuk. Sudah pasti dirinya tidak akan bisa tenang.
"Justru itu, istrimu bilang kamu belum memberi uang belanja padanya, bagaimana bisa dia mengirim uang pada Mama. Dia sendiri tidak dapat uang belanja."
Lagi-lagi Bima mengeram kesal karena Kenanga. Padahal biasanya jika dia belum mengirim uang juga Kenanga akan mengirim uang miliknya sendiri untuk kedua orang tuanya, tapi kenapa sekarang malah belum dikirim juga.
"Iya, Ma. Nanti aku bicara dengan Kenanga biar ke depannya tidak telat lagi. Untuk sekarang biar aku yang kirim ke Mama. Aku memang lupa memberi uang belanja."
"Cepat kamu kirim sekarang. Mama butuh belanja kebutuhan rumah. Semuanya sudah pada habis."
"Iya, Ma."
Bima pun menutup sambungan telepon. Saat membuka m-banking-nya Bima menghela napas panjang. Saldo miliknya sudah hampir menipis. Sudah tiga bulan ini dia memang tidak memberi uang belanja pada Kenanga. Selama itu pun juga wanita itu tidak pernah protes dan tetap melakukan tugasnya. Kenapa sekarang jadi banyak mengeluh.
Rasanya tidak mungkin jika wanita itu tidak memiliki tabungan karena Bima sangat tahu keadaan kantong istrinya itu. Meskipun Kenanga sudah menikah dengan dirinya. Kedua mertuanya itu tidak pernah lupa untuk memberi uang jajan pada putrinya. Jumlahnya pun lebih banyak dari uang yang diberikannya.
Bima terpaksa mengirim uang bulanan pada kedua orang tuanya dengan menggunakan uang pribadinya. Dia ingin menghubungi Kenanga untuk bertanya mengenai uang tersebut. Namun, dirinya merasa enggan untuk berdebat dengan wanita itu sudah pasti nantinya akan berakhir dengan pertengkaran.
***
Kenanga bertemu dengan seorang pengacara. Dia melihat berkas-berkas perceraian yang dibuatkan oleh pengacara itu. Kenanga memang tidak menuntut harta gono-gini. Lagi pula apa yang ingin diperebutkan dari Bima? Memang pria itu memiliki perusahaan, tapi isinya kosong. Bukankah itu sama saja bohong.
Orang-orang di luaran sana mana tahu bagaimana keadaan perusahaan itu dengan benar. Yang mereka lihat hanya tampilannya saja tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Selama ini keluarga Kenanga yang selalu menyokongnya, entah bagaimana nanti jika mereka sudah berpisah.
Perusahaan itu memang besar, tapi memiliki hutang yang cukup besar juga. Kalau bukan karena dukungan kedua orang tua Kenanga, mungkin selama ini keluarga Bima hidup serba kekurangan. Selama ini kedua orang tua Kenanga-lah yang mendukung Bima, bahkan untuk kebutuhan rumah tangga dan kedua mertuanya.
Kenanga memang tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Wanita itu selalu menanggung sendiri semuanya. Dia merasa kasihan pada sang suami yang menjadi penanggung jawab untuk semua orang, tapi sekarang dirinya sadar jika apa yang dilakukan salah. Ternyata Bima itu orang yang tidak tahu terima kasih, malah memanfaatkannya lebih dalam lagi.
"Bagaimana, Bu? Apa ada sesuatu yang tidak puas atau ada sesuatu yang kurang? Nanti saya akan mengubahnya lagi."
"Tidak ada. Ini sudah cukup. Saya juga tidak menginginkan apa pun dari suamiku."
"Kalau begitu Anda bisa langsung meminta tanda tangan pada Pak Bima mengenai surat perjanjian perceraian itu. Kalau memang Pak Bima menolak, Anda bisa mengajukannya ke pengadilan agama secara langsung, biar pengadilan yang menentukan nanti."
"Saya akan meminta tanda tangan pada suami saya dulu. Nanti kalau dia tidak mau, saya akan menghubungi Bapak. Oh iya, Pak. Saya akan mengirimkan file bukti perselingkuhan suami saya ke nomor Anda agar bisa Anda simpan. Saya khawatir, kalau saya sendiri yang menyimpan nanti Mas Bima akan berusaha untuk menghilangkannya."
"Iya, tentu saja boleh. Saya akan menyimpannya agar bukti tersebut aman."
Kenanga pun mengirimkan bukti-bukti yang dia dapat. Dari mulai perselingkuhan yang dilakukan Bima dan Alicia, juga tentang apa saja yang sudah lakukan para pembantu padanya atas suruhan Bima.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu