Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Menangis saat Lahir, Aku Menggerutu
Usiaku baru tiga menit, namun rasanya aku sudah merasa muak.
“Astaga, pipinya menggemaskan sekali!” seru seorang wanita muda dengan wajah tampak lelah namun tetap berseri-seri, lalu mendekapku erat. Ia mencium keningku—sekali, dua kali, hingga rasanya seperti kulitku tergesek-gesek terus-menerus.
Itu dia Ibu.
Benar, itu adalah ibuku, namun versi yang dua puluh lima tahun lebih muda. Tidak ada kerutan halus di sudut matanya, tidak ada uban yang mulai terlihat di pelipisnya, dan yang paling berbeda—tidak ada tatapan kosong yang begitu kukenali dari kehidupan sebelumnya. Tatapan itu baru muncul bertahun-tahun kemudian, setelah anak semata wayangnya—yaitu aku—dijatuhi hukuman penjara atas tuduhan penggelapan yang bahkan tidak pernah kulakukan.
“Nak, kau sangat cantik… mirip Bunda, ya?” ucapnya lagi dengan suara yang bergetar karena haru.
Aku ingin sekali menjawab, “Bunda, aku baru saja meninggal dunia. Tolong jangan dicium-cium terus, rasanya tidak nyaman.”
Namun, yang keluar dari mulut mungilku hanyalah suara aneh: “Oa… oa oa…”
Bukan, aku tidak sedang menangis. Aku sedang berusaha berbicara. Sayangnya, sistem suara bayi yang baru lahir ini sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
Sementara itu, Ayah mendekat—masih dengan kumis tipis yang menjadi ciri khasnya di tahun 1990-an serta kacamata berbingkai tebal yang membuatnya tampak seperti profesor aneh. Ia menatapku sambil berkata, “Coba Ayah lihat dulu… Wah, wajahnya mengerut persis seperti kakek tua.”
“Ih, Ayah bicara apa sih! Tidak boleh begitu! Anak Ayah ini cantik, lho!” sanggah Bunda sambil tersenyum, lalu sedikit menggeser tubuhnya menjauh seolah Ayah sedang membawa penyakit menular yang berbahaya.
Aku hanya bisa memutar bola mataku dalam hati.
Ya Tuhan… kedua orang tuaku ini. Di kehidupan sebelumnya, mereka berdua memang sering membuatku kewalahan. Bukan karena mereka jahat atau berniat buruk, melainkan karena sifat mereka yang terlalu polos. Terlalu mudah mempercayai orang lain, terlalu gampang dibuai rayuan, dan hal itu akhirnya berujung pada bencana besar ketika aku berusia dua puluh empat tahun kelak.
Namun, memikirkan hal itu sekarang rasanya percuma saja. Aku bahkan belum mampu mengangkat kepalaku sendiri.
---
Lima Belas Tahun Kemudian…
“NAYLA KIRANA! BANGUN! KAU SUDAH TERLAMBAT!”
Suara Bunda menggema dari lantai bawah, nyaring dan keras persis seperti sirine mobil pemadam kebakaran. Aku mengerang pelan lalu membenamkan wajah lebih dalam ke dalam bantal. Di balik jendela kamar, langit masih tampak kelabu dengan sisa-sisa embun yang membasahi daun-daun pohon.
Lima belas tahun telah berlalu. Sudah selama itu aku hidup kembali dalam tubuh yang baru. Sudah selama itu pula aku menjalani segalanya dari awal: belajar berjalan, belajar berbicara, hingga belajar berpura-pura tidak tahu apa-apa seolah aku benar-benar anak biasa, padahal di dalam hatiku aku masih membawa ingatan dan pemikiran orang dewasa. Selama lima belas tahun ini, aku hidup sebagai Nayla Kirana, anak tunggal pasangan Budi Santoso dan Dewi Lestari.
Dan anehnya, lima belas tahun itu terasa seperti neraka yang sekaligus terasa manis.
Aku sangat tidak menyukai suasana sekolah. Bukan karena kesulitan memahami pelajaran, melainkan karena harus berinteraksi dengan teman-teman sebayaku yang secara pemikiran dan kedewasaan masih tertinggal jauh dariku—setidaknya sepuluh tahun di bawah tingkatanku. Bayangkan saja, di kehidupan sebelumnya aku sudah lulus perguruan tinggi, sudah memiliki pekerjaan tetap, bahkan pernah menikah dan bercerai dengan kisah yang cukup rumit dan menyakitkan. Namun kini, aku harus duduk manis di bangku SMP dan mendengarkan teman-teman sekelas berdebat seru soal siapa anggota grup idola yang paling tampan?
Benar-benar melelahkan.
“Nayla! Turun sekarang juga, atau sarapanmu Bunda habiskan sendiri, ya!” ancam Bunda dari bawah.
Aku tetap diam tidak bergerak.
“Baiklah, Ayah akan menghitung. Satu… dua…”
Aku langsung duduk dengan gerakan yang terasa kaku, rambutku yang kusut menutupi sebagian wajah. “Baiklah, baiklah. Aku turun sekarang.”
Aku sempat berpikir, setelah meninggal dan terlahir kembali, mungkin aku akan mendapatkan kesempatan untuk beristirahat sejenak dari segala masalah. Namun nyatanya tidak. Menjadi Nayla Kirana sejak bayi berarti aku harus mengulang seluruh tahapan kehidupan dari awal, termasuk masa-masa paling memalukan yang pernah aku alami di kehidupan lampau.
Seperti hari ini.
Hari pertama masuk ke SMP Negeri 7 Jakarta. Aku mengenakan seragam putih-biru yang masih terasa agak longgar, rambutku diikat menjadi dua sesuai aturan sekolah, dan memakai sepatu putih yang entah kenapa selalu terlihat cepat kotor meski baru dipakai sebentar.
“Kenapa wajahmu terlihat cemberut begitu?” tanya Ayah begitu aku tiba di meja makan, sambil terus mengunyah roti bakarnya.
Karena aku tahu, tahun depan kalian akan ditipu oleh rekan kerja Ayah. Kalian akan kehilangan hampir seluruh tabungan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Aku juga tahu, di kehidupan sebelumnya, Ayah sempat mengalami stres berat akibat kejadian itu, hingga akhirnya Bunda kembali merokok setelah berhasil berhenti selama dua belas tahun lamanya.
“Kurang tidur saja,” jawabku singkat sambil meraih segelas susu cokelat.
“Sudah mandi belum?” tanya Bunda dengan nada curiga.
“Belum.”
“NAYLA!”
“Aku bercanda, Bunda. Astaga, mudah sekali dibuat panik.” Aku tersenyum lebar. “Kan aku ini anak yang baik.”
Bunda menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Anak baik yang baru saja—maksudku, bulan lalu—ketahuan merokok di belakang sekolah?”
Aku hampir tersedak susu yang baru saja kuteguk.
Ah, ya. Masalah itu.
Begini ceritanya: saat usiaku menginjak sepuluh tahun, aku mulai menyadari satu hal penting. Aku tidak akan mampu mengubah takdir yang telah tertulis hanya dengan diam saja. Jika aku benar-benar ingin mencegah segala bencana yang menimpaku di kehidupan sebelumnya—pengkhianatan, fitnah, penjara, hingga kematian yang tragis—aku harus mulai bergerak sekarang, jauh sebelum semuanya terjadi.
Namun, menjadi seorang detektif cilik bukanlah hal yang mudah, apalagi jika kedua orang tuamu masih menganggapmu sebagai anak kecil yang masih percaya pada dongeng peri gigi.
“Hati-hati kalau sampai ketahuan Ayah, nanti kau akan dihukum harus menari di depan televisi, lho,” ucap Ayah santai sambil tersenyum menggoda.
Aku menghela napas panjang. “Baiklah, Ayah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Namun, aku tidak berjanji untuk berhenti melakukan hal-hal lain yang jauh lebih penting demi keselamatan masa depan.
---
Setelah selesai sarapan, Ayah mengantarku ke sekolah menggunakan mobil Kijang kotak berwarna hijau tua. Sepanjang perjalanan, radio di dalam mobil diputar dengan volume keras memutar lagu-lagu dangdut. Aku hanya bisa memutar bola mata pelan, lalu menyandarkan kepala di kaca jendela sambil mulai menyusun rencana dan strategi di dalam pikiranku.
Di kehidupan sebelumnya, hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengan mereka.
Vania. Sahabat karibku yang ternyata memiliki hati yang sehitam arang.
Andre. Pria yang menjadi suamiku, namun justru menjebakku hingga harus mendekam di balik jeruji besi.
Dan satu orang lagi, yang namanya bahkan tidak pernah muncul dalam kehidupanku di masa lalu hingga saat-saat terakhir sebelum nyawaku melayang…
“Kita sudah sampai, Nak. Turunlah,” kata Ayah sambil menghentikan mobil tepat di depan gerbang sekolah. “Semangat ya di hari pertamanya. Jangan lupa, Ayah akan menjemput pukul dua siang nanti.”
Aku mengangguk singkat. Kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Namun, tepat saat telapak kakiku menyentuh aspal halaman sekolah dan hembusan angin pagi menerpa wajahku yang masih segar tanpa riasan sedikit pun, mataku menangkap satu pemandangan yang membuat detak jantungku seolah berhenti sejenak.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di sisi lain lapangan upacara. Bukan mobil sembarangan. Aku sangat mengenali kendaraan itu.
Mobil itu memiliki pelat nomor B 1 R. Di kehidupan sebelumnya, aku terlalu sibuk mendekati Vania dan Andre hingga tidak pernah memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Namun sekarang? Aku tahu persis siapa pemilik kendaraan tersebut.
Dan orang itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Ia bersandar santai di pintu mobil sambil memegang sebuah buku catatan berwarna biru.
Rambutnya hitam legam, sedikit lebih panjang di bagian belakang. Matanya tampak gelap dan dingin, seolah ia telah melihat terlalu banyak sisi gelap dunia di usianya yang masih sangat muda. Postur tubuhnya tinggi, ramping namun terlihat kokoh, dengan rahang yang tegas membuatnya terlihat lebih dewasa dibandingkan teman-teman seusianya yang baru berusia lima belas tahun.
Apakah namanya Aldo? Atau nama lain yang sengaja kubuang jauh-jauh dari ingatanku?
Tidak. Aku tidak mungkin bisa melupakannya.
Ia adalah orang asing bagiku di kehidupan sebelumnya. Kami tidak pernah saling mengenal, tidak pernah berdekatan, dan hanya terlihat seperti bayangan yang lewat di latar belakang setiap peristiwa buruk yang menimpaku. Namun, di detik-detik terakhir sebelum nyawaku pergi—saat mobil yang kukemudikan terguling dan pandanganku mulai kabur—aku melihatnya. Ia berdiri di pinggir jalan dalam keadaan basah kuyup diguyur hujan, menggenggam sebuah amplop cokelat. Wajahnya tampak pucat pasi dan bibirnya bergetar hebat.
Dan ia berteriak sekuat tenaga, “NAYLA! JANGAN PERCAYA PADA ANDRE!”
Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
Mataku menyipitkan pandangan, lalu aku mulai melangkah mendekat, ujung seragam putih-biruku berkibar pelan tertiup angin.
Ia pun menoleh. Pandangan kami bertemu tepat.
Dan untuk pertama kalinya selama lima belas tahun hidupku yang baru ini, aku melihat sesuatu di wajah orang lain yang persis sama dengan apa yang kurasakan di dalam hatiku.
Sebuah pengakuan diam-diam.
Ia juga terlahir kembali.