Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Dokter Baru yang Menyebalkan
Di koridor rumah sakit yang ramai, Rara berlari dengan wajah panik. Jam menunjukkan pukul 07.55, dan dia terlambat lima menit untuk shift paginya. Kurang tidur semalam setelah jaga malam masih terasa di matanya yang perih.
Dalam refleksnya, Rara mencoba menghentikan langkahnya, tapi sudah terlambat. Sosok tinggi berdiri di tikungan koridor, dan tubuhnya yang mungil nyaris menabrak tubuh pria itu. Tas ranselnya terbuka, dan isi-nya mulai berserakan di lantai, seperti pulpen, buku catatan, bahkan pembalut wanita.
Sebuah suara dingin menghentikan langkah Rara, "Astaga! Kamu buta ya?" Pria itu mengenakan jas dokter putih sempurna, matanya tajam, dan alis tebal yang menunjukkan kemarahan.
"Maaf Dokter, saya tidak sengaja—" ujar Rara, tapi pria itu tidak membiarkannya melanjutkan.
"Tidak ada alasan untuk tidak melihat ke depan," katanya, sambil menatap jam tangan mahalnya. "Dan kamu terlambat. Perawat seperti kamu yang membuat rumah sakit ini berantakan."
Rara menggigit bibirnya dengan marah mendengar kata-kata penghinaan itu. Dia telah bekerja di Rumah Sakit Bunda selama tiga tahun, mendapat pujian atas dedikasinya yang tak pernah berhenti. Siapa dokter baru ini yang berani merendahkannya? Apa yang membuatnya merasa dirinya lebih baik dari Rara?
Dokter baru itu mengangkat alisnya, menunjukkan bahwa dia tidak peduli dengan perasaan Rara. "dr. Arkan Pratama, Spesialis Bedah," ujarnya sambil melangkah maju. "Mulai hari ini, kamu akan bekerja di bawah pengawasan saya." Rara mengangguk dengan cepat, mengumpulkan barang-barangnya sebelum berpaling untuk melawan.
Rara hampir tidak bernapas ketika mendengarnya. Dokter baru ini akan menjadi atasannya? Ini seperti Tuhan sedang bercanda dengan nasibnya.
Senyum Rara tampak terpaksa saat dia berkata, "Senang... bertemu dengan Dokter." "Saya Rara, perawat ruang operasi," tambahnya dengan nada yang tidak terlalu yakin.
Dokter baru itu, Arkan, memandangnya dengan sinis. "Saya tidak tertarik dengan nama perawat," katanya, "yang saya butuhkan adalah profesionalisme."
Arkan berbalik dan pergi meninggalkan Rara dengan langkah yang tegap, sementara Rara menatap punggungnya dengan pandangan penuh kebencian. Rara menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah, menyembunyikan rasa kesalnya.
"Dokter itu benar-benar menyebalkan," gumam Rara, memanipulasi rambutnya yang berantakan. "Aku benci dia."
Di ruang ganti, Rara bertemu dengan Sisi, perawat senior yang telah bekerja 10 tahun di rumah sakit itu. Sisi menanyakan, "Sudah bertemu dengan dokter baru?" sambil merapikan jilbabnya.
Rara menghela napas dalam kekecewaan. "Bagaimana bisa seorang dokter yang tampan dan berwibawa seperti dr. Arkan memiliki sikap yang begitu kasar?" tanyanya, mengejutkan temannya Sisi.
Sisi tertawa, "Ah, benar, dr. Arkan terkenal sebagai dokter bedah yang perfeksionis. Bahkan di kota lama, dia adalah dokter bedah terbaik."
Namun Rara tidak terkesan, "Sikap seperti itu tidak membuatku percaya padanya. Aku lebih memilih dokter yang kurang pintar tapi ramah dan sabar."
Sisi memberikan peringatan tajam kepada Rara: "Hati-hati, dia tidak ragu-ragu melaporkan perawat ke direktur." Peringatan itu membuat Rara semakin kesal. Dokter baru ini benar-benar membuatnya marah. Namun, Rara harus tetap profesional, untuk kebaikan pasien.
Ketika Rara memasuki ruang operasi 3, Arkan sudah siap dengan tangan terlipat. Arkan memandangi jam dengan nada sarkastik: "Lima menit tiga puluh tujuh detik. Tidak buruk untuk standarmu, Rara." Dia kemudian memberikan instruksi: "Sterilkan tanganmu dan siapkan instrumen. Kita mulai dalam dua menit."
Rara mengencangkan giginya, menghalang perasaannya untuk menghukum dokter itu. Namun, karena pasien, dia mengendalikan dirinya. Dengan gerakan yang cepat dan tepat, dia mempersiapkan peralatan bedah sambil memantau setiap gerakan dokter itu dari sudut mata.
Dokter itu bekerja dengan presisi sempurna, setiap gerakannya efektif tanpa sia-sia. Ketika memeriksa pasien, matanya menangkap detail kecil yang sering terlewatkan oleh dokter lain. Sesi operasi ini adalah kesempurnaan, tidak ada ruang untuk kesalahan.
"Perhatikan baik-baik," kata Arkan tiba-tiba, mengingatkan Rara bahwa dalam ruang operasi, tidak ada tempat untuk kesalahan.
Operasi berlangsung dengan lancar, namun setiap gerakannya Rara diawasi ketat oleh Arkan. Ia terus-menerus mengoreksi cara Rara menyerahkan instrumen, nada suaran nya penuh kecewa.
"Tidak seperti itu! Pegang di sini!" teriaknya beberapa kali.
Rara merasa dipermalukan, tangannya gemetar saat membersihkan peralatan.
"Kamu benar-benar lulus sekolah perawat?" tanya Arkan dengan nada skeptis. Akhirnya, Rara hampir menangis karena frustasi.
Esok pagi, jam 7 tepat, Arkan akan pergi. "Jangan terlambat lagi," dia katakan dengan tegas sebelum meninggalkan Rara yang sedang hancur.
Di ruang istirahat, Rara akhirnya menangis di bahu Sisi. "Aku benci dia! Dokter baru itu benar-benar tidak sopan!" dia keluh.
Sisi mengelus punggungnya dengan lembut dan berkata, "Tenang, Rara. Kamu bukan yang pertama yang merasa begitu. Tapi percayalah, dibalik sikapnya yang kasar, dia sebenarnya dokter yang sangat brilian."
Rara mengusap air matanya dengan kasar, kekecewaannya masih menggelegar. "Aku tidak peduli seberapa brilian dia," katanya, "tidak ada alasan untuk memperlakukan orang seperti sampah!"
Lalu dia melanjutkan, "Kamu tahu, ada rumor tentang dia. Mungkin itu yang membuatnya seperti sekarang."
"Rumor apa?" Rara bertanya, penasaran.
"Katanya ayahnya seorang dokter terkenal yang bunuh diri beberapa tahun lalu," jawabnya, "mungkin itu yang membuatnya seperti sekarang, penuh dengan kesedihan dan kehilangan."
Rara memutuskan untuk tidak diam lagi. Dia telah menunggu terlalu lama untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seseorang yang tidak baik.
Dengan tekad yang kuat, ia berkata, "Trauma masa kecil tidak dapat menjadi alasan untuk menjadi orang yang buruk. Aku akan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa aku adalah seorang perawat yang baik, dan suatu hari nanti, aku akan membuatnya menyadari kesalahan dia dan meminta maaf."
Di malam yang gelap, Rara masih membara dengan kemarahan di dalam hatinya. Di depan pintu apartemennya, dia menemukan secarik kertas dan menulis sebuah daftar yang membayangkan kebencian. "Alasan untuk membenci dr. Arkan Pratama," judulnya. Daftar itu membaca seperti ini:
Merendahkan saya di depan umum
Menganggap perawat tidak penting
Bersikap seperti raja
Wajahnya terlalu sempurna, membuat saya semakin kesal.
Rara menghela napas melihat daftar pasien yang semakin panjang. Hanya dalam sehari, jumlahnya bertambah banyak. Ketika langkah kaki dr. Arkan terdengar mendekat, Rara segera menutup laci dan memasang wajah profesional.
Dia telah siap menghadapi konflik yang panjang ini. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya - mengapa ada orang yang terlihat sempurna tapi juga sangat menyebalkan? Rara merasa penasaran dengan keunikan ini.
Ketika sirene darurat berbunyi, seluruh lorong rumah sakit terasa bergetar. Rara, seorang perawat yang sedang mencatat obat-obatan, langsung berdiri tegak dan jantungnya berdebar kencang. Code blue telah dikeluarkan, menandakan bahwa ada pasien yang mengalami henti jantung.
Tidak menunggu instruksi lebih lanjut, Rara berlari ke ruang operasi 2, tempat chaos telah menyambutnya. Beberapa perawat dan dokter sudah berkumpul di sekitar meja operasi, di mana pasien pria paruh baya terbaring dengan dada terbuka. Monitor EKG menunjukkan garis datar yang menakutkan, menandakan bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga.
Dalam kehujanan emosi yang melanda, Arkan berdiri dengan tenang, wajahnya pucat tetapi tidak kehilangan kendali, tangan berlumuran darah sambil menggenggam defibrillator yang kuat.
"Kamu!" teriaknya sambil menunjuk Rara ketika dia melangkah maju. "Sini, sekarang!"
Rara maju dengan yakin, karena dalam momen seperti ini, dendam pribadi tidak ada tempatnya.
"Epinefrin 1 mg, sekarang!" perintah Arkan dengan suara dingin, tapi penuh otoritas yang tak dapat disangkal.
Dengan gerakan yang halus, Rara menyuntikkan obat ke infus pasien. Tidak ada tanda kegagalan, meski adrenalin membanjiri tubuhnya.
"Clear!" teriak Arkan, sebelum memberikan kejutan listrik ke dada pasien.
Tubuh pasien melengkung, tapi monitor tetap menunjukkan garis datar.
Arkan memerintahkan lagi, "Lagi! Epinefrin dosis sama!"
Rara segera menyiapkan suntikan kedua, sementara dia melihat wajah Arkan yang berkeringat, tegang, tapi tetap fokus. Tidak ada tanda panik sedikitpun.
Dalam upaya terakhir, Arkan meminta tim medis untuk mencoba lagi, tapi detak jantung pasien tidak muncul.
Dokter anestesi mengumumkan dengan nada berat, "Kita kehilangan dia."
Namun, Arkan tidak menyerah dan meminta untuk mencoba sekali lagi.
Ketika kejutan listrik diberikan, ada perubahan kecil di monitor, sebuah garis hijau kecil mulai berdenyut tidak teratur, memberi harapan bahwa pasien masih ada.
Dalam keadaan darurat, perawat menyerukan, "Ada pulsa!"
Rara mengambil napas dalam, karena mereka berhasil menyelamatkan pasien.
Namun, ketika Arkan menoleh kepadanya, dokter itu sudah bergerak cepat untuk melanjutkan operasi yang terhenti.
Dengan gerakan cepat tapi presisi, Arkan menjahit pembuluh darah yang robek dan meminta suction.
Rara dengan cepat memberikan alat suction ke tangan Arkan, menunjukkan koordinasi yang luar biasa.
Mereka bekerja seperti mesin yang terintegrasi, bahkan baru bekerja bersama beberapa hari.
Operasi berlangsung selama dua jam, dan ketika akhirnya Arkan menutup insisi terakhir, seluruh ruangan menghela napas lega.
Dengan ekspresi lega, Arkan melepas sarung tangan berlumuran darahnya dan berkata, "Baiklah, pantau pasien ini dengan sangat ketat, risiko komplikasi sangat tinggi."
Dia berbalik untuk pergi, tapi kakinya tiba-tiba goyah. Rara yang berada di dekatnya segera menangkapnya sebelum dia terjatuh.
"Dokter, Anda baik-baik saja?" Rara menahan tubuh Arkan yang tinggi itu.
"Tidak perlu khawatir, saya baik-baik saja," jawab Arkan dengan senyum lembut.
Rara dengan cepat menemukan dirinya di tengah kesulitan.
Ketika Arkan mencoba melangkah lagi setelah operasi darurat yang berlangsung empat jam tanpa istirahat, tubuhnya mulai limbung.
Dengan bantuan segera, Rara membawanya ke kursi di sudut ruangan dan menekan bel panggil perawat lain. "Anda kelelahan," kata Rara.
"Operasi darurat tanpa istirahat membuat tubuh Anda memerlukan cairan dan istirahat." Arkan mencoba berdiri lagi, tapi kali ini pingsan sepenuhnya. Rara menangkap tubuhnya tepat waktu dan berteriak meminta bantuan.
Ketika Arkan memasuki ruang istirahat dokter, beberapa perawat datang membantunya. Mereka membantu Rara meletakkan Arkan di tempat tidur dan memasang infus saline.
Setelah beberapa menit, Arkan mulai sadar dan melihat wajah Rara yang memeriksa tekanan darahnya.
"Jangan bergerak dulu," kata Rara dengan nada tegas, "tekanan darah Anda rendah, Anda dehidrasi dan kelelahan." Rara memastikan Arkan tetap stabil sebelum memulai perawatan lebih lanjut.
Dokter muda Arkan mengerutkan keningnya. "Mengapa kamu di sini?" tanyanya dengan nada agak keras.
Rara, perawat yang menjaga Arkan, tersenyum lembut sambil mencatat tekanan darah di chart. "Karena tidak ada dokter lain yang mau menjaga dokter yang keras kepala seperti kamu," jawabnya dengan nada yang santai.
"Tekanan darah kamu telah menurun drastis, dari 180/100 sebelum operasi menjadi 90/60. Kamu benar-benar dalam kondisi kritis."
Arkan mencoba duduk, tapi Rara mendorongnya kembali ke bantal. "Saya bilang jangan bergerak! Kamu butuh istirahat dan cairan ini," kata Rara dengan tegas.
Dalam momen yang tak terduga, Arkan menemukan keberanian untuk bertanya. Dia memandang infus di tangannya dengan mata yang penuh penasaran.
"Mengapa kamu membantu saya?" tanya Arkan dengan suara yang tiba-tiba. "Setelah semua yang saya lakukan pada kamu?"
Rara berhenti sejenak sebelum menjawab dengan lembut. "Seorang perawat profesional akan melakukannya. Meskipun kamu menyebalkan, kamu adalah seorang dokter yang baik. Pasien itu tidak akan selamat tanpa kamu."
Dunia menjadi diam untuk beberapa saat, seperti penghenti waktu. Arkan menghela napas dalam-dalam, seolah mencoba mengumpulkan keberanian.
"Saya... mungkin terlalu keras pada kamu," ucapnya perlahan, setiap kata terasa berat untuk diucapkan.
"Di ruang operasi, tidak ada ruang untuk kesalahan," lanjutnya, seperti kutipan yang tidak dapat dipungkiri.
Rara mengangguk, "Saya tahu," katanya, "Tapi ada cara untuk mengajar tanpa merendahkan."
Dengan ekspresi hati-hati, Arkan mengangguk pelan. "Mungkin kamu benar," katanya, memberikan petunjuk bahwa dia telah memahami.
Meskipun bukan permintaan maaf yang penuh, ucapan itu sudah cukup untuk membuat Rara merasa lega. "Saya akan memeriksa pasien itu lagi," kata Rara, siap berdiri untuk melanjutkan tugasnya. "Anda istirahat dulu," tegasnya, memberikan kesempatan bagi Arkan untuk beristirahat.
Sesaat sebelum keluar, Rara mendengar Arkan mengucapkan kata-kata yang lembut, "Terima kasih."
Dua kata sederhana itu membawa senyum kecil ke wajah Rara ketika dia menutup pintu. Mungkin dokter baru ini bukanlah yang buruk seperti yang dia bayangkan.
Bersambung....