"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Malam telah lama jatuh di atas langit Los Angeles, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja pribadi Landon Desmon.
Pria itu duduk di balik meja kayu ek yang besar, mengabaikan tumpukan berkas dari Rektorat dan ancaman terselubung dari Dekan Fakultas Seni yang sempat membanjiri ruang pesannya sore tadi.
Pikirannya tidak berada di sana.
Seluruh fokusnya tersedot oleh layar ponsel pintarnya yang menyala remang, menampilkan satu kontak nama yang sudah enam tahun ini tidak pernah ia hubungi, namun tidak pernah sekalipun ia hapus dari daftar prioritasnya: Vexana Valerio❤️
Landon memandangi digit nomor telepon itu dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca. Ibu jarinya melayang di atas layar, bergetar hebat.
Ada dorongan purba yang sangat kuat untuk menekan tombol panggil, untuk mendengar suara wanita itu sekali lagi, bahkan jika yang keluar hanyalah makian vulgar seperti di laboratorium siang tadi.
Keheningan malam yang sunyi itu mendadak bertindak sebagai mesin waktu yang kejam, menyeret kesadaran Landon kembali pada lembaran masa lalu yang paling murni.
Masa di mana segalanya belum serumit ini. Masa di mana gelar, persaingan, dan rahasia kelam tentang anak yang dikiranya telah mati tidak pernah ada.
Mereka harus mulai berpacaran karena rasa penasaran remaja. Landon tersenyum getir mengingatnya.
Hubungan mereka tidak dimulai dengan makan malam romantis atau untaian kata-kata puitis yang manis.
Semuanya dimulai dari sebuah ring tinju, tempat anak-anak kaya meluapkan emosi liar mereka.
Malam itu, Vexana menantangnya dengan keangkuhan khas seorang Valerio.
Sebuah taruhan tiga ronde yang gila.
Landon, yang saat itu terkenal dengan pukulannya yang presisi dan tak terkalahkan, justru berakhir Mengalah.
Melihat binar liar di sepasang mata bulat Vexana. Dirinya kalah. Dan di tengah napas mereka yang memburu, dengan peluh yang bercucuran di bawah lampu ring yang temaram, sebuah tawaran berpacaran meluncur begitu saja dari mulut Vexana dengan nada angkuh yang menggemaskan.
"Jika Kau kalah. Kau Harus Berpacaran Dengan ku."
Kenangan itu terasa begitu nyata, hingga Landon seolah bisa mencium aroma minyak samsak dan parfum mawar milik Vexana malam itu.
"Aku benci menjadi orang dewasa, Bee..." bisik Landon, suaranya parau, menyebut panggilan cinta mereka yang sudah bertahun-tahun terkubur dalam-dalam.
Air matanya akhirnya menetes, jatuh tepat di atas layar ponselnya yang menampilkan kontak Vexana.
Bee.
Sebuah nama panggilan pendek yang dulu sering ia bisikkan di ceruk leher Vexana saat mereka bersembunyi di bawah selimut yang sama.
"Jika boleh diputar waktu, aku ingin menghabiskan seluruh waktu hanya seputar high school, dirimu, dan cerita cinta kita," lanjut Landon, suaranya tercekat oleh sesak yang luar biasa di dadanya.
Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menatap langit-langit ruang kerja dengan tatapan kosong. "Kenapa sesulit ini perjalanannya, Tuhan? Apa dosa kami terlalu besar hingga kami harus membayar harga semahal ini?"
Pikiran Landon berputar pada malam badai enam tahun lalu. Malam di mana ego remaja mereka bertabrakan tanpa ampun.
Seandainya... Vexana tidak terlalu egois menuntut waktunya kala itu...
Seandainya wanita itu mengerti bahwa saat itu Landon sedang berjuang mati-matian menyelesaikan proyek pertamanya demi membuktikan pada Desmon Group bahwa dia bisa menghidupi Vexana tanpa uang keluarganya...
Apa mereka akan berakhir menjadi asing seperti ini?
Seandainya malam itu Landon menahan amarahnya dan tidak melepaskan Kata-Putus...
Apa Mungkin hari ini anak mereka... anak mereka yang dikiranya telah tiada itu akan berlari di dalam rumah ini dengan tawa yang riang?
"Kau menghancurkannya, Vexa... kau menghancurkan kita karena egomu," rintih Landon, memeluk kepalanya sendiri di atas meja, menangis dalam sunyi yang meremukkan dada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sisi lain kota, di dalam kamar tidurnya yang luas di mansion Bel-Air, Vexana sedang duduk bersimpuh di atas karpet bulu yang dingin.
Kamar itu gelap, hanya diterangi oleh seberkas cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah gorden. Di pangkuannya, terdapat sebuah bingkai foto yang kacanya sedikit berdebu.
Foto itu menampilkan dirinya dan Amara, mendiang sahabat karibnya yang tewas dalam kecelakaan maut enam tahun lalu.
Di dalam foto itu, mereka berdua tersenyum lebar ke arah kamera dengan latar belakang pantai Malibu yang indah.
Vexana mengusap wajah Amara di dalam foto itu dengan jemarinya yang gemetar. Air matanya mengalir deras, membasahi permukaan kaca bingkai tersebut.
"Amara... kau tahu bagaimana aku mencintainya lebih dari aku mencintai diriku sendiri, kan?" bisik Vexana, suaranya pecah oleh isak tangis yang sejak sore ia tahan di depan sang Daddy dan Mommy Yara.
"Kau adalah saksi bagaimana aku menyerahkan seluruh hidupku untuk Landon. Kau tahu bagaimana jantungku berdegup hanya karena mendengar langkah kakinya di koridor dulu."
Vexana memeluk bingkai foto itu erat-erat ke dadanya, menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya yang hancur.
Keputusan Maximilian sore tadi untuk memindahkannya dari proyek Landon terasa seperti vonis mati bagi hatinya yang sebenarnya belum sepenuhnya pulih.
"Tapi hari ini, aku bersumpah akan benar-benar melupakannya," ucap Vexana, suaranya mendadak terdengar sangat lirih, dipenuhi oleh keputusasaan yang teramat dalam.
"Ternyata... kehadiran si brengsek Brian di waktu lalu tidak membuatku bisa melupakan kenanganku bersamanya."
Vexana mendongak, menatap kekosongan kamarnya dengan pandangan mata yang hancur.
Bayangan AJ yang sedang tertidur lelap di kamar sebelah kembali melintas. Putranya adalah alasan mengapa dia harus berdiri kokoh, mengapa dia harus mengubur cintanya pada Landon sedalam mungkin ke dalam dasar bumi.
"Jika kehadiranku hanya untuk menunggu yang tak pasti, apa salah karena aku belajar melepaskannya?"
Vexana kembali berkata pada kesunyian malam, seolah sedang berbicara pada takdir yang telah mencurangi hidupnya.
"Meskipun aku sendiri... yang hancur, Amara. Meskipun aku harus mati rasa seumur hidupku."
Malam semakin larut, namun dua jiwa yang terpisahkan oleh jurang kebohongan itu seolah memiliki keterikatan batin yang aneh.
Di tempat yang berbeda, di waktu yang sama, mereka menyuarakan luka yang serupa.
Landon Desmon menegakkan tubuhnya kembali.
Pria itu berjalan mendekati jendela kaca besar yang memperlihatkan gemerlap lampu kota Los Angeles yang tampak seperti taburan bintang yang dingin.
Dia memegang dadanya yang terasa sangat sesak, seolah ada sebilah pisau yang tertancap di sana dan diputar perlahan.
Dengan suara baritonnya yang serak karena terlalu banyak menangis, Landon berbisik pada angin malam, "Yang paling Sakit bukanlah ketika tubuhmu penuh luka, melainkan ketika hatimu penuh Cinta tapi tidak ditakdirkan untuk bersama..."
Pria itu memejamkan matanya, membayangkan wajah Vexana saat mengenakan blazer biru dongker siang tadi.
Wanita itu ada di depannya, sangat dekat hingga dia bisa meraba embus napasnya, namun kenyataan bahwa ada rahasia dan kebencian di antara mereka membuat jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada bumi dan langit.
Di saat yang bersamaan, di dalam kamar gelapnya, Vexana yang masih menangis tersedu-sedu di atas lantai kembali mengeluarkan kata-kata yang memutus seluruh rantai harapannya.
Dia menyeka air matanya dengan kasar, namun bulir-bulir baru terus berjatuhan tanpa permisi.
"Aku tidak berharap kamu kembali, Landon..." ucap Vexana, bibirnya yang bergetar mengucapkan nama itu dengan rasa sakit yang luar biasa.
"Tapi... akan jadi bohong kalau aku bilang aku berharap kamu bahagia dengan kekasihmu atau siapapun di luar sana."
Vexana mencengkeram dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang seolah ikut menangis. "Aku tidak seikhlas itu. Aku tidak akan pernah sudi melihatmu tersenyum di samping wanita lain setelah kau merobek hidupku hingga hancur seperti ini. Karena sejatinya... tidak ada keikhlasan dalam cinta."
Malam itu, di bawah langit Los Angeles yang sama, dua orang yang dulu saling menggilai di atas ring tinju dan merajut mimpi di apartemen sempit, kini resmi mengubur diri mereka dalam duka yang mendalam.
Mereka berdarah dalam diam, saling meratapi kehilangan yang mereka ciptakan sendiri dari ego dan kebohongan yang belum terungkap.
...****************...
Mohon dukungannya untuk meninggalkan komentar ya kak 🫶🏻 Agar author semangat wkwkwk 🤭🥰