11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bentuk bayangan Janma manunggal
Keheningan malam makin larut menyelimuti seluruh penjuru penginapan. Di balik dinding kamar tempat Yuse dan Cindy bercengkerama hangat sampai pemuda itu akhirnya terlelap lelah, Yamaika Brisa berdiri diam bersandar di dinding koridor yang remang-remang. Pandangannya lurus terpaku pada lantai kayu yang dingin, matanya tak berkedip sedikit pun, seolah sedang memaku setiap serpihan kenangan pahit yang berusaha lolos dari ingatannya.
Brisa sama sekali tidak peduli dengan kedekatan yang makin erat antara Yuse dan Cindy, apalagi merasa cemburu atau tersaingi. Baginya, Yuse bukanlah sosok yang bisa meluluhkan hatinya atau mengubah tujuan hidupnya. Di dalam benaknya yang keras dan tertutup itu, Yuse hanyalah teman seperjalanan yang kebetulan punya arah tujuan yang sama. Pemuda itu ingin mencari tahu rahasia masa lalu keluarganya yang tersembunyi di Desa Angin, sementara Brisa punya urusan yang jauh lebih gelap, penuh darah, dan tak bisa ditunda.
Tangannya mengepal erat di balik jubah peraknya hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Kuku panjangnya menekan kuat kain jubah itu sampai telapak tangannya terasa perih.
‘Tertawalah dan bergembiralah sesukamu saat ini,’ batinnya dingin dan tajam. ‘Bersendaguraulah di atas luka yang belum sempat kering dan berdarah segar ini. Nanti kalian akan tahu betapa kejamnya dunia yang sebenarnya.’
Fokus hidupnya saat ini sudah terkunci mati rapat pada satu tujuan mutlak yang tak bisa diganggu gugat: mencari tahu siapa dalang sesungguhnya di balik kehancuran total Desa Angin, dan membalas setiap tetes darah yang tertumpah dengan tangannya sendiri. Membalas setiap fitnah kejam serta pengkhianatan menyakitkan yang telah merenggut segalanya darinya lima tahun yang lalu.
Lima tahun yang lalu.
Malam itu hujan turun sangat deras, seolah langit pun ikut menangis menyaksikan pengkhianatan paling kejam yang pernah terjadi. Brisa masih ingat betul bagaimana teriakan ibunya tiba-tiba tercekat dan terputus tepat di ujung bilah pedang orang asing. Ia masih ingat jelas bau anyir darah yang bercampur dengan aroma tanah basah, serta tatapan kosong namun penuh kebencian dari seluruh warga desa yang menuduhnya sebagai penyihir laknat pembawa bencana.
Siapa pun orang asing yang telah menghasut dan memutarbalikkan fakta sampai warga desa menjadi buta, Brisa sudah bersumpah dalam hati yang paling dalam: ia akan mencarinya sampai ke ujung dunia sekalipun. Ia akan menyeret orang itu keluar dari persembunyiannya yang paling gelap, memaksanya berlutut memohon ampun, dan membuatnya membayar lunas setiap tetes air mata yang pernah jatuh membasahi tanah desa itu. Tidak ada kata maaf. Tidak ada negosiasi. Tidak ada jalan keluar. Hanya darah yang bisa menebus darah.
Angin malam berdesir pelan melewati celah jendela koridor, membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Brisa sedikit bergidik, tapi tubuhnya tetap tegak tak bergeming sedikit pun. Rasa dingin udara luar itu tak ada artinya sama sekali dibandingkan rasa dingin yang sudah bersarang di hatinya sejak malam desa itu terbakar habis rata dengan tanah.
Keesokan paginya, sinar matahari hangat mulai menyusup perlahan masuk lewat celah tirai jendela kayu. Yuse terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa jauh lebih segar dan kuat dari hari sebelumnya. Efek obat racikan Brisa yang ajaib ditambah dengan energi murni yang sudah ia latih bertahun-tahun lamanya membuat luka dalamnya menutup dan pulih dengan kecepatan yang tak masuk akal. Saat ia mencoba menggerakkan lengannya perlahan, rasa sakit menyiksa yang kemarin masih terasa sampai ke tulang kini sudah hampir hilang sepenuhnya. Hanya tersisa sensasi kesemutan ringan, tanda bahwa urat dan dagingnya sudah mulai menyambung kembali dengan sempurna.
Yuse duduk perlahan sambil menahan napas pendek. Ia mencoba menguji pergerakan bahunya, memutar pergelangan tangannya, lalu mengepalkan tinjunya erat-erat. Masih terasa sedikit lemah, tapi kondisinya sudah jauh lebih baik dan normal dibandingkan semalam.
“Syukurlah… obatnya benar-benar bekerja dengan baik,” gumamnya pelan lega.
Cindy yang semalam ketiduran di kursi kecil samping kasur ikut terbangun karena gerakan itu. Ia mengucek matanya yang masih sembap dan berat, rambutnya sedikit berantakan, bahkan ada bekas lipatan baju yang menempel jelas di pipinya yang mulus. Tapi semua itu sama sekali tidak mengurangi sorot mata yang penuh rasa cemas sekaligus lega luar biasa saat melihat Yuse sudah sadar dan bisa bergerak sendiri.
“Yuse! Kamu sudah bisa duduk dan bergerak?!” tanya sang putri dengan mata yang langsung berbinar gembira. Suaranya terdengar sedikit serak karena kurang tidur, tapi penuh semangat dan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
“Iya, aku sudah jauh lebih baik sekarang. Semua berkat obat ramuan Brisa,” jawab Yuse sambil meluruskan punggungnya, lalu melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. “Dia di mana sekarang? Kenapa belum masuk dari tadi?”
Belum sempat Cindy menjawab pertanyaan itu, pintu kamar terbuka lebar tanpa ada suara ketukan sedikit pun.
Brisa melangkah masuk dengan wajah sedingin dan sekeras es di puncak gunung, membawa nampan kayu berisi sarapan sederhana: semangkuk bubur hangat, segelas air putih bersih, dan seiris jahe segar untuk menghangatkan tubuh dari dalam. Langkah kakinya terasa sangat ringan namun pasti, persis seperti bayangan yang tidak ingin didengar atau diketahui keberadaannya. Ia sama sekali tidak melirik atau menyapa Cindy, matanya langsung tertuju tajam dan menuntut tepat ke arah wajah Yuse.
Cindy yang melihat sikap dingin itu hanya bisa menggigit bibirnya pelan. Ia memang sudah terbiasa dengan sifat Brisa yang tertutup dan tajam, tapi rasanya tetap saja seperti ditampar oleh angin utara yang menusuk.
“Kalau tubuhmu sudah pulih dan bisa bergerak seperti biasa, kita tidak boleh lagi membuang waktu berlama-lama di sini,” ujar Brisa langsung pada intinya, suaranya terdengar datar namun penuh penekanan yang berat. “Informasi penting yang kita dapat dari Mpu Sandry semalam sudah cukup menjadi petunjuk besar. Aku yakin seratus persen: buku Janma Manunggal yang diincar habis-habisan oleh sekte aliran hitam itu, punya kaitan erat dengan orang asing yang menghasut warga Desa Angin lima tahun lalu. Mereka pasti berasal dari kelompok yang sama.”
Yuse tertegun diam seketika. Kalimat yang keluar dari mulut Brisa itu terasa persis seperti petir yang menyambar tepat di siang bolong. Ia menatap gadis berambut perak itu lekat-lekat, mencoba mencari keraguan atau ketidakpastian di balik sorot matanya yang tajam. Tapi tidak ada. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah tekad baja yang membara hebat dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
“Sekte aliran hitam…” gumam Yuse pelan sambil mengingat-ingat kembali kejadian penyerangan di tengah jalan kemarin. Gerakan para penyerang itu sama sekali tidak seperti perampok atau bandit biasa. Terlalu rapi, terlalu terlatih, dan aura yang mereka pancarkan… terasa kotor, gelap, penuh kebencian, serta ambisi yang tak wajar.
Cindy pun ikut berdiri tegak, wajahnya yang tadi masih lembut kini berubah menjadi serius dan tegas.
“Guruku pernah bilang, kitab Janma Manunggal itu adalah ilmu terlarang yang paling berbahaya sepanjang sejarah persilatan,” tambahnya dengan suara berat. “Kalau sampai jatuh ke tangan yang salah dan disalahgunakan, kitab itu bisa mengubah keseimbangan seluruh dunia, bahkan bisa menghancurkan ribuan nyawa tanpa ampun. Sudah banyak perguruan tinggi dan sekte besar yang hancur lenyap hanya karena memperebutkannya.”
Brisa meletakkan nampan berisi makanan itu ke atas meja kayu dengan agak kasar, membuat mangkuk dan gelas di atasnya berguncang pelan.
“Itulah kenapa kita harus bergerak sekarang juga. Sebelum mereka menemukan jejak buku itu lebih dulu. Sebelum mereka menyadari kalau kau adalah orang yang pernah menemukannya dan memegangnya, Yuse.”
“Apa maksudmu dengan ucapan itu?” tanya Yuse mengernyit bingung.
Brisa menatapnya makin tajam, seolah sedang melihat sesuatu yang berbahaya tepat di depan mata.
“Kau adalah orang yang menemukan dan memegang kitab itu pertama kali. Namamu dan jejak energimu pasti sudah tercatat jelas dalam ingatan mereka. Selama kau masih hidup dan bernapas, selama kitab itu pernah menyentuh tanganmu… kau akan selalu menjadi target utama mereka, ke mana pun kau pergi dan di mana pun kau bersembunyi.”
Keheningan yang berat dan menekan seketika menyergap seluruh ruangan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah uap hangat yang perlahan naik dari mangkuk bubur dan perlahan mendingin.
Yuse menghela napas panjang yang terasa berat di dada. Ia menatap kedua tangannya sendiri dengan pandangan kosong. Tangan yang dulu hanya ingin ia gunakan untuk melindungi orang-orang tersayang dan menolong yang lemah, kini malah menjadi magnet yang menarik segala bahaya dan maut datang menghampiri.
“Jadi… aku sama sekali tidak punya pilihan lain selain menghadapi mereka sampai akhir, ya?” ucapnya pelan namun pasti.
“Tidak ada pilihan lain,” jawab Brisa tegas tanpa ragu sedikit pun. “Kau boleh mencoba lari sejauh apa pun, tapi mereka akan terus mengejarmu sampai dapat. Kau boleh mencoba bersembunyi di tempat yang paling tersembunyi sekalipun, tapi mereka akan tetap membakar seluruh tempat persembunyianmu sampai kau keluar. Satu-satunya jalan yang paling benar dan selamat adalah: memburu mereka sebelum mereka sempat memburu dan membunuhmu.”
Cindy menggenggam erat ujung bajunya sendiri karena gelisah, tapi matanya bersinar penuh keberanian yang baru tumbuh.
“Kalau begitu… aku ikut juga.”
Brisa dan Yuse langsung menoleh bersamaan ke arahnya.
“Aku tidak mungkin tinggal diam duduk manis di dalam perguruan sementara kalian berdua bertarung nyawa menghadapi bahaya sebesar ini,” lanjut Cindy dengan suara yang sedikit bergetar tapi sangat mantap dan tegas. “Buku itu awalnya milikku, dan aku yang membawa semua masalah ini sampai ke hadapan kalian. Jadi aku juga punya tanggung jawab besar untuk menyelesaikannya sampai tuntas.”
Brisa mendengus pelan, matanya menyiratkan peringatan keras.
“Kau tahu apa yang akan kau hadapi di luar sana, Tuan Putri? Ini bukan sekadar latihan bela diri yang aman dan teratur di halaman Arpati. Ini pertarungan hidup dan mati. Sekali saja kau salah langkah atau lengah sedikit saja, kepalamu bisa terpenggal dan nyawamu melayang seketika.”
“Aku tahu betul apa risikonya,” jawab Cindy tanpa gentar sedikit pun. “Tapi aku juga tahu satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada mati: yaitu hidup dalam penyesalan seumur hidup karena hanya diam melihat orang baik terluka demi diriku.”
Yuse memperhatikan perdebatan singkat itu dengan sangat tenang dan matang. Ia melihat tekad yang membara di mata Cindy, dan kekerasan hati yang sudah terbentuk lama di mata Brisa. Dua wanita dengan latar belakang, sifat, dan tujuan yang sangat berbeda, tapi sekarang menyatu dalam satu jalan dan satu tujuan yang sama: menghentikan kehancuran yang jauh lebih besar.
Akhirnya Yuse mengangguk mantap.
“Baiklah. Kalau begitu kita berangkat bertiga. Tapi kita harus punya rencana matang dulu. Menyerbu sarang musuh sekuat itu tanpa informasi dan persiapan sama saja dengan bunuh diri secara sadar.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, seulas senyum tipis dan penuh penghargaan tersungging di bibir Brisa.
“Bagus. Akhirnya kau mulai berpikir seperti pemburu yang cerdas, bukan lagi seperti mangsa yang pasrah menunggu dimangsa.”
Ia lalu menarik selembar peta usang dan sudah lusuh dari balik lipatan jubahnya, lalu membentangkannya lebar di atas meja kayu. Peta itu tampak sudah sangat tua, dengan beberapa bagian yang hangus terbakar dan robek di ujungnya. Tapi tanda silang merah yang dicat tebal di sudut barat daya masih terlihat sangat jelas dan mencolok.
“Desa Angin,” ujar Brisa pelan namun berat. “Aku akan kembali ke tempat itu. Ada sesuatu yang sangat aneh dan tidak beres dengan reruntuhan kuil tua yang ada di belakang desa. Aku merasa… semua jawaban yang kita cari selama ini tersembunyi tepat di sana.”
Yuse menatap tanda silang merah itu lekat-lekat, lalu mengangguk setuju dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu, kita berangkat hari ini juga. Sebelum mereka sempat menemukan jejak kita lebih dulu.”
Cindy pun langsung mengangguk cepat, matanya bersinar penuh semangat meski rasa takut masih sedikit tersisa di sudut hatinya. Tapi kali ini ia tidak merasa sendirian lagi.
Tekad yang membara di mata Brisa dan ketenangan yang menular dari Yuse membuatnya sadar sepenuhnya: perjalanan mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan lagi perjalanan sekadar mencari obat atau melarikan diri dari bahaya. Ini adalah perjalanan panjang untuk membongkar seluruh kebenaran yang tertutup debu dan darah bertahun-tahun lamanya. Dan jika perlu… mereka akan menebus semua kesalahan masa lalu dengan darah mereka sendiri.
Di luar jendela, matahari pagi mulai meninggi perlahan, menyinari jalan panjang yang terbentang jauh menuju Desa Angin. Dan di ujung jalan yang penuh duri dan bahaya itu, bayangan gelap kitab Janma Manunggal sudah menunggu untuk dituntaskan sampai ke akar-akarnya.