NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Menangis saat Lahir, Aku Menggerutu

Usiaku baru tiga menit, dan aku sudah muak.

"Astaga, pipinya lucu banget!" seorang wanita muda dengan wajah letih tapi berseri-seri mendekapku erat. Dia mencium keningku. Sekali. Dua kali. Sampai rasanya seperti diparut.

Ibu.

Ya, itu ibuku. Tapi versi 25 tahun lebih muda. Tanpa kerutan di sekitar mata. Tanpa uban di pelipis. Dan tanpa tatapan hampa yang kukenal dari kehidupan sebelumnya—tatapan yang muncul setelah anak semata wayangnya, yaitu aku, dihukum penjara karena kasus penggelapan yang bahkan tak pernah kulakukan.

"Nak, kamu cantik sekali... mirip Bunda ya?" ucapnya lagi, suaranya bergetar oleh haru.

Aku ingin menjawab, "Bunda, aku baru saja mati. Tolong jangan dicium-cium terus, ini memalukan."

Tapi yang keluar dari mulut mungilku hanyalah: "Oaa... oa oaa..."

Bukan. Aku tidak menangis. Aku sedang berusaha bicara. Sayangnya, sistem vokal bayi baru lahir itu sangat tidak kooperatif.

Ayahku—masih dengan kumis tipis khas tahun 90-an dan kacamata tebal yang membuatnya mirip profesor gila—mendekat. "Coba Ayah lihat, deh... Ih, mukanya keriput kayak kakek."

"Ih, ayah, jelek amat! Anak ayah cantik, tahu!" Bunda menyeringai, menggeser badannya menjauh dari Ayah seolah dia sedang membawa penyakit menular.

Aku hanya bisa memutar bola mataku.

Oh Tuhan. Ortu-ortu ini. Di kehidupan sebelumnya, mereka berdua adalah mess. Bukan karena mereka jahat—mereka hanya... naif. Terlalu percaya sama orang. Terlalu gampang dirayu. Dan itu berakhir dengan bencana ketika aku berusia 24 tahun nanti.

Tapi percuma memikirkan itu sekarang. Aku bahkan belum bisa mengangkat kepalaku sendiri.

---

Lima Belas Tahun Kemudian...

"NAYLA KIRANA! BANGUN! KAMU TELAT!"

Suara Bunda menggema dari lantai bawah, kencangnya seperti sirine pemadam kebakaran. Aku mengerang, membenamkan wajah ke bantal. Di luar jendela, langit masih abu-abu dengan sisa-sisa embun.

Lima belas tahun. Aku sudah lima belas tahun hidup di tubuh baruku. Lima belas tahun menjalani semuanya dari awal: belajar jalan, belajar bicara, belajar berpura-pura tidak tahu bahwa aku sebenarnya sudah dewasa. Lima belas tahun menjadi Nayla Kirana, anak tunggal dari pasangan Budi Santoso dan Dewi Lestari.

Dan lima belas tahun itu terasa seperti neraka yang manis.

Aku benci sekolah. Bukan karena pelajarannya—tapi karena harus berinteraksi dengan anak-anak seusia yang secara mental sepuluh tahun lebih muda dariku. Bayangkan, di kehidupan sebelumnya aku sudah lulus kuliah, sudah bekerja, bahkan sudah menikah (dan bercerai dengan cara yang sangat dramatis). Lalu sekarang aku harus duduk di bangku SMP dan mendengarkan teman-teman sekelasku berdebat tentang siapa yang paling naksir sama BTS?

Oh, jangan.

"Nayla! Turun sekarang, atau sarapanmu Bunda makan, ya!" ancam Bunda lagi.

Aku bergeming.

"Ayah hitung, nih. Satu... dua..."

Aku duduk dengan gerakan robotik, rambut kusut menutupi wajah. "Baik, baik. Aku turun."

Kupikir setelah mati dan terlahir kembali, aku akan punya kesempatan untuk beristirahat. Ternyata tidak. Ternyata menjadi Bayi Nayla Kirana berarti aku harus mengulang semua fase kehidupan dari awal, termasuk fase-fase paling memalukan yang kulalui di kehidupan sebelumnya.

Seperti hari ini.

Hari pertama masuk SMP Negeri 7 Jakarta. Seragam putih biru yang masih kebesaran. Rambut yang harus diikat dua. Dan sepatu putih yang entah kenapa selalu cepat kotor.

"Kenapa mukanya masam begitu?" Ayah menyambutku di meja makan sambil mengunyah roti bakar.

Karena Ayah, tahun depan kalian akan ditipu teman kantor Ayah. Karena kalian akan kehilangan hampir seluruh tabungan.

Karena di kehidupan sebelumnya, Ayah stres berat dan Bunda mulai merokok lagi setelah berhenti selama 12 tahun.

"Tidur kurang," jawabku pendek, meraih segelas susu cokelat.

"Udah mandi belum?" tanya Bunda curiga.

"Belum."

"NAYLA!"

"Bercanda, Bunda. Astaga." Aku tersenyum manis. "Aku kan anak baik."

Bunda melipat tangan di depan dada. "Anak baik yang di kehidupan sebelumnya—maksudku, bulan lalu!—ngerokok di belakang sekolah."

Aku hampir tersedak susu.

Oh, ya. Itu.

Jadi begini: ketika usiaku sepuluh tahun, aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa mengubah takdir besar dengan diam saja. Kalau aku ingin mencegah bencana yang menimpaku di kehidupan sebelumnya—pengkhianatan, fitnah, penjara, kematian—aku harus bergerak sekarang. Jauh-jauh hari.

Tapi jadi detektif cilik itu sulit jika orang tuamu menganggapmu masih bocah yang percaya pada peri gigi.

"Nanti kalau ketahuan Ayah, kamu dihukum joget di depan TV, loh," ancam Ayah santai.

Aku menghela napas panjang. "Ya, Ayah. Aku janji tidak akan merokok lagi."

Tapi tidak akan berjanji untuk tidak melakukan hal-hal lain yang lebih penting.

---

Selesai sarapan, Ayah mengantarku ke sekolah dengan mobil Kijang kotak berwarna hijau tua. Di perjalanan, Ayah menyetel radio dangdut dengan volume nyaring. Aku memutar mataku, menyandarkan kepala di jendela, dan mulai merangkai strategi.

Di kehidupan sebelumnya, hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengan mereka.

Vania. Mantan sahabatku yang ternyata punya hati sehitam arang.

Andre. Mantan suamiku yang mengirimku ke penjara.

Dan satu orang lagi, yang namanya bahkan belum muncul di kehidupanku sebelumnya sampai detik-detik terakhir...

"Turun, Sayang." Ayah menghentikan mobil di depan gerbang sekolah. "Semangat ya. Jangan lupa, Ayah jemput jam dua."

Aku mengangguk. Mendorong pintu mobil. Dan di detik yang sama, saat kakiku menginjak aspal halaman sekolah—saat embusan angin pagi menerpa wajahku yang masih segar tanpa riasan—aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.

Sebuah mobil hitam mewah terparkir di sisi lain lapangan upacara. Bukan mobil sembarangan. Aku mengenal mobil itu.

Mobil itu punya pelat nomor B 1 R. Di kehidupan sebelumnya, aku terlalu sibuk dengan Vania dan Andre untuk memperhatikan detail seperti ini. Tapi sekarang? Sekarang aku tahu persis siapa pemilik mobil itu.

Dan dia berdiri di sampingnya. Menyandarkan bahu ke pintu sambil memegang buku catatan biru.

Rambutnya hitam legam, sedikit panjang di bagian belakang. Matanya gelap, dingin, seperti orang yang sudah terlalu banyak melihat kebusukan dunia. Posturnya tinggi, kurus tapi tegap, dengan rahang tegas yang membuatnya terlihat lebih tua dari usianya yang baru 15 tahun.

Ras? Atau nama lain yang kupilih untuk melupakannya?

Tidak. Aku tidak bisa lupa.

Dia.

Dia adalah orang asing di kehidupan sebelumnya. Tidak kenal. Tidak dekat. Hanya bayangan di latar belakang setiap tragediku. Tapi di detik terakhir, sebelum mati—saat mobilku terguling dan lampu-lampu mulai meredup—aku melihatnya. Dia berdiri di pinggir jalan, basah kuyup oleh hujan, memegang sebuah amplop cokelat. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar.

Dan dia berteriak, "NAYLA! JANGAN PERCAYA SAMA ANDRE!"

Lalu semuanya hitam.

Mataku menyipit. Aku melangkah maju, seragam putih biruku berkibar pelan.

Dia menoleh. Mataku bertemu matanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam 15 tahun hidup baruku, aku melihat sesuatu di wajah orang lain yang sama persis dengan yang kurasakan di dadaku sendiri.

Pengakuan.

Dia juga terlahir kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!