🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Masa Lalu Dan Hutan Terlarang
Setelah peristiwa di Gunung Suci, nama Xiao Chen dan Shen Yue kini bergema ke seluruh penjuru negeri. Kisah tentang dua orang yang mengalahkan ambisi Kaisar dan Pangeran Hao, serta menghidupkan kembali puncak gunung yang mati itu, menyebar bagai angin kencang. Kini, tidak ada lagi yang berani memandang rendah mereka. Mereka bukan lagi sekadar bangsawan atau wanita pandai bercocok tanam. Mereka dihormati sebagai Penjaga Alam, sosok yang memegang keseimbangan antara manusia dan kekuatan dunia.
Namun, di balik kemegahan dan penghormatan itu, hati Shen Yue tidak sepenuhnya tenang. Ada rasa ganjil yang terus mengganggu pikirannya sejak turun dari gunung. Setiap kali ia menyentuh tanah atau berbicara dengan tanaman, ia merasakan ada pesan samar, bisikan-bisikan halus yang seolah memanggilnya dari tempat yang sangat jauh, dari arah selatan, di luar batas wilayah kekaisaran.
Pagi itu, di taman belakang kediaman Xiao yang kini tumbuh makin subur, makin luas, dan makin indah, Shen Yue duduk di bawah pohon mawar raksasa—pohon yang kini menjadi pusat energi taman itu. Ia memejamkan mata, tangan kanannya menempel pada batang kayu yang kasar namun hangat itu, mencoba mendengarkan suara bumi dengan lebih dalam.
Xiao Chen berjalan mendekat perlahan, tidak berani mengganggu, namun matanya penuh perhatian dan kekhawatiran. Sejak kembali dari gunung, Shen Yue sering seperti ini—terdiam, melamun, seolah jiwanya pergi ke tempat lain. Di dalam dirinya, Xiao Lei dan Xiao Mo juga merasa gelisah. Xiao Lei ingin sekali bertanya, tapi ditahan oleh Xiao Mo yang merasa ada sesuatu yang besar sedang mendekat.
"Kau merasakannya lagi, ya?" tanya Xiao Chen pelan, saat Shen Yue akhirnya membuka mata.
Mata gadis itu berbinar samar, ada campuran rasa penasaran dan kesedihan yang mendalam di sana. Ia mengangguk pelan, lalu menatap kekasihnya lekat-lekat.
"Xiao Yi... aku menemukan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting, tapi juga sangat membingungkan. Ingat kata-kata Kaisar dulu? Bahwa aku adalah keturunan terakhir Penjaga Kehidupan? Dan bahwa kalian dulu sangat dihormati sebelum akhirnya ditakuti dan diburu?"
Shen Yue berdiri, berjalan menuju sebuah meja batu di dekat sana, di atasnya ia sudah menyiapkan peta besar wilayah kekaisaran dan sekitarnya. Ia menunjuk ke arah wilayah paling selatan, daerah yang tertulis dengan tulisan kecil: Hutan Terlarang – Wilayah Mati.
"Dari suara-suara yang aku dengar, dari ingatan yang tersimpan di dalam akar pohon dan tanah... aku tahu sekarang. Dulu, ribuan tahun lalu, bangsa kami—bangsa Penjaga Kehidupan—tidak hidup sendiri. Kami hidup dalam satu komunitas besar, satu kerajaan indah yang terletak tepat di sana, di selatan sana. Tempat itu disebut Kerajaan Akar Dunia. Di sanalah pusat kekuatan kami berada, di sanalah tempat lahirnya semua pengetahuan, semua benih, dan semua rahasia alam."
Xiao Chen mengerutkan kening, menatap wilayah yang ditunjuk itu. Di peta, wilayah itu berwarna hitam pekat, tertulis peringatan keras bahwa siapa pun yang masuk tidak akan pernah kembali.
"Tapi kenapa jadi terlarang? Kenapa jadi wilayah mati? Jika itu tempat asal bangsamu, kenapa sekarang menjadi tempat yang ditakuti semua orang?" tanya Xiao Chen tegas.
Wajah Shen Yue menjadi sedih. Ia mengusap permukaan meja batu itu pelan.
"Karena perang, Xiao Yi. Perang yang sama yang membuat kami diburu dan dikucilkan. Dulu, ada pihak yang iri, ada pihak yang ingin menguasai kekuatan kami. Mereka datang dengan pasukan besar, dengan sihir gelap, dengan keinginan menghancurkan apa yang tidak bisa mereka miliki. Kerajaan Akar Dunia diserang, dikepung, dan akhirnya... mereka menggunakan sihir terlarang untuk mematikan seluruh kehidupan di sana dalam sekejap mata. Mereka pikir dengan menghancurkan tempat itu, kekuatan Penjaga akan hilang selamanya."
Shen Yue menatap Xiao Chen, matanya berkilat penuh tekad.
"Tapi mereka salah. Kekuatan itu tidak bisa dihancurkan. Itu hanya tertidur, terkurung, menunggu waktu untuk bangkit kembali. Dan sekarang... karena aku sudah bangun, karena kita sudah membuktikan kekuatan kita... aku merasakan panggilan itu makin kuat. Tempat itu masih ada. Di bawah tanah yang mati itu, di balik hutan yang gelap dan berbahaya itu... masih tersimpan sisa-sisa pengetahuan, sisa-sisa kekuatan, dan mungkin... sisa-sisa keluargaku, sisa-sisa bangsaku yang selamat dan bersembunyi sampai sekarang."
Ia menggenggam tangan Xiao Chen erat-erat.
"Xiao Yi... aku harus ke sana. Aku harus pergi ke Hutan Terlarang, ke tempat asal leluhurku. Bukan hanya untuk mencari tahu jati diriku sepenuhnya... tapi juga karena aku merasa, ada sesuatu yang penting tersimpan di sana. Sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaan kita. Mengapa kau memiliki jiwa ganda? Mengapa takdir kita dipertemukan? Dan apa sebenarnya tujuan besar kita di dunia ini?"
Xiao Chen diam sejenak. Ia menatap wajah wanita yang dicintainya itu, melihat ketulusan dan keberanian yang tidak pernah luntur. Ia tahu, sejak awal bertemu, wanita ini selalu berjalan ke arah yang tidak diketahui, selalu berani menghadapi bahaya demi kebenaran dan kehidupan. Dan di mana pun dia pergi, dia pasti akan ikut.
Di dalam dirinya, suara Xiao Lei terdengar bersemangat meledak-ledak: "Wah! Hutan Terlarang! Kedengarannya seru banget! Penuh misteri, penuh bahaya! Aku mau ikut! Pasti ada petualangan seru di sana, lebih seru dari Gunung Suci! Ayo, ayo berangkat sekarang!"
Sementara itu, suara Xiao Mo terdengar lebih tenang, namun penuh peringatan dan kewaspadaan: "Hutan Terlarang... tempat itu benar-benar mati. Energi jahat yang menumpuk di sana jauh lebih tua dan jauh lebih pekat daripada di Gunung Suci. Bahayanya berkali-kali lipat. Tapi... jika itu jalan menuju kebenaran... aku akan ikut. Aku akan jaga. Tidak ada bahaya yang bisa lewat dari mataku."
Xiao Chen menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis, menatap Shen Yue dengan pandangan penuh cinta dan keyakinan. Ia mengusap pipi gadis itu lembut.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi ke tempat berbahaya itu sendirian? Kau pikir aku akan diam saja di sini sementara kau menghadapi bahaya besar sendirian?" Xiao Chen menggeleng mantap. "Di mana pun kau pergi, Yue... ke ujung dunia sekalipun, ke tempat paling gelap dan paling berbahaya sekalipun... aku akan selalu ada di sampingmu. Ingat? Kita adalah duri dan kelopak. Tidak terpisahkan."
Ia menunjuk peta itu, matanya menajam penuh tekad.
"Kalau itu tempat asalmu, tempat rahasia bangsamu... maka itu juga tempat asalku. Karena sejak kau masuk ke dalam hidupku, segalanya yang jadi milikmu... jadi milikku juga. Kita akan pergi ke sana. Kita akan buka rahasia itu. Dan kita akan pastikan... bahwa kesedihan dan kehancuran yang menimpa bangsamu dulu... tidak akan pernah terulang lagi."
Shen Yue tersenyum bahagia dan haru, air mata menetes di sudut matanya. Ia mengangguk kuat.
"Terima kasih, Xiao Yi. Terima kasih sudah selalu ada. Bersamamu... aku tidak takut apa pun."
Persiapan pun dimulai kembali. Kali ini, persiapan jauh lebih matang dan jauh lebih lengkap dibandingkan saat ke Gunung Suci. Mereka tahu, Hutan Terlarang bukan sekadar tempat yang dingin atau berkabut. Itu adalah tempat yang dikutuk, tempat di mana alam sendiri dipaksa mati, tempat di mana energi jahat berkuasa penuh.
Shen Yue menyiapkan segala jenis benih istimewa, tanaman yang bisa tumbuh di tanah paling keras, tanaman yang bisa menyembuhkan racun, tanaman yang bisa menerangi kegelapan, dan tanaman yang bisa menjadi perisai atau senjata jika dibutuhkan. Ia juga membawa tongkat kayu mawar kesayangannya, yang kini makin kuat dan makin bersinar, karena sudah menyerap energi dari Gunung Suci.
Xiao Chen menyiapkan pasukan pribadi terbaiknya, senjata-senjata yang dilapisi energi murni dari taman mereka, dan strategi perjalanan yang matang. Ia juga memastikan A-Ming dan pengawal setia lainnya ikut serta, meskipun ia tahu, bahaya di sana mungkin di luar nalar manusia biasa.
Tiga hari kemudian, rombongan berangkat. Kali ini tidak ada lagi yang berani menghalangi atau mengancam. Kaisar Yuan dan Pangeran Hao bahkan mengirimkan pesan hormat dan permohonan maaf, berharap Penjaga itu mau melindungi kerajaan mereka dari jauh.
Perjalanan ke selatan memakan waktu berminggu-minggu. Mereka melewati padang rumput luas, sungai besar, hutan-hutan biasa, hingga akhirnya pemandangan di depan mata mereka berubah drastis.
Hijau, warna-warni, dan kehidupan perlahan menghilang. Digantikan oleh warna abu-abu, cokelat kering, dan hitam. Semakin dekat ke perbatasan wilayah terlarang, tanah makin retak, makin keras, dan sama sekali tidak ada tumbuhan yang mau tumbuh. Udara terasa berat, kering, dan berbau anyir seperti darah kering dan bau besi karatan.
Akhirnya, mereka sampai di tepian sebuah tembok alami raksasa yang menjulang tinggi: Hutan Terlarang.
Pemandangan di hadapan mereka sungguh mengerikan namun luar biasa. Pohon-pohon raksasa setinggi gunung berjejer rapat, batangnya hitam pekat, kulit kayunya keriput dan kaku seperti batu, cabang-cabangnya melengkung ke bawah seperti tangan-tangan mayat yang ingin meraih ke atas. Tidak ada daun, tidak ada bunga, tidak ada rumput. Hanya batang-batang mati yang menjulur ke langit kelabu.
Suasana di sana hening total. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga, bahkan tidak ada suara angin. Hening yang mematikan, seolah seluruh dunia di dalam sana sudah mati ribuan tahun yang lalu dan tidak akan pernah hidup kembali.
A-Ming dan para pengawal menelan ludah dengan gugup, wajah mereka pucat. Mereka pernah mendengar cerita seram tentang tempat ini, tapi melihatnya langsung jauh lebih mengerikan dari apa pun yang bisa dibayangkan.
"Ini... ini tempatnya, Tuan Muda... Nona Yue..." bisik A-Ming dengan suara bergetar. "Dulu ada rombongan penjelajah, ada pasukan yang dikirim ke sini... tapi tidak ada yang kembali. Katanya, siapa pun yang masuk akan tersesat selamanya, jiwanya akan tersedot oleh pohon-pohon mati ini, dan tubuhnya akan menjadi bagian dari hutan ini selamanya."
Xiao Chen mengangguk pelan, tangannya menggenggam gagang pedang erat, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan di antara batang-batang pohon raksasa itu.
"Kita tahu risikonya, A-Ming. Tapi kita tidak punya pilihan. Di sanalah jawabannya berada. Dan ingat... kita membawa sesuatu yang tidak dimiliki penjelajah atau pasukan mana pun sebelumnya. Kita membawa Kehidupan. Dan di tempat yang mati seperti ini... Kehidupan adalah kekuatan terbesar yang ada."
Shen Yue melangkah maju, berdiri tepat di garis batas antara tanah yang masih agak berwarna dan tanah mati hitam pekat itu. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Saat kakinya melangkah satu langkah masuk ke wilayah itu, seketika itu juga udara di sekitar mereka berubah.
Tekanan berat langsung menekan dada mereka, seolah ada ribuan batu besar yang ditimpakan ke atas tubuh. Suara bisikan-bisikan pelan, sedih, marah, dan penuh rasa sakit langsung memenuhi kepala mereka, bergema di mana-mana.
"Kembalilah... pergi... jangan masuk... tempat ini mati... tempat ini terkutuk... hancur... hancur..."
Shen Yue mengangkat tongkat kayunya. Cahaya hijau cerah memancar keluar, langsung menangkis tekanan itu dan membuat suara-suara itu menjauh seketika. Ia menoleh ke belakang, menatap rombongannya dengan senyum tenang namun tegas.
"Ikuti aku. Jangan keluar dari bayang-bayang cahaya yang aku buat. Jangan sentuh apa pun sebelum aku periksa. Dan ingat... di sini, kematian berkuasa... tapi kematian tidak abadi. Kehidupan akan selalu menemukan jalannya."
Ia berjalan masuk lebih dalam, diikuti oleh Xiao Chen yang selalu berada di sisi kanannya, menjadi perisai hidup. Di belakang mereka, A-Ming dan pasukan berjalan rapat, berusaha tidak menatap wajah-wajah aneh yang terlihat di kulit batang pohon yang retak-retak itu.
Semakin masuk ke dalam hutan raksasa itu, semakin terasa betapa besarnya tragedi yang pernah terjadi di sini. Shen Yue bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa yang pernah dialami tanah ini, rasa sakit saat kehidupan dicabut paksa dari akarnya. Ia merasakan kemarahan yang menumpuk, kesedihan yang mendalam, dan rasa rindu yang panjang.
Tiba-tiba, di tengah jalan setapak yang sempit di antara pohon-pohon raksasa itu, Shen Yue berhenti mendadak. Ia menunduk, menatap ke tanah hitam yang keras itu. Matanya membelalak kaget dan bahagia.
"Lihat... lihatlah ini..." bisiknya bergetar.
Xiao Chen ikut menunduk. Di sana, di sela-sela retakan tanah yang hitam dan mati itu, ada satu tunas kecil berwarna hijau pucat, sangat kecil, sangat lemah, tapi masih berdiri tegak, masih hidup.
"Tunas ini... ini benih dari bangsaku..." ucap Shen Yue dengan suara terharu. "Dia bertahan hidup ribuan tahun di sini, di tengah kematian dan kegelapan... hanya karena dia menunggu... menunggu kami datang kembali."
Shen Yue berlutut perlahan, meletakkan tangannya dengan sangat hati-hati di samping tunas kecil itu. Cahaya hijau lembut mengalir dari tangannya, memeluk tunas itu, memberinya kekuatan, kehangatan, dan kasih sayang yang sudah lama hilang.
Dan di saat itu, seolah-olah seluruh hutan mati itu bergetar. Suara-suara bisikan yang tadinya seram berubah menjadi suara tangis haru, suara rindu, suara panggilan yang panjang.
"Penjaga... Akar Dunia... Pulang... Penjaga... Pulang..."
Xiao Chen berdiri tegak di samping kekasihnya, pedang terhunus, matanya bersinar tajam mengawasi sekeliling. Ia tahu, mereka baru saja masuk ke wilayah paling berbahaya, tapi juga paling suci. Di sini, di tempat yang mati ini, Shen Yue bukan lagi sekadar wanita yang dicintainya. Di sini, dia adalah Ratu yang pulang ke kerajaannya yang hancur.
Dan di kedalaman hutan itu, jauh di depan sana, di balik kabut hitam yang makin tebal, ada sesuatu yang besar bergerak bangun. Sesuatu yang sudah tertidur ribuan tahun. Sesuatu yang akan mengubah seluruh takdir mereka selamanya.