Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Mencoba Bermain Saham
Suasana di dalam ruang tamu rumah Dika masih diliputi euforia yang luar biasa. Angka profit berwarna hijau menyala di layar ponsel Dika seolah menjadi bukti nyata bahwa analisis yang diberikan Bumi beberapa jam lalu bukan sekadar keberuntungan belaka. Dika masih bolak-balik melihat layar ponselnya dengan senyuman yang merekah sampai ke telinga, seolah takut angka puluhan juta rupiah itu tiba-tiba menghilang.
Dika tiba-tiba berdiri dari sofa, berjalan cepat ke arah kamarnya, lalu kembali dengan sebuah amplop cokelat tebal di tangannya. Ia langsung menyodorkan amplop itu tepat ke depan wajah Bumi.
"Nih, Mas Bumi. Ini uang terima kasih dari gua. Tolong banget wajib lu terima, gak ada penolakan!" seru Dika dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.
Bumi melirik amplop yang tampak tebal itu, lalu buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara. "Waduh, Mas Dika. Jangan kayak gini dong. Ini tebel banget keliatannya. Saya kan udah bilang dari kemarin, uang saku bimbingan yang kemarin aja udah lebih dari cukup buat saya. Ini murni saya cuma bantu analisis grafik doang, gak usah dikasih bonus gede begini."
Dika langsung meraih tangan Bumi dan menaruh amplop itu secara paksa ke atas telapak tangan Bumi, lalu menggenggamnya erat-erat. "Enggak, Mas Bumi! Kali ini lu gak boleh nolak. Lu tahu gak, kalau gua cut loss kemarin, gua bakal rugi gede banget. Tapi gara-gara saran lu yang ajaib itu, gua malah dapet profit berlipat-lipat. Uang di dalam amplop ini gak seberapa dibandingin sama keuntungan yang lu datengin buat gua hari ini. Anggap aja ini bagi hasil komisi analisis yang sah. Kalau lu nolak, gua malah ngerasa bersalah seumur hidup tahu!"
Alya yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua ikut menyenggol lengan Bumi sambil tersenyum geli. "Udah, Mas Bumi, terima aja. Si Dika ini emang anak orang kaya, tapi kalau soal duit saham dia biasanya pelit banget. Kalau sampai dia rela ngasih amplop tebel begini, artinya dia bener-bener ngerasa terbantu banget sama kamu. Daripada dia makin maksa-maksa terus nanti malah gak enak, mending kamu kantongin aja."
Bumi menatap Alya, lalu menatap Dika yang masih memasang wajah memohon dengan sangat serius. Akhirnya, Bumi mengembuskan napas pasrah seraya memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tas flanelnya. "Ya sudah... kalau Mas Dika beneran maksa sampai kayak begini, saya terima ya. Terima kasih banyak, Mas Dika. Semoga berkah dan sahamnya makin hijau terus."
"Nah, gitu dong! Mantap! Nanti kalau gua mau masuk emiten baru lagi, lu wajib kasih wejangan lagi ya, Mas!" sahut Dika tertawa lepas sambil menepuk pundak Bumi.
Sore itu juga, setelah berpamitan dari rumah Dika, Bumi dan Alya berjalan beriringan keluar dari kompleks perumahan menuju ke arah jalan raya dekat ujung pasar induk. Bumi menggenggam tasnya dengan erat, otaknya yang super tajam langsung menyusun rencana finansial baru.
"Mbak Alya, mumpung sekarang kita lagi di luar dan saya megang uang pemberian Mas Dika tadi, saya boleh minta tolong nemenin saya gak?" tanya Bumi santai sambil melirik Alya yang berjalan di sampingnya.
Alya menoleh, membetulkan posisi tas ransel kuliahnya. "Minta tolong nemenin ke mana, Mas? Mau beli makan malam buat Ibu di warung?"
Bumi menggelengkan kepala. "Bukan, Mbak. Saya rencananya mau beli handphone baru. Yang android gitu, yang bisa dipasang aplikasi. Soalnya selama ini saya kan cuma pakai hp senter jadul yang cuma bisa buat sms sama telepon doang. Saya butuh hp baru itu buat modal awal main saham secara mandiri. Biar saya bisa trading pake akun saya sendiri, gak perlu numpang lihat grafik di laptopnya Mas Dika lagi."
Mata Alya langsung berbinar mendengar penuturan Bumi. "Wah, beneran, Mas? Ide bagus itu! Memang sekarang udah zamannya serba digital, apalagi otak kamu pinter banget analisis saham. Sayang banget kalau gak dimanfaatin secara mandiri. Kebetulan di seberang jalan depan pasar itu ada konter hp besar yang lengkap dan terpercaya. Yuk, saya temenin sekalian kita cari yang speknya bagus buat aplikasi trading!"
"Siap, Mbak Alya. Terima kasih ya, soalnya kalau urusan milih hp android begini, saya bener-bener buta total," ucap Bumi jujur.
Mereka berdua akhirnya menyeberang jalan dan masuk ke dalam konter handphone yang cukup megah dengan deretan etalase kaca yang berkilauan. Alya dengan sangat sigap langsung mengambil alih tugas memilih. Ia bertanya kepada pelayan toko tentang spesifikasi ram, kapasitas baterai, dan kecepatan prosesor yang cocok untuk membuka aplikasi grafik saham tanpa lemot. Bumi hanya berdiri di sampingnya, mendengarkan penjelasan Alya dengan takjub.
Setelah memilih selama kurang lebih tiga puluh menit, pilihan akhirnya jatuh pada sebuah ponsel android berwarna hitam legam dengan layar yang cukup luas dan jernih. Bumi langsung membayar tunai menggunakan sebagian uang dari amplop cokelat pemberian Dika. Sisa uang di dalam amplop itu masih sangat banyak, dan Bumi berniat memasukkan seluruh sisa uang tersebut ke dalam rekening bank yang baru dibukanya untuk dijadikan modal awal trading saham mandiri.
Setelah selesai bertransaksi, mereka tidak langsung pulang, melainkan duduk di sebuah bangku taman umum yang terletak di depan area konter. Alya dengan telaten membuka kotak kardus hp baru Bumi, memasang kartu SIM, dan menyalakan perangkat tersebut.
"Nah, Mas Bumi, hp-nya udah nyala nih," kata Alya sambil menunjukkan layar beranda ponsel yang masih bersih. "Sekarang saya ajarin cara pakainya dari dasar ya. Sini, kamu perhatiin cara geser layarnya, cara buka menu, sama cara download aplikasi di Play Store."
Bumi menggeser duduknya menjadi sedikit lebih dekat dengan Alya agar bisa melihat layar ponsel dengan jelas. "Oh, tinggal digeser pake jari gini doang ya, Mbak? Terus kalau mau cari aplikasi saham yang dipake Mas Dika gimana?"
"Nah, kamu ketik di kolom pencarian yang ini, Mas. Tulis nama aplikasinya," jawab Alya, jarinya dengan lembut menuntun jari Bumi di atas layar sentuh. "Nanti setelah di-download, kamu tinggal masukin data diri buat bikin akun RDN atau Rekening Dana Nasabah. Kalau akunnya udah aktif, sisa uang dari Dika tadi tinggal kamu transfer ke akun ini, baru deh kamu bisa mulai beli saham secara mandiri dari kamar kosan kamu."
Bumi mendengarkan setiap instruksi dari Alya dengan tingkat fokus yang sangat tinggi. Khasiat ramuan leluhur di otaknya membuat Bumi tidak perlu dijelaskan dua kali. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia sudah bisa menguasai seluruh sistem operasi handphone android tersebut, cara berpindah aplikasi, hingga cara membaca notifikasi.
"Wah, gampang juga ya ternyata kalau udah dipraktikin langsung," ujar Bumi sambil mencoba mengetik beberapa kata di layar dengan jempolnya yang lincah. "Mbak Alya bener-bener guru yang hebat nih."
Alya yang mendengar pujian spontan itu mendadak menghentikan bicaranya. Ia menatap wajah Bumi dari jarak yang cukup dekat. Entah mengapa, di bawah sorotan lampu jalanan sore yang mulai menyala, dada Alya tiba-tiba berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.
Ada perasaan aneh yang mulai menyelinap dan tumbuh subur di dalam hati Alya belakangan ini. Rasa kagum yang awalnya ia miliki terhadap keteguhan nasib Bumi kini telah sepenuhnya berubah menjadi sebuah perasaan menaruh hati yang mendalam. Gadis itu terpesona melihat transformasi luar biasa dari pemuda di depannya ini.
Apalagi sekarang, sejak Bumi sudah sangat jarang bekerja kasar sebagai kuli panggul di pasar induk dan lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan untuk mengajar serta membaca buku, perubahan fisiknya terlihat sangat mencolok. Kulit Bumi yang tadinya hitam kusam akibat terbakar matahari pasar dan penuh dengan debu sayuran, kini perlahan mulai bersih, cerah, dan terawat. Bentuk rahangnya yang tegas, memar keunguan di wajahnya yang telah hilang total berkat ramuan ajaib, serta sorot matanya yang selalu tenang dan jernih membuat ketampanan alami Bumi semakin terpancar memikat siapa saja yang melihatnya, terutama Alya.
"M-Mbak Alya? Kok malah bengong ngelihatin saya gitu? Ada yang salah ya sama muka saya?" tanya Bumi bingung, memegangi pipinya sendiri karena mendapati Alya menatapnya tanpa berkedip.
Alya langsung tersentak, wajahnya seketika merona merah padam karena malu tertangkap basah sedang mengagumi ketampanan Bumi. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain sambil merapikan rambutnya yang tidak berantakan.
"Eh! Enggak... enggak kok, Mas Bumi! Gak ada yang salah," jawab Alya terbata-bata, mencoba menutupi kegugupannya. "Gua... gua cuma lagi mikir aja. Kamu sekarang keliatan beda banget tahu, Mas. Bersih, tegap, terus keliatan kayak... kayak orang kantoran sukses, bukan kayak kuli panggul lagi. Ganteng beneran deh, seriusan!"
Bumi terpaku mendengar pujian jujur yang keluar dari mulut Alya. Ia tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan perasaan agak salah tingkah. "Ah, Mbak Alya bisa aja bercandanya. Saya mah tetep Bumi yang dulu, anak desa yang numpang hidup di pasar. Cuma bedanya sekarang badannya udah gak bau keringat pasar aja karena jarang angkat keranjang."
"Ih, dibilangin beneran malah gak percaya," gumam Alya ketus yang dibuat-buat, namun matanya mencuri pandang lagi ke arah senyuman Bumi yang menawan. "Pokoknya, hp-nya udah siap nih. Aplikasi trading-nya juga udah selesai di-install. Nanti malam di kosan, kamu tinggal selesaiin registrasi akunnya ya, Mas."
"Siap, Mbak Alya. Pasti saya selesaiin malam ini juga," jawab Bumi mantap sambil memasukkan hp barunya ke dalam kantong celana flanelnya dengan perasaan penuh kemenangan. "Uang modal dari Mas Dika udah siap, hp baru udah di tangan, dan semua ilmu analisis saham udah nempel di kepala gua. Besok pagi, saat pasar saham dibuka, petualangan gua yang sebenarnya buat nyari uang secara mandiri bakal dimulai."
Alya berdiri dari bangkunya sambil tersenyum manis, menatap Bumi dengan pandangan penuh dukungan dan rasa cinta yang masih ia sembunyikan rapat-rapat. "Ya sudah, yuk kita balik ke warung Ibu sekarang. Ibu pasti udah nungguin kita buat makan malam bareng. Hari ini kamu harus ngerayain hp baru kamu dengan makan ayam goreng buatan Ibu!"
"Setuju banget, Mbak Alya! Kebetulan perut saya udah mulai ngirim sinyal lapar nih dari tadi," seloroh Bumi ikut berdiri dan berjalan beriringan bersama Alya membelah keramaian trotoar sore itu, siap menyongsong lembaran baru kehidupannya yang penuh dengan potensi kesuksesan besar.