Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Cemburu yang membawa kebodohan
Malam di Xinglan tidak pernah benar-benar sepi, ia hanya menyembunyikan kebisingannya di balik suara hantaman badai.
Alin memacu mobilnya membelah jalanan yang basah. Wiper mobil berdecit ritmis, seolah mencoba menyapu bersih kekacauan yang bertumpuk di kepalanya. Namun gagal. Kata-kata Lu Minghan terus berputar seperti kaset rusak di benaknya.
“Hanya kau yang mengetahui draf itu.”
“Perasaanmu sungguh dingin, Alin.”
Alin mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Logikanya yang biasa berjalan seakurat pisau bedah kini mulai goyah. Lu benar tentang satu hal, audit itu terlalu bersih, terlalu cepat, dan terlalu mematikan untuk ukuran sebuah kecelakaan birokrasi. Seseorang dengan kekuasaan mutlak telah merancang kejatuhan Lu. Seseorang yang tahu persis apa yang telah Lu lakukan pada Alin di masa lalu.
Lampu merah menyala di perempatan jalan yang sepi. Alin menginjak rem mendadak. Tubuh terdorong ke depan, dan saat itulah matanya tidak sengaja melirik ke arah kaca spion tengah.
Sebuah sedan hitam tangguh melambat beberapa puluh meter di belakangnya. Mobil yang sama yang ia lihat terparkir tidak jauh dari kafe tadi. Mobil yang sama yang selalu menjaga jarak aman sejak ia keluar dari gerbang kediaman Pangeran Yan.
Alin tertawa pendek, sebuah tawa getir yang bergema di dalam kabin mobil yang sempit.
"Kau memang tidak pernah memberi pilihan, Rei," desisnya tajam.
Alih-alih mengambil jalur kembali menuju wismanya, Alin memutar kemudi dengan sentakan tajam. Ban mobil memekik di atas aspal basah, berbalik arah menuju satu-satunya tempat yang ingin ia hindari malam ini. Tempat sang pangeran bersembunyi di balik kemegahan istana pribadinya.
Di lantai atas kediamannya, Rei masih berdiri di posisi yang sama. Jendela kaca besar di hadapannya menampilkan siluet kota Xinglan yang buram oleh air. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni tua, sebuah cangkir teh porselen hitam dibiarkan mendingin tanpa disentuh.
Pintu ganda ruang kerja itu mendadak terbuka tanpa ketukan.
Yuchen melangkah masuk dengan tergesa, wajahnya yang biasa tenang tampak sedikit tegang. "Tuan. Dokter Yi kembali. Dia baru saja memasuki gerbang depan, dan... dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tidak wajar."
Rei tidak berbalik. Ia hanya memperhatikan pantulan wajahnya sendiri di kaca yang gelap. Sebuah garis senyum samar yang nyaris tak kentara muncul di sudut bibirnya.
"Aku tahu dia akan kembali," ucap Rei pelan, suaranya sehalus beludru namun menyimpan daya pikat yang berbahaya. "Biarkan dia masuk, Yuchen. Dan tinggalkan kami."
"Tapi, Tuan, Dokter Yi tampak sangat—"
"Tinggalkan kami," ulang Rei, kali ini dengan penekanan yang membuat Yuchen langsung menundukkan kepala dan menarik diri, menutup pintu rapat-rapat.
Hanya berselang beberapa detik setelah keheningan kembali menguasai ruangan, pintu itu kembali dihentak terbuka.
Alin berdiri di ambang pintu. Rambutnya agak basah oleh rintik hujan yang sempat mengenainya saat turun dari mobil. Napasnya naik-turun memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Gaun formalnya yang anggun kini tampak kontras dengan tatapan matanya yang siap membunuh.
Rei perlahan membalikkan tubuh. Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama, beberapa kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan kesan casual namun tetap memancarkan aura otoritas yang pekat. Ia menatap Alin dari ujung kepala hingga ujung kaki, tenang seolah badai di luar sana sama sekali tidak mempengaruhinya.
"Kau mengemudi terlalu cepat di bawah hujan, Dokter Yi. Itu tidak rasional bagi seorang wanita yang selalu mengagungkan logika," ujar Rei datar, berjalan mendekat dengan langkah lambat yang terukur.
"Hentikan omong kosong ini, Rei!" Alin melangkah maju, menutup jarak di antara mereka. Suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Lu Minghan hancur. Keluarganya mendepaknya, dan dia dikirim ke perbatasan tanpa sisa. Jangan katakan padaku kalau itu adalah pekerjaan takdir."
Rei berhenti tepat tiga langkah di hadapan Alin. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Alin dari ketinggian postur tubuhnya yang intimidatif. "Dunia ini luas, Alin. Orang-orang korup seperti Lu Minghan jatuh setiap hari. Kenapa kau harus repot-repot memikirkannya?"
"Hanya ada dua orang yang tahu aku pernah melihat dokumen itu. Aku, dan... kau. Pria gila yang menyadap seluruh komunikasiku."
Mata cokelat Alin berkilat tajam, menembus langsung ke dalam manik mata Rei yang sedalam jurang malam. "Kau yang melakukannya, bukan? Kau yang membocorkan audit Forensik itu ke keluarga besar Lu."
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding antik dan deru angin yang menghantam kaca.
“Tuduhan mu tak berdasar.” Jawab Rei tenang.
“Lalu bagaimana kau menyangkal draft portofolio ku bukan kau yang melakukannya?” Kesal Alin, “Berkas itu tidak akan pernah terkirim begitu saja ke Yayasan Xinglan.”
Rei berulang kali memintanya untuk tinggal negara Xinglan.
Dihadapannya bukan hanya sekedar pangeran, ia memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur yayasan pendidikan Xinglan. Tanpa ujian dan mendapatkan beasiswa penuh, pria itu dapat begitu saja memberikannya pada Alin.
Pria itu telah menyabotase akun pribadi Alin.
Rei tidak berkedip. Alih-alih menghindar atau menyangkal, ia justru mengeluarkan satu tangannya dari saku, bergerak perlahan mendekati wajah Alin. Jari-jari panjangnya yang dingin menyentuh sehelai rambut Alin yang basah, menyelipkannya dengan lembut ke belakang telinga wanita itu. Sentuhannya begitu posesif, namun sekaligus penuh kehati-hatian yang ganjil.
Alin tidak bergerak, ia menolak untuk mundur bahkan satu inci pun. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak takut.
"Jika memang aku yang melakukannya," bisik Rei, suaranya begitu rendah hingga getarannya terasa di dada Alin, "apa yang akan kau lakukan, Alin? Melaporkanku ke otoritas Xinglan? Menyeret seorang Pangeran Yan ke pengadilan atas tuduhan menyelamatkan hidupmu?"
"Menyelamatkanku?!" Alin mendengus kasar, menepis tangan Rei dari wajahnya dengan sentakan kuat. "Kau menghancurkan hidup orang lain dan menyebutnya sebagai aksi penyelamatan? Lu Minghan memang brengsek, dia membuangku ke Xinglan karena aku menolaknya. Tapi kejahatan karirnya adalah urusannya, bukan hakmu untuk menghakiminya dengan cara kotor seperti ini! Dan— kau tidak tahu alasannya mengalihkan dana tersebut.” Ujar Alin sedikit membela Lu Minghan.
"Dia menyentuhmu, Alin," potong Rei cepat, nadanya mendadak berubah tajam, kehilangan kelembutan palsunya yang tadi. Mata Rei menggelap, memancarkan aura dark romance yang pekat—sejenis dominasi yang tidak mengenal kompromi. "Dia menggunakan kekuasaannya untuk membuangmu ke wilayah konflik ini. Dia membuatmu hampir mati di atas kapal itu. Dan kau... kau masih berbicara tentang hak dan keadilan untuk pria sepertinya?"
“Aku tidak ingin berdeba dengan mu malam ini. Tujuan kedatangan ku meminta mu untuk mencabut perkaranya.” Pinta Alin yang justru memancing murka Rei.
Rei maju satu langkah besar, memaksa Alin untuk akhirnya mundur hingga punggung wanita itu membentur tepian meja mahoni yang keras. Rei menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Alin, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya di bawah kuasanya.