NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Vinsmoke Reiju

​Kabut putih yang menyelimuti perairan North Blue terasa sangat dingin. Udara lembap membawa aroma garam laut yang bercampur dengan bau pelumas mesin dan baja tuang.

​Di atas menara tertinggi kastil yang bertengger di punggung siput raksasa, seorang gadis remaja berdiri diam. Tangannya yang ramping bertumpu pada pagar balkon yang terbuat dari logam tebal. Udara dingin menyapu wajahnya, tetapi dia tidak menggigil sedikit pun.

​Gadis itu adalah Vinsmoke Reiju. Putri sulung dari keluarga kerajaan Germa 66.

​Rambutnya yang berwarna merah muda sebahu berkibar pelan tertiup angin laut. Dia mengenakan gaun kerajaan yang elegan namun dirancang khusus agar tidak menghalangi pergerakan dalam pertarungan. Sepatu hak tingginya menapak kokoh di atas lantai balkon.

​Secara fisik, Reiju terlihat seperti seorang putri bangsawan yang sempurna. Cantik, anggun, dan memancarkan aura kelas atas.

​Namun di balik keindahan itu, tersimpan sebuah rahasia gelap yang menjadi fondasi kerajaannya.

​Sejak kecil, Reiju dan adik-adiknya diajarkan satu prinsip mutlak oleh ayah mereka, Vinsmoke Judge. Ilmu pengetahuan adalah puncak dari segalanya. Perasaan, belas kasihan, dan empati hanyalah kelemahan yang akan menghambat evolusi manusia.

​Keluarga Vinsmoke bukanlah manusia biasa. Mereka adalah hasil dari modifikasi genetik tingkat tinggi. Tubuh mereka dilengkapi dengan eksoskeleton yang sekeras baja. Mereka memiliki kekuatan super, kecepatan super, dan kemampuan regenerasi yang tidak masuk akal. Mereka lahir untuk menjadi senjata pemusnah massal yang tidak memiliki rasa takut.

​Adik-adiknya tumbuh menjadi monster yang persis seperti harapan ayah mereka. Mereka kejam, arogan, dan tidak memiliki hati nurani.

​Tetapi Reiju berbeda.

​Entah karena sebuah anomali genetik atau karena kasih sayang ibunya yang berhasil menembus dinding laboratorium, Reiju masih memiliki emosi kemanusiaan. Dia masih bisa merasakan sedih. Dia masih bisa merasa kasihan.

​Namun dia harus menyembunyikan semua itu. Selama bertahun-tahun, dia melatih otot wajahnya untuk selalu terlihat dingin dan tidak peduli. Dia tertawa saat adik-adiknya menyiksa orang lemah. Dia tersenyum saat ayahnya memerintahkan pembantaian. Dia mengubur kemanusiaannya jauh di dasar jiwanya demi bertahan hidup di dalam keluarga iblis ini.

​Sampai hari ini.

​Mata biru Reiju menatap tajam ke arah geladak utama kapal siput raksasa di bawah sana.

​Asap debu dan kabut masih mengepul dari kawah kecil di tengah pelat baja. Kawah itu tercipta akibat pendaratan kasar seorang penyusup yang datang dari langit.

​Reiju melihat penyusup itu dengan sangat jelas dari ketinggian balkonnya.

​Seorang pemuda. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan dirinya. Pemuda itu memiliki rambut hitam kelam yang panjang dan tajam di bagian ujungnya. Dia mengenakan pelindung dada berwarna merah yang terlihat sangat kuno.

​'Bagaimana dia bisa melompati lautan sejauh itu?' tanya Reiju di dalam hatinya.

​Mata Reiju yang telah dimodifikasi secara genetik mampu melihat jarak pandang yang luar biasa jauh. Dia melihat pemuda itu melompat dari kapal kayu kecil yang nyaris hancur terkena tembakan meriam. Pemuda itu menolak daya gravitasi murni hanya dengan kekuatan tolakan kaki.

​Tidak ada sepatu jet. Tidak ada Raid Suit. Tidak ada sayap buatan atau pendorong mekanis.

​Pemuda itu melintasi udara menggunakan kekuatan fisik yang melampaui logika ilmu pengetahuan Germa 66.

​Reiju terus mengamati dengan saksama. Sekitar 200 prajurit klon berseragam putih kini mengepung pemuda berarmor merah tersebut.

​Prajurit klon itu adalah kebanggaan kerajaan. Mereka diciptakan dari sel prajurit terbaik, diprogram untuk patuh secara mutlak. Mereka tidak merasakan sakit. Mereka tidak mengenal kata mundur.

​Bahkan seorang komandan Angkatan Laut akan berpikir dua kali sebelum berhadapan dengan pasukan tak kenal takut ini dalam pertarungan jarak dekat.

​Tetapi pemuda di bawah sana tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Dia berdiri dengan sangat santai, membiarkan kedua tangannya jatuh bebas di sisi tubuh.

​Lalu, pertarungan itu dimulai.

​Reiju mencengkeram pagar logam balkon semakin erat. Matanya melebar secara perlahan, mencoba menangkap setiap detail dari pergerakan yang terjadi di atas geladak baja tersebut.

​Dia melihat pemuda itu bergerak.

​Gerakannya tidak menggunakan kekuatan kasar yang mengandalkan dorongan otot semata. Setiap langkah, setiap putaran tubuh, dan setiap ayunan lengan pemuda itu memiliki ritme yang sangat mengalir. Bagaikan air yang membelah batu, atau angin yang menyelinap di antara dedaunan.

​'Luwes sekali,' batin Reiju dengan napas tertahan.

​Pemuda itu menepis tombak listrik yang datang dari berbagai arah hanya dengan sentuhan ringan. Dia membelokkan arah serangan musuh, menggunakan tenaga lawan untuk menghancurkan kawan mereka sendiri.

​Reiju melihat pemuda itu memukul lengan seorang prajurit klon dengan pangkal telapak tangannya. Suara tulang dan eksoskeleton yang patah bergema sampai ke atas balkon.

​Jantung Reiju berdegup lebih kencang.

​Eksoskeleton prajurit klon itu dirancang untuk menahan tembakan peluru baja. Bahkan pukulan palu raksasa belum tentu bisa mematahkannya dalam satu serangan.

​Tetapi pemuda berarmor merah itu meremukkan tulang-tulang tersebut hanya dengan tangan kosong.

​Mata Reiju yang tajam menangkap sebuah fenomena aneh. Setiap kali pemuda itu melancarkan pukulan atau tendangan, ada sebuah lapisan energi berwarna biru tipis yang menyelimuti anggota tubuhnya.

​Itu bukan Haki Persenjataan yang sering Reiju lihat dari para petarung di Dunia Baru. Haki biasanya berwarna hitam pekat dan memberikan kesan keras seperti baja.

​Energi biru ini berbeda. Energi ini terlihat sangat hidup. Energi ini berdenyut selaras dengan napas pemuda itu.

​'Kekuatan apa itu?' pikiran Reiju berpacu mencari jawaban di dalam ensiklopedia ingatannya. 'Itu bukan teknologi. Itu bukan modifikasi genetik. Itu adalah energi murni yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri.'

​Pemuda itu terus menari di tengah kepungan ratusan prajurit.

​Dia melompat ke udara, memutar tubuhnya, dan menjepit leher seorang prajurit dengan kedua pahanya. Dengan satu putaran pinggul yang mematikan, leher prajurit itu patah. Pemuda itu mendarat dengan anggun, kembali melanjutkan serangannya tanpa henti.

​Reiju tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

​Sejak kecil, ayahnya selalu mendoktrin otaknya. Ayahnya mengatakan bahwa tubuh manusia biasa adalah produk gagal dari alam. Manusia biasa itu rapuh. Mereka mudah lelah, mudah sakit, dan mudah dihancurkan. Hanya melalui rekayasa genetik dan teknologi perlengkapan tempur, manusia bisa mencapai puncak evolusi.

​Adik-adiknya, Ichiji, Niji, dan Yonji, adalah bukti nyata dari doktrin tersebut. Mereka kuat karena tubuh mereka dimodifikasi. Mereka kebal karena tulang mereka dilapisi baja. Mereka cepat karena teknologi Raid Suit yang mereka pakai.

​Tetapi pemuda di bawah sana menghancurkan semua doktrin tersebut menjadi serpihan debu.

​Pemuda ini seratus persen manusia murni. Reiju bisa merasakannya. Tidak ada suara mesin dari dalam tubuhnya. Tidak ada kabel yang tertanam di balik kulitnya.

​Kekuatannya berasal dari darah, daging, dan tekad yang dilatih hingga mencapai batas absolut.

​'Indah,' bisik Reiju di dalam hatinya.

​Dia melihat keindahan dalam kebrutalan yang sedang dipertontonkan. Ada sebuah nilai estetika yang sangat tinggi dalam setiap gerakan Taijutsu pemuda tersebut. Sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh pasukan klon yang kaku atau adik-adiknya yang hanya mengandalkan kelebihan genetik.

​Teknologi bisa diciptakan. Senjata bisa diproduksi. Tetapi kekuatan yang lahir dari disiplin jiwa dan pemahaman murni akan seni bertarung, adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

​Suara benturan logam dan derak tulang yang patah terus terdengar bagaikan melodi yang mengerikan.

​Pemuda itu menangkap 5 batang tombak listrik dengan tangan kosong. Aliran listrik bertegangan tinggi menyambar-nyambar tubuhnya, namun dia sama sekali tidak bergeming.

​Reiju menahan napasnya saat melihat pemuda itu memelintir kelima tombak tersebut hingga bengkok, lalu menendang mundur kelima prajurit klon itu sekaligus.

​Pasukan kebanggaan Germa 66, militer paling ditakuti di North Blue, kini tidak lebih dari sekumpulan mainan rusak yang berserakan di lantai.

​'Dia sangat kuat. Kekuatan yang sangat murni,' batin Reiju. Tangannya yang bertumpu pada pagar logam mulai berkeringat dingin.

​Dia tahu pemuda ini adalah musuh kerajaannya. Dia tahu pemuda ini sedang menghancurkan aset berharga milik ayahnya. Namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Reiju merasakan sebuah kepuasan yang aneh.

​Dia membenci Germa 66. Dia membenci pasukan tanpa emosi ini. Melihat mereka dihancurkan oleh seseorang yang hanya menggunakan kekuatan manusianya sendiri, memberikan sebuah kelegaan yang tidak bisa dia jelaskan.

​Pemuda itu melepaskan sebuah gelombang energi tak kasatmata yang menghempaskan puluhan prajurit terakhir ke udara. Pertarungan itu selesai dalam waktu yang sangat singkat.

​Asap sisa benturan perlahan menipis, disapu oleh angin utara yang dingin.

​Reiju menghela napas panjang. Dia mengira pertunjukan itu sudah berakhir.

​Namun, mata tajam Reiju tiba-tiba menangkap sebuah detail kecil di sudut geladak yang luput dari perhatian selama kekacauan tadi.

​Di dekat pilar logam penyangga menara meriam, ada seorang wanita muda yang meringkuk ketakutan.

​Wanita itu bukan prajurit. Dia tidak mengenakan seragam tempur atau membawa senjata. Dia mengenakan pakaian sederhana berwarna abu-abu kusam. Di dekatnya berserakan kain pel dan ember kayu yang airnya sudah tumpah membasahi lantai geladak.

​Itu adalah salah satu pelayan wanita biasa yang bekerja untuk membersihkan kapal kerajaan. Pelayan malang itu rupanya terjebak di area geladak saat pemuda itu melompat turun dari langit. Karena terlalu takut untuk berlari mencari tempat berlindung, pelayan itu hanya bisa bersembunyi di balik pilar logam, berharap tidak ada yang menyadari keberadaannya.

​Napas Reiju sedikit tercekat.

​Dia mengenal pelayan itu. Pelayan itu sering membawakan teh hangat ke kamarnya saat malam hari. Gadis biasa yang selalu menunduk sopan dan berbicara dengan suara gemetar karena takut pada kekejaman keluarga Vinsmoke.

​Saat gelombang energi dari pemuda berarmor merah itu meledak, puluhan prajurit klon terlempar ke segala arah.

​Reiju melihat salah satu tubuh prajurit klon yang bertubuh besar melayang bebas di udara dengan kecepatan yang sangat mengerikan. Prajurit itu terpental akibat tendangan keras dari pemuda misterius tersebut.

​Lintasan terbang prajurit klon itu mengarah lurus menuju pilar logam tempat pelayan wanita itu bersembunyi.

​Mata Reiju membulat sempurna. Kemampuan kalkulasi otaknya langsung bekerja.

​Tubuh prajurit klon itu seberat baja. Dengan kecepatan pantulan seperti itu, jika tubuh tersebut menghantam pelayan wanita yang rapuh itu, tubuh si pelayan akan hancur seketika. Tulang rusuknya akan remuk, organ dalamnya akan pecah. Dia akan mati di tempat.

​Pelayan wanita itu melihat bayangan prajurit yang melayang ke arahnya. Wajahnya pucat pasi. Dia menjerit histeris dan meringkuk semakin kecil, mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala dalam sebuah usaha yang sia-sia.

​Reiju ingin berteriak. Dia ingin melompat turun menggunakan Raid Suit miliknya untuk menghentikan benturan itu.

​Namun jaraknya terlalu jauh. Reaksinya terlambat satu detik. Dia hanya bisa menatap ngeri, bersiap melihat kematian seorang manusia tak bersalah yang tidak ada hubungannya dengan pertarungan ini.

​Rasa bersalah yang sudah lama dia kubur kini muncul ke permukaan. Kemanusiaannya berontak, tetapi tubuhnya tidak bisa melakukan apa pun.

​Lalu, sebuah pergerakan yang sangat cepat menipu pandangan mata Reiju.

​Kilatan merah dan hitam berkelebat melintasi geladak baja yang dipenuhi oleh tubuh-tubuh prajurit yang tumbang.

​Pemuda misterius itu bergerak.

​Pemuda itu tidak melompat ke arah pelayan wanita tersebut. Dia melesat dengan kecepatan penuh ke titik buta di antara posisi awalnya dan jalur terbang prajurit klon yang terpental itu.

​Pada saat yang bersamaan, pemuda itu mengangkat kaki kanannya.

​Brak.

​Sandal kayu pemuda itu menendang sisi samping tubuh prajurit klon yang sedang melayang di udara.

​Tendangan itu tidak menggunakan tenaga penuh. Itu hanyalah sebuah sentuhan keras yang dirancang murni untuk mengubah arah momentum.

​Tubuh prajurit klon itu seketika berbelok arah secara tajam. Alih-alih menghantam pilar logam tempat sang pelayan bersembunyi, tubuh prajurit itu meluncur deras ke arah kanan, menabrak tumpukan tong berisi pelumas mesin dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.

​Pilar logam itu tetap utuh. Pelayan wanita yang meringkuk di bawahnya masih hidup, tidak tersentuh sedikit pun oleh bahaya yang nyaris mengambil nyawanya.

​Reiju menahan napasnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, menabrak tulang rusuknya seolah ingin melompat keluar.

​Dia menatap pemuda berarmor merah yang kini berdiri dengan tenang tidak jauh dari tempat pelayan itu meringkuk. Pemuda itu menurunkan kakinya, lalu mengibaskan debu dari celana hitamnya dengan gerakan malas.

​Pemuda itu bahkan tidak menoleh ke arah pelayan wanita yang sedang menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan terima kasih yang tidak jelas. Dia hanya mendengus pelan, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke tengah geladak.

​Di dalam benak Uchiha Madara, tindakan barusan sama sekali tidak memiliki unsur heroik.

​Haki Pengamatannya mendeteksi bahwa prajurit klon yang terpental itu akan menabrak pilar logam yang cukup besar. Jika prajurit itu menabrak pilar, tubuh besinya akan memantul kembali ke area tengah geladak, dan berpotensi menghalangi jalur serangannya ke target berikutnya, atau menjadi batu sandungan yang tidak perlu.

​Demi menjaga efisiensi ruang geraknya, Madara memutuskan untuk menendang prajurit itu ke arah tumpukan tong kayu yang lebih lunak, agar tubuh prajurit itu tidak memantul kembali ke arahnya.

​Bahwa ada seorang pelayan wanita yang meringkuk di bawah pilar logam itu, hanyalah detail kecil yang tidak menjadi pertimbangan utama Madara. Dia tidak menolong wanita itu. Dia hanya membersihkan area pertarungannya dari rintangan yang mengganggu.

​Tetapi dari atas balkon yang tinggi, Vinsmoke Reiju tidak bisa mendengar pikiran logis tersebut.

​Apa yang dilihat oleh Reiju adalah sebuah tindakan perlindungan yang disengaja.

​Di mata Reiju, pemuda iblis yang baru saja membantai ratusan prajurit tanpa mengedipkan mata, tiba-tiba membelokkan serangannya dan mengubah posisi tubuhnya hanya demi melindungi nyawa seorang pelayan rendahan yang tidak memiliki nilai strategis apa pun.

​Pemuda itu menyembunyikan kebaikan hatinya di balik sikap yang kasar. Dia menyelamatkan pelayan itu tanpa meminta ucapan terima kasih, tanpa perlu melihat wajah orang yang dia selamatkan.

​Sebuah kontras kemanusiaan yang sangat luar biasa.

​Reiju meremas pagar logam balkon hingga buku-buku jarinya memutih. Udara dingin North Blue tidak lagi terasa di kulitnya.

​Di kerajaan Germa 66, nyawa seorang pelayan lebih murah daripada sekrup mesin. Ayahnya tidak akan pernah ragu untuk mengorbankan ratusan pelayan jika itu bisa memenangkan sebuah pertempuran. Adik-adiknya sering menjadikan para pelayan malang sebagai target latihan memanah atau bahan uji coba racun.

​Mereka yang kuat selalu menginjak mereka yang lemah. Itu adalah hukum mutlak yang diajarkan sejak dia lahir.

​Namun hari ini, dia melihat hukum itu dipatahkan oleh seseorang yang memiliki kekuatan jauh melampaui keluarganya.

​Seorang pemuda yang memiliki kekuatan dewa, namun masih memiliki ruang di hatinya untuk membelokkan arah tendangannya demi nyawa seorang manusia lemah yang tidak penting.

​'Dia bukan iblis,' bisik suara hati Reiju. Matanya mulai berkaca-kaca, sebuah reaksi yang sudah sangat lama tidak dia rasakan.

​'Dia adalah manusia. Manusia sejati yang menggunakan kekuatannya sendiri, dan memiliki jiwa yang menolak untuk mengorbankan yang lemah tanpa alasan.'

​Sebuah getaran aneh menjalari tulang belakang Reiju. Rasa kagum yang sedari tadi dia tahan kini meledak menjadi sebuah ketertarikan yang sangat dalam. Ketertarikan yang bercampur dengan rasa hormat yang belum pernah dia berikan kepada pria mana pun di dunia ini, termasuk ayahnya sendiri.

​Reiju merasa bahwa dinding es yang selama bertahun-tahun membeku di sekeliling hatinya mulai mencair perlahan.

​Dunia luar ternyata tidak sekejam yang diceritakan ayahnya. Masih ada anomali yang berjalan di atas lautan ini. Seseorang yang memegang kekuatan mutlak, namun tidak membuang kemanusiaannya demi kebanggaan palsu.

​Reiju terus menatap punggung pemuda itu.

​Pemuda itu kini berdiri diam di tengah geladak. Semua prajurit klon telah berhasil dilumpuhkan. Suara erangan logam dan percikan api dari kabel yang putus menjadi saksi bisu dari kekalahan telak pasukan kerajaan Germa 66.

​Pemuda itu menghela napas panjang, sebuah postur yang memancarkan rasa kebosanan yang mendalam. Seolah-olah membantai ratusan prajurit elit tidak lebih dari sekadar tugas membuang sampah yang merepotkan.

​Tiba-tiba, pemuda berarmor merah itu menggerakkan kepalanya.

​Dia memutar lehernya ke belakang, mendongakkan wajahnya secara perlahan. Gerakan itu sangat terukur dan dipenuhi oleh kewaspadaan seorang pemangsa puncak yang baru saja menyadari bahwa dia sedang diamati.

​Mata hitam pemuda itu menembus tipisnya kabut laut.

​Warna hitam pekat di matanya kembali luntur, digantikan oleh warna merah darah yang menyala terang. Tiga tanda koma hitam berputar pelan di sekitar pupil matanya. Mata Sharingan yang menyimpan keangkuhan tak berbatas.

​Arah pandangan pemuda itu terkunci lurus ke atas.

​Langsung menuju balkon tempat Reiju berdiri.

​Napas Reiju terhenti di tenggorokannya.

​Jarak mereka berdua terpaut puluhan meter. Ditambah lagi dengan kabut yang membatasi penglihatan. Tetapi tatapan mata merah itu terasa begitu dekat, seolah-olah pemuda itu berdiri tepat di depannya dan menatap langsung ke kedalaman jiwanya.

​Reiju merasa seluruh rahasianya terbongkar. Topeng dingin yang selama ini dia kenakan terasa retak dan hancur di bawah tekanan tatapan tersebut. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagum, rasa sedih, dan sisa-sisa kemanusiaannya dari mata yang bisa membaca segalanya.

​Ini adalah tatapan dari seorang penguasa mutlak.

​Sebuah teror yang membekukan darah, namun sekaligus menawarkan sebuah janji perlindungan yang tidak bisa dihancurkan.

​Jantung Reiju berdesir sangat kuat. Rasa takut dan ketertarikan melebur menjadi satu emosi baru yang membuat kakinya terasa lemas. Dia tidak mundur dari pagar balkon. Dia tidak mengalihkan pandangannya. Dia membalas tatapan mata merah itu dengan kedua mata birunya yang tidak berkedip.

​'Siapa... pria ini?' batin Reiju dengan suara jiwa yang bergetar.

​Pertanyaan itu bergema di kepalanya. Dia tidak tahu nama pemuda ini. Dia tidak tahu dari belahan laut mana pemuda ini berasal.

​Tetapi Reiju menyadari satu hal dengan sangat jelas.

​Kerajaan Germa 66 yang selama ini terasa seperti penjara abadi yang tidak bisa dia tinggalkan, kini terlihat sangat rapuh. Sangkal besi yang mengurung kebebasannya telah ditemukan kuncinya.

​Pemuda berarmor merah yang berdiri di bawah sana bukanlah ancaman bagi dunia. Pemuda itu adalah sebuah jalan keluar. Sebuah harapan yang turun dari langit dalam wujud dewa perang yang bosan.

​Mata merah itu masih menatapnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya pemuda itu memutuskan kontak mata. Pemuda itu kembali memutar wajahnya ke arah depan, tidak lagi peduli pada eksistensi Reiju di atas balkon.

​Bagi Madara, gadis berambut merah muda itu hanyalah penonton yang tidak perlu dia hiraukan. Haki Pengamatannya memastikan bahwa gadis itu tidak memancarkan niat membunuh, melainkan sebuah kekaguman emosional yang berdenyut kuat. Karena tidak ada ancaman, Madara memilih untuk mengabaikannya.

​Tetapi bagi Vinsmoke Reiju, kontak mata singkat itu telah mengubah seluruh orientasi hidupnya.

​Suara derap langkah sepatu besi terdengar kasar dari arah lorong di belakang balkon. Pintu baja di belakang Reiju terbuka dengan kasar.

​Beberapa orang komandan prajurit klon berlari keluar, diikuti oleh hawa marah yang sangat luar biasa pekat.

​Reiju memulihkan ekspresi wajahnya dalam hitungan sepersepuluh detik. Matanya kembali menyorot dingin, dan bibirnya terkatup rapat. Putri Racun telah kembali memasang topeng kesempurnaannya.

​Dia melirik ke arah lorong. Ayahnya, Vinsmoke Judge, sedang melangkah menuju area pertarungan dengan wajah merah padam karena amarah. Ayahnya mengenakan perlengkapan tempur penuh, bersiap untuk menghukum tikus tanah yang berani menginjak-injak harga diri kerajaannya.

​Reiju kembali menatap ke arah geladak di bawah sana.

​Dia tahu pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai. Ayahnya bukanlah prajurit klon yang lambat. Ayahnya adalah raja yang menguasai teknologi pertarungan tingkat tinggi.

​Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Reiju tidak merasa khawatir pada keselamatan ayahnya.

​Dia justru merasa penasaran. Dia ingin melihat lebih banyak tarian dari pemuda misterius itu. Dia ingin melihat bagaimana ilmu pengetahuan mutlak milik ayahnya akan dipatahkan oleh kekuatan jiwa yang murni.

​Angin utara kembali bertiup kencang, membawa serta janji kehancuran dan awal dari sebuah takdir baru yang menyimpang di atas perairan berkabut North Blue.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!