"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Lubang yang Disembunyikan
Pagi di Desa Batu Giok tidak membawa ketenangan.
Rumah Ratih penuh orang yang datang membawa wajah prihatin dan mata ingin tahu. Ratih mengurung diri di kamar. Wisnu keluar sebelum matahari tinggi, katanya hendak ke kota untuk mengurus surat dan menemui pengacara keluarga. Ia pergi terlalu cepat untuk seorang ayah tiri yang baru semalam menemukan jasad anaknya.
Marlina tinggal di rumah.
Itu cukup bagi Raka.
"Kamar mandi bawah," katanya pelan kepada Kribo di halaman depan.
Kribo mengucek mata. "Akhirnya kita sampai pada bagian menyusup ke kamar mandi orang. Karier detektif kita makin elegan."
"Alihkan Marlina."
"Dengan apa? Pesona?"
"Sakit perut."
Kribo menatapnya kosong. "Lo sadar ini menghina martabat gue?"
"Kamu punya martabat?"
Tiga menit kemudian, Kribo sudah berjongkok di dekat pot tanaman depan rumah sambil memegang perut.
"Bu Marlina... maaf, Bu... mungkin makanan semalam... aduh..."
Marlina keluar dengan wajah kesal. "Anak muda sekarang lemah sekali. Tunggu, saya ambil minyak kayu putih. Jangan muntah di teras."
Saat perempuan itu masuk ke ruang depan, Raka bergerak lewat sisi dapur. Pintu kamar mandi bawah tidak terkunci. Bau kaporit langsung menyerang hidungnya begitu ia membukanya.
Terlalu bersih.
Itu pikiran pertama Raka.
Lantainya masih lembap, meski pagi sudah cukup terang. Di sudut dekat saluran air, ada noda samar yang warnanya tidak sejalan dengan keramik tua di sekitarnya. Ember plastik biru tergantung miring, bagian dalamnya basah. Sikat lantai masih menempel busa tipis.
Panel sistem muncul.
【Jejak pembersihan TKP terdeteksi.】
【Probabilitas: area ini digunakan untuk menyembunyikan atau memproses bukti.】
Raka mengeluarkan tisu, mengambil sampel dari sudut lantai, lalu memasukkannya ke plastik kecil. Cara amatir. Tapi lebih baik daripada membiarkan Marlina menghapus semuanya.
Di bawah ember, ia menemukan serat kain sangat kecil menempel pada sisa busa. Warnanya merah muda pucat. Serat itu belum mengunci pelaku. Nilainya cukup untuk menghubungkan kamar mandi bawah dengan baju terakhir Dewi.
Ia memotretnya dari tiga sudut, lalu mengirim ke Kribo tanpa mengetik apa pun.
Ponselnya bergetar.
Pesan Kribo: CEPAT. AKTING SAKIT PERUT GUE TERLALU MEYAKINKAN. BU MARLINA MAU PANGGIL TUKANG PIJAT.
Raka hampir tertawa, tapi bau kaporit menahan wajahnya tetap kaku. Ia memotret lantai, ember, sikat, dan saluran air, lalu keluar tanpa suara.
Di halaman depan, Kribo masih memegang perut.
"Sudah agak mending, Bu," katanya lemah. "Mungkin cuma masuk angin spiritual."
Marlina menyipitkan mata. "Kalian ini sebenarnya mau bantu atau bikin repot?"
Raka muncul dari sisi rumah dengan wajah datar. "Maaf, Bu. Kami akan ke pos sebentar. Ada data yang harus diserahkan."
Marlina menatapnya curiga, tapi tidak bisa membuktikan apa pun.
Sore harinya, Raka mengikuti jalur kecil menuju hutan bambu. Ia tidak membawa Kribo terlalu dekat. Jono mudah takut. Dua orang asing akan membuatnya lari sebelum bicara.
Pemuda itu ditemukan di tepi sungai kecil, menumpuk batu menjadi menara rendah. Tangannya besar, tapi gerakannya hati-hati. Di sampingnya ada beberapa bungkus jelly kosong yang sudah kusut.
Raka berhenti beberapa meter darinya. "Jono. Aku Raka. Aku tidak marah."
Jono menoleh, lalu memeluk lutut. "Jono tidak nakal."
"Aku tahu. Kamu cuma bantu orang, ya?"
Mata Jono bergerak pelan. Kalimat itu masuk lebih mudah daripada pertanyaan langsung.
"Jono bantu Om Wisnu. Om Wisnu baik. Kasih jelly. Banyak."
Dada Raka menegang. "Jelly untuk siapa?"
Jono mengambil batu kecil, meletakkannya di atas tumpukan, lalu berbisik, "Untuk Jono. Untuk Dewi juga. Om Wisnu bilang Dewi senang. Jono kasih Dewi. Dewi batuk-batuk. Dewi merah. Dewi diam."
Raka memaksa napasnya tetap rata.
"Setelah Dewi diam, Om Wisnu datang?"
Jono mengangguk cepat. "Om Wisnu marah. Bilang Jono pulang. Bilang jangan cerita. Dewi tidur. Dewi tidur."
Ini pembunuhan yang menyeret keputusan buruk banyak orang dewasa.
Wisnu memakai Jono sebagai tangan yang tidak mengerti dosa. Menaruh jelly di tangan orang yang mudah disuruh, lalu menjadikan kepolosan itu tameng.
Raka merasakan amarahnya berubah dingin.
"Jono," katanya pelan, "kamu tidak tahu itu berbahaya, kan?"
Jono mulai menangis tanpa suara. "Jono tidak nakal. Dewi kecil. Jono suka Dewi. Dewi ketawa kalau Jono tepuk tangan."
Raka ingin mengatakan sesSatu, tapi langkah cepat terdengar dari belakang.
"Hei! Jauhi adik saya!"
Seorang gadis remaja muncul dari jalur bambu. Tubuhnya kurus, wajahnya keras karena terlalu cepat belajar curiga pada dunia. Ia langsung berdiri di depan Jono seperti pagar hidup.
"Kak Lina?" Jono meraih bajunya.
Lina memegang bahu adiknya. Matanya menusuk Raka. "Kamu orang yang semalam bikin rumah Ratih ramai, kan? Jangan ganggu Jono. Dia tidak tahu apa-apa. Kalau polisi mau cari pelaku, cari orang dewasa. Jangan anak seperti dia."
Nada Lina keras, tapi tangannya gemetar saat menahan Jono di belakang tubuhnya. Ini bukan kemarahan anak remaja biasa. Ini sikap orang yang sudah terlalu sering melihat orang kuat menyalahkan yang lemah.
"Aku tidak menyalahkan Jono," kata Raka. "Aku justru ingin memastikan dia tidak dijadikan kambing hitam."
Lina tidak langsung percaya. "Semua orang bilang begitu sebelum menyeret orang lemah."
Kalimat itu membuat Raka terdiam sesaat.
Ia melihat bekas memar samar di pergelangan Lina. Lama, hampir pudar, tapi ada. Gadis ini tidak hanya melindungi Jono dari kasus Dewi. Ia terbiasa melindungi adiknya dari sesSatu yang lain.
"Kalau kamu tahu sesSatu," kata Raka, "aku bisa membantu."
"Bantu?" Lina tertawa pendek. "Orang seperti kami biasanya cuma dibantu setelah semuanya terlambat."
Ia menarik Jono pergi. Pemuda itu menoleh ke Raka, matanya basah dan bingung.
Raka tidak mengejar. Mengejar hanya akan membuat Lina semakin yakin bahwa ia musuh.
Namun sebelum masuk ke jalur bambu, Lina berhenti. Tanpa menoleh penuh, ia berkata sangat pelan, cukup untuk Raka dengar.
"Jangan tanya Jono. Tanya bonekanya."
Raka mengangkat kepala.
"Boneka Teddy Dewi?"
Lina tidak menjawab. Ia hanya membawa Jono pergi lebih cepat.
Di balik pepohonan, suara sungai kecil terus mengalir, seolah tidak ada yang baru saja membuka pintu lain dalam kasus ini.
Raka berdiri sendirian, mengingat boneka kotor yang ia temukan di semak dekat lubang septik. Boneka pemberian Bagus. Boneka yang belum bereaksi pada sistem. Boneka yang entah bagaimana diketahui Lina.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Kribo masuk.
FOTO SERAT PINK MASUK. INI MULAI NYAMBUNG.
Pesan kedua menyusul sebelum Raka sempat membalas.
BRO. BONEKA YANG KITA SIMPAN DI PLASTIK... HILANG DARI MEJA POS.
Raka menatap pesan itu.
Marlina.
Atau Wisnu.
Atau seseorang yang tahu apa yang ada di dalam boneka itu.
Ia berbalik menuju desa dengan langkah cepat.
Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, Raka tidak lagi mengejar bukti sendirian.
Bukti itu juga sedang diburu orang lain.