NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 jaring sutra di atas darah

Aula Leluhur yang remang kembali sunyi setelah badai energi spiritual yang dilepaskan oleh Cang Qixuan mereda. Keheningan di dalam ruangan itu begitu pekat hingga suara rintik hujan pertama yang menghantam genting tanah liat di luar terdengar seperti ketukan genderang perang.

Jenderal Besar Cang Baotian masih mematung di atas lantai batu. Sepasang matanya yang mulai merabun karena racun menatap sang cucu dengan campur aduk antara tidak percaya, ngeri, dan secercah harapan yang sudah lama padam. Sebagai seorang petarung yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di puncak tingkat Komandan Bumi, ia bisa merasakan kemurnian energi yang baru saja terpancar dari tubuh Qixuan. Energi itu kasar, dingin, dan tidak mengalir melalui jalur biasa, melainkan berdenyut langsung dari dalam sumsum tulang dan organ vital.

"Teknik apa yang kau latih, Xuan'er?" suara sang jenderal bergetar, bukan karena takut pada kematian yang mendekat, melainkan karena kengerian melihat harga yang harus dibayar cucunya demi kekuatan ini. "Tanpa meridian... bagaimana mungkin tubuh fana bisa menahan beban qi sepadat itu?"

Qixuan bangkit berdiri perlahan. Ia melangkah mendekati kakeknya, lalu berlutut di samping tubuh tua yang ringkih tersebut. Tangannya bergerak cepat menekan tiga titik nadi di punggung Cang Baotian.

"Seni Pernapasan Menelan Langit," jawab Qixuan lirih. Bersamaan dengan ucapannya, pusaran energi di dadanya berputar berlawanan arah. Seketika, gelombang qi biru kelam mengalir keluar dari telapak tangannya, menembus kulit zirah sang jenderal dan langsung mengunci aliran racun dingin yang sedang merayap menuju jantung. "Teknik kuno yang menuntut penggunanya menghancurkan pondasi lama untuk membangun sembilan pusaran pengganti. Lima tahun ini, setiap malam adalah neraka. Namun, neraka itu sepadan."

Cang Baotian meringis saat energi dingin Qixuan berbenturan dengan racun beracun di dalam dadanya. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi sensasi terbakar yang mencekik jantungnya perlahan-lahan mulai mengendur. Wajah sang jenderal yang tadinya sewarna kertas kuno kini mulai mendapatkan kembali sedikit rona kehidupan, meski darah hitam masih merembes dari sudut bibirnya.

"Kau merahasiahkan ini bahkan dariku... dari ibumu..." gumam Cang Baotian, menatap papan nama leluhur mereka yang berjejer di altar. "Kau membiarkan seluruh dunia meludahi namamu, membiarkan para tetua klan mencacimu sebagai aib..."

"Jika musuh ingin melihat seorang badut, maka aku akan menjadi badut terbaik yang pernah mereka saksikan," Qixuan menarik kembali tangannya setelah memastikan racun kakeknya telah ditekan untuk sementara waktu. "Jika aku menunjukkan sedikit saja tanda-tanda pulih dalam lima tahun ini, Kaisar Yan tidak akan menunggu hingga hari ini untuk mengirim dekrit pemusnahan. Dia akan meratakan kediaman ini saat aku masih mengumpulkan serpihan tulangku."

Qixuan berdiri, berjalan menuju jendela aula yang sedikit terbuka. Di luar, hujan deras telah sepenuhnya mengguyur ibukota Jinling. Air mengalir deras dari atap-atap bangunan, membasahi halaman manor yang sepi dan terbengkalai.

"Emas yang aku hamburkan di Paviliun Teratai Malam, di meja judi milik Klan Pei, dan di pelelangan-pelelangan barang antik... semua itu tidak pernah hilang," Qixuan melanjutkan, suaranya sedatar air telaga namun mengandung bobot yang menekan. "Uang itu adalah umpan. Melalui Nyonya Su Liyin, lima puluh persen rumah bordil, kedai arak, dan rumah judi di tiga distrik utama kini berada di bawah kendaliku. Para pejabat yang mendatangi tempat-tempat itu untuk memuaskan syahwat dan keserakahan mereka tidak sadar bahwa setiap desah napas dan rahasia yang mereka bisikkan di ranjang telah dicatat dalam buku Jaring Bayangan."

Cang Baotian menarik napas dalam-dalam. Siasat ini... strategi jangka panjang yang begitu rapi dan mematikan, tumbuh subur tepat di bawah hidung para pengawas kekaisaran. Selama ini, mata-mata istana melaporkan pengeluaran fantastis Tuan Muda Cang sebagai bukti kebobrokan moral, tanpa tahu bahwa setiap keping emas yang keluar adalah paku tambahan untuk peti mati dinasti ini.

"Namun, Xuan'er, malam ini segalanya telah berubah," kata jenderal tua itu, mencoba menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu aula. "Kaisar Yan bukan lagi sekadar merencanakan pembatasan kekuatan kita. Dia telah mengambil langkah terakhir. Wakil Jenderal Mu Chenghai telah mengkhianatiku di perbatasan. Tiga Tetua Bayangan Istana mengepungku di Lembah Gagak. Jika bukan karena Jimat Pengecil Ruang leluhur, kepalaku sudah tergantung di gerbang kamp militer saat ini. Besok pagi, saat fajar menyingsing dan ketidakhadiranku di perbatasan diumumkan sebagai 'pemberontakan', pasukan Pengawal Kekaisaran akan mengepung tempat ini."

Qixuan berbalik dari jendela. Sepasang matanya berkilat tajam di bawah cahaya lilin yang bergoyang. "Mereka tidak akan menunggu hingga besok pagi, Kakek. Kaisar Yan adalah orang yang penuh waspada. Begitu para Tetua Bayangan melaporkan bahwa Kakek lolos menggunakan jimat ruang, perintah penangkapan klan kita di ibukota pasti langsung dikeluarkan. Saat ini, Pengawal Kekaisaran mungkin sudah mulai bergerak mengunci gerbang kota."

Tepat ketika kalimat Qixuan berakhir, terdengar ketukan tiga kali di pintu Aula Leluhur. Ketukan yang berirama khusus—dua ketukan lambat, satu ketukan cepat.

"Masuk," perintah Qixuan.

Pintu terbuka, dan Mo Chen melangkah masuk dengan senyap. Pakaian hitamnya basah kuyup oleh air hujan, tetapi tidak ada setetes air pun yang menempel pada gagang pedangnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan kain sutra abu-abu yang terikat benang perak.

"Tuan Muda, Jenderal Besar," Mo Chen memberi hormat dengan satu lutut bertumpu di lantai. "Pesan mendesak dari Nyonya Su. Pasukan Pengawal Kekaisaran di bawah komando Panglima Pei Ji—kakak tertua Pei Qianji—telah memobilisasi tiga ribu prajurit berbaju zirah berat. Mereka bergerak dari barak barat menuju Kediaman Cang. Jarak mereka kurang dari lima belas li dari sini."

Wajah Cang Baotian menegang. "Tiga ribu prajurit zirah berat... Pei Ji sendiri berada di tingkat Komandan Bumi tahap awal. Ditambah dengan formasi tempur militer, mereka bisa meratakan tempat ini dalam waktu satu jam. Xuan'er, kita harus membawa ibumu keluar dari sini sekarang melalui jalur bawah tanah!"

"Tidak," Qixuan memotong dengan tegas, suaranya tenang tanpa ada tanda-tanda kepanikan. "Jika kita lari malam ini, kita akan menjadi buronan seumur hidup. Nama Klan Cang akan selamanya dicap sebagai pengkhianat dalam sejarah Dinasti Yan. Kakek, ratusan ribu prajurit yang tewas di bawah panji Klan Cang di perbatasan tidak layak menerima penghinaan ini."

"Lalu apa rencanamu?! Bertahan di sini dan mati bersama?!" Cang Baotian terbatuk lagi, rasa frustrasi mulai membakar dadanya. "Kekuatanmu saat ini baru berada di tingkat Pengumpulan Qi! Bahkan dengan sembilan pusaranmu yang aneh, kau bukan tandingan bagi satu pasukan militer!"

Qixuan berjalan mendekati altar leluhur, mengambil sebatang dupa baru, memantiknya dengan sentuhan kecil qi-nya, lalu menancapkannya di depan papan nama ayahnya yang gugur sepuluh tahun lalu.

"Kekuatan seorang penguasa tidak hanya diukur dari seberapa tajam pedangnya, Kakek, melainkan dari seberapa banyak pedang yang bisa ia gerakkan tanpa perlu mengotori tangannya," Qixuan tersenyum tipis. "Pei Ji mengira dia sedang mengepung seekor macan tua yang sekarat. Dia lupa bahwa di ibukota ini, Klan Pei bukan satu-satunya harimau yang lapar."

Qixuan menoleh ke arah Mo Chen. "Mo Chen, aktifkan sandi 'Sutra Merah'. Kirim pesan kepada Menteri Pendapatan Negara, Lu Zhen."

Mo Chen mendongak, matanya sedikit membelalak. "Menteri Lu? Tapi Tuan Muda, dia adalah orang yang dikenal paling netral di pengadilan. Dia tidak pernah memihak klan kita ataupun Klan Pei."

"Dia netral karena dia belum melihat keuntungan yang cukup besar untuk mempertaruhkan nyawanya," Qixuan mendengus. "Bulan lalu, putra sulung Lu Zhen kalah judi di Paviliun Teratai Malam sebesar delapan ratus ribu tael emas. Tebak siapa yang memegang surat hutangnya?"

Mo Chen seketika mengerti. "Anda, Tuan Muda."

"Katakan pada Lu Zhen, jika dalam waktu setengah jam dia tidak membawa dokumen korupsi pajak militer yang dilakukan oleh Klan Pei selama tiga tahun terakhir ke hadapan Perdana Menteri Kanan, Han Mian, maka besok pagi surat hutang anaknya akan ditempel di setiap sudut tembok ibukota. Bukan hanya itu, bukti bahwa dia diam-diam menjual garam sitaan kekaisaran ke Suku Barbar juga akan mendarat di meja kerja Kaisar."

Qixuan melangkah mendekati meja cendana, mengambil kuas dan selembar kertas kosong. Dengan gerakan cepat dan bertenaga, ia menuliskan beberapa baris kalimat.

"Dan untuk Perdana Menteri Kanan Han Mian... dia selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan Perdana Menteri Kiri Pei Shiyuan demi merebut posisi perdana menteri tunggal. Kirimkan pesan ini berserta kepala mata-mata kekaisaran yang kita tangkap di Paviliun Teratai Malam tadi. Katakan padanya, malam ini adalah kesempatan terbaiknya untuk memotong sayap militer Klan Pei. Jika dia bergerak sekarang untuk menahan pergerakan Pengawal Kekaisaran di depan istana dengan tuduhan manipulasi gerakan militer tanpa izin tertulis Kaisar, Klan Cang akan mendukungnya penuh di masa depan."

Cang Baotian menatap cucunya dengan rasa takjub yang semakin mendalam. Pemuda di hadapannya ini tidak sedang merencanakan pelarian diri; dia sedang memicu perang politik tingkat tinggi di antara para raksasa kekaisaran, memanfaatkan keserakahan, ketakutan, dan ambisi mereka sebagai bidak catur miliknya sendiri.

"Bagaimana dengan Kaisar Yan?" tanya Cang Baotian. "Menteri dan perdana menteri mungkin bisa saling menahan, tapi jika Kaisar mengeluarkan dekrit mutlak, semua permainan politik ini akan hancur."

"Kaisar Yan saat ini sedang sakit sakral, Kakek. Racun usia tua dan konsumsi pil panjang umur palsu dari para kultivator sesat di istana telah membuat pikirannya lambat," Qixuan melipat kertas tersebut dan menyerahkannya pada Mo Chen. "Dia tidak akan bertindak sebelum melihat faksi mana yang menang di pengadilan besok pagi. Yang perlu kita lakukan malam ini adalah memastikan pasukan Pei Ji tidak pernah melewati gerbang depan kediaman kita dengan selamat."

Mo Chen menerima surat tersebut, membungkuk dalam, dan dalam sekejap mata tubuhnya melebur ke dalam kegelapan malam di luar aula.

Qixuan berbalik kembali menghadap kakeknya. "Kakek, beristirahatlah di ruang rahasia di bawah altar ini. Biarkan cucumu yang menyambut kedatangan Panglima Pei Ji."

Hujan semakin deras, mengubah jalanan berbatu di sekitar Kediaman Cang menjadi aliran air yang keruh. Di kejauhan, bunyi derap langkah kaki yang teratur dan dentingan zirah besi mulai terdengar bergemuruh, memecah kesunyian malam ibukota. Cahaya obor-obor yang dilindungi kain minyak tampak bergoyang-goyang di ujung jalan, mendekat bagai naga api yang siap menelan mangsanya.

Tiga ribu prajurit zirah berat dari Pengawal Kekaisaran menghentikan langkah mereka tepat seratus langkah dari gerbang depan Kediaman Jenderal Cang. Formasi mereka rapi, mengunci setiap jalan keluar dari kediaman tersebut.

Di barisan paling depan, di atas seekor kuda perang berbulu hitam legam, duduk seorang pria paruh baya dengan zirah emas bertatahkan lambang burung elang. Wajahnya keras, matanya memancarkan keangkuhan yang sama dengan Pei Qianji, namun dengan intensitas yang jauh lebih mematikan. Dia adalah Panglima Pei Ji.

Di sampingnya, menunggangi kuda yang lebih kecil dengan wajah yang masih diperban karena tamparan kertas emas tadi malam, adalah Pei Qianji.

"Kakak, pastikan kau tidak membunuh si bajingan Cang Qixuan itu terlalu cepat!" Pei Qianji mendesis penuh dendam, meraba pipinya yang masih bengkak. "Aku ingin meremukkan setiap tulang di tubuhnya dengan tanganku sendiri!"

Pei Ji melirik adiknya dengan pandangan dingin. "Tujuan kita malam ini adalah membersihkan klan ini atas perintah rahasia Istana. Jenderal Besar Cang Baotian dikabarkan terluka parah di perbatasan dan melarikan diri kembali ke sini. Jika dia ada di dalam, bunuh di tempat. Jangan beri mereka kesempatan untuk berbicara di pengadilan besok."

Pei Ji mengangkat tangan kanannya, siap memberi perintah untuk mendobrak gerbang.

Namun, sebelum tangannya sempat turun, pintu gerbang kayu besar Kediaman Cang yang sudah kusam itu perlahan-lahan terbuka dengan suara derit yang panjang.

Dari balik kegelapan gerbang, melangkah keluar seorang pemuda sendirian. Ia tidak mengenakan zirah perang, tidak memegang pedang ataupun tombak. Ia hanya mengenakan jubah sutra biru tua yang longgar, tangan kanannya memegang sebuah payung kertas minyak berwarna putih, sementara tangan kirinya membawa sebuah tungku kecil penghangat tangan dari perunggu.

Cang Qixuan berdiri di bawah guyuran hujan, terlindung oleh payungnya, menatap tiga ribu prajurit bersenjata lengkap seolah-olah mereka hanyalah kerumunan penonton di rumah bordil.

"Panglima Pei Ji," suara Qixuan terdengar jelas menembus deru suara hujan, membawa nada malas yang sangat akrab di telinga Pei Qianji. "Membawa tiga ribu prajurit bersenjata lengkap ke kediaman seorang Jenderal Kekaisaran di tengah malam... Apakah Klan Pei akhirnya memutuskan untuk melakukan pemberontakan yang selama ini kalian rencanakan?"

Pei Ji mendengus kencang, suaranya menggelegar dibantu oleh qi tingkat Komandan Bumi miliknya. "Cang Qixuan! Jangan membalikkan fakta! Kakekmu, Cang Baotian, telah berkhianat di Perbatasan Utara dan bersekongkol dengan Suku Barbar! Aku di sini membawa titah lisan dari Istana untuk menggeledah tempat ini dan menangkap seluruh anggota Klan Cang!"

"Titah lisan?" Qixuan terkekeh pelan, melangkah maju beberapa tindak hingga berdiri di anak tangga teratas gerbangnya. "Klan Cang kami telah melindungi perbatasan selama tiga ratus tahun, menumpahkan darah jutaan prajurit demi kedamaian Dinasti Yan. Dan sekarang, seorang panglima dari Klan Pei ingin meratakan kediaman kami hanya berdasarkan 'titah lisan'? Di mana Dekrit Kekaisaran tertulis? Di mana segel naga?"

"Menghadapi pengkhianat negara, tidak perlu formalitas!" Pei Qianji berteriak dari atas kudanya. "Cang Qixuan, kakekmu sudah sekarat! Menyerahlah sekarang atau kau akan melihat ibumu diperkosa oleh para prajurit ini sebelum kepalanya dipenggal!"

Mendengar penghinaan terhadap ibunya, pandangan mata Qixuan tidak berubah, namun suhu di sekitar tempat ia berdiri mendadak turun drastis. Rintik hujan yang jatuh di sekitar payungnya perlahan-lahan membeku menjadi butiran es kecil sebelum menyentuh tanah. Sembilan pusaran energi di dalam tubuhnya mulai berputar dengan kecepatan yang menakutkan, mengalirkan energi spiritual yang dingin dan tajam ke ujung-ujung jarinya.

"Pei Qianji," Qixuan berbisik, namun suaranya anehnya terdengar tepat di samping telinga pemuda berbaju perban itu, membuat Pei Qianji bergidik ngeri. "Kemarin malam aku melepaskanmu karena menganggapmu hanya seekor anjing yang menggonggong. Tapi tampaknya, anjing yang tidak dididik dengan benar akan mulai menggigit pemilik rumah."

"Banyak bicara! Serang! Hancurkan gerbang dan bunuh siapa saja yang melawan!" Pei Ji berteriak, mengayunkan tangan kanannya ke bawah.

Seratus prajurit barisan depan dengan perisai besar dan kapak raksasa melangkah maju secara serempak. Langkah kaki mereka membuat tanah bergetar.

Qixuan tidak mundur secenti pun. Ia meletakkan tungku perunggu kecilnya di atas pilar batu gerbang, lalu perlahan menutup payung kertas minyaknya. Tubuhnya kini membiarkan hujan mengguyur jubah sutranya, namun anehnya, setiap tetes air yang menyentuh tubuhnya langsung menguap menjadi kabut putih tipis.

"Mo Chen, aktivasikan Formasi 'Guntur Sembilan Siksaan'," perintah Qixuan dengan suara rendah.

Tepat saat para prajurit Pengawal Kekaisaran menginjakkan kaki di batas seratus langkah dari gerbang, garis-garis cahaya ungu tiba-tiba menyala dari bawah genangan air di jalanan batu. Garis-garis cahaya itu saling terhubung satu sama lain, membentuk sebuah lingkaran formasi raksasa yang mengurung seluruh tiga ribu prajurit Pei Ji.

*Blarrr!*

Suara petir yang sangat keras tiba-tiba menyambar dari langit malam yang gelap, bukan mengarah ke bangunan, melainkan langsung menyambar pusat formasi cahaya ungu tersebut. Bumi berguncang hebat. Kilatan listrik berwarna ungu tua merayap cepat dari sela-sela batu jalanan, merambat naik melalui zirah besi para prajurit.

Zirah besi yang seharusnya menjadi pelindung terbaik mereka kini berubah menjadi konduktor maut. Ratusan prajurit di barisan depan seketika menjerit histeris saat tubuh mereka terpanggang di dalam baju zirah sendiri. Bau daging terbakar bercampur dengan aroma belerang menyengat seketika memenuhi udara malam yang basah.

"Formasi Pertahanan Tingkat Bumi?!" Wajah Pei Ji berubah drastis. Ia melepaskan qi emasnya untuk melindungi tubuhnya dan kudanya dari sengatan listrik, namun matanya menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya.

Kediaman Cang yang dikabarkan miskin dan tidak memiliki dana militer, bagaimana mungkin memiliki Formasi Pertahanan Tingkat Bumi yang harganya setara dengan anggaran militer satu provinsi?! Dan siapa yang mengaktifkannya? Mengaktifkan formasi serumit ini membutuhkan kendali spiritual yang sangat presisi!

Di atas anak tangga, Qixuan berdiri tegak di tengah kabit putih yang mengelilinginya. Tangan kanannya kini memegang sebuah token giok hitam yang memancarkan cahaya ungu samar—token kendali formasi.

Emas yang ia habiskan selama lima tahun ini bukan hanya untuk informasi, melainkan juga untuk membeli bahan-bahan formasi langka dari pasar gelap bawah tanah. Selama bertahun-tahun, secara rahasia pada malam hari, Mo Chen dan beberapa anggota Jering Bayangan yang setia telah menanam batu-batu spiritual dan mengukir prasasti formasi di sepanjang jalan menuju kediaman ini.

"Pei Ji, kau bilang Klan Cang adalah pengkhianat," Qixuan melangkah turun satu anak tangga, matanya menatap dingin ke arah panglima yang mulai panik itu. "Malam ini, biarkan aku menunjukkan kepadamu bagaimana seorang 'pengkhianat' bertarung."

"Jangan panik! Pertahankan formasi! Gunakan Qi Zirah untuk menahan petir!" Pei Ji berteriak mencoba menenangkan pasukannya yang mulai kacau. Namun, formasi guntur milik Qixuan bukan formasi biasa. Ini adalah formasi yang telah dimodifikasi menggunakan pemahaman Dao tingkat tinggi yang ia peroleh dari sisa-sisa ingatan teknik kuno. Setiap sambaran petir tidak hanya menyerang fisik, melainkan juga mengikis energi spiritual di dalam Dantian para prajurit.

Di tengah kekacauan tersebut, dari arah belakang pasukan Pengawal Kekaisaran, tiba-tiba terdengar suara terompet militer yang berbeda. Suara terompet yang berat dan berwibawa, menandakan kedatangan pasukan dari faksi lain.

Cahaya obor baru yang jumlahnya tidak kalah banyak muncul dari arah jalan menuju Istana Kekaisaran. Ribuan prajurit dengan zirah perak berlambang harimau putih maju dengan kecepatan penuh, dipimpin oleh seorang pria tua berjubah menteri yang duduk di dalam kereta kuda yang megah.

"Panglima Pei Ji! Hentikan tindakanmu segera!" sebuah suara tua namun berwibawa menggema menembus hujan.

Perdana Menteri Kanan Han Mian telah tiba, didampingi oleh Menteri Pendapatan Negara Lu Zhen dan ratusan pejabat pengadilan.

Pei Ji menoleh, wajahnya menjadi semakin gelap. "Perdana Menteri Han! Apa maksudnya ini?! Saya sedang menjalankan perintah rahasia Istana untuk menangkap pemberontak!"

Han Mian keluar dari kereta kudanya, memegang sebuah gulungan kertas besar di tangannya, wajahnya dipenuhi amarah yang dibuat-buat namun sangat meyakinkan. "Perintah rahasia?! Pei Ji, Menteri Lu Zhen baru saja menyerahkan bukti otentik kepada saya dan Dewan Tetua Pengadilan bahwa Klan Pei telah memanipulasi dana logistik militer Perbatasan Utara selama tiga tahun berturut-turut, menyebabkan pasukan Jenderal Besar Cang kekurangan pasokan! Tindakanmu malam ini membawa pasukan tanpa Dekrit Kekaisaran resmi yang disegel oleh Dewan Pengadilan adalah upaya pembunuhan berencana untuk melenyapkan saksi kunci!"

"Apa?!" Pei Ji tertegun. Ia menatap Lu Zhen yang berdiri di belakang Han Mian dengan wajah pucat namun mengangguk tegas. Pei Ji tidak bodoh; ia segera menyadari bahwa Klan Pei telah dijebak ke dalam perangkap politik yang sangat mematikan.

"Menteri Lu! Beraninya kau memfitnah klan kami?!" Pei Qianji berteriak histeris, melupakan rasa sakit di wajahnya.

"Ini bukan fitnah, Tuan Muda Kedua Pei," Lu Zhen berkata dengan suara bergetar namun tegas, tangannya meraba saku bajunya di mana surat hutang anaknya yang asli berada—yang baru saja dikembalikan oleh Mo Chen sepuluh menit lalu sebagai jaminan kesetiaannya. "Semua pembukuan dan tanda terima palsu yang dibuat oleh Klan Pei ada di tangan Perdana Menteri Han. Panglima Pei Ji, jika Anda tidak menarik mundur pasukan Anda sekarang, Anda akan langsung dicap sebagai pemberontak sejati oleh seluruh pengadilan besok pagi!"

Pei Ji mengepalkan tinjunya hingga sendi-sendinya memutih. Di depannya, Formasi Guntur Sembilan Siksaan milik Qixuan telah menewaskan hampir lima ratus prajurit elitnya dalam hitungan menit. Di belakangnya, faksi politik Han Mian siap menerkam klannya di pengadilan dengan bukti korupsi yang entah bagaimana bisa bocor malam ini.

Ia menatap ke arah Cang Qixuan yang berdiri tenang di kejauhan. Pemuda itu kini kembali membuka payung putihnya, menutupi wajahnya dari pandangan, seolah-olah seluruh drama berdarah dan politik yang terjadi malam ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.

*Dia... Tuan muda sampah ini... apakah semua ini adalah buatannya?* Sebuah pemikiran mengerikan melintas di benak Pei Ji, namun ia segera menepisnya. Tidak mungkin, seorang pemuda fana dengan meridian hancur tidak mungkin memiliki kemampuan untuk menggerakkan dua menteri agung dan mengendalikan formasi tingkat bumi sendirian. Ini pasti rencana tersembunyi yang telah dipersiapkan oleh Jenderal Besar Cang Baotian sebelum ia kembali dari perbatasan!

"Mundur!" Pei Ji akhirnya berteriak dengan gigi terkatup rapat. "Kita kembali ke Kediaman Perdana Menteri!"

Dengan sisa pasukan yang terluka dan hangus, Klan Pei menarik diri dari jalanan Kediaman Cang dengan tergesa-gesa, meninggalkan genangan darah dan abu zirah besi yang perlahan-lahan hanyut oleh air hujan.

Han Mian melangkah mendekati gerbang Kediaman Cang setelah pasukan Pei Ji menjauh. Ia menatap Qixuan dengan pandangan penuh selidik. "Tuan Muda Cang, malam ini orang tua ini telah memenuhi bagian dari kesepakatan kita yang dibawa oleh pengawalmu. Kuharap klanmu tidak lupa akan janji dukungan militer di masa depan."

Qixuan menurunkan sedikit payungnya, memperlihatkan sepasang mata biru kelamnya yang dingin. "Perdana Menteri Han tidak perlu khawatir. Selama Klan Pei runtuh, kerja sama kita akan selalu menguntungkan. Mo Chen, antar Perdana Menteri Han dan para menteri kembali dengan selamat."

Setelah semua orang pergi dan jalanan kembali sepi, hanya menyisakan aroma darah yang samar di bawah guyuran hujan, Qixuan menghela napas panjang. Kabut putih di sekitar tubuhnya perlahan menghilang.

Ia membalikkan badan, berjalan kembali memasuki kediamannya yang sunyi. Langkah kakinya terasa berat. Membuka dua pusaran energi dan mengendalikan formasi tingkat Bumi sekaligus tadi telah menguras hampir seluruh qi murni di dalam tubuhnya yang belum sempurna. Dadanya terasa sesak, dan rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum kembali merayap di sepanjang jalur meridiannya yang hancur.

Namun, ekspresi wajahnya tetap dingin tanpa emosi.

Ini baru permulaan. rencana penghancuran Dinasti Yan baru saja dimulai. Klan Pei telah terluka, faksi pengadilan telah terpecah, dan Kaisar Yan sebentar lagi akan menyadari bahwa anjing pemburu yang ia pelihara di ibukota ternyata memiliki taring yang bisa merobek tenggorokannya sendiri.

Qixuan melangkah menuju Aula Leluhur, bersiap untuk menghadapi malam-malam panjang meditasi berdarah berikutnya demi membuka pusaran ketiga. Jalan menuju puncak kekuasaan sejati tidak dibangun dengan kata-kata, melainkan dengan untaian sutra yang ditenun dari darah para musuhnya.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!