NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:190.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

​Adila menatap layar ponselnya dengan saksama. Cahaya dari benda pipih itu terasa menyengat matanya yang sudah perih karena terjaga hampir semalam suntuk di rumah sakit. Notifikasi transfer bank dari suaminya baru saja masuk, sebuah rutinitas setiap tanggal satu yang biasanya menjadi simbol ketenangan bagi rumah tangga mereka. Namun malam ini, deretan angka di sana membuat jantung Adila seolah berhenti berdetak sesaat.

​"Sepuluh juta rupiah." Gumam nya.

​Adila mengerjapkan mata, berharap itu hanya ilusi optik akibat kelelahan.

Namun, setelah menyegarkan layar aplikasi berkali-kali, nominal itu tidak berubah. Tetap sepuluh juta rupiah. Hanya setengah dari jumlah yang biasa Revan kirimkan selama sepuluh tahun terakhir untuk menopang seluruh kebutuhan rumah tangga, cicilan, dan biaya pendidikan spesialis Adila yang tidak murah.

​Keheningan malam di rumah mewah itu mendadak terasa mencekik. Adila menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang mulai terasa sesak. Ia meletakkan ponselnya di atas meja rias dengan tangan yang sedikit gemetar.

​"Bi Ijah, Mas Revan sudah pulang?" tanya Adila saat ia turun ke lantai bawah dan mendapati asisten rumah tangganya itu sedang merapikan sisa-sisa makan malam.

​"Sudah, Non. Baru saja sekitar lima belas menit yang lalu. Beliau langsung ke ruang kerja, katanya ada laporan penting yang harus diselesaikan segera," jawab Bi Ijah tanpa berani menatap mata Adila, seolah wanita tua itu juga merasakan ada aura yang berbeda di rumah ini.

​Adila mengangguk pelan. Ia melangkah menuju ruang kerja suaminya dengan perasaan yang berkecamuk. Pintu kayu jati berukir itu sedikit terbuka, menyisakan celah yang memperlihatkan sosok Revan yang sedang duduk membelakangi pintu. Suaminya itu tampak sangat sibuk, namun bukan dengan laptop yang menyala di depannya, melainkan dengan ponsel yang ia genggam erat. Dari pantulan kaca jendela, Adila bisa melihat Revan tersenyum tipis sambil mengetikkan sesuatu senyum yang belakangan ini jarang Adila lihat untuknya.

​"Mas," panggil Adila lembut, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

​Revan tersentak kecil, bahunya menegang sesaat sebelum ia buru-buru meletakkan ponselnya tertelungkup di atas meja. Ia memutar kursinya perlahan, menatap Adila dengan tatapan yang sulit diartikan sebuah campuran antara rasa bersalah yang disembunyikan dan tekad yang dipaksakan.

​"Eh, Adila. Kamu sudah selesai belajarnya? Kapan sampai rumah? Aku tidak dengar suara mobilmu," ujar Revan mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan retoris.

​Adila tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang berbau parfum cedarwood maskulin kesukaan Revan aroma yang biasanya melambangkan rasa aman baginya, tapi kini terasa asing. Adila duduk di kursi seberang meja kerja suaminya, menatap lurus ke arah laki-laki yang telah bersamanya selama satu dekade itu.

​"Mas, aku baru saja mengecek mutasi rekening. Uang bulanan kali ini... kenapa jumlahnya berbeda? Kenapa hanya setengah, Mas?"

​Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tenang namun tajam. Revan terdiam. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk. Ia tampak telah menyiapkan jawaban untuk momen ini, sebuah jawaban yang sudah ia susun rapi di kepalanya.

​"Dila, aku memang ingin membicarakan ini padamu tadi, tapi aku lihat kamu sangat lelah. Meisya... dia sedang dalam kondisi yang sangat sulit sekarang," ucap Revan akhirnya.

​Nama itu. Nama yang belakangan ini seperti duri di dalam daging bagi Adila. Meisya, sahabat masa kecil Revan yang kembali muncul setelah suaminya meninggal dunia. Seorang wanita yang selalu diposisikan Revan sebagai pihak yang paling malang di dunia ini.

​"Kesulitan apa lagi kali ini, Mas? Bukankah bulan lalu kita sudah sangat banyak membantunya? Kita membayar biaya pemakaman suaminya, kontrakan barunya, bahkan biaya hidupnya selama dua bulan ini. Apa itu masih kurang?" suara Adila mulai naik satu oktav.

​"Meisya sedang hamil, Dila. Empat bulan," potong Revan cepat, seolah ingin segera mengeluarkan beban itu dari mulutnya. "Dia tidak punya penghasilan tetap. Almarhum suaminya meninggalkan banyak utang. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain aku. Dia rapuh, Dila. Kondisi mentalnya juga sangat tidak stabil karena trauma kecelakaan itu."

​Adila merasa seolah ada batu besar yang menghantam ulu hatinya. Udara di sekitarnya mendadak tipis, membuatnya sulit bernapas. "Lalu? Apa hubungannya kehamilan Meisya dengan hak finansial istri sahmu? Apa hubungannya dengan memotong uang kuliahku?"

​"Aku sudah berjanji pada Ibu untuk menjaganya. Kamu tahu sendiri bagaimana Ibu sangat menyayangi Meisya. Ibu merasa berutang budi pada mendiang orang tua Meisya. Jadi, mulai bulan ini, setengah dari nafkah yang biasanya kuberikan padamu akan kualokasikan untuk biaya hidup dan kontrol kehamilan Meisya ke dokter spesialis. Dia butuh asupan gizi yang baik agar janinnya sehat."

​Adila tertawa miris, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti rintihan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang. "Cukup, Mas? Kamu bicara soal gizi wanita lain sementara istrimu sendiri sedang berjuang menyelesaikan pendidikan dokternya? Kamu tahu sendiri biaya koas, buku-buku referensi, dan ujian semester ini sedang tinggi-tingginya. Kamu tahu kita punya cicilan rumah yang harus dibayar. Dan sekarang, kamu memotong nafkahku demi kemanusiaan untuk wanita lain?"

​"Dila, mengertilah! Kamu itu mandiri. Kamu calon dokter, sebentar lagi kamu akan punya penghasilan besar sendiri. Lagipula, tabunganmu dari hasil royalti menulis novel selama ini masih banyak, kan? Kamu masih bisa pakai uang itu dulu untuk menutupi kekurangannya. Tapi Meisya? Dia tidak punya tabungan sepeser pun. Dia tidak bisa menulis sepertimu, dia tidak sepintar dirimu. Dia butuh dilindungi!"

​Suara Revan meninggi, sebuah pembelaan yang terasa sangat tidak adil di telinga Adila. Kalimat kamu kuat, dia lemah adalah racun yang paling mematikan bagi Adila. Seolah-olah karena ia tangguh, ia tidak berhak untuk dicintai dan dijaga dengan cara yang semestinya.

​"Jadi, karena aku mandiri, aku boleh diterlantarkan? Karena aku dianggap bisa bertahan hidup sendiri, hakku boleh diberikan pada orang lain?" bisik Adila dengan suara bergetar. "Apa kamu lupa, Mas? Aku mendampingimu sejak kamu masih menjadi staf biasa. Aku yang menyemangatimu saat kamu gagal. Dan sekarang, saat kamu sudah di puncak, kamu justru membagi milik kita dengan orang lain?"

​Revan tidak menjawab. Ia justru mengalihkan pandangannya ke jendela, menghindari tatapan hancur istrinya. Tepat saat itu, ponsel Revan yang berada di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk. Tanpa sengaja, Adila melihat nama yang tertera di sana: Meisya.

​Revan tampak ragu sejenak, melirik ke arah Adila, namun tangannya tetap bergerak menyambar ponsel tersebut. Ia mengangkatnya, dan seketika itu juga layar ponsel menampilkan wajah seorang wanita dengan mata sembab dan rambut yang sedikit berantakan, tampak sangat menyedihkan di atas tempat tidur.

​"Mas Revan... maafkan aku menelepon malam-malam begini. Perutku... perutku mendadak kram lagi. Aku takut sekali, Mas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayiku? Aku tidak punya siapa-siapa di sini..." suara manja dan gemetar itu terdengar jelas di ruang kerja yang hening.

​Ekspresi Revan berubah seratus delapan puluh derajat. Guratan kemarahan dan rasa bersalah pada Adila tadi mendadak lenyap, berganti dengan kepanikan yang nyata.

​"Iya, Mei. Tenang ya, tarik napas dalam-dalam. Jangan panik dulu, itu tidak baik untuk bayimu. Aku ke sana sekarang juga, ya? Aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat. Tunggu aku sepuluh menit," jawab Revan dengan nada bicara yang begitu lembut, nada bicara yang dulu hanya milik Adila.

​Revan langsung berdiri, menyambar kunci mobil di atas meja tanpa sedikit pun menatap wajah istrinya yang masih terpaku. Ia bahkan tidak berpamitan dengan layak.

​"Aku harus pergi. Kondisinya gawat. Kamu tidurlah duluan, jangan menungguku. Mungkin aku akan menemani dia di rumah sakit sampai kondisinya stabil," ucap Revan singkat sambil melangkah lebar keluar dari ruangan, meninggalkan Adila sendirian di tengah keheningan yang menyakitkan.

​Adila hanya bisa menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Di atas meja kerja itu, sebuah buku anatomi tebal miliknya tergeletak simbol mimpi besar yang ia perjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata, kini nampak seperti onggokan kertas tak berharga.

​Ia berjalan gontai ke arah jendela, melihat mobil Revan meluncur kencang menembus hujan deras. Hatinya terasa remuk, serpihannya seolah ikut terbawa aliran air hujan yang mengalir di kaca. Sepuluh tahun pernikahan, pengorbanan demi pengorbanan, dan pada akhirnya, posisinya digeser begitu mudah oleh seorang wanita yang hanya perlu mengandalkan kelemahan untuk mendapatkan seluruh perhatian suaminya.

​Restu mertua yang dulu ia agung-agungkan sebagai jaminan kebahagiaan, kini terasa seperti belenggu. Adila sadar, di rumah ini, ia mulai menjadi asing. Ia bukan lagi prioritas. Ia hanyalah sosok yang dianggap kuat yang perlahan-lahan mulai kehilangan tempatnya karena restu sang suami kini telah ditarik kembali dan diberikan pada rahim wanita lain.

​Malam itu, di bawah temaram lampu ruang kerja, Adila menangis tanpa suara. Isaknya tertelan oleh suara guntur yang bersahutan, menandai awal dari badai yang jauh lebih besar dalam hidupnya.

1
Jetva
🤔🤔🤔daster lengan🤔🤔🤔🙄🙄🙄🤔🤔🤔🤔🤔
Evi Goenharto
loh bukannya Revan kmrn udh ditangkap polisi ya thor
Jetva
Hadi🤔Bayu🤔 Danang🤔...???????
Jetva
🙄🙄🙄udah meninggal beberapa tahun lalu....????🤔🤔🤔🤔🙄🙄🙄🙄berarti meisya hamil anak Revan...???gimana sih...?? bingung gua🤔🤔🤔🤔🤔
Jetva
🤣🤣🤣🤣🤣..aq merasa lucu...itu anak siapa yg di dalam perut jalang itu...anak teman apa anak Revan..?? koq mau"x tampung terus...sampai bercerai dr istri yg kaya raya cm demi benalu🤣🤣🤣
Jetva
Lah emang elu ogeb bgt, Revan...masa lu yg tanggung biaya harus ikut kemauan yg ditanggung..?? emang super lolot...
Jetva
loh..sebenarnya itu anak siapa..?? koq Revan mati matian belain diaaaa..????..teman ya teman..beda dgn istei...istri itu belahan jiwa...teman makan teman namax klo cara mesya...
Evi Goenharto
thor jgn bikin bingung, itu dirumah Aris apa dirumah Dila sih ...🤣
evi carolin
papi hebat , peran antagonisnya dapet ... 🤣🤣🤣 sukses bikin Doni mati kutu tp salah orang 😱🤣🤣 ,kmbali normal ya Papi ,ni calon jodoh yg asli datang ... tampilin wajah coolnya n wibawa seorang papi 😁
Evi Goenharto
kasian mantan suaminya...pdhl udh trpuruk ya, udh pasti nyesel setengah idup, ketambah ama kasus kriminal makin lengkap udh penderitaannya, pdhl wkt msh pny gaji gede kmrn gregetan bgt bacanya wkt gajinya dibagi 2 ama nenek lampir 🤣
Rismawati Damhoeri
wah..mangkin tak masuk akal ajanih, memangnya nama istrinya nggak ada bintinya gitu...?,
Ros Ayuk: 💪💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
umur 32 th baru dokter muda..?, umur berapa tuh mulai kuliah?, umur berapa juga nanti jdi dokter spesialis?, tua ini mah...🤭😍🤣🤣
Rismawati Damhoeri
jangan sekarang jual rumahnya dila, tunggu resmi bercerai dulu, tak bagus di liat orang...nanti di kirain gimanaa lagi..😄🤭
Rismawati Damhoeri
nah, itu baru istri hebat..👍, jangan kayak di novel lain setelah 10 th, pergi tanpa membawa apa..nggak goblok itu namanya..😄😄😄🤣🤣
Maria Magdalena
Akhirnya tertangkap jg berarti sdh diintai lama.
Maria Magdalena
waduuhh si papi bikin ngakak aja🤣🤣🤣🤣
Maria Magdalena
karmap mulai datang tiara nikmati ya 😄
niktut ugis
ya kali hbis ngerampok 5M msh domisili di kost kumuh🤔
minimal pny rmh tingkat 1 lah dan ada di daerah yg jauh dari jangkauan radar keluarga Ardi.
ajaib juga sich Thor klu tiara sebodoh ini otak nya dlm mengelola uang 5M
Maria Magdalena: Kan takut ketahuan
total 1 replies
niktut ugis
sedikitnya mereka harus berterima kasih juga sama tiara tanpa tiara beberkan semuanya perjodohan Siska Ardi akan terjadi
niktut ugis
tindakan yg keren Tiara biar si curut aris & keluarga nya ikut hancur sekalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!