Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menang atau Kalah?—6
Sementara atmosfer di mansion keluarga Dirgantara masih dipenuhi rasa tak percaya, sebuah mobil Porsche Taycan maroon melesat mulus memasuki area parkir sebuah penthouse mewah pribadi di kawasan bisnis Jakarta Selatan. Rumah mewah itu dibeli Aletha menggunakan uang hasil jerih payahnya sendiri sebagai direktur utama di usianya yang masih sangat muda—sebuah ruang privasi mutlak di mana ia bebas menjadi dirinya sendiri tanpa pengawasan orang tua.
Cklek.
Pintu bersistem smart-lock itu terbuka. Belum sempat Aletha melangkah penuh ke dalam ruang tengah, tiga pasang mata langsung menusuknya dengan tatapan lapar akan gosip. Angelina, Chelsea, dan Electra sudah menguasai karpet bulu di depan TV, lengkap dengan beberapa kotak piza dan botol wine yang sudah terbuka. Mereka sengaja menginap, tidak sabar menanti hasil umpan gila yang ditebar Aletha malam ini.
Tanpa memedulikan penampilannya yang masih mengenakan mini dress satin maroon seharga puluhan juta, Aletha langsung berjalan cepat menuju kamarnya yang super luas, diikuti oleh ketiga sahabatnya yang mengekor di belakang seperti anak ayam.
Bruk!
Aletha menjatuhkan tubuhnya begitu saja, menubruk kasur king-size empuk bernuansa abu-abu gelap miliknya. Ia telungkup, membenamkan wajahnya di bantal sutra, lalu tertawa pelan yang lama-lama berubah menjadi tawa kepuasan yang renyah.
"Woy, Tha! Jangan bikin jantungan deh! Gimana?!" Chelsea langsung naik ke atas kasur, mengguncang-guncang bahu Aletha dengan heboh. Lipstiknya bahkan sedikit belepotan karena terlalu banyak mengunyah camilan sejak tadi.
"Iya, Tha! Lo ketemu nggak sama si Danny? Diusir sama bodyguard-nya nggak? Atau lo cuma bisa mandangin dia dari jarak sepuluh meter?" Angelina menimpali, ikut duduk di ujung ranjang sembari memeluk bantal.
Aletha membalikkan tubuhnya, telentang menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lampu tidur estetik. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, di sela jemari lentiknya, sebuah ponsel pintar berdenting satu kali. Ada sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.
+62811-XXXX-XXXX: > Ini pesan pertama dari saya. Dan seperti janji saya, saya tidak akan membiarkanmu bosan, Aletha.
Melihat nama pengirim yang tertera di pop-up layar, Electra yang sejak tadi mengintip langsung menjerit histeris hingga menutup mulutnya sendiri. "GILA! JANGAN BILANG ITU NOMORNYA DANNY ATONIO?!"
Aletha bangkit dari tidurnya, duduk bersila dengan keanggunan seolah seperti Ratu yang baru saja memenangkan takhta. Ia menyunggingkan seringai indahnya.
"Tas Chanel vintage lo, jatah sewa cowok lo sebulan, sama kunci apartemen lo, Chel... siapin semuanya besok pagi," ucap Aletha dengan nada suara yang teramat santai namun penuh penekanan.
"DEMI APA?! KOK BISA?!" Chelsea nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Danny Atonio? Pria yang katanya aseksual dan benci perempuan itu? Lo beneran dapet nomornya?!"
"Bukan cuma dapet," Aletha menurunkan kakinya dari kasur, menuangkan sisa wine ke dalam gelas kosong di nakas dengan gerakan tenang. "Dia yang nyamperin meja gue. Dia yang minta izin ke Om Pramoedya dengan sangat sopan cuma buat minta kontak gue. Dan tebak apa? Dia bahkan nawarin gue buat nyicipin steak-nya di depan semua mata konglomerat Jakarta."
"Gimana caranya, Tha? Lo pakai pelet apa anjir?" Angelina masih tidak percaya, mengetuk-ngetuk kuku panjangnya ke dahi.
"Gue nggak pakai cara murahan kayak sepupu lo, El," Aletha menyesap wine-nya, matanya berkilat penuh gairah yang berbahaya. "Gue dateng sebagai satu-satunya perempuan yang nggak tertarik sama kekuasaannya. Di depan dia, gue bersikap sangat netral, dingin, dan menganggap dia nggak lebih penting dari pelayan yang bawa nampan. Dan boom... egonya yang setinggi langit langsung gonjang-ganjing. Dia penasaran setengah mati sama gue."
"Gila... lo bener-bener gila, Aletha," Electra menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap sahabatnya itu dengan perpaduan rasa kagum dan ngeri secara bersamaan. "Tapi lo harus hati-hati, Tha. Cowok kayak Danny itu kalau udah penasaran, dia bakal ngelakuin apa aja buat dapet jawabannya."
Aletha justru terkekeh geli, mengingat bagaimana Cassandra (adik Danny) yang satu kampus dengannya pasti akan menceritakan "sisi suci" dirinya kepada keluarga Dirgantara. Ya, di mata dunia, Aletha Adinata adalah mahasiswi anggun, anak pengusaha migas yang bersih dari skandal asmara. Tidak ada yang tahu kalau di dalam kamar penthouse ini, ia dan ketiga temannya sedang menertawakan betapa mudahnya para pria berkuasa masuk ke dalam jebakan mereka.
"Justru itu yang gue tunggu," bisik Aletha lirih, menatap pesan di layar ponselnya sekali lagi sebelum menekan tombol lock. "Dia pikir dia ini pemburu yang lagi ngincar mangsanya. Padahal... dia baru aja masuk ke perangkap yang gue siapin."
Malam semakin larut di atas langit Jakarta, namun bagi Aletha, permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sang monster dingin telah terusik, dan papan permainan kini sepenuhnya berada di bawah kendali sang gadis licik.
Tawa kemenangan di kamar penthouse itu belum juga surut. Bagi Aletha, Angelina, Chelsea, dan Electra, keberhasilan menjerat Danny Atonio dalam beberapa jam bukanlah sekadar kemenangan taruhan biasa—ini adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan secara besar-besaran.
"Ah, masa cuma minum wine doang sih? Nggak seru banget! Malam ini kita resmi dapet mangsa paling mahal di Jakarta, kita harus party gila-gilaan!" seru Chelsea sembari melempar bantal sofa ke udara, matanya berkilat penuh rencana liar.
Angelina langsung menyahut sembari meraih ponselnya, "Setuju banget. Gue panggil 'hiburan' ya? Kebetulan mami agensi langganan gue baru dapet stok anak-anak kuliahan spek model. Masih seger, penurut, dan yang paling penting... mulut mereka bisa dibungkam pakai duit."
Aletha yang masih duduk santai di tepi ranjang hanya menaikkan sebelah alisnya, membiarkan rambut panjangnya terurai bebas. Senyum tipisnya tidak luntur. "Panggil aja. Tapi inget, suruh mereka masuk lewat lift khusus belakang. Jangan sampai ada security yang ambil foto."
"Aman, Tha. Lo kayak baru kenal kita sehari dua hari aja. Main bersih itu keahlian kita," sahut Electra sembari mengedipkan sebelah matanya jenaka.
Satu jam kemudian, suasana di dalam penthouse mewah itu berubah total. Lampu utama yang terang benderang dimatikan, digantikan oleh pendar lampu LED bernuansa ungu dan merah temaram yang menciptakan atmosfer sensual. Musik deep house bertempo sedang mengalun berat dari pengeras suara, berdentum pelan menggetarkan lantai marmer.
Empat orang cowok bertubuh atletis dengan wajah layaknya aktor drama—lengkap dengan rahang tegas dan pakaian modis yang sengaja dilonggarkan—melangkah masuk dengan sikap yang sangat patuh. Di luar sana, mereka mungkin menjadi pujaan gadis-gadis di club malam elit Jakarta, atau bahkan anak dari pejabat daerah. Namun di dalam penthouse milik Aletha, mereka tahu betul posisi mereka, mereka hanyalah objek hiburan yang dibayar mahal untuk menyenangkan para wanita bejat itu.
"Malam, Ladies..." sapa salah satu cowok berambut acak-acakan yang tampak paling percaya diri, langsung mengambil posisi duduk di karpet bulu, di bawah kaki Chelsea yang sengaja menyandarkan tubuhnya di sofa.
Permainan malam itu pun dimulai. Chelsea dan Angelina sudah asyik tertawa lepas, membiarkan para cowok itu menuangkan minuman, memijat bahu mereka yang lelah, dan melemparkan gombalan-gombalan manis yang menghibur ego.
Sementara itu, Aletha duduk di sofa tunggal yang posisinya agak tinggi, seperti seorang penguasa yang sedang menonton pertunjukan sirkus. Salah seorang cowok berwajah oriental yang paling tampan di antara mereka mencoba mendekati Aletha dengan langkah perlahan. Ia berlutut di dekat kaki Aletha, mencoba menawarkan segelas champagne baru dengan senyuman paling memikat yang ia punya.
"Mau aku tuangkan lagi, Cantik?" bisik cowok itu dengan suara rendah yang dibuat se-seksi mungkin. tangannya bergerak pelan, berniat menyentuh ujung lutut Aletha.
Plak.
Aletha menepis jemari cowok itu menggunakan ujung kipas satinnya dengan gerakan cepat, namun matanya tetap menatap tenang, bahkan terkesan dingin.
"Gue nggak suka disentuh tanpa izin," ucap Aletha, nadanya sangat datar namun sanggup membuat nyali cowok di hadapannya menciut seketika. "Duduk di sana. Minum minumannya, temani gue ngobrol, dan buat gue ketawa. Itu tugas lo malam ini. Paham?"
Cowok itu menelan ludah dengan susah payah, langsung mengangguk patuh tanpa berani membantah. "P-paham, Kak Aletha."
Inilah fakta mengerikan yang tidak akan pernah diketahui oleh Cassandra, Mama Dominic, maupun Danny Atonio di luar sana. Di kampus, Aletha Adinata dipuja bagai dewi suci yang tidak tersentuh oleh dosa asmara. Namun di balik dinding penthouse ini, dialah yang memegang kendali atas rantai makanan itu. Dia "ngebungkus" cowok-cowok bukan karena dia butuh cinta atau belaian—dia melakukan semua ini murni karena ia candu melihat bagaimana pria-pria yang dipuja di luar sana bisa bertekuk lutut dan tunduk di bawah perintah uang serta pengaruhnya.