Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Peleburan Terakhir dan Runtuhnya sang Penjaga
Atmosfer di dalam aula kuno itu sudah berada di titik nadir. Hawa dingin dari sihir kutukan kegelapan milik sang penjaga altar terus mengikis sisa-sisa harapan yang dimiliki oleh kelompok Wild Boar. Monster jangkung berkuku belati itu melangkah maju dengan angkuh, seolah sedang menertawakan usaha keras manusia-manusia di hadapannya.
"Tidak mungkin... Serangan kita bahkan tidak menggores kulitnya!" teriak salah seorang petualang dengan suara frustrasi yang amat sangat.
Beberapa saat lalu, tiga orang penyihir penyerang yang masih tersisa mencoba meluncurkan kombo sihir elemen api dan petir secara bersamaan. Ledakan besar sempat tercipta, memenuhi ruangan dengan kilatan cahaya. Namun, begitu asap menipis, monster penjaga itu berdiri tegak tanpa luka sedikit pun. Tirai kegelapan di sekeliling tubuhnya menelan semua dampak kerusakan murni dari sihir mereka.
"Semuanya, dengar instruksiku!" Guntur berteriak sembari menyeka darah dari sudut bibirnya, suaranya menggema berat di antara pilar-pilar batu. "Kita tidak punya pilihan lain! Jika kita terus menyerang secara terpisah, kita hanya akan habis satu per satu. Kumpulkan seluruh sisa mana kalian! Kita lakukan serangan serentak dari segala arah!"
"Tapi Ketua, manaku sudah hampir habis!" balas Jaka yang masih mencoba bertahan dengan bertumpu pada patahan gagang kapaknya.
"Lakukan saja jika kau masih ingin melihat matahari besok, Jaka!" bentak Guntur tegas.
Namun, monster penjaga itu seolah mengerti rencana mereka. Rahang besarnya terbuka lebar, mengeluarkan raungan melengking yang menggetarkan gendang telinga. Sebelum seluruh anggota Wild Boar sempat merapalkan mantra bersama, monster itu menghentakkan keempat lengannya ke udara. Gelombang kejut berupa lingkaran energi hitam pekat melesat secara brutal ke segala arah.
BOOM! BOOM! BOOM!
"AAARRRGGGHHH!"
Jeritan kesakitan bersahutan. Gelombang kutukan itu menghantam dada para petualang dengan telak. Satu per satu anggota kelompok terlempar menghantam dinding dan pilar batu, sebelum akhirnya ambruk ke lantai dan kehilangan kesadaran mereka. Dalam hitungan detik, aula megah itu mendadak sunyi dari teriakan bertarung. Pasukan Wild Boar runtuh total, menyisakan tiga orang yang masih sanggup membuka mata: Guntur, Jaka, dan Askara.
Askara berdiri di balik bayangan pilar, napasnya memburu.
Namun, di dalam dadanya, sebuah badai yang sesungguhnya sedang bergolak. Sejak awal pertarungan, Askara tidak tinggal diam. Di tengah kekacauan, debu, dan ledakan, ia telah bergerak seperti hantu, menyerap sisa-sisa sihir dari rekan-rekannya yang terhempas, mengisap sebagian besar bola sihir hitam yang dilemparkan monster, dan mengunci energi sihir api dari Inferno Kong yang ia simpan sejak pertarungan sebelumnya.
Sekarang... peleburan terbesar dalam hidupku, batin Askara.
Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh kekuatan mentalnya. Menggabungkan dua atau tiga sihir elemen biasa saja sudah menguras staminanya secara brutal, apalagi kali ini. Askara memaksa sihir api Inferno Kong, sihir tanah Guntur, sihir penguat Jaka, dan sihir hitam murni milik monster penjaga untuk melebur menjadi satu kesatuan di dalam wadah tubuhnya yang kosong.
Uhuk! Askara terbatuk, darah segar mengalir dari hidungnya. Tubuhnya gemetar hebat, otot-ototnya terasa seperti ditarik paksa hingga batas tertinggi. Teknik penggabungan tanpa batas ini benar-benar menguras staminanya hingga ke titik kritis. Rasa lelah yang teramat sangat menghimpit kesadarannya, namun ia menolaknya. Ia terus memeras sisa-sisa tenaga fisiknya, menunggu waktu yang paling tepat.
Di tengah aula, Guntur menatap Jaka yang berada beberapa meter di sampingnya. Keduanya tahu, ini adalah akhir dari perjalanan mereka jika mereka tidak memberikan segalanya.
"Jaka... Kau masih punya sisa tenaga?" tanya Guntur dengan suara parau, menopang tubuhnya dengan kapak batu yang retak.
Jaka meludah darah, lalu tersenyum getir. "Sialan. Guntur, kalau aku mati di sini, pastikan namaku dicatat sebagai pahlawan di papan pengumuman Kota Gada."
"Jangan bicara omong kosong. Mari kita selesaikan ini!"
Guntur meraung.
Guntur dan Jaka mengonsumsi seluruh sisa mana terakhir di dalam tubuh mereka, mengabaikan rasa sakit yang membakar sirkulasi mana mereka akibat kutukan. Guntur melepaskan sihir tanah terkuatnya, menciptakan naga batu raksasa dari lantai dungeon, sementara Jaka melapisi naga tersebut dengan sihir penguat keemasan miliknya hingga naga batu itu memancarkan kilau logam yang menghancurkan.
"SERANGAN PAMUNGKAS: NAGA BUMI EMAS!"
Kombo dua sihir pamungkas itu melesat membelah ruangan dengan gemuruh yang dahsyat, menghantam tepat di dada monster penjaga yang sedang berjalan maju.
BLAAAAAM!
Daya hancur dari serangan terakhir itu sangat masif. Tirai kegelapan milik monster itu retak, dan untuk pertama kalinya, tubuh jangkung monster penjaga itu terpental ke belakang, menghantam altar batu hingga retak. Namun, serangan itu benar-benar menjadi peluru terakhir bagi Guntur dan Jaka. Seluruh mana mereka terkuras habis tanpa sisa. Keduanya langsung tersungkur jatuh ke lantai batu, lemas tak berdaya, bahkan untuk mengangkat kepala pun mereka sudah tidak mampu.
Monster penjaga itu perlahan bangkit kembali dari reruntuhan altar. Meskipun tubuhnya dipenuhi retakan, matanya yang tak kasat mata memancarkan hawa membunuh yang semakin pekat. Ia bersiap mengeksekusi Guntur dan Jaka yang sudah pasrah.
Inilah waktunya, batin Askara.
Askara melangkah keluar dari balik pilar. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai batu yang hancur. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan, mengunci posisi monster tersebut. Energi gabungan di dalam dadanya sudah mencapai puncaknya—berubah menjadi seberkas cahaya abu-abu keperakan yang sangat pekat, berputar dengan tekanan angin yang mengerikan.
"Hei, makhluk keparat," suara Askara terdengar dingin, memecah keheningan. "Rasakan sihirmu sendiri."
BOOOOOOMMMMM!
Satu gelombang energi raksasa berwarna abu-abu keperakan melesat keluar dari telapak tangan Askara. Serangan itu begitu masif hingga menciptakan tekanan udara yang membuat langit-langit dungeon di atas mereka runtuh sebagian. Kecepatannya tidak masuk akal. Monster penjaga itu bahkan tidak sempat mengangkat tirai kegelapannya ketika seluruh energi hasil penggabungan brutal itu menghantam tubuhnya.
Sihir hitam murni milik monster itu yang telah digabungkan dengan api, tanah, dan penguat, berbalik menghancurkan struktur energi tubuh aslinya. Tubuh monster penjaga itu bergetar hebat, sebelum akhirnya meledak dari dalam menjadi ribuan serpihan cahaya hitam yang lenyap di udara. Sang penjaga altar kuno telah hancur total oleh kekuatannya sendiri yang digandakan.
Hening kembali menguasai ruangan.
Askara jatuh bertumpu pada satu lututnya, napasnya memburu ekstrem seperti orang yang hampir tenggelam. Efek dari pelepasan seluruh energi gabungan itu membuat tubuh fisiknya luar biasa lemas dan melemah. Otot-ototnya berkedut menahan lelah, namun berkat latihan fisik ekstremnya selama bertahun-tahun, Askara menolak untuk pingsan. Dengan sisa stamina yang ada, ia memaksakan dirinya untuk kembali berdiri tegap.
Di lantai batu, Guntur dan Jaka membeku. Rasa syok dan takjub yang luar biasa menghantam mental mereka, bahkan membuat mereka melupakan rasa sakit di tubuh masing-masing.
"A-apa... Apa yang baru saja terjadi?" gumam Jaka, suaranya bergetar hebat, matanya menatap Askara seolah-olah pemuda tujuh belas tahun itu adalah monster yang sesungguhnya. "Bocah tanpa sihir itu... Bagaimana bisa dia mengeluarkan serangan sedahsyat itu?"
Guntur pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Teori awalnya tentang Askara yang memiliki kemampuan meniadakan sihir ternyata salah besar. Pemuda ini tidak meniadakan sihir; dia menyerap, menggabungkan, dan memuntahkannya kembali dengan daya hancur yang berlipat ganda. "Kemampuan rahasia macam apa ini..." bisik Guntur penuh kekaguman yang mendalam.
Tepat di tempat monster itu meledak, sisa-sisa energinya mengkristal dan membentuk sebuah benda baru. Bukan hanya logam melayang yang menjadi tujuan misi mereka, melainkan sebuah pusaran cahaya hijau zamrud kecil yang melayang rendah. Itu adalah Item Sihir Penyembuhan Langka: Air Mata Efrit.
Seketika, seberkas cahaya dari pusaran hijau itu melesat lurus dan menembus dada Askara. Pemuda itu tertegun saat sebuah informasi magis langsung mengalir ke dalam benaknya. Benda itu kini resmi masuk ke dalam daftar kemampuannya.
Meskipun tubuh Askara tidak memiliki mana murni untuk mengaktifkannya secara mandiri, insting kekuatannya tahu bahwa selama ia menyerap sihir milik orang lain ke dalam tubuhnya, ia bisa menggunakan energi serapan tersebut sebagai
"bahan bakar" untuk memicu efek penyembuhan mutlak dari item langka ini.
Guntur, dengan sisa tenaga yang perlahan kembali, memaksakan dirinya untuk berdiri. Ia berjalan tertatih-tatih melewati Askara, memberikan pandangan penuh rasa hormat yang belum pernah ia berikan pada petualang mana pun, lalu melangkah ke atas altar untuk mengambil lingkaran logam ganda yang menjadi tujuan utama misi Wild Boar.
Sementara itu, di sudut ruangan, Jaka masih terdiam seribu bahasa di lantai batu. Tatapan meremehkannya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa tidak percaya dan kekaguman yang tertahan di tenggorokan saat melihat sang Nirmala berdiri tegak di atas runtuhnya monster dungeon.