Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 cuci piring
Nenek, kalau ada gadis dari keluarga lain tidak menghormati ipar dan malas melayani mertua, apa Nenek mau menjadikannya menantu untuk Paman Yan Ming? Apa itu namanya bukan cari perkara?" tanya Nara memojokkan.
"Logikanya sama aja, mana ada keluarga baik-baik yang sudi menerima gadis dengan tabiat begitu?" tambah Nara lagi.
"Kamu... kamu!" Yan Ling menunjuk Nara dengan tubuh gemetar hebat karena menahan amarah.
"Cukup!" bentak Nenek Lou dengan wajah yang sudah segelap pantat panci.
Dia melemparkan tatapan tajam kepada Yan Ling sebelum berkata, "Ling, mulai hari ini, kamu benar-benar harus menjaga sikap dan bicaramu."
Mendengar teguran itu, Yan Ling merasa sangat dipermalukan sampai wajahnya memerah padam seperti hati sapi.
Tubuhnya menggigil, lalu sambil menangis tersedu-sedu, dia langsung berlari kencang keluar dari dapur.
Nara kembali mengambil mangkuk dan sumpitnya, lalu lanjut makan seolah tidak pernah terjadi keributan apa pun.
Dia mengabaikan semua mata yang tertuju padanya dengan ekspresi tenang, sambil mengunyah sayur kol di mangkuknya seolah sedang menikmati daging yang sangat lezat.
"Ning, ayo cepat makan. Nih, potongan daging sapi ini ada sedikit bagian lemaknya yang enak," kata Nara dengan jeli melihat sepotong tetelan daging sapi di mangkuk sayur asin.
Dengan gerakan cepat, dia memindahkan potongan daging seukuran kuku itu ke dalam mangkuk Yan Ning.
Yan Ning sempat melongo kebingungan. Dia menatap potongan daging sapi di mangkuknya, lalu beralih menatap Nara dengan mata berbinar penuh kekaguman.
Di sisi lain meja, Han Ruo terus memperhatikan gerak-gerik Nara dari atas sampai bawah, seolah-olah ingin menembus isi kepala anak tirinya itu.
"Ada apa, Ibu Kedua? Apa Ibu juga mau potongan daging sapi ini?" tanya Nara tiba-tiba sambil menoleh.
Nara mengulas senyuman tipis di sudut bibirnya, membuat bulu kuduk Han Ruo mendadak merinding.
Han Ruo buru-buru memalingkan wajah dan langsung menundukkan kepala untuk lanjut makan. Untuk pertama kalinya, dia merasa kalau Nara sudah menjelma menjadi orang yang berbeda total.
Selesai makan, Nyonya Mu seperti biasa langsung bersiap untuk merapikan dan mencuci semua mangkuk kotor.
Namun, Nara dengan cepat menahan tangan ibunya, lalu menoleh ke arah Nenek Lou.
"Nenek, karena hari ini Ibu yang bertugas memasak, bukankah seharusnya giliran Ibu Kedua yang mencuci piring dan membersihkan dapur?" usul Nara santai.
"Apa?!" Han Ruo yang baru aja mau bangkit berdiri langsung berteriak kaget. "Omong kosong apa yang kamu bicarakan?!"
Selama bertahun-tahun ini, Nyonya Mu selalu menjadi orang yang memasak sekaligus mencuci semua piring kotor. Kebiasaan itu membuat Han Ruo selalu melenggang pergi begitu saja setelah perutnya kenyang.
Tapi sekarang, anak tiri yang dia benci malah menyuruhnya mencuci piring.
Nara bahkan tidak sudi melirik ke arah Han Ruo. Pandangannya tetap terkunci pada Nenek Lou.
"Nenek, demi kelancaran pernikahan Paman Yan Ming dan Bibi Ling, Nenek benar-benar harus menegakkan aturan di rumah ini," ujar Nara dengan nada serius.
"Ibu dan Han Ruo memang sama-sama menantu di rumah ini. Tapi secara adat, Ibuku adalah istri sah yang dinikahi secara resmi."
"Walaupun Han Ruo sering dipanggil istri kedua, di keluarga sederhana seperti kita, mana ada istilah seperti itu? Sederhananya, dia tetap aja cuma selir yang datang belakangan."
"Kalau orang luar sampai tahu keluarga kita tidak bisa membedakan mana istri sah dan mana selir, aturan rumah kita pasti dianggap berantakan. Mana ada keluarga terpandang yang mau menikahkan anak mereka ke rumah yang kacau begini?" pungkas Nara.
"Nara, jaga bicaramu! Selir apa?! Siapa yang kamu sebut selir, hah?!" teriak Yan Ran sambil menggebrak meja dan berdiri.
Dia menunjuk wajah Nara dengan pandangan berapi-api. "Dasar kamu anak pembawa sial! Cih!"
Han Ruo menggertakkan giginya rapat-rapat sampai tubuhnya gemetar menahan dongkol. Dia melemparkan tatapan tajam ke arah Nyonya Mu.
"Kak Mu, hebat sekali ya cara Kakak mendidik anak sekarang," sindir Han Ruo tajam.
"Ara..." Nyonya Mu sedari tadi cuma bisa diam ketakutan melihat keberanian Nara yang tidak biasa. Mendengar sindiran Han Ruo, dia langsung menatap Nara dengan cemas.
Nara memberikan tatapan menenangkan kepada ibunya, lalu kembali fokus menekan Nenek Lou.
"Nenek, beberapa hari lalu Mak Comblang Sela sempat bilang kalau keluarga kaya itu sangat mementingkan aturan rumah tangga," lanjut Nara lagi.
"Kalau Bibi Ling beruntung bisa menikah dengan orang kaya nanti, tapi mereka mendengar kalau rumah kita menyetarakan posisi istri sah dengan selir, keluarga kita pasti jadi bahan tertawaan."
"Istilah 'lebih membela selir dibanding istri sah' itu kedengarannya buruk sekali di luar sana. Bisa-bisa malah merusak prospek pernikahan Bibi Ling. Padahal aku sangat berharap Bibi Ling bisa dapat suami kaya biar kita semua kecipratan untung," ucap Nara sengaja memasang wajah prihatin.
Nara tahu betul cara menyerang titik kelemahan seseorang. Bukankah Nenek Lou paling terobsesi dengan masa depan Yan Ling dan Yan Ming?
Nara ingin tahu, apa Nenek Lou bakal lebih membela Han Ruo dibanding masa depan anak kandungnya sendiri. Dia sangat yakin kalau Nenek Lou tidak sebodoh itu.
Benar saja, setelah mendengar penjelasan Nara, raut wajah Nenek Lou langsung berubah-ubah sebelum akhirnya dia berdeham keras.
"Omongan Nara ada benarnya. Mulai hari ini, aturan di dapur berubah: siapa yang memasak, menantu yang lain yang harus mencuci piring. Semuanya digilir, paham?" putus Nenek Lou tegas.
"Apa?!" Han Ruo tidak percaya dengan wajah yang mendadak pucat.
Melihat perubahan drastis pada wajah ibu tirinya, Nara mengulas senyum puas di sudut bibirnya. Dia langsung menarik tangan ibunya yang masih syok.
"Ibu, ayo kita kembali ke kamar. Jangan sampai kita mengganggu Ibu Kedua yang mau membersihkan dapur," sindir Nara sengaja memperjelas kata 'Ibu Kedua'.
Selama ini Han Ruo selalu memanfaatkan pesona dan bantuan Yan Shong untuk menginjak-injak ibunya. Dulu mungkin trik itu berhasil, tapi sekarang Nara bertekad untuk terus membuat hidup wanita itu tidak tenang.