NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Harga Sebuah Pelarian

Di luar, hujan badai seperti sedang mengamuk, menghantam kaca jendela kamar Arunika dengan ritme yang berisik dan konstan. Namun, bagi gadis berusia dua puluh dua tahun itu, suara badai di luar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gemuruh keputusasaan yang sedang mencabik-cabik dadanya.

Di sudut kamar yang remang-remang, Arunika duduk meringkuk di atas lantai ubin yang dingin. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, sementara jemarinya yang gemetar saling bertautan. Di ruang tamu rumah mereka yang mulai bobrok, suara pecahan barang pecah belah kembali terdengar. Disusul oleh makian kasar dan suara benturan fisik yang membuat jantung Arunika mencelos.

Ayahnya, Baskoro, kembali kalah judi. Dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar sertifikat tanah rumah tua ini atau mobil bekas yang mesinnya sudah sering mogok. Kali ini, taruhannya adalah nyawa mereka.

"Di mana anak sulungmu, Baskoro?!" Sebuah suara berat, parau, dan penuh intimidasi menggelegar dari arah ruang tamu. "Dua pukul miliar bukan uang receh yang bisa kau bayar dengan air mata! Kalau malam ini tidak lunas, kepala kau dan seluruh isi rumah ini yang akan dijadikan jaminan!"

Arunika memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang pucat. Dua puluh miliar. Angka itu terlalu abstrak untuk dipikirkan oleh isi kepalanya yang sekarang sudah buntu. Bagaimana mungkin seorang pria paruh baya yang sehari-harinya hanya meratapi nasib bisa terjerumus dalam utang sebesar itu kepada jaringan lintah darat paling mematikan di kota ini?

Harapan satu-satunya keluarga mereka sebenarnya ada pada Valeria, kakak perempuan Arunika. Valeria yang cantik, yang selalu tahu cara memikat pria, awalnya sudah setuju untuk menerima perjodohan bisnis yang diatur oleh ayah mereka. Pernikahan itu kabarnya adalah satu-satunya jalan keluar untuk menghapus seluruh utang Baskoro. Namun, tiga jam yang lalu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Arunika, menghancurkan sisa-sisa harapan yang mereka miliki.

*'Aku gak mau jadi tumbal, Aruni. Aku gak mau nikah sama monster. Aku pergi. Maafkan aku, tolong jaga Ayah.'*

Valeria kabur. Kakak yang selalu dia elu-elukan itu memilih menyelamatkan dirinya sendiri dan meninggalkan bom waktu yang siap meledak kapan saja di rumah ini.

*Brak!*

Pintu kamar Arunika tiba-tiba terbuka dengan kasar hingga menghantam dinding. Gadis itu terlonjak, nyaris berteriak karena terkejut. Di ambang pintu, berdirilah Baskoro. Wajah pria itu sangat kacau. Rambutnya yang mulai memutih berantakan, sudut bibirnya berdarah, dan matanya merah menyala oleh perpaduan antara rasa takut yang amat sangat dan keputusasaan yang mendalam.

Tanpa memedulikan harga dirinya sebagai seorang ayah, Baskoro langsung melangkah lebar, menjatuhkan dirinya di depan Arunika yang masih terduduk di lantai. Pria itu mencengkeram kedua bahu Arunika dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga terasa sakit.

"Aruni... tolong Ayah, Nak..." ratih Baskoro. Suaranya bergetar hebat, napasnya memburu berbau alkohol dan keringat dingin. "Kakakmu... Valeria... dia bajingan! Dia kabur! Dia meninggalkan kita untuk mati!"

"Ayah, pelankan suaramu..." bisik Arunika ketakutan, melirik ke arah pintu yang terbuka lebar.

"Hanya kamu, Aruni. Hanya kamu satu-satunya harapan Ayah sekarang," potong Baskoro, matanya menatap Arunika dengan pandangan memohon yang justru terasa mengerikan bagi gadis itu. "Gantikan kakakmu. Menikahlah dengan pria itu. Menikahlah dengan Tuan Valentino."

Dunia Arunika seolah berhenti berputar. Lidahnya mendadak kelu, dan tenggorokannya terasa tercekat. "Maksud... maksud Ayah apa? Menikah? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya, Ayah! Kenapa aku harus menanggung kesalahan Kak Valeria?!"

"Karena kalau kamu menolak, kita semua akan mati malam ini!" bentak Baskoro, frustrasinya pecah menjadi amarah yang tak terkendali sebelum kembali melunak menjadi tangisan. "Tuan Valentino adalah orang yang memegang kendali atas utang-utang Ayah. Dia setuju menghapus semua utang itu asal dia mendapatkan seorang pengantin dari keluarga kita. Dia tidak peduli siapa, Aruni. Dia hanya butuh seorang wanita untuk memenuhi perjanjian itu. Tolong Ayah, Nak... Ayah belum mau mati..."

Arunika menatap ayahnya dengan pandangan kosong. Rasa iba, kecewa, marah, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Di usia dua puluh dua tahun, di saat teman-teman sebayanya sedang sibuk mengejar karier atau menikmati masa muda, dia justru dipaksa berdiri di tepi jurang, siap dilemparkan sebagai tumbal.

Sebelum Arunika sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, terdengar langkah kaki yang berat dan teratur mendekati kamar. Langkah kaki itu tidak terburu-buru, namun setiap ketukan sepatunya di atas lantai seolah membawa aura kematian yang pekat.

Baskoro seketika melepaskan cengkeramannya pada bahu Arunika dan merangkak mundur, gemetar ketakutan di sudut ruangan.

Sosok itu akhirnya muncul di ambang pintu.

Pria itu tinggi tegap, mengenakan setelan jas hitam yang dipotong dengan sangat rapi dan pas di tubuhnya yang atletis. Rambutnya hitam legam disisir ke belakang, menampilkan garis rahang yang tegas dan sepasang mata elang yang luar biasa dingin. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya yang tampan namun pucat, seolah dia adalah patung marmer yang bernyawa. Di belakangnya, berdiri tiga orang pria berbadan besar dengan setelan serupa, tangan mereka bersedekap di depan dada dengan pandangan mata yang terus waspada.

Pria di depan itu melangkah masuk ke dalam kamar yang sempit. Kehadirannya seketika membuat kamar itu terasa semakin sesak dan kekurangan oksigen. Dia mengabaikan Baskoro yang menyedihkan di lantai, dan langsung mengarahkan pandangan matanya yang tajam tepat ke arah Arunika.

Tatapan itu begitu intens, menilai, dan dingin, membuat Arunika merasa seperti seekor domba yang sedang diperiksa oleh serigala lapar sebelum dikuliti.

Pria itu perlahan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pemantik api perak, lalu memainkannya hingga memicu percikan api kecil yang menerangi wajahnya yang tanpa emosi.

"Jadi," suara pria itu terdengar begitu berat, tenang, namun memiliki daya tekan yang luar biasa kuat hingga membuat bulu kuduk Arunika meremang, "ini pengantin penggantinya?"

Arunika hanya bisa terpaku, tidak mampu mengangguk ataupun menggeleng. Napasnya tertahan di tenggorokan saat pria itu melangkah satu tapak lebih dekat ke arahnya, membuat bayangan tubuhnya yang besar mengubur Arunika dalam kegelapan.

Pria itu kemudian mematikan pemantik apinya, membuat ruangan kembali remang-remang. Dia menunduk sedikit, menatap Arunika yang masih gemetar di lantai, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. Sebuah senyuman yang lebih mirip dengan seringai malaikat maut.

"Ikut aku sekarang," ucap pria itu lagi, nadanya mutlak tanpa menerima bantahan. "Atau aku akan memastikan tempat ini menjadi kuburan kalian berdua sebelum fajar menyingsing."

Arunika tahu, detik itu juga, kehidupan lamanya telah berakhir. Dia tidak lagi memiliki pilihan, tidak lagi memiliki hak atas dirinya sendiri. Dengan sisa keberanian yang dia miliki, dia mencoba berdiri, meski kedua kakinya terasa lemas seperti jeli. Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata dingin pria itu, bersiap melangkah masuk ke dalam neraka yang baru.

Namun, tepat ketika Arunika mengambil langkah pertamanya mendekati pria itu, salah seorang anak buah di belakang tiba-tiba mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga tuannya. Detik itu juga, rahang tegas pria berjas hitam itu mengeras, dan kilatan amarah yang begitu pekat mendadak melintas di matanya yang semula tenang. Pria itu berbalik dengan cepat, mengarahkan pandangan mematikannya kembali pada Arunika, lalu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan sangat kasar hingga Arunika memekik kesakitan.

"Kau..." desis pria itu, suaranya kini bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kau pikir kau bisa membodohiku, jalang kecil?"

Bersambung Bab 2 ......................

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!