Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Sejak Sebelum
"Bacakan," kata Daniel, suaranya rendah.
Budi menelan ludah. Jemarinya menunjuk baris pertama di layar. "Reza Maulana. Gaji dari Hardjono Group: tujuh juta per bulan, masuk ke rekening BCA atas nama pribadi. Tapi ada rekening kedua." Budi mengklik file berikutnya. "Rekening Bank Mandiri. Masuk dana tambahan setiap bulan, nominalnya dua puluh juta. Pengirimnya tidak pakai nama perusahaan. Tapi setelah kami telusuri..."
"Siapa?"
"Global Beef Corp."
Daniel tidak bereaksi. Tidak membanting meja. Tidak berteriak. Wajahnya seperti batu. Hanya matanya yang bergerak, dari layar laptop ke kertas cetakan di meja, lalu kembali lagi.
"Global Beef Corp. Perusahaan importir daging nomor dua di Indonesia. Pemasok tetap restoran-restoran Jepang di Jakarta. Pesaing langsung kita di pasar premium."
"Betul, Pak."
"Berapa lama?"
"Mutasi ini sudah berjalan sejak tiga bulan lalu. Sejak Reza pertama kali masuk."
Daniel mencengkeram pinggiran meja. "Jadi sejak hari pertama dia bekerja untukku, dia sebenarnya bekerja untuk mereka."
"Lebih buruk dari itu, Pak." Budi membuka file ketiga. "Kami juga menemukan komunikasi antara Reza dan seseorang di Global Beef Corp. Email. WhatsApp. Telepon. Semuanya sudah kami lacak. Isinya..."
"Apa?"
"Jadwal pengiriman pakan. Jadwal jaga satpam. Titik buta CCTV. Layout kandang. Bahkan..." Budi berhenti. Wajahnya pucat. "Bahkan jadwal listrik kandang. Reza yang memberikan jadwal itu ke kontaknya. Dan kontaknya yang meneruskan ke... ke Paman Harto."
Keheningan. Hanya suara monitor jantung dari ruangan sebelah yang terdengar samar.
"Reza yang memberi tahu Paman Harto kapan listrik kandang bisa dimatikan," kata Daniel, suaranya datar. Bukan pertanyaan. Pernyataan. "Reza yang memberitahu mereka di mana sumber air yang tidak terjaga. Reza yang mengatur segalanya."
"Ya, Pak."
"Bukan Bibi Laras. Bukan Paman Harto. Mereka cuma alat."
"Alat yang dibayar."
Daniel menutup matanya. Tangannya masih mencengkeram meja. Nafasnya keluar perlahan, terkontrol. Tapi di balik kelopak matanya, ada api yang mulai menyala. Api yang tidak bisa dipadamkan oleh siapapun. Api yang hanya bisa dipadamkan oleh satu hal: tindakan.
"Ada lagi?" tanyanya.
Budi ragu. Jemarinya mengetuk-ngetuk laptop. "Pak..."
"Budi. Kalau kau sembunyikan sesuatu dariku sekarang, aku tidak akan memaafkanmu."
Budi menghela nafas panjang. Ia membuka file keempat. File terakhir. "Reza bukan satu-satunya."
Daniel membuka matanya. "Apa maksudmu?"
"Ada satu nama lagi. Seseorang di divisi keuangan. Dia yang memantau semua transaksi peternakan Mbak Saskia. Setiap pembelian pakan. Setiap pengeluaran operasional. Setiap laporan keuangan yang Mbak Saskia kirimkan ke kantor pusat. Dia yang membocorkan semuanya."
"Siapa namanya?"
Budi menelan ludah. Jemarinya bergetar sedikit saat ia membaca nama di layar. "Ardiansyah. Staf keuangan senior. Masuk lima tahun lalu."
Lima tahun. Bukan tiga bulan seperti Reza. Lima tahun. Seseorang yang sudah dipercaya selama setengah dekade. Seseorang yang mungkin pernah berjabat tangan dengannya di koridor kantor. Seseorang yang mungkin pernah tersenyum padanya di rapat tahunan.
Daniel meraih kertas cetakan di meja. Matanya membaca nama itu. Ardiansyah. Divisi keuangan. Dan di bawahnya, daftar mutasi rekening. Dua kali lipat dari Reza. Empat puluh juta per bulan. Dari pengirim yang sama. Global Beef Corp.
"Berapa lama?" Suara Daniel sekarang lebih rendah. Lebih dingin. "Berapa lama mereka ada di dalam?"
"Reza tiga bulan. Ardiansyah..." Budi berhenti. "Enam bulan, Pak."
Enam bulan. Sejak hampir awal kontrak dengan Saskia. Sejak sebelum sapi pertama mati. Sejak sebelum semua ini dimulai.
Daniel meremas dokumen itu di tangannya. Kertas itu kusut, robek di bagian pinggir. Buku-buku jarinya memutih karena tekanan. "Enam bulan mereka ada di dalam perusahaanku. Enam bulan mereka mengirimkan data rahasia ke pesaing. Enam bulan mereka memata-matai setiap langkah Saskia. Dan aku tidak tahu."
"Pak, kita bisa tangkap mereka sekarang. Saya sudah siapkan tim. Begitu Bapak perintahkan, kami bisa—"
"Tunggu."
"Tapi, Pak—"
"Aku bilang tunggu." Daniel melepaskan remasan kertasnya. Dokumen yang sudah kusut itu jatuh ke meja. "Kita tidak akan tangkap mereka sekarang. Kita akan ikuti jejaknya. Aku mau tahu siapa lagi yang terlibat. Aku mau tahu seberapa dalam jaringan ini. Kalau kita tangkap Reza dan Ardiansyah sekarang, yang lain akan kabur."
"Maksud Bapak, ada lebih dari dua?"
"Global Beef Corp tidak akan puas dengan dua mata-mata. Mereka pasti punya lebih. Di divisi lain. Di level yang lebih tinggi." Daniel menatap Budi. "Kita akan bongkar semuanya. Satu per satu. Sampai ke akarnya. Dan ketika kita sudah tahu semuanya..."
"Kita hancurkan mereka."
"Tidak." Mata Daniel menyipit. "Kita telan mereka. Global Beef Corp. Agro Nusantara. Semua yang terlibat. Aku akan beli perusahaan mereka, aku akan bubarkan, dan aku akan pastikan tidak ada yang tersisa."
Budi menatap atasannya. Ia belum pernah melihat Daniel seperti ini. Marah, ya. Berkali-kali. Tapi ini bukan marah. Ini sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang lebih dingin. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Ini dendam.
"Pak, ada satu hal lagi yang perlu Bapak tahu."
"Apa?"
"Ardiansyah... dia tidak bekerja sendiri di divisi keuangan. Dia punya atasan langsung. Seseorang yang menandatangani semua laporan keuangannya. Seseorang yang mungkin tahu atau mungkin tidak tahu apa yang dia lakukan."
"Siapa?"
Budi membuka file terakhir di laptopnya. Di layar, sebuah bagan organisasi muncul. Divisi keuangan. Di kotak paling atas, sebuah nama.
Daniel menatap nama itu. Wajahnya yang tadinya seperti batu, sekarang berubah. Ada retakan kecil. Retakan yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.
"Itu... itu tidak mungkin."
"Saya juga tidak percaya, Pak. Tapi datanya jelas."
Daniel mundur selangkah dari meja. Tangannya mengusap wajahnya. "Dia sudah bekerja untuk keluargaku sejak sebelum aku lahir. Dia yang mengajariku membaca laporan keuangan waktu aku masih kuliah. Dia yang..."
"Saya tahu, Pak. Makanya saya ragu untuk memberitahunya."
"Kau yakin?"
"Delapan puluh persen. Kami masih mengumpulkan bukti tambahan. Tapi semua jejak mengarah ke dia."
Daniel menatap kertas yang sudah kusut di meja. Lalu menatap layar laptop. Lalu menatap pintu ruangan Saskia di seberang koridor.
"Jangan bilang Saskia."
"Pak?"
"Dia baru bangun dari koma. Dia belum pulih. Jangan tambah beban dia dengan ini. Aku akan urus sendiri."
"Tapi Mbak Saskia berhak tahu. Dia yang paling dirugikan."
"Aku tahu. Tapi tidak sekarang. Biarkan dia pulih dulu. Nanti, setelah semuanya jelas, aku sendiri yang akan memberitahunya."
Budi mengangguk. Ia menutup laptopnya, membereskan kertas-kertas yang berserakan. Tapi sebelum ia berdiri, Daniel memanggilnya.
"Budi."
"Ya, Pak?"
"Mulai sekarang, semua informasi tentang investigasi ini hanya untuk aku dan kau. Tidak ada yang lain. Bahkan asistenmu. Bahkan sekretarisku. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
"Dan Budi..."
"Ya?"
"Hati-hati. Kalau mereka tahu kita sedang menyelidiki, kau bisa dalam bahaya."
Budi tersenyum tipis. "Saya sudah bekerja untuk Bapak selama bertahun-tahun. Saya sudah terbiasa dengan bahaya."