Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Malam yang Menghangat
Hujan turun setelah tengah malam, menghantam genting seperti ribuan kerikil.
Laras terbangun ketika air dingin menetes ke dahinya.
Satu tetes berubah menjadi tiga. Dalam beberapa detik, noda gelap melebar di langit-langit tepat di atas sisi kasurnya.
“Mas.”
Arya langsung bangun. Tidak ada sisa kantuk di wajahnya. Ia memindahkan Laras ke sudut kering, menarik kasur menjauh dari bocoran, lalu menaruh ember di lantai.
Tetesan lain muncul dekat dinding.
“Atapnya bergeser karena angin,” katanya.
Ia mengenakan jas hujan dan mengambil senter.
Laras menahan lengannya. “Mas mau naik sekarang?”
“Kalau dibiarkan, kasurnya basah semua.”
“Gelap dan licin.”
“Saya pakai tali.”
Arya membangunkan Guntur agar memegang tangga dari bawah. Rukmini dan Sekar ikut bangun, memindahkan pakaian serta dokumen ke ruang tengah. Kotak peninggalan Maharani tetap kering di dalam tas tahan air.
Laras berdiri di bawah teras, memegang senter kedua. Hujan menyapu halaman. Cahaya hanya memperlihatkan punggung Arya yang bergerak di atas genting dan air mengalir dari ujung jas hujannya.
“Sebelah kiri, Mas!” serunya ketika melihat genting yang terangkat.
Arya merangkak mendekat, memasang lembar terpal, lalu mengikatnya pada rangka kayu. Tangan Guntur tidak pernah lepas dari tangga.
Setelah hampir setengah jam, tetesan di kamar melambat.
Arya turun dengan pakaian basah sampai ke kulit. Lumpur menempel di telapak kaki dan lengannya tergores tipis oleh tepi genting.
“Mas terluka.”
“Hanya goresan.”
“Duduk.”
Arya menatapnya, mungkin terkejut mendengar perintah dengan nada yang biasa ia gunakan. Laras menarik kursi ke dekat tungku, mengambil handuk, lalu menyuruhnya melepaskan jaket basah.
Rukmini membuat teh jahe untuk semua orang. Setelah memastikan kebocoran tertahan, ia membawa Sekar kembali tidur. Guntur mengganti pakaian dan berpesan agar Arya tidak naik lagi sebelum terang.
Tinggal Laras dan Arya di dapur kecil.
Laras mengeringkan rambut suaminya dengan handuk. Ujung rambut hitam itu menetes ke leher. Arya duduk diam, kedua tangannya bertumpu pada lutut, membiarkan Laras merawatnya.
“Biasanya Mas menyuruhku duduk,” kata Laras.
“Sekarang kamu juga harus duduk.”
“Setelah lukanya dibersihkan.”
Ia mengoleskan antiseptik pada goresan di lengan Arya. Lelaki itu tidak mengernyit, tetapi ototnya menegang saat kapas menyentuh kulit.
“Sakit?”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Tidak seberapa dibandingkan melihatmu berdiri di bawah hujan.”
Laras baru sadar ujung bajunya ikut basah. Arya mengambil selimut tipis dan menyampirkannya ke bahunya.
“Aku hanya memegang senter.”
“Kamu bisa terpeleset.”
“Mas bisa jatuh dari atap.”
Tatapan mereka bertemu. Kekhawatiran yang sama membuat keduanya terdiam.
Mereka kembali ke kamar setelah angin mereda. Sebagian kasur lembap, sehingga hanya tersisa ruang sempit di sisi dinding. Arya menggelar selimut tebal di bagian kering dan hendak tidur di lantai.
“Lantainya dingin,” kata Laras.
“Ruangnya tidak cukup.”
“Cukup kalau kita tidak saling menjauh.”
Arya menatap kasur, lalu Laras. Setelah ragu beberapa detik, ia berbaring di tepi luar. Bahu mereka bersentuhan.
Suara hujan menjadi lebih lembut. Ember masih menerima tetesan dengan irama teratur.
“Di Menteng, aku tidak pernah tahu suara atap bocor,” ujar Laras.
“Kamu akan mengeluh kalau tahu.”
“Mungkin Laras yang dulu akan mengeluh.”
Arya tidak langsung menjawab. “Dan Laras yang sekarang?”
“Takut atapnya menimpa Mas.”
Napas Arya tersangkut halus.
Laras menatap bayangan terpal yang bergerak di langit-langit. “Mas merindukan Jakarta?”
“Saya merindukan Bapak masuk ruang kerja dengan seragam. Mama memarahi Sekar karena terlambat. Rumah yang tidak penuh kardus.”
“Kesatuan?”
“Setiap hari.”
Untuk pertama kalinya, Arya mengaku tanpa menutupinya dengan kalimat praktis. Laras meraih tangannya di atas selimut.
“Kita akan kembali.”
“Kamu selalu yakin.”
“Karena Bapak tidak bersalah.”
“Keyakinan tidak selalu cukup.”
“Kalau begitu kita tambah dengan bukti, kesabaran, dan orang yang tidak meninggalkan beliau.”
Arya membalik telapak tangannya, menyatukan jari mereka.
“Dulu saya pikir setelah semua ini selesai, yang tersisa hanya kewajiban membesarkan anak.”
Laras menahan napas. “Sekarang?”
“Sekarang saya mulai membayangkan kita kembali bersama.”
Jari Arya mengerat.
“Kalau semua ini lewat,” lanjutnya, “saya ingin kita mulai dari awal. Bukan berpura-pura lupa, tapi membangun sesuatu yang tidak bergantung pada pangkat Bapak atau rumah Menteng.”
Tidak ada pengakuan cinta. Namun bagi lelaki yang beberapa minggu lalu menaruh berkas cerai di meja, kalimat itu lebih berat daripada janji manis.
“Aku mau,” jawab Laras.
Gerakan kuat muncul dari dalam perutnya.
Arya langsung menoleh. Laras membawa tangannya ke tempat tendangan itu. Bayi bergerak lagi di bawah telapak tangannya.
Wajah Arya melunak sepenuhnya.
“Nak,” bisiknya, pertama kali berbicara langsung sejak malam mereka tiba di desa. “Jangan membuat Mama terlalu lelah.”
Laras tersenyum. “Dia mungkin protes karena Bapaknya naik atap malam-malam.”
“Bapaknya memperbaiki tempat tidurnya.”
Arya mengusap perut itu dengan ibu jarinya, sangat hati-hati, seolah bayi mereka dapat pecah oleh sentuhan yang terlalu kuat.
“Kalau anak kita perempuan?” tanya Laras.
“Saya akan mengajarinya berani.”
“Kalau laki-laki?”
“Saya akan mengajarinya menghormati ibunya.”
“Cuma itu?”
Arya berpikir cukup lama. “Dan keduanya harus tahu cara menambal atap. Supaya tidak membuat orang rumah menunggu dalam cemas.”
Tawa Laras pecah pelan. Bayi itu menendang lagi, tepat mengenai telapak Arya, seolah ikut menyetujui rencana tersebut.
“Dia sudah mendengar,” kata Laras.
“Bagus. Berarti pelajaran pertama selesai.”
Di luar, air masih menetes dari talang yang retak. Di dalam, untuk pertama kalinya mereka berbicara tentang anak itu bukan sebagai tanggung jawab yang harus diselamatkan, melainkan seseorang yang benar-benar akan tumbuh di tengah keluarga mereka.
“Berarti sudah mengakui dia anak Mas?”
Tatapan Arya beralih kepadanya. Ada luka lama di sana, sisa pagi ketika ia mengira akan kehilangan bayi ini selamanya.
“Saya tidak pernah berhenti mengakuinya,” katanya pelan. “Saya hanya sempat percaya tidak punya hak mempertahankannya.”
Kalimat itu menghapus satu kesalahpahaman terakhir dari hati Laras. Arya tidak pernah menolak anak mereka. Ia hanya terluka oleh keputusan Larasati yang lama dan mengira tidak memiliki hak untuk mencegahnya.
Laras menggeser tubuh mendekat dan menyandarkan kepala pada bahunya.
Arya kaku sesaat, lalu melingkarkan lengan di sekelilingnya. Tangannya tetap berada di atas perut Laras.
“Tidur,” bisiknya.
“Kalau bocor lagi?”
“Saya bangun.”
“Kalau Mas sakit?”
“Kamu buatkan teh jahe.”
Laras tertawa kecil dan menutup mata.
Hujan berhenti menjelang fajar. Udara di kamar masih dingin, kasur belum seluruhnya kering, dan ember penuh hampir sampai tepi.
Namun di ruang sempit yang tersisa, Laras tertidur dalam pelukan suaminya tanpa memikirkan naskah, masa depan, atau cara memenangkan siapa pun.
Untuk satu malam, mereka bukan dua orang yang sedang memperbaiki pernikahan rusak.
Mereka hanya seorang ayah, seorang ibu, dan bayi yang bergerak hangat di antara keduanya.